
Keesokan harinya.
Aska, Raka dan Yasa kembali ke gunung untuk mencari kayu dan bambu untuk membuat dinding dan atap rumah. Dan Citta seperti biasa menyiapkan masakan.
***
Istana Kerajaan Sunda Galuh (Padjajaran)
Aula singgasana.
"Ada apa Raka memanggilku kemari?" tanya Amuk Marukul.
(Raka\=Kakak)
"Apakah kamu yang memerintahkan orang-orang itu untuk membakar rumah Ki Salawi?" tanya Prabu Siliwangi.
"Apakah Raka menuduhku?" tanya Amuk Marukul.
"Aku tidak menuduhmu, tapi aku mengetahuinya. Jangan mengelak, akuilah," ucap Prabu Siliwangi.
Amuk Marukul terdiam sejenak.
"Ya benar, aku yang menyuruh orang-orang itu, bahkan aku menyuruh untuk membunuhnya. Memangnya kenapa? Apakah ada masalah?" ucap Amuk Marukul.
"Ingatlah Rai, berhentilah dan jangan lagi mengusik tempat kediamannya, atau kau akan menanggung akibatnya," ucap Prabu Siliwangi.
(Rai\=Adik)
"Memangnya apa yang bisa rakyat jelata lakukan terhadapku Raka? Salah dia sendiri yang tidak menerima anakku menjadi muridnya. Memangnya siapa dia?" ucap Amuk Marukul dengan sombong.
"Kamu tidak perlu tahu siapa dia. Yang pasti aku memperingatimu sebagai Rakamu. Jika terjadi sesuatu padamu karena mengusiknya aku sendiripun tidak dapat membatu dan melindungimu. Bahkan seluruh kerajaan di Bumi Nusantara," ucap Prabu Siliwangi.
Setelah mendengar ucapan Prabu Siliwangi, Amuk Marukul langsung pergi dengan wajah penuh amarah dan kekesalan.
***
Dua minggu kemudian.
Rumah Ki Salawi telah selesai dibangun ulang. Aska, Raka, Yasa dan Citta mulai berlatih kembali.
Ki Salawi membawa Aska ke tempat diantara himpitan dua Gunung Manglayang. Tempat itu menakjubkan, dataran yang lumayan luas dipadukan dengan rerumputan hijau serta pinggiran dengan pepohonan yang lumaya besar.
"Aska, keluarkanlah semua jurus-jurus serangan tenaga dalammu. Kakek ingin melihatnya," ucap Ki Salawi.
"Baik Kek," ucap Aska langsung mengambil nafas pembuka.
Jurus yang pertama dikeluarkan Aska adalah Jurus Pangolahan Raga. Aska melalukan jurus tersebut dengan sangat baik dan diakhiri dengan nafas penutup. Setelah itu Aska mengambil kuda-kuda Jurus Jeblag. Aska mengeluarkan jurus tersebut dengan kekuatan penuh. Hawa energi yang dikeluarkan Aska cuku besar, hingga menerjang sampai tiga puluh meter dari tempat Aska berdiri. Lalu yang terakhir Aska menggunakan Jurus Tapak Sakti. Aska menerjangkan tangannya kedepan, dengan telapak tangan dan mengeluarkan hentaka hawa energi disekeliling depan telapak tangannya.
"Jurus pangolahan ragamu sudah cukup sempurna dan yang lainya masih harus banyak dilatih," ucap Ki Salawi.
"Apakah Jurus Jeblag sama jurus tapak sakti Aska belum cukup kuat Kek?" tanya Aska.
"Iya," ucap Ki Salawi.
"Memangnya seperti apa Kek Jurus Jeblag dan Tapak Takti yang sudah berada di tahap sempurna?" tanya Aska penasaran.
"Ingat Aska semua hal yang Kakek lakulan tidak ada yang sudah sempurna. Jurus dan ajian yang akan Kakek ajarkan kepadamu semuanya berada di tahap cukup sempurna. Itu sudah tahap paling tinggi. Karena, menurut Kakek semua ilmu persilatan masih bisa ditingkatkan hingga menembus batasan seseorang dan menjadi pendekar hebat," ucap Ki Salawi.
Aska terdiam mendengar ucapan Ki Salawi. Dari pertama menjadi muridnya, semua yang diucapkannya sangat berat untuk dipahami.
"Perhatikan," ucap Ki Salawi mengambil nafas pembuka.
Ki Salawi mengambil kuda-kuda gerakan Jurus Jeblag dan melepaskannya. Luapan hawa energi yang di keluarkan Ki Salawi sangat besar hingga sampai ke ujung dataran itu dan menghantam tebing gunung dengan sangat kuat.
Aska melongo dan tercengang melihat jurus yang dikeluarkan Ki Salawi sangat luar biasa kuat. Selama ini ternyata Aska salah mengirakan bahwa dirinya sudah cukup kuat, akan tetapi apa yang dipelajarinya masihlah seperti debu yang berhamburan.
"Apa ada yang ditanyakan?" ucap Ki Salawi.
"Ya Kek. Apakah itu Jurus Jeblag yang sama dengan yang Aska gunakan?" tanya Aska penasaran.
"Menurutmu bagaimana Aska?" ucap Ki Salawi kembali menanyakan.
"Menurut Aska itu masihlah jurus yang sama," jawab Aska.
"Ya itu jurus yang sama dengan yang kamu gunakan," ucap Ki Salawi.
"Bagaimana bisa sekuat itu Kek?" tanya Aska.
"Kamu akan merasakannya setelah banyak berlatih," ucap Ki Salawi.
Semangat Aska meluap-lupa mendengar ucapan Ki Salawi. Padahal tidak sesederhana itu mengenai tenaga dalam yang sangat kuat.
"Sekarang Kakek akan mengajari kamu Ajian Panolak hawa," ucap Ki Salawi.
"Ajian apa itu Kek?" tanya Aska.
"Ajian Panolak Hawa masih satu rumpun dengan Jurus Pangolahan Raga. Jika diibarakan seperti adik dan kakak. Jurus Pangolahan Raga digunakan untuk menstabilkan hawa energi dalam tubuh, sedangkan Ajian Panolak Hawa, jurus yang dapat menghilangkan pengaruh tenaga dalam orang lain," ucap Ki Salawi.
Ki Salawi mulai memperagakan cara menggunakan jurus tersebut.
"Kemarikan tanganmu," ucap Ki Salawi.
Ki Salawi menempelkan tangan Aska di perutnya.
"Jika musuh memukul dengan menggunakan tenaga dalam, posisikan telapak tanganmu di atas dan dibawah seperti ini atau misalkan jika kamu terkena Ajian Tapak Saketi, ini bisa menetralkan tenaga dalam yang menggerogoti tubuhmu," ucap Ki Salawi.
"Apa itu Ajian Tapak Saketi Kek? tanya Aska.
"Jika kamu terkena ajian ini, kamu akan terpental seperti terbawa angin. Setelah itu tubuhmu akan merasa sakit," ucap Ki Salawi.
Mendengar penjelasan tersebut Aska mengingat kembali pertarungannya dengan Ki Cakrabuana.
"Sepertinya Aska pernah terkena jurus seperti itu Kek. Sewaktu bertarung dengan pendekar tua," ucap Aska.
"Baguslah kalau sudah mengetahuinya. Jadi kamu bisa langsung berlatih," ucap Ki Salawi.
Aska mulai berlatih Ajian Panolak Hawa. Posisi Aska berada beberapa meter di depan Ki Salawi.
"Ingat Aska. Pada saat hawa energinya mengenaimu langsung posiskan tangan dan serap energinya lalu lepaskan," ,cap Ki Salawi.
"Baik Kek," ucap Aska.
Ki Salawi mengeluarkan Ajian Tapak Saketi. Saat jurus tersebut mengenai Aska, Aska terpental kebelakang seperti terbawa angin. Pada saat itu Aska memposiskan lengannya seperti yang dijelaskan Ki Salawi. Namun, Aska belum bisa menggunakan jurus tersebut dan terbawa hingga jungkir balik.
"Uhhkk... Ternyata sangat susah belajar menggunakan jurus yang menahan serangan tenaga dalam seperti ini," batin Aska kesakitan.
Setelah itu, Aska istirat dan meminum air obat yang dibuat Ki Salawi untuk mengembalikan dan menstabilkan tenaga dalamnya.
Ki Salawi menjelaskan ulang kepada Aska mengenai Ajian Panolak Hawa tersebut.
Akan tetapi, sudah kesekian kalinya Aska mencoba menahan serangan Ki Salawi selalu gagal.
"Hari ini sudah cukup sampai disinya. Sekarang kita pulang. Jangan terlalu memaksakan diri," ucap Ki Salawi.
"Baik Kek," ucap Aska.
Setelah seharian penuh Aska belajar Ajian Panolak Hawa, Aska masih belum bisa menggunakannya. Berhubung waktu sudah petang dan Aska mulai kehabisan tenaga, Ki Salawi dan Aska memutuskan untuk kembali ke rumah.