
Sekelompok orang itu menyerang Aran dan Taeyang tanpa ragu. Tapi belum sampai mereka menyentuh Aran dan Taeyang, mereka terkena gelombang energi yang langsung menghempaskan mereka semua jauh ke udara.
Hanya teriakan mereka saja yang terdengar.
Bahkan Taeyang yang sudah bersiap untuk menghadapi serangan mereka ikut kaget melihat para penyerangnya terlempar jauh.
"Apa yang terjadi"
Hampir semua orang yang melihat kejadian itu mengatakan hal yang sama.
"Hyung-nim, apa kamu yang melakukannya"
Taeyang berkata sambil menatap wajah Aran yang tertutup topeng.
"Menurutmu? Sudah lupakan, ayo kita pergi"
Aran lalu menyeret Taeyang yang masih diam terpaku. Taeyang benar-benar tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia merasa bahwa para senior itu adalah orang-orang yang kuat. Tapi dengan mudahnya mereka semua terlempar jauh oleh Aran.
'Hanya dengan auranya saja ia dapat melempar para senior itu, aku jadi merasa semakin penasaran dengan kekuatannya'
Kata Xiao Jun di dalam hatinya.
'Aku benar-benar curiga dengan sosok pria bertopeng itu. Aku sangat yakin dia adalah Aran, sialann'
Batin Xiao Ling sambil mengepalkan tangannya.
Diam-diam para gadis juga melihat kejadian tersebut.
Jika benar itu Aran, ingin rasanya Xiao Ling menghajarnya sampai ia puas melampiaskan kekesalannya.
'Pemuda yang menarik'
Juga ada seorang pria yang menatap Aran dari atas menara. Sebenarnya ia selalu memperhatikan setiap orang yang berada di lingkungan akademi. Jadi setiap kali ada keributan, ia akan mengetahuinya lebih dulu dan dapat menjegah terjadinya hal-hal yang di luar batas. Jika hanya patah tulang ia tidak akan ikut campur, tapi jika sampai ada niat membunuh maka ia akan menghentikannya.
Aran bersama Taeyang lalu berjalan menuju menara latihan. Tidak lama, mereka berdua sudah sampai di menara tersebut. Menara itu sangat tinggi, dengan banyak ukiran yang terlihat sangat indah menghiasi dinding menara. Tidak hanya tinggi, menara itu juga dalamnya sangat luas dan terdapat panggung batu yang sangat kokoh.
Begitu Aran dan Teayang memasuki menara itu, ternyata di dalam menara sudah banyak siswa akademi. Mereka semua saling mengobrol dan bertegur sapa.
"Hei, bagaimana misi kelas d yang kemarin kamu lakukan. Apakah sudah selesai"
"Hehehe, tentu saja sudah. Aku bahkan sudah mengambil hadiahnya"
"Ngomong-ngomong katanya ada anak baru yang memasuki akademi ini"
"Ya, itu benar. Mereka juga akan datang kesini dan mengikuti ujian bakat"
Banyak sekali obrolan yang terdengar di ruangan itu. Aran bersama Taeyang hanya diam dan mendengarkan obrolan para senior.
Tidak lama masuklah teman seangkatan Aran baik teman pria maupun gadis.
Xiao Fei masih tetap mengikuti Xiao Jun, sedangkan Fuma berjalan bersama mereka dengan menjaga jaranya.
Tapi ketika kelompok gadis masuk, suasana ruangan langsung sangat ramai.
Varya, Xiao Ling, Srikandi dan Octavia memanglah gadis yang memiliki kecantikan di atas rata-rata.
"Siapa para gadis itu, mereka sangat cantik"
Wooooo
"Haiii, mari kesini dekat dengan Kakak"
"Kepalamu Kakak"
Teriak seorang pria yang langsung berjalan menghampiri para gadis dengan para pengikutnya. Sepertinya ia adalah pemuda yang berasal dari keluarga yang kuat.
"Hallo para gadis, perkenalkan Kakak saya ini. Dia adalah Tuan Muda Sima"
Pria yang disebut Tuan Muda Sima ini memiliki perawakan yang tinggi dan tampan.
Tapi para gadis tetap bersikap cuek dan melangkah pergi meninggalkan mereka.
"Heii kalian berhenti, berani sekali kalian mengabaikan Tuan Muda Sima"
Pengawal Tuan Muda Sima berteriak kepada para gadis. Ketika ia ingin menarik salah satu gadis, terdengar teriakan dari kejauhan terhadap para gadis.
"Adiikkk"
Seorang pria tinggi dan berwajah tampan berkata sambil menghampiri kelompok para gadis baru.
Ternyata pria itu adalah Kakak tertua dari Lady Octavia yang selama ini tidak ada yang tau. Keberadaan Xavier selalu di rahasiakan oleh pihak Kerajaan Silver Cloud.
Para pria yang sebelumnya mengejar para gadis langsung terdiam melihat Xavier.
"Kenapa kalian mengejar adikku, apakah kalian mengenalnya?"
Tanya Xavier sambil menatap curiga ke arah kelompok Tuan Muda Sima.
"Ahh tidak senior, kami sepertinya salah orang"
Dengan satu tarikan nafas, mereka semua langsung pergi secepat mungkin.
"Sialann, ternyata dia adalah adik dari senior Xavier. Siswa yang berada dalam peringkat 10 besar akademi"
Tuan Muda Sima hanya bisa mendengus kesal dan berusaha pergi menjauh secepat mungkin.
"Kenapa gadis secantik itu harus menjadi adiknya"
Kembali Tuan Muda Sima mengumpat dan hanya bisa menggerutu terus sepanjang jalan.
Berbeda dengan Taeyang yang tertawa begitu bahagia melihat kelompok Tuan Muda Sima yang lari tunggang langgang.
"Hyung-nim, mereka sangat lucu"
Taeyang tidak ada habisnya menertawai tingkah laku kelompok Tuan Muda Sima. Aran juga ikut tertawa melihat kepergian Tuan Muda Sima.
"Semuanya, mohon perhatiannya"
Terdengar suara keras dari seorang Kakek Tua yang memiliki aura sangat berwibawa.
Setelah mendengar teriakannya, semua siswa langsung terdiam.
Sekarang Aran dapat melihat bahwa di atas sebuah panggung batu sudah terdapat banyak guru dari akademi ini.
"Kalian semua para siswa lama atau para senior. Hari ini kita kedatangan siswa baru yang menjadi murid inti akademi ini. Sudah menjadi tradisi kita, bahwa setiap murid inti yang baru memasuki akademi ini harus mengikuti ujian bakat. Apakah ia layak menjadi murid inti atau tidak"
Kakek Tua itu diam sebentar dan berkata kembali.
"Kalian semua juga bisa lihat, di belakang saya ini juga sudah ada para Master Guru akademi yang akan ikut melihat ujian ini. Jika ada siswa yang menurut mereka sesuai dengan kriteria mereka, maka mereka akan merekrutnya"
Kakek Tua itu kembali diam dan menatap seluruh siswa yang ada di dalam menara. Diam-diam ia juga memeriksa para siswa ini.
"Untuk para siswa baru yang belum mengenal saya. Di sini saya adalah Kepala Sekolah Akademi Bimasakti. Sekarang kepada seluruh siswa baru silahkan naik ke atas panggung"
Mendengar perintah Kepala Sekolah, para siswa baru lalu berjalan menaiki panggung batu. Ketika mereka berjalan, banyak mata yang memandang ke arah mereka.
"Ya Ampun, para gadis itu sangat cantik"
Kata seorang pria.
"Awas kau jika berani menggodanya"
Kata gadis yang berada di sebelahnya sambil ia mencubit perut pria tersebut.
"Adduduh, ia sayang iya"
Pria itu hanya bisa meringis kesakitan.
Para siswa baru lalu berbaris dan berdiri di atas panggung mengikuti arahan pria muda yang berada di tempat itu.
"Lepaskan kain penutup itu"
Kata Kepala Sekolah kepada pria muda yang bertugas membuka kain penutup tinggi.
Setelah kain di lepas, terlihatlah sebuah pedang panjang yang memiliki bentuk seperti kristal berwarna putih seperti susu menancap di atas altar batu.
"Ini adalah pedang yang sudah turun-temurun berada di akademi ini. Pedang ini dapat berubah warna sesuai dengan tingkatan bakat mereka yang memegangnya. Tingkatan paling rendah adalah putih lalu kuning, hijau, biru muda, biru tua, merah dan ungu. Saya hanya mengetahuinya sampai warna ungu saja. Tapi saya pernah mendengar bahwa ada tingkatan di atas ungu yaitu hitam, namun sampai sekarang saya tidak pernah melihatnya"
Kepala Sekolah lalu berhenti sejenak.
"Sebenarnya acara ujian bakat ini juga untuk menemukan seseorang yang sudah ditakdirkan untuk memiliki Pedang Bintang ini. Entah sudah berapa generasi yang mencoba menariknya tapi tidak ada seorang pun yang dapat menariknya. Hampir semua orang yang berada di sini pernah mencobanya termasuk saya sendiri tapi belum ada yang berhasil"
"Sekarang, mungkin saja calon pemilik pedang ini ada di antara kalian"
Kepala Sekolah lalu meminta para siswa baru untuk memegang pedang tersebut dan mencoba menariknya secara bergiriliran.