
Di sebuah perkampungan, di ujung pesawahan.
"Krakkk... Krakkk crlek," suara membelah kayu.
"Oh... Aska sudah bangun!" ucap Mang Asep kepada Aska. Aska berusia lima tahun.
"Muhun Mang...," jawab Aska sambil mengusik mata.
(Muhun\=iya)
"Di dapur ada ubi, dimakan dulu, setelah makan kita ke sungai nyari Ikan," Mang Asep tersenyum sambil mengelus kepala Aska.
Tidak lama kemudian Aska dan Mang Asep pergi ke sungai, melewati pesawahan dan jalan setapak gunung hingga sampai di tempat tujuan.
Sesampainya di sungai, mang Asep langsung membuka jaring dan mendapat banyak ikan.
"Hewuuh... Tidak terasa sudah sore," ucap Mang Asep menghela nafas sembari menatap langit senja.
"Aska, kita pulang." Askapun bergegas pulang mengikuti Mang Asep.
***
Keesokan harinya.
"O..o.o.ooo...," suara ayam.
"Aska... Aska bangun!" Mang Asep mamanggil dan membangunkan Aska di pagi buta dari luar rumah.
Askapun langsung keluar mencuci muka memakai air dalam kendi.
"Sini Aska."
Aska menghampiri Mang Asep tanpa berkata.
"Sekarang sudah saatnya kamu belajar Pencak Silat," ucap Mang Asep memegang pundak Aska.
Aska yang baru beruasia lima tahun itu kebingungan, belum mengetahui pencak silat.
"Pencak Silat itu apa mang?" tanya Aska penasaran.
"Pencak Silat itu, sebuah gerakan beladiri untuk melawan orang-orang jahat. Pencak Silat juga bisa digunakan untuk membantu orang lain dan melindung orang lemah," ucap Mang Asep menjelaskan arti, maksud dan tujuan Pencak Silat secara perlahan.
Aska mengangguk-ngangguk tanpa berkata dengan wajah senang.
"Sebelum latihan kita makan dulu," ucap Mang Asep merangkul Pundak Aska.
Aska bergegas makan bersama Mang Asep.
***
Beberapa saat kemudian.
Di tengah halaman rumah.
"Nah ini kuda-kudanya harus sempurna biar gerakan dasar juga sempurna." ucap Mang Asep membenarkan posisi tangan dan kaki Aska.
"Ikuti gerakan Amang. Hiat..hiat..tsaah..."
***
Pencak Silat adalah sebuah gerakan bertarung yang mengandalkan semua panca indra, dari mulai mata, telinga, hidung, tangan dan kaki. Bahkan mencakup insting bertarung merasakan hawa dan sebagainya. Pencak silat ada sejak beribu-ribu tahun yang lalu tanpa diketahui siapa penciptanya dan apa tujuan dan maksud sebenarnya dari Pencak Silat.
Di Bumi Nusantara banyak padepokan Pencak Silat, bahkan berbagai aliran. Banyak orang yang mempelajari silat untuk menjadi seorang pendekar.
Pendekar adalah seorang yg mempelajari Pencak Silat untuk membatu orang lain, membela orang baik serta menolong orang lemah.
Kehidupan sehari-hari Aska diisi dengan berlatih ilmu silat, dari mulai melancarkan pukulan, tendangan, melompat dan berlari melewati jalan setapak pesawahan dan pegunungan guna meningkatkan kekuatan fisik jiwa dan raganya.
***
Sepuluh tahun kemudian.
"Trek... Trak tek," pertarungan tongkat. Aska memukul atas, putar belakang dan disambung pukulan bawah atas. Semua gerakan aska ditahan Mang Asep dan langsung menyerang balik Aska dengan Jurus Pukulan Loncat Maung.
"Hiiiaaahh..." "Ckrakk." Aska menahan pukulan itu dengan Jurus Silang Cakar Maung sekaligus mengakhiri pertarungan.
Selama sepuluh tahun Aska sudah menguasi semua gerakan ilmu silat yg diturunkan Mang Asep.
"Aska, lihat baik-baik," ucap Mang Asep menarik nafas dan memasang kuda-kuda, memutar tangan kanan dan kiri secara berlawanan. Lalu melepaskas pukulan mengarah ke batang kayu yg jauhnya beberapa meter. Pukulan Mang Asep mengeluarkan hempasan energi tak kasat mata sampai batang kayu itu hancur berkeping-keping.
"Ajarkeun ka Aska atuh Mang!" ucap Aska. Saking kaget dan senangnya melihat jurus silat menakjubkan tersebut, Aska langsung mempraktekan asal-asalan. "Hiah wuuus.. Hiahhh wuuus..."
(Ajarkeun\=Ajari)
"Hahahaha!!!" Mang Asep tertawa terbahak-bahak melihat Aska mempraktekan jurus tersebut dengan asal-asalan.
"Kamu lagi ngapain Aska?" tanya Mang Asep sambil menahan tawa.
"Lagi latihan jurus kaya amang!" jawab Aska dengan polos.
"Pfff... Hahahaha!!!" Mang Asep tertawa terbahak-bahak lagi.
Aska kebingungan sekaligus malu diketawai Mang Asep.
"Sabar Aska, apa-apa juga butuh proses. Tidak ada yang langsung jadi," Mang Asep ketawa kecil.
"Sini, dijelasin dulu sama amang," Mang Asep menjelaskan kepada Aska sambil duduk di bawah pohon halaman rumah.
"Nah, jurus tadi namanya Jurus Pukulan Jeblag. Sabenernamah banyak namanya jurus tadi teh. Kalau sama amang dikasih namanya itu," ucap Mang Asep.
(Sebenernamah\=sebenaanya) (Tadi teh\=tadi itu)
"Gimana caranya Mang?" tanya Aska penasaran.
"Jurus tadi itu menggunakan tenaga dalam, jadi hal pertama yang harus dilatih adalah bagian pembukaan dan pengumpulan tenaga dalam," ucap Mang Asep.
***
Tenaga dalam adalah energi yang berada di dalam tubuh. Setiap orang memiliki tenaga dalam di dalam tubuh masing-masing, hanya saja ada yang terbuka dan ada yang tertutup. Untuk membuka tenaga dalam butuh proses bertahun-tahun dan untuk penggunaan harus dilatih secara berkala, karena jika salah dalam penggunaan atau pemakaian tenaga dalam dan melebihi batas kemampuan orang tersebut dapat melukai diri sendiri.
Untuk sebuah jurus, tenaga dalam dikeluarkan melalui pukulan atau telapak tangan yang dipukulkan secara kejut. Sehingga luapan energinya dapat keluar dengan cepat dan dapat menghancurkan benda di depan.
Tidak banyak pendekar yang menguasai tenaga dalam, karena pelatihannya sangat sulit.
***
Keesokan harinya.
Di puncak Gunung Awi, dekat jurang.
"Bagian pelatihan pertama untuk membuka tenaga dalam dengan bersemedi," ujar Mang Asep.
"Sana! duduk sila dekat jurang," ucap Mang Asep.
Aska mengikuti arahan dari Mang Asep
"Tegakan badannya! pertama-tama pejamkan mata, terus tenangkan dan kosongkan pikiran, rasakan hawa diarea sekitar. Jika ada suatu hawa yang masuk kedalam tubuh, tahan dan kendalikan. Jangan bangun sebelum waktunya," ucap Mang Asep.
Setelah mengarahkan Aska, Mang Asep langsung pergi.
***
Hari pertama bersemedi Aska belum merasakan sesuatu. Hanya merasakan udara panas di siang hari dan dingin di malam hari serta hembusan angin sepoy-sepoy, juga sekedar mendengar bisikan burung dan daun pohon yang tertiup angin.
Tiba di hari kelima, Aska mulai merasa lelah dikarenakan belum makan dan tidur selama empat hari kebelakang. Namun, Aska terus fokus bersemedi dengan tenang.
Memasuki hari keenam, Aska sangat kelelahan hingga merasakan hawa energi panas di dalam dan dingin di luar yang tidak beraturan. Detak jantung Aska mulai melemah dan nafaspun mulai berat.
Aska trus mengendalikan perasaan hawa itu dengan sekuat tenaga sampai keringat dinginpun bercucuran.
Setelah dua hari merasakan hawa aneh itu, Aska dibangunkan mang Asep dengan menempelkan telapak tangan di punggungnya untuk memberikan sedikit tenanga dalam ringan agar hawa energi yang berada di dalam tubuh Aska lebih stabil.
Askapun bangun.
"Gimana Aska? seminggu ini apa yang kamu rasakan?" tanya Mang Asep.
Aska menjelaskan apa yang ia rasakan sewaktu bersemedi selama seminggu kebelakang. Dari mulai suara-suara, kelelahan, sampai merasakan masuknya hawa energi panas dan dingin masuk ke dalam tubuh Aska.
"Bagus Aska! bagus," ucap Mang Asep memuji Aska sembari menepuk pundaknya.
"Kamu sudah berhasil melewati bagian awal pembukaan hanya dalam seminggu. Dulu Amang butuh waktu satu bulan. Amang tahu kamu berbakat hahaha," Mang Asep ketawa senang atas pencapaian Aska dan memujinya.
"Selanjutnya Aska, bagian pelatihan dan pengendalian hawa energi panas itu." ucap Mang Asep.
Aska dan mang Asep bergegas pulang untuk memulihkan tenaga Aska sebelum pelatihan selanjutnya.