
Usainya pertarungan dengan Nyi Karni, Aska berkenalan dengan Arya dan Janu.
Aska bertanya lokasi gunung dengan batu berbentuk persegi yang berhamburan kepada Arya. Secara kebetulan lokasi tempat tersebut satu arah dengan tempat tujuannya.
***
Beberapa saat kemudian, dalam perjalanan.
"Aska! Kenapa kamu bisa dikejar para siluman ular itu?" tanya Arya.
Aska menjelaskan perjalanannya saat melewati pasar Caringin sampai bertemu Arya dan Janu.
"Apa? Kamu masuk ke pasar Caringin," ucap Arya terkejut.
"Iya, memangnya kenapa?" tanya Aska.
"Pantas saja, Kamu tau tidak? Pasar itu menjadi salah satu tempat yang dihindari para pendekar. Konon katanya para penjual di pasar itu semuanya adalah siluman ular. Kamu bisa keluar hidup-hidup dari pasar itu benar-benar sebuah anugrah," ujar Arya.
"Terus kenapa banyak pengunjung yang datang ke pasar itu? Kalau memang para penjualnya siluman," tanya Aska.
"Rumor ini hanya diketahui disekeliling pendekar. Para siluman itu tidak menyerang orang biasa, mereka hanya mengincar para pendekar, makanya para pendekar pasti menghindari pasar itu. Terus dengar dari sebagian orang, barang-barang di situ kualitasnya sama dengan barang di ibu kota kerajaan, harganya juga sangat murah, makanya banyak yang datang ke pasar itu walaupun jauh dari pemukiman," ucap Arya.
Aska merasa sedih dan kesal, betapa bodohnya dirinya terjerumus tipu daya siluman ular. Hal tersebut menjadi pelajaran baginya untuk melangkah maju ke depan dan menjadi pendekar hebat di Bumi Nusantara.
***
Setelah melakukan perjalanan selama tiga minggu, Aska berpisah dengan Arya dan Janu di persimpangan, karena mereka harus menuju ibu kota kerajaan Sunda Galuh.
"Aska, kita harus berpisan di sini. Tempat yang kamu tuju berada dibalik pegunungan itu. Maaf tidak bisa mengantar sampai tempat tujuan," ucap Arya sembari menunjuk.
"Tidak apa-apa. Saya sudah banyak terbantu. Semoga kita dapat berjumpa kembali. Terima kasih," ucap Aska memberi hormat.
"Iya sama-sama. Sudah sewajarnya kita sesama pendekar saling membantu," ucap Arya.
"Saya duluan. Berhati-hatilah," ucap Arya.
Arya dan Janu langsung pergi meninggalkan Aska.
***
Aska melanjutkan perjalanannya seorang diri. Lokasi yang Aska tuju bernama Gunung Padang.
Setelah beberapa saat berjalan kaki melewati pegunungan dan perkebunan teh, Aska tiba di lokasi Gunung Padang.
"Seberapa banyak anak tangga ini? Ditambah, kenapa langkah terasa berat," batin Aska.
Setelah melewati lima ribu anak tangga, akhirya Aska sampai di puncak gunung tersebut.
"Akhirnya tiba juga," ucap Aska mendesah kecapean.
Di puncak gunung terdapat begitu banyak batu berbentuk persegi yang berserakan, bahkan ada juga yang menumpuk.
"Bagaimana bisa begitu banyak batu berbentuk persegi! Sebenarnya untuk apa batu yang begitu banyak di puncak gunung seperti ini?" batin Aska bertanya-tanya sembari melihat sekeliling puncak gunung tersebut.
Tidak lama kemudian Aska membaringkan dirinya di antara rumput hijau dan bebatuan tersebut. Menatap birunya lagit melepaskan penat Aska.
Tidak lama kemudian, tiba-tiba ada seorang kakek-kakek yang sudah sangat tua dekat kepala Aska. Kakek-kakek tersebut bernama Ki Parta.
"Ekhem...," Ki Parta berdehem.
Aska terkejut mendengar deheman Ki Parta, membuatnya langsung bangun.
"Siapa kakek ini? apa mungkin penunggu di gunung ini? perasaan tadi tidak ada siapapun. Bagaimana mungkin kakek tua seperti ini menaiki anak tangga yang begitu banyak," batin Aska heran.
"Anak muda, apa yang kamu lakukan disini? Jarang sekali ada orang yang mengunjungi tempat ini," ucap Ki Parta.
"Mohon maaf Ki. Saya hanya seorang pengembara yang kebetulan melewati gunung ini. Sewaktu saya lewat, saya melihat begitu banyak anak tangga. Demi melepaskan rasa penasaran, saya menaiki anak tangga tersebut dan berakhir di tempat ini," ucap Aska memberi hormat.
"Kalau begitu silahkan, melihat-lihatlah!" ucap Ki Parta.
"Terima kasih Ki," ucap Aska.
Ki Parta duduk di antara bebatuan, dan Aska berjalan ke tengah tempat tersebut.
Banyak hal yang begitu janggal dirasakan oleh Aska di tempat itu, dari mulai ketika menaiki anak tangga yang begitu banyak dan terasa berat, sampai seorang kakek-kakek yang sudah sangat tua tiba-tiba muncul di dekatnya.
Sesampainya di tengah, Aska menutup mata, lalu menarik nafas. Aska merasakan hawa energi yang begitu besar menutupi seluruh puncak gunung tersebut bahkan tersebar ke gunung lainya. Hanya beberapa ketukan saja Aska menutup mata, hawa energi tersebut sampai membuatnya sesak nafas.
"Benar-benar pekat. Sungguh hawa energi yang luar biasa," ucap batin Aska.
Ki Parta menghampiri Aska.
"Cobalah bersemedi di atas batu itu," ucap Ki Parta sembari menunjuk.
Batu yang ditunjuk Ki Parta berbentuk kotak dan dikelilingi bebatuan kecil.
Batu tersebut benar-benar spesial. Hawa energi yang dirasakan Aska begitu ringan.
Setelah beberapa hari bersemedi, Aska berencana melanjutkan perjalanan.
"Terimakasih Ki, sudah menemani saya beberapa hari ini," ucap Aska memberi hormat.
"Tidak apa-apa. Kebetulan Aki yang menjaga tempat ini," ucap Ki Parta.
"Kalau begitu saya mohon pamit," ucap Aska.
"Silahkan. Berhati-hatilah di perjalanan anak muda," ucap Ki Parta.
Ki Parta menceritakan kepada Aska tentang kejadian kenapa banyak batu berbentuk persegi berserakan di Puncak Gunung Padang.
Awal mulanya, Prabu Siliwangi sewaktu baru menjabat sebagai raja kerajaan Sunda Galuh, ia membangun candi di Puncak Gunung Padang dari batu yang sangat besar sebagai bentuk kekuasaannya.
Batu besar tersebut dibelah menjadi bagian-bagian kecil berbentuk persegi. Pembangunan candi tersebut berwaktu dari tengah malam hingga matahari terbit.
Prabu Siliwangi dibantu para harimau ghaib dalam pembangunannya. Namun, saat pembangunan candi hampir selesai, Prabu Siliwangi kekurangan satu batu, sedangkan waktu matahari terbit tinggal beberapa ketukan lagi.
Hingga terbitlah. Prabu Siliwangi marah dan memukul bangunan candi tersebut sampai berhamburan.
Gunung Padang juga biasa disebut Nagara Siang Padang yang artinya tatanan pencerahan akhiran, terkandung makna tersembunyi yang masih dalam misteri.
***
Setelah bertanya tentang gambar gerbang kepada Ki Parta, Aska melanjutkan perjalanan ke ibu kota kerajaan Sunda Galuh (Padjajaran).
***
Tiga minggu kemudian.
Aska tiba di ibu kota kerajaan Sunda Galuh.
"Waah... Jadi seperti ini suasana ibu kota kerajaan," Batin Aska.
Aska terkagum-kagum melihat sekitar ibu kota kerajaan yang begitu ramai, dan begitu banyak bangunan yang kokoh, bahkan banyak barang dagangan yang harganya bukan main namun berkualitas.
"Ternyata banyak juga perdekar di sini," batin Aska.
"Dong dong... Dong dong... Dong dong...," dentuman suara gong.
Semua warga secara cepat memberi jalan dan menunduk bertekuk lutuk.
Mendengar suara tersebut, Aska hanya berdiam diri kebingungan melihat penduduk sekitar bertekuk lutuk.
Tiba-tiba Arya datang menarik Aska kebawah dan menyuruhnya bertekuk lutut.
Datanglah rombongan dengan banyak kuda melewati jalan tersebut dengan diiringi suara dentuman gong.
Sewaktu Aska melihat ke arah rombongan tersebut, salah satu seorang pemuda yang menunggangi kuda menoleh ke arah Aska. Setelah beberapa ketukan bertatapan, Arya menundukan kepala Aska ke bawah.
"Rombongan apa barusan?" tanya Aska.
"Apa kamu tidak tau itu rombongonan siapa! Sebenarnya kamu berasal dari mana Aska? Sampai rombongan kerajaan ini pun tidak tau," ucap Arya.
Aska hanya tertawa mendengar ucapannya.
"Rombongan yang barusan lewat itu rombongan kerajaan ini, kerajaan Sunda Galuh, ingat Aska Sunda... Galuh... Kerajaan yang tanahnya kamu injak sekarang," ucap Arya geram terhadap kebodohan Aska.
"Dari mana dan siapa saja anggota kerajaan yang ada pada rombongan itu?" tanya Aska penasaran, dikarenakan ada salah seorang yang menatapnya dari rombongan tersebut.
"Mendengar kabar dari penduduk sekitar, katanya Prabu Siliwangi dan seluruh keluarganya menghadiri pertemuan di pantai selatan. Nah, orang yang terlihat gagah di tengah rombongan paling depan itu Sri Baduga Maharaja Prabu Dewantrapana Siliwangi. terus di jajaran ketiga, sebelah kiri Raden Walangsungsang putra pertama dan sebelah kanannya Raden Kiansantang putra bungsu, sepertinya di dalam kereta kuda itu Nyai Subang Larang istri Prabu Siliwangi dan Nyai Rarasantang putri kedua," ucap Arya.
"Ada juga rumor tentang Raden Kiansantang, katanya dia lebih sakti dari rakanya Raden Walangsungsang, juga orang paling sakti diseluruh kerajaan, bahkan kesaktianya menandingin Prabu Siliwangi, padahal usianya baru menginjak delapan belas tahun. Sungguh orang yang berbakat," ucap Arya.
Mendengar penjelasan dari Arya, entah kenapa Aska memikirkan tatapan salah seorang dari rombongan kerajaan tersebut. Sepertinya orang itu putra bungsu Prabu Siliwangi yang bernama Raden Kiansantang.
"Janu mana?" tanya Aska.
"Ada di sebelah sana," jawab Arya sembari menunjuk.
"Ngomong-ngomong, kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Arya.
"Saya hanya ingin tau saja daerah ibu kota kerajaan," ucap Aska.
"Ohya kalau pintu gerbang kerajaan sebelah mana?" tanya Aska.
"Dari sini lurus saja, nanti di ujung depan terlihat menara kerajaan. Ya sudah saya masih ada urusan lain, kita berpisah lagi. sampai jumpa Aska," ucap Arya.
"Iya, terima kasih," ucap Aska memberi hormat.
Aska segera melanjutkan perjalanannya menghampiri gerbang kerajaan Sunda Galuh.