Pendekar Nusantara

Pendekar Nusantara
Pengadilan Aran



Melihat Jin itu berlutut dihadapannya, Aran langsung mengeluarkan rantai jiwa miliknya.


Dengan perintah dari Aran, rantai itu langsung melilit tubuh Jin malang tersebut.


"Katakan, bagaimana caramu memasuki dunia ini. Bukankah portal dimensi sudah ditutup. Kalaupun ada portal yang terbuka, itu memiliki batasan usia bagi yang ingin melewatinya. Aku yakin umurmu sudah melebihi batasan yang ditentukan"


Aran yang pernah mengunjungi dunia Jin tentu saja sangat mengetahui persyaratan untuk melintasi portal.


"Benar Tuan, sudah tidak ada portal yang terbuka. Saya bisa memasuki dunia manusia karena adanya perjanjian. Jika ada manusia yang mengikat janji dengan bangsa kami, maka kami bisa pindah ke dunia ini melalui jiwanya. Selama mereka bisa memenuhi semua persyaratan yang dibutuhkan"


Aran yang mendengar ini tentu saja langsung kaget.


"Apa syarat yang diperlukan untuk memanggilmu kesini"


Pembicaraan Aran dan Jin tersebut sangat menarik perhatian semua yang berada di tempat itu. Jadi mereka semua sangat serius mendengarnya. Kecuali Braja bersaudara.


"Syaratnya, mereka harus melakukan ritual terlebih dahulu. Seperti yang ia lakukan untuk memanggilku"


Makhluk itu sedikit menoleh ke arah Braja bersaudara.


"Dia harus memberikanku tumbal pengorbanan 50 bayi laki-laki dan..."


Belum selesai ia berbicara Aran langsung menendangnya.


"Bajingaannn"


Buak


Aran menendang wajah makhluk tersebut sampai ia terlempar jauh.


"Jin laknatt"


Setelah jin itu terlempar, Aran menariknya kembali dengan rantai yang masih melilitnya tubuh Jin tersebut dan kemudian ditendang lagi wajah Jin itu oleh Aran. Terus seperti itu sampai wajah jin itu hancur tak berbentuk.


"Ampuni saya Tuan, ampuni saya"


Makhluk Jin nahas tersebut terus berlutut memohon ampun. Ia benar-benar ketakutan dengan sosok pemuda dihadapannya ini.


"Kau telah membunuh 50 bayi tidak berdosa, aku tidak akan pernah memaafkanmu. Rantai Jiwa, segel"


Setelah Aran berkata seperti itu, rantai jiwa miliknya langsung mengikat kencang jin tersebut. Rantai itu lalu mengeluarkan api hitam dan melilit Jin itu dengan sangat kencang.


"Tuaann, ampuuunnn. Sakittt. Silahkan bunuh saya, tapi jangan siksa saya seperti ini"


Ratapan kesakitannya menggema dihutan ini membuat mereka yang mendengarnya merinding. Karena kini Aran telah membakar jiwa Jin malang tersebut.


"Arggghhh.."


Semua yang melihat pemandangan ini menjadi sangat ketakutan dengan Aran. Mereka tidak pernah menduga bahwa ternyata Aran ini sangatlah kejam.


Aran lalu melirik kedua Braja bersaudara dengan tatapan dingin.


Melihat tatapan Aran yang begitu dingin, membuat Braja bersaudara langsung lemas. Mereka jadi membayangkan siksaan apa yang akan mereka terima nanti.


"Ini adalah hukuman untukmu karena sudah menghilangkan banyak nyawa tak berdosa"


Aran lalu kembali melakukan segel tangan. Kali ini ia melakukan penarikan sukma dari Jin malang tersebut.


"Aaaarrrrrghhhhhh"


"Uwaaaarrgghhh"


"Ampuuunn Tuaaann"


Proses penarikan sukma yang dilakukan oleh Aran benar-benar sangat menyakitkan. Siksaan yang dialami Jin itu bagaikan dikuliti hidup-hidup dengan ribuan pisau. Jin itu terus menjerit histeris hingga akhirnya jeritannya menghilang seiring sukmanya yang masuk kedalam botol yang telah dipersiapkan oleh Aran.


"Ini adalah botol khusus yang didalamnya terdapat api abadi. Sukmamu akan terus dibakar disini untuk menebus semua dosa yang telah kau lakukan"


Aran berkata didepan botol kaca berwarna hitam yang ada ditangannya dan kemudian memasukkannya ke alam giok. Bagi mereka yang melihat Aran, seolah-olah botol itu lenyap dari tangan Aran.


Kini Aran kembali menatap Braja bersaudara dan berjalan menghampiri mereka.


Braja bersaudara langsung menelan ludah mereka melihat Aran mendekatinya.


Mereka reflek mundur kebelakang.


Ki Braja Hitam ketakutan setengah mati melihat Aran yang mendekatinya. Sementara Ki Braja Merah hanya bisa diam menatap Aran, ia tidak menyangka bahwa pemuda yang sebelumnya diremehkan ini memiliki kemampuan yang sangat sakti dan kejam.


"Bambang dan kau Kakek biadab. Aku tidak menyangka jika ternyata kalian melakukan tindakan yang sangat mengerikan hanya demi menjadi kuat. Kalian bahkan bersekutu dengan Jin busuk seperti itu. Dimana harga diri kalian sebagai manusia yang memiliki derajat lebih tinggi dari bangsa Jin. Dosa kalian terlalu besar, untuk itu aku akan mencabut nyawa kalian sekarang juga"


Ki Braja Hitam langsung berlutut dihadapan Aran, ia tidak mau mati seperti Jin yang dilihatnya tadi. Ia tidak akan sanggup menahan siksaan seperti itu.


"Ampun Tuan, ampunn. Saya sama sekali tidak mengetahui perihal tumbal pemanggilan Jin tersebut. Saya hanya mengetahui bahwa Kakak senior saya ini memiliki kemampuan untuk merubah dirinya menjadi makhluk seperti tadi"


Ki Braja Hitam berkata dengan penuh ketakutan, memang sebenarnya ia tidak mengetahui sama sekali terkait penumbalan bayi yang dilakukan oleh Kakak seniornya.


Mendengar pernyataan Ki Braja Hitam, Aran lalu mengalihkan pandangannya kepada Ki Braja Merah.


"Apa benar yang dikatakannya?"


Pertanyaan Aran hanya dijawab oleh sikap diam Ki Braja Merah.


"Baiklah jika kau tidak mau menjawabnya, karena aku memiliki cara untuk membuatmu mengakuinya. Huhuhu" Aran tertawa dingin melihat ke arah Ki Braja Merah.


Tawa Aran yang begitu dingin membuat Braja bersaudara merinding. Mereka sebenarnya begitu ketakutan dengan Aran, apalagi Ki Braja Merah. Jadi ia lebih memilih diam.


"Rantai Jiwa"


Dari tubuh Aran kembali keluar rantai berwarna hitam yang mengelilinginya dan terus bergerak-gerak, seolah-olah memiliki kesadaran sendiri.


Braja bersaudara kembali menelan ludah mereka melihat rantai menakutkan yang mengelilingi Aran.


"Segel"


Rantai itu langsung bergerak cepat menuju Ki Braja Merah.


"Tungguuu"


Teriak Ki Braja Merah.


Namun rantai itu terus melaju dan dalam sekejap rantai itu sudah melilit tubuh Ki Braja Merah, sementara ujung rantai itu telah memasuki tubuhnya.


"Uwaaaarrrgghhh"


Kini kembali terdengar teriakan pilu Ki Braja Merah yang sangat menyedihkan. Ki Braja Hitam yang berada disebelah Ki Braja Merah langsung jatuh lemas, bahkan kini ia sampai mengompol di celana saking takutnya.


~**Note**~


Maaf hanya bisa update segini, saya sedang migrain.


Saya hanya mengingatkan ini hanyalah cerita fiksi, mohon jangan pernah mengaitkan dengan sejarah, nama tempat ataupun nama seseorang yang kebetulan sama.


Terima kasih untuk mereka yang memberikan komentar yang sangat membangun.


Terima kasih juga untuk mereka yang dengan keikhlasan hati memberikan vote kepada saya. Hanya Tuhan yang dapat membalas kebaikan kalian semua.


Tetap jaga kesehatan dan ikuti protokol kesehatan yang dianjurkan oleh pemerintah.


Maskermu menyelamatkan diriku.


Maskerku menyelamatkan dirimu.


Jika kalian semua menyukai novel ini, mohon bantu penulis dengan cara dibawah ini ya.


* Jangan lupa like dan koment.


* Vote jika memungkinkan.


* Follow Author.


* Terakhir, mohon bantu share.


Salam hangat dari penulis.


Instagram :


@yukishinamt