Pendekar Nusantara

Pendekar Nusantara
Kemarahan Keluarga Situ



“Hei kau pria bertopeng, berhenti!”


Pria yang bersama Situ Jingmi berteriak kepada Aran. Dengan adanya kejadian ini membuat semua orang jadi penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.


“Heheh, bakal ada adegan seru nich”


“Kita lihat, apakah pria bertopeng itu bisa selamat atau tidak”


“Kakak Situ Jingmi adalah pria yang sudah berada di alam master”


“Kasihan pria bertopeng itu, aku bisa merasakan bahwa aura dia sangatlah lemah”


Beberapa orang mulai bergosip terkait kejadian dihadapan mereka ini. Sementara Aran sebagai tokoh utama disini masih saja tetap tenang tanpa merasa takut sedikitpun.


“Apa kau memanggilku?”


Tanya Aran kepada pria yang wajahnya terlihat sangat marah. Kini pria itu sudah berdiri dihadapan Aran bersama Situ Jingmi dan para pengikutnya.


“Tentu saja aku memanggilmu. Namaku adalah Situ Kong dan Kedatanganku kemari untuk menuntut balas atas apa yang kau lakukan kepada Adikku ini”


Situ Kong berkata sambil mengeluarkan auranya yang menindas, ia ingin membuat Aran menyesali perbuatannya yang berani menyinggung keluarga Situ.


“Ooh, begitu rupanya. Dengan melihatmu aku jadi bersyukur”


Jawab Aran kepada Situ Kong.


“Bersyukur kenapa?”


Situ Kong bertanya kembali karena ia penasaran dengan jawaban dari Aran.


“Ya bersyukur, karena aku tidak dilahirkan didalam keluargamu. Karena jika aku dilahirkan disana, aku takut menjadi jelek seperti dirimu”


Jawaban Aran yang sangat pedas ini membuat Situ Kong dan semua pengikutnya menjadi murka.


“Keparattt, kau berani menghina keluargaku. Semuanya, serang!”


Para bawahan Situ Kong langsung berlari menyerang Aran, sementara dia dan adiknya Situ Jingmi tetap berada ditempatnya. Situ Kong ingin melihat sekuat apa pemuda bertopeng yang mencari masalah pada keluarganya.


Para bawahan Situ Kong langsung menerjang kearah Aran tanpa rasa takut sama sekali. Karena mereka merasa, pemuda bertopeng ini sangatlah lemah


Saat jarak mereka semua sangat dekat, Aran lalu menghentakkan kakinya ke tanah.


Bang!


Energi yang keluar dari hentakan kakinya membuat para penyerangnya terlempar jauh.


“Uwaaaa”


Mereka semua berterbangan jauh ke berbagai arah.


Semua yang melihat kejadian itu langsung diam melongo, mereka tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi dihadapan mereka.


“Apa-apaan dia”


“Hanya dengan hentakan kakinya, semua bawahan Situ Kong menghilang”


“Apa aku tidak sedang bermimpi”


Semua orang mulai bergosip dan ada beberapa yang mengucek-ucek matanya karena tidak percaya dengan apa yang dilihatnya tadi.


Kini hanya tinggal Situ Kong dan Situ Jingmi dihadapan Aran.


“Hanya tinggal kalian sekarang”


Berkata Aran sambil menatap kearah Situ bersaudara. Ditatap seperti itu, membuat Situ Jingmi berdiri dibelakang Situ Kong. Ia masih yakin bahwa Kakaknya ini dapat mengalahkan pemuda bertopeng dihadapannya.


“Kau lumayan hebat, tapi dihadapan tingkat Master sepertiku. Kamu hanyalah semut”


Situ Kong berkata dengan bangga. Ia sudah memeriksa aura musuhnya ini hanyalah petarung biasa yang hanya sedikit memiliki aura. Dia yang sudah level Master mana mungkin takut dengan pendekar rendahan macam Aran.


“Sombong sekali kau untuk ukuran pria berwajah dungu”


Jawaban Aran ini membuat Situ Kong menjadi semakin marah.


“Bajingann kau!”


Ia lalu bergerak cepat kearah Aran.


Wushh


Pukulan cepatnya dapat dihindari oleh Aran.


Wush


Wush


Wush


Situ Kong terus melancarkan serangan cepatnya kepada Aran, tapi semua serangannya dapat dihindari oleh Aran dengan mudah. Tubuh Aran begitu luwes dalam bergerak, bahkan ia terlihat seperti sedang menari-nari.


“Sialan kau, jangan pernah meremehkanku”


Dari cincin dimensinya, Situ Kong mengeluarkan pedang panjang berwarna ungu.


“Matilah kau”


Sinar pedang berwarna ungu terus menerjang Aran.


“Tidak kusangka, pedangmu memiliki efek korosi”


Aran lalu menjaga jaraknya dari Situ Kong.


“Hahaha, apa sekarang kau takut padaku”


Sambil terus menyerang Aran, Situ Kong tertawa sangat keras.


Aran lalu menggunakan Ajian Gerak Langitnya untuk bergerak kesisi Situ Kong.


“Hello idiot”


Kata Aran pelan saat berada disisi kanan Situ Kong.


Bukk!


Aran memukul dagu Situ Kong yang menyebabkannya terlempar keudara. Aran lalu ikut melompat menyusul Situ Kong yang masih kesakitan. Diudara, Aran mencari tempat yang menurutnya pas untuk memukul jatuh Situ Kong.


“Hmm, Sepertinya tempat itu cocok”


Dari udara Aran lalu dengan cepat mengambil pedang dari tangan Situ Kong yang langsung dimasukkannya ke dalam alam giok. Setelah itu ia baru kembali menghajar Situ Kong yang masih diam menahan sakit.


Bugh!


Pukulan Aran ini membuat Situ Kong langsung terjatuh dari udara dengan sangat cepat.


Bruakk


Situ Kong terjatuh kedalam tempat pembuangan tinja. Dampak dari tubuhnya yang jatuh dengan keras, membuat semua tinja yang ada ditempat tersebut berhamburan keluar dan berceceran ke berbagai tempat.


Semua yang melihat hal itu langsung kaget bukan main, bahkan ada yang spontan tanpa ragu tertawa terbahak-bahak.


“Wahahahaha”


“Wahahahaha, dia masuk ke tempat tinjaaaa”


“Wahahahaha, sungguh menjijikan. Untukk sementara waktu aku tidak akan mau bertemu keluarga Situ”


Berbagai macam orang mulai membicarakan nasib sial yang dialami Situ Kong.


Sementara Situ Jingmi diam menatap ketempat Kakaknya jatuh, ia tidak percaya bahwa hal memalukan itu akan terjadi pada Kakaknya.


Aran lalu perlahan-lahan berjalan kearah Situ Jingmi.


“Ma.. mau apa kau”


Situ Jingmi dengan tergagap-gagap berkata kepada Aran, bahkan tanpa sadar ia juga melangkah mundur. Ia takut, Aran akan melakukan hal yang sama padanya seperti yang dilakukan terhadap Kakaknya.


“Cepat berlutut padaku dan memohon maaf atau kau akan mengalami apa yang Kakakmu rasakan sekarang ini”


Aran berkata sambil memperlihatkan senyum sinisnya.


Dengan ragu-ragu ia akhirnya berlutut kepada Aran ketika jarak antara dirinya dan Aran sudah sangat dekat.


“Ampuni saya Tuan, ampuni saya”


Kata Situ Jingmi sambil terus berlutut, ia benar-benar sungguh merasa malu dengan kejadian ini semua. Keluarga Situ adalah keluarga terhormat disini, namun ia malah disuruh berlutut dihadapan banyak orang.


“Tetap berlutut dan jangan berani mengangkat wajahmu”


“Baik Tuan, baik”


Situ Jingmi yang karena rasa takutnya kepada Aran mau tidak mau ia mematuhi perintah Aran. Dari pada ia harus masuk kedalam kubangan tinja. Membayangkannya saja sudah membuat perutnya mual tidak karuan. Ia juga tidak yakin akan nasib Kakaknya, apakah masih hidup atau mati. Karena sampai sekarang Kakaknya tidak juga keluar dari tempat tinja tersebut.


Aran hanya melirik dingin kepada Situ Jingmi, tidak lama ia merasakan aura kuat yang menuju ketempatnya dengan sangat cepat.


‘Gawat’


Batin Aran.


“Semuanya saya undur diri dulu”


Berkata Aran sambil memberikan hormatnya kepada semua orang yang dari tadi menontonnya.


“Sama-sama anak muda, hati-hati”


“Ya, hati-hati anak muda”


“Terima kasih sudah menghibur kami dan membalaskan sebagian kekesalan kami kepada mereka”


Ternyata banyak orang yang mendukung Aran, membuat Aran menjadi tersenyum senang. Dengan gerak cepatnya ia menghilang dari pandangan banyak orang. Semua orang juga mulai berangsur-angsur pergi dari tempat tersebut.


Benar saja tidak lama aura kuat itu mendarat disebelah Situ Jingmi.


“Apa yang kau lakukan ditempat ini, sungguh memalukan”


Mendengar suara yang dikenalnya membuat Situ Jingmi berani mengangkat kepalanya.


“Kakeeeekk. Tolong aku”


Situ Jingmi begitu memelas berkata kepada Kakeknya.


“Dimana Kakakmu”


Tanya Kakek itu kepada Situ Jingmi.


“Kakak.. Kakak ada disana”


Sambil Situ Jingmi menunjuk kearah tempat Kakaknya jatuh.


Si Kakek melihat tempat yang ditunjuk itu penuh dengan kotoran disekelilingnya.


“Apa kau bercanda padaku hah!”


Kakek itu berkata dengan sangat keras kepada Situ Jingmi.


Tapi meihat respon orang-orang disekitar mereka yang sedikit tertawa membuat ia jadi sedikit percaya. Dengan bergerak cepat ia melihat ketempat itu. Begitu sampai dilihatnya Situ Kong yang terbujur pingsan didalam kubangan tinja. Ia bahkan melihat Situ Kong sedang menatapnya dengan tatapan kosong.


“Bajingaaaaaaannnnn”


Teriaknya dengan sangat keras yang membuat semua orang yang berada ditempat tersebut mengalihkan tatapannya kearah Kakek Keluarga Situ.