
"Ketua"
Sang pemimpin langsung berjalan menghadap Ketua yang tidak lain adalah Berliana.
Ternyata pemimpin sebenarnya kelompok ini adalah Berliana. Mereka adalah unit khusus gerak cepat dalam mengatasi segala bentuk kejahatan didalam kota.
Berliana langsung menampar pemimpin yang tidak lain adalah wakilnya.
Plakk
Tamparannya membuat ia terlempar.
"Aku ingatkan kepada kalian semua, kalian harus bekerja dengan jujur dan tidak bersikap arogan. Jika tidak, aku sendiri yang akan menghukum kalian"
Berliana menatap semua bawahannya dengan tatapan marah. Ia tidak menyangka bawahannya akan bersikap seperti ini.
Pemuda yang ditampar langsung berjalan kembali ke arah Berliana dan langsung memberi hormat.
"Ketua, maafkan saya"
Ia begitu takut kepada Berliana jadi hanya bisa berlutut dihadapan Berliana.
"Kalian semua adalah petugas independent yang dibentuk khusus oleh Raja Muda untuk membantu tugas Mahapatih. Jadi selain Raja Muda dan Mahapatih, tidak ada yang boleh mengatur kalian. Siapapun orang yang menyuruh kalian. Mau dia anak Gubernur, Patih, Pejabat negeri ini, semua tidak ada yang boleh memerintah kalian"
Berliana berkata dengan sangat tajam kepada para bawahannya ini.
Lalu ia kembali berkata "Paham semua!"
Semua bawahannya langsung menjawab dengan serentak "Paham Ketua!"
"Dan kau, sialan busuk. Kau membuat malu divisi ini. Pergi dari hadapanku"
Berliana menatap dingin kearah pemuda yang berlutut tersebut. Ia begitu gemetar mendengar kemarahan Berliana.
Ketua Unit Khusus ini terkenal sangat kejam dan dingin.
"Ketua, tolong beri saya kesempatan"
Berliana tidak menjawab permintaannya, ia lalu berjalan meninggalkan pemuda tersebut.
Berliana berjalan menuju ketempat Asura dan yang lainnya.
"Kalian semua yang ada disini, keluarkan identitas kalian"
Mendengar perintah Berliana, semua yang ada disitu langsung mengeluarkan identitas diri mereka.
Berliana lalu meminta para bawahannya untuk memeriksa semua identitas mereka.
Namun, hanya Asura yang tidak memberikan identitasnya.
"Berikan identitas kamu"
Tanya seorang petugas, tapi Asura hanya diam tidak menjawab apa-apa.
"Ada apa ini"
Berliana berjalan mendekati petugas yang memeriksa Asura.
"Lapor Ketua, pemuda ini tidak ingin memberikan identitasnya"
Berliana hanya menatap dingin ke arah pemuda bertopeng tersebut.
"Kenapa kau tidak mau memberikan identitasmu"
Tanya Berliana masih dengan wajah dinginnya.
Melihat Berliana, akhirnya Asura mau berbicara.
"Karena aku tidak memilikinya"
Mendengar Asura berkata, membuat mereka yang membencinya tertawa. Terutama anak pejabat yang bernama Kanto. Ia tertawa begitu keras.
"Hahahaha. Kau pasti mata-mata Kerajaan Parsy. Mangkanya kau tidak memiliki identitas diri. Mati kau"
Kanto begitu bahagia melihat pemuda yang hampir membunuhnya ini ternyata adalah penduduk ilegal.
"Diam Kau!"
Berliana berkata dengan sangat keras, membuat suasana ditempat itu kembali sunyi.
"Jika kau masih berani bicara omong kosong lagi. Aku akan menahanmu"
Berliana menatap singit ke arah anak pejabat tersebut. Ia begitu membenci pemuda ini, karena banyak laporan yang masuk kepadanya mengenai perilaku anak pejabat yang bernama Kanto.
Melihat wajah Berliana yang marah membuat nyali Kanto menciut. Sekarang ini ia benar-benar takut kepada Berliana. Jadi dia hanya bisa diam tertunduk dengan mulut tertutup rapat.
Berliana lalu kembali menghadap ke arah Asura.
"Jika kau tidak memberikan, maka kamu akan ditangkap dan akan kami interogasi"
Berliana lalu memerintahkan petugas bawahannya untuk menangkap Asura.
Tapi sebelum petugas itu sampai, Asura berkata "Tunggu sebentar, aku memang tidak memiliki identitas tapi aku memiliki lencana"
'Lencana'
'Memangnya dia siapa, memiliki Lencana tapi tidak memiliki identitas. Apa dia fikir kami ini bodoh'
Beberapa orang hanya berani berkata didalam hatinya. Mereka semua takut mengeluarkan suara karena keberadaan Berliana.
"Kalau boleh tau, lencana apa yang kamu miliki"
Berliana mencoba bersikap sopan terhadap pemuda bertopeng dihadapannya ini. Ia tidak mau gegabah dalam menghadapi seseorang yang memiliki lencana.
Asura lalu mengeluarkan lencana emas yang ia punya dari balik bajunya.
"Ini"
Asura memperlihatkan Lencana Mahapatih yang didapatnya dari Raja Muda.
"Lencana Mahapatih!"
Berliana yang sekilas melihat itu sudah langsung mengetahui lencana tersebut.
"Ya ini memang Lencana Mahapatih"
Asura berkata dengan sangat tenang.
Melihat Lencana yang dipegang oleh Asura, membuat Berliana menjadi salah tingkah.
"Jaa.. jaddi kau ini adalah Asura"
Dihadapan Asura, Berliana berkata sedikit gugup.
"Ya, namaku Asura"
Perkataan tenang Asura membuat semua yang berada disana diam membeku.
'Asura, Dewa Perang'
'Sial, hari apa ini. Kenapa aku harus bertemu Dewa Perang ini'
Banyak orang hanya bisa menggerutu didalam hatinya. Mereka menyesali sikap mereka sebelumnya terhadap pemuda bertopeng ini. Bahkan komandan yang tangannya hancur juga sangat menyesali tindakannya.
'Jika bukan karena beruang Kanto sialan ini, aku tidak akan terlibat masalah dengan Dewa Perang. Bahkan jika aku memiliki puluhan nyawa, aku tidak akan pernah berani dengannya'
Komandan itu benar-benar menyesali tindakannya kepada Dewa Perang Asura. Begitupun dengan pemuda yang berlutut kepada Berliana, ia sampai menurunkan rahangnya menatap Asura. Ia tidak menyangka bahwa pemuda bertopeng ini adalah atasan tertingginya.
Nama besar Asura sudah sangat terkenal di negeri ini. Bahkan namanya menjadi legenda dan tujuan hidup para anak muda untuk bisa menjadi sepertinya.
'Aku benar-benar buta' penyesalan tinggallah penyesalan. Pemuda yang berlutut itu hanya bisa berkata didalam hatinya. Karirnya dimiliter bisa dipastikan berakhir.
Berliana masih tidak percaya menatap pemuda bertopeng dihadapannya ini.
"Kau benar-benar Asura yang menyelamatkan aku dimedan perang"
"Ya, itu aku"
Jawab Asura masih dengan tenang. Sebenarnya dalam hati Asura ia merasa grogi, ia takut bahwa Berliana bisa mengenali bahwa dirinya adalah Aran.
Merasa bahwa pemuda dihadapannya ini adalah benar Mahapatih, membuat Berliana langsung mengubah sikapnya.
"Semuanya, beri hormat kepada Mahapatih Asura. Beliau ini adalah atasan kalian"
Berliana memberi komando kepada para bawahannya.
Diawali dengan Berliana, para bawahannya langsung dengan sigap memberi hormat kepada Asura.
"Salam hormat kami, Mahapatih Asura!"
Para pasukan unit reaksi cepat ini begitu menghormati Dewa Perang Asura. Pasukan yang berisikan para anak muda ini begitu mengidolakan Asura. Bagi mereka semua, Asura adalah panutan hidup mereka.
Asura hanya menatap mereka semua dengan tenang. Ia tidak menyangka akan memiliki bawahan seperti ini, terutama Berliana. Bisa dibilang kedepannya ia pasti akan terus berhubungan dengan Berliana. Padahal sebisa mungkin Asura ingin menghindar dari Berliana dan Lingga.
Aran hanya bisa berkata didalam hatinya 'Dunia tak selebar daun kelor'
Perjalanan Aran menjadi Mahapatih negeri ini akan terus berlanjut.
~Note~
Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pembaca karya saya ini.
Untuk semua pembaca jangan ragu untuk komen ya, karena memang saya ini hanyalah penulis amatir.
Mohon maaf jika banyak typo.
Btw saya memiliki akun instagram, tapi saya tidak aktif. Baru sekarang ini saja saya mulai membuka kembali, mohon maaf jika followernya masih sangat sedikit.
Bagi rekan-rekan pembaca yang mau add, nama id saya di ig
@yukishinamt
Terima kasih banyak ya.
See u next chapter.