Pendekar Nusantara

Pendekar Nusantara
Dilema Aran



Lingga menatap kosong ke arah Aran yang terjatuh ke danau. Ia bingung melihat kelakuan dua muda mudi ini.


Sementara Berliana sudah berlari pergi meninggalkan tempat itu.


"Awas kamu Aran, aku tidak akan memaafkanmu"


Berliana begitu kesal terhadap Aran, ia tidak menyangka Aran akan bersikap seperti itu padanya. Begitu lama ia menunggu kabar dari Aran tapi ternyata orang yang ditunggu tidak peduli padanya.


Melihat kedatangan Berliana, para pasukannya langsung memberi hormat tapi Berliana diam saja, dia hanya berkata pada mereka semua dengan ketus "Kita kembali ke markas" hanya itu yang keluar dari mulutnya.


Seluruh bawahannya tidak berani bertanya dan langsung mengikutinya. Berliana dan pasukannya berkuda dengan sangat cepat kembali ke markas pasukannya.


>>>


Aran yang tercebur kedanau sudah berdiri diatas rumah apung. Dia merasa tidak enak kepada Berliana jadi ia akan mencoba mengejarnya.


Ketika ia ingin segera pergi, terdengar suara Lingga "Aran, ah maaf.. Mahapatih, jika kamu ingin mengejar Berliana sebaiknya kamu mengganti pakaianmu yang basah itu terlebih dahulu"


Perkataan Lingga membuat Aran menjadi sadar, hampir saja ia bertindak bodoh menyusul Berliana dengan pakaian yang basah dan banyak daun-daun yang menempel di bajunya "Terima kasih Senior"


Aran lalu bergerak dengan sangat cepat menuju rumahnya. Ia lalu mengambil pakaian dari alam gioknya dan segera mengganti dengan jubahnya. Sebenarnya ia bisa saja langsung menghilang dan mengganti pakaian pada saat ia tercebur, namun ia tidak ingin Lingga mengetahui terlalu banyak rahasia yang dimilikinya.


Setelah menggunakan jubah barunya Aran lalu bergerak keluar dengan sangat cepat.


Sementara Lingga yang ditinggal sendirian di rumah apung, bingung dengan apa yang akan dilakukannya sekarang.


"Apa yang aku lakukan sekarang" Lingga hanya menatap siluet Aran yang bergerak sangat cepat menjauh dari kediamannya.


>>>


Di markas Unit Reaksi Cepat atau disingkat URC, Berliana terlihat sangat murung. Wajahnya yang terlihat sangat galak membuat siapapun tidak ada yang berani menghampirinya. Bahkan Juli dan Melati kena marah olehnya.


"Kakak Juli, kenapa Kakak Berliana marah-marah terus"


"Entahlah Melati, mungkin ia sedang memiliki masalah. Sebaiknya kita tidak usah mengganggunya terlebih dahulu"


Lalu mereka berdua mengatakan kepada seluruh pasukan yang berada disitu untuk tidak mengganggu Berliana terlebih dahulu. Jika ada masalah yang penting bisa disampaikan kepada mereka.


>>>


Aran yang sudah bergerak dengan sangat cepat akhirnya tiba di pintu masuk divisi URC. Melihat kedatangan Aran yang menggunakan jubah dan topeng giok membuat para penjaga bersiga. Karena belakangan ini banyak yang meniru penampilan Asura. Jadi mereka langsung memasang wajah garang terhadap Aran.


Aran juga menyadari, sepanjang jalan ia melihat banyak orang yang meniru cara berpakaiannya.


"Siapa kamu, ada urusan apa kesini"


Penjaga markas menghadang kedatangan Aran.


"Minggir, jangan menghalangi jalanku. Aku sedang terburu-buru"


Namun para penjaga malah menghadangnya dengan senjata tombak yang disilangkan.


"Berhenti, pergi dari sini. Ini bukan tempat yang bisa orang biasa masuki sesuka hatinya"


Para penjaga berkata dengan sangat tegas. Karena mereka memang ditugaskan untuk tidak mengijinkan sembarangan orang memasuki tempat ini.


Aran yang melihat mereka begitu taat menjaga pintu masuk lalu berkata.


"Katakan pada Berliana, Aku ingin menemuinya"


Aran berkata sambil menatap mereka.


"Lancang kau, berani menyebut nama Ketua kami dengan namanya. Jika kau tidak meminta maaf, maka jangan salahkan kami untuk membawamu ke dalam penjara"


Mereka yang begitu menghormati Berliana tidak sudi mendengar Ketua mereka dipanggil langsung dengan namanya.


Ketika mereka bergerak untuk menangkap Asura, Asura langsung mengeluarkan Lencana berwarna emasnya.


Melihat Lencana yang dipegang Asura, membuat kaki mereka bergetar hebat. Tanpa sadar mereka berlutut dan memberi hormat.


"Ma.. Mahapatih, Sendiko dawuh Gusti Mahapatih. Maafkan hamba yang tidak tau"


Mereka begitu takut begitu mengetahui bahwa pemuda dihadapannya ini adalah Dewa Perang Asura yang tidak segan membunuh orang. Kabar terbaru yang mereka dengar adalah Asura membunuh pengawal anak pejabat tanpa berkedip.


"Cepat pergi, aku akan menunggu disini"


Aran berkata dengan tidak sabar, ia ingin segera masuk kedalam namun rasanya hal itu sangatlah tidak sopan.


"Baik Mahapatih"


Mereka berdua segera berjalan mundur tanpa berani menatap wajah Asura. Setelah jauh mereka langsung berlari sekuat tenaga kebagian dalam rumah untuk memberi kabar kepada Ketua mereka.


Di bagian dalam rumah utama, terlihat beberapa prajurit yang berjaga di beberapa sisi.


"Hei kalian, kenapa berlari secepat itu"


Salah satu rekan mereka memanggil, namun mereka tetap berlari kebagian lebih dalam.


Mereka lalu melihat Juli dan Melati yang sedang mengobrol didepan pintu masuk kediaman Berliana.


"Lapor, didepan ada tamu agung yang ingin bertemu dengan Ketua"


Melihat kedua prajurit yang sepertinya berlari demi hidup mereka membuat mereka penasaran. Siapa tamu tersebut.


Juli bertanya kepada mereka berdua.


"Tamu tersebut adalah Ma.. Mahapatih Asura"


Prajurit penjaga berkata sambil mengusap keningnya.


"Mahapatih? apa kalian tidak salah lihat"


Melati langsung berkata kepada para prajurit tersebut, karena menurutnya ini adalah kejadian langka bahwa Mahapatih mau berkunjung ketempat ini.


"Kami tidak mungkin salah mengenali Lencana yang diperlihatkannya kepada kami. Belum lagi aura yang dipancarkannya, membuat kami merinding"


Penjaga itu masih ketakutan karena pertemuannya dengan Asura.


"Baiklah aku percaya kepada kalian, tunggu sebentar"


Juli lalu masuk kedalam rumah menuju ruangan Berliana.


Ketika sudah sampai didepan pintu kamar Berliana, Juli lalu mengetuk pelan pintu tersebut.


"Kakak Berliana, didepan ada tamu yang mencarimu"


"Siapa yang berani mencariku, katakan padanya aku tidak ingin bertemu siapapun dulu"


Berliana menjawab dengan sangat ketus.


"Tapi tamu ini adalah tamu yang sangat penting"


Juli melanjutkan perkataannya.


"Siapa tamu itu sampai kamu berani berdebat denganku"


Berlian kini malah tambah marah mendengar Juli berkata seperti itu.


"Emm.. Dia Mahapatih Asura, Kakak"


Juli berkata dengan memelankan suaranya. Namun setelah Juli berkata tidak ada balasan lagi dari dalam kamar Berliana.


Juli menunggu diam namun tetap tidak ada balasan dari dalam kamar. Ketika ia ingin mengetuk, ternyata pintu kamar Berliana terbuka.


"Suruh dia pergi dari sini, katakan padanya aku tidak ingin menemuinya"


Berliana menjawab dengan ketus kepada Juli.


Juli hanya mendesah didalam hatinya 'kenapa aku juga kena marah olehnya'


"Tapi Kakak, itu Mahapatih. Tidak mungkin aku berani berkata seperti itu. Beliau kan atasan tertinggi kita"


Juli mencoba meyakinkan Berliana agar mau menemui Mahapatih. Karena baginya, Mahapatih adalah tamu yang sangat agung.


"Kau berani melawan perintah kakak mu ini"


Berliana kembali menatap Juli dengan wajah juteknya.


"Bukan begitu kakak, aku hanya.. "


Belum selesai Juli berkata, Berliana langsung memotongnya.


"Sudah katakan padanya untuk masuk, aku akan menunggunya disini"


Berliana berkata sambil membalik badannya dan masuk kembali kekamarnya.


Kekesalannya terhadap Aran membuat ia juga kesal kepada orang-orang disekitarnya. Kali ini Juli yang kena apes.


"Baik Kakak"


Juli lalu berbalik dan pergi menjauh dari kamar Berliana.


"Hahh, aku malah apes kena marah Kakak"


Juli berkata sambil berjalan keluar.


>>>


Di luar Aran sudah tidak sabar untuk masuk, ingin rasanya ia menerobos masuk kedalam. Namun ia tetap merasa hal itu sangatlah tidak sopan. Jadi ia hanya bisa menunggu dengan mondar mandir didepan pintu masuk markas URC.


~Note~


*Jangan lupa like dan koment.


* Vote jika memungkinkan.


* Terakhir, mohon bantu share.


Terima kasih ^^


Instagram :


@yukishinamt