
Melihat angka yang keluar, Dong Yan langsung berkata mewakili Lady Dasha yang terdiam.
"Angka yang keluar adalah 1 dan 1, ini adalah angka kecil. Pemenangnya adalah Tuan Aran dan Lady Octavia"
Mendengar perkataan Dong Yan, Aran dan Lady Octavia langsung tersenyum lebar. Sementara mereka yang kalah bermuram durja dan menatap Aran dengan penuh kebencian. Karena kekalahan mereka ini disebabkan oleh satu orang yaitu Aran.
"Hahaha, semuanya terima kasih"
Aran lalu mengambil koin miliknya dan hadiah kemenangannya.
"Ini untukmu"
Aran memberikan koin berwarna biru kepada bandar yang tidak lain adalah Lady Dasha.
"Apa kau meledekku?"
Kata Lady Dasha melihat koin yang diberikan Aran kini berada didepannya.
"Kenapa aku harus meledekmu, ya sudah jika kau tidak mau"
Aran lalu mengambil kembali koin tersebut dan diberikannya kepada Dong Yan.
"Untukmu saja, sepertinya Nona cantik itu tidak mau menerima pemberianku"
Kata Aran yang membuat Dong Yan terdiam.
"Kau.."
Lady Dasha benar-benar kesal dengan perangai Aran ini. Ia lalu kembali duduk dimejanya dengan perasaan marah.
Pangeran Parsy juga tidak terima dengan kekalahan ini.
"Kami pergi"
Pangeran Parsy dan Lady Dasha lalu berdiri meninggalkan tempat tersebut dengan wajah yang sangat kesal. Dalam hatinya ia pasti akan membalas semua penghinaan ini.
"Aku juga pergi"
Xiao Fei yang melihat Pangeran Parsy pergi juga memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat judi ini tanpa menoleh kepada siapapun.
Akhirnya semua orang pergi meninggalkan tempat judi ini, hanya tersisa kelompok Aran, Lady Octavia dan karyawan meja judi.
"Namamu Aran, aku akan mengingatmu"
Kata Lady Octavia sambil tersenyum meninggalkan tempat itu bersama pengawalnya.
Aran juga membalas senyuman Lady Octavia, ia tidak menyangka kedatangannya kesini akan mendapatkan teman dan musuh yang baru.
"Tuan Aran, apakah Tuan ingin bermain kembali atau tidak"
Dong Yan yang mendapatkan untung banyak dari acara ini langsung merubah sikapnya kepada Aran dan Taeyang. Baginya yang penting adalah uang, segalanya demi uang.
"Sepertinya saya sudah cukup bermain disini, mungkin lain kali saya akan mampir ketempat ini lagi"
Jawab Aran sambil mengajak Taeyang untuk pergi meninggalkan tempat judi ini. Tapi sebelum itu mereka menukarkan koin yang mereka dapat dengan koin emas.
Setelah proses penukaran selesai, Dong Yan menemani Aran sampai kepintu keluar. Ia sangat yakin bahwa Aran ini pasti adalah anak orang yang sangat kaya, jadi sebisa mungkin ia ingin menjalin pertemanan dengannya.
Aran bersama Taeyang lalu pergi bersama meninggalkan tempat judi maksiat tersebut.
"Tidak kusangka, si jenjang Dong yan laknat benar-benar merubah sikapnya padamu"
"Jaga ucapanmu, aku yakin jenjang itu adalah bahasa kasar"
"Hahaha, Maaf Hyung-nim"
Jawab Taeyang sambil tertawa polos.
"Apalah kau, sebelumnya memanggilku Aran-ssi sekarang Hyung-nim"
"Ah, Hahaha"
Taeyang kembali tertawa dengan keras, ia begitu bahagia bisa mengenal Aran yang sangat ramah padanya.
"Taeyang, ambil ini. Aku tidak membutuhkannya"
Aran lalu memberikan semua hasil kemenangannya kepada Taeyang.
Hal ini membuat Taeyang terdiam.
"Hyung-nim, aku tidak bisa menerimanya"
Sambil Taeyang berusaha mengembalikannya kepada Aran. Tapi Aran langsung menolaknya.
"Jika kamu menganggap aku Hyung mu, maka ambillah"
Kata Aran sambil pergi meninggalkan Taeyang yang masih diam. Tanpa sadar Taeyang mengusap matanya yang berair, ia tidak menyangka bahwa Aran begitu baik padanya sampai memberikan emas begitu banyak. Dengan emas ini, ia bisa membangun kembali desanya.
"Hyung-nim"
"Apa"
"Kamsahamnida"
Kata Taeyang sambil membungkukkan badannya.
"Apalah kau ini, cepat bangun"
Aran lalu membantu Taeyang untuk berdiri tegak.
"Lain kali tolong ajarkan aku bahasa asalmu"
"Baik Hyung-nim"
Aran hanya menggelangkan kepalanya melihat teman barunya ini. Mereka lalu berjalan berdua bersama-sama menikmati keindahan kota.
>>>
Didalam penginapan, para gadis hanya bisa menggerutu karena Aran pasti pergi bersama Taeyang.
"Varya, bagaimana kalau kita juga berjalan-jalan"
Kata Namora kepada Varya, walau mereka berdua saingan tapi sebenarnya mereka sangat akur.
"Ide bagus, ayo kita pergi"
Kedua gadis itu akhirnya pergi meninggalkan penginapan dengan tetap menggunakan topengnya.
Saat Namora dan Varya pergi bersama, ada beberapa bayangan yang mengikuti mereka berdua.
"Varya"
Kata Namora pelan.
"Hmm, aku tau"
Kedua gadis sama-sama mengetahui bahwa ada yang mengikuti mereka semenjak mereka pergi meninggalkan restoran.
Mereka lalu berpura-pura berjalan pelan ke tempat sepi. Sebelumnya Varya sudah memberitahukan Aran posisi dan keadannya lewat telepati, karena Varya adalah pelayan Aran jadi mereka dapat dengan mudah berkomunikasi.
Di tempat yang sangat sepi, Varya dan Namora berhenti.
"Keluar kalian"
Teriak Varya.
Tidak lama keluar lima orang berpakaian hitam dan menggunakan topi caping yang menutupi wajah mereka.
"Hahaha.. Tidak aku sangka ternyata Nona Varya dapat mengetahui keberadaan kami"
Kata salah satu pria yang merupakan pemimpin kelompok penyergap ini.
"Siapa kau, bagaimana kamu bisa mengenaliku"
Varya yang sudah memakai topeng tentu saja kaget bahwa mereka bisa mengenalinya.
'Sekte Bulan Merah'
Batin Namora, ia tidak menyangka akan bertemu kelompok pejahat ini.
"Pantas kau mengenaliku, ternyata kalian adalah orang-orang Sekte Bulan Merah. Katakan pada orang yang memerintahkan kalian bahwa aku tidak akan pulang"
"Maaf Nona, kami harus membawa Nona pulang apapun yang terjadi"
Jawab pemimpin pasukan tersebut.
"Jika aku tidak mau apa yang akan kalian lakukan"
Varya sama sekali tidak takut dengan mereka semua.
"Maka kami akan memaksa Nona dengan cara kami"
Pemimpin pasukan langsung menjawab perkataan Varya dengan tegas.
"Ooh, kalian berani rupanya"
Jawab Varya kepada mereka semua.
"Maaf Nona, kami hanya menjalankan perintah. Jangan salahkan kami jika kami bersikap kasar"
Pemimpin pasukan penyergap langsung memerintahkan anak buahnya untuk menangkap Varya.
"Namora pergilah, aku akan menahan mereka semua"
"Pergi, hahaha.. Apa kamu bercanda Varya. Justru aku ingin menghabisi mereka semua untuk membalaskan semua dendam teman-temanku"
Namora menggunakan alasan membalas dendam untuk tetap berada disisi Varya.
"Namora, tolong kali ini saja kamu pergi. Mereka adalah pasukan khusus sekte, mereka tidak mudah untuk dilawan"
"Aku tidak akan meninggalkanmu, apa yang harus aku katakan kepada Aran jika sampai aku pergi meninggalkanmu seorang diri"
Namora tentu saja tidak ingin melihat Aran kecewa padanya karena sudah meninggalkan pelayannya sendirian. Sementara Varya jadi merasa tersentuh dengan perkataan Namora padanya.
"Maju"
Pasukan penyergap langsung maju menyerang Varya dan Namora bersama-sama.
Wusshh
Wussh
Dua orang menyerang Namora, sementara tiga orang menyerang Varya.
Hanya dalam hitungan menit, Varya dan Namora langsung terdesak. Mereka tidak mengira bahwa pasukan khusus ini sangatlah hebat. Mereka menyerang seperti bayangan yang terus menghilang bahkan gerakan mereka semua sangatlah cepat.
"Gerbang Surga, buka!"
Untuk mengimbangi musuhnya, Namora langsung menggunakan kemampuan terbaiknya.
"Hahaha, hanya gerbang surga tingkat dasar mau mengalahkan kami. Dalam mimpimu"
Kata salah satu penyerang.
"Element Api : Seni Bayangan Api"
Kilatan Api langsung keluar dari tubuh para penyerang. Mereka kembali bergerak dengan sangat cepat sampai meninggalkan jejak api dibeberapa tempat.
Bang!
Namora yang sedang bergerak cepat langsung terkena pukulan di punggung belakangnya. Pukulan itu meninggalkan bekas berupa tapak tangan berwarna merah.
"Arrrghhh"
Ia langsung terlempar jauh dan berusaha berdiri dengan kakinya yang mulai gemetar.
'Punggungku terasa terbakar'
Batin Namora yang merasa punggungnya begitu panas.
"Namoraaa"
Teriak Varya.
"Brengsek kalian"
"Element Api : Tarian Dewi Api"
Varya yang merupakan murid inti Sekte Bulan Merah langsung mengeluarkan jurus andalannya. Sekte Bulan Merah adalah sekte element api, jadi semua jurus mereka mengandung api. Tubuhnya kini dikelilingi oleh api.
Seperti sedang menari, Varya lalu mulai menyerang musuh-musuhnya dan berusaha menyelamatkan Namora.
"Walau kamu menggunakan ilmu yang sakti, tapi melawan kami berlima kamu tidak akan bisa menang"
Kata Pemimpin pasukan musuh.
Benar saja, dalam hitungan menit Varya langsung terdesak oleh serangan gabungan pasukan musuh.
"Kami adalah pasukan khusus Sekte, sebaiknya kamu menyerah sekarang juga"
Kata pemimpin pasukan musuh ditengah serangannya kepada Varya.
"Tidak akan"
Varya masih berusaha melawan mereka semua walau rasanya ia tidak mungkin bisa menang.
Varya dan Namora terus berusaha mati-matian melawan serangan gencar musuh. Tapi sekuat apapun mereka menyerang, musuh selalu berada diatas angin.
Kini Varya dan Namora berdiri berdampingan dengan nafas yang terputus-putus. Apalagi Namora, dimana tubuhnya sudah banyak terdapat luka.
"Varya jika aku mati tolong jaga Aran"
"Huh, kau juga. Jika aku mati tolong kirimkan salamku untuknya"
Mereka berdua merasa sudah tidak sanggup lagi untuk melawan para penyerang ini.
"Semuanya, kedua gadis itu sudah mulai kehabisan tenaga. Tangkap mereka sekaligus"
"Baik!"
Jawab seluruh pasukan penyerang kepada pemimpin mereka.
Ketika para pasukan musuh mulai menghampiri Varya dan Namora perlahan-lahan, terdengar suara dari langit.
"Apa yang kalian lakukan kepada teman-temanku"
~Note~
Jika kalian semua menyukai novel ini, mohon bantu penulis dengan cara dibawah ini ya.
* Jangan lupa like dan koment.
* Vote jika memungkinkan.
* Follow Author.
* Terakhir\, mohon bantu share.
Jika ada yang ingin bertanya bisa lewat instagram saya ya.
Terima kasih.
Salam hangat dari penulis.
Instagram :
@yukishinamt