Pendekar Nusantara

Pendekar Nusantara
Daratan Tengah & Teman Baru



Kelompok Aran terus terbang di langit luas dan sesekali singgah dibeberapa tempat sebelum melanjutkan terbang kembali.


Hingga akhirnya mereka mulai memasuki dataran tengah.


"Aran, itu adalah dataran tengah"


Kata Namora menunjuk ke arah daratan luas.


Tidak lama terlihat beberapa hewan besar juga disekitar Aran, Tapi mereka semua banyak yang memandang takjub ke arah Aran.


"Itu Burung Garuda, sudah lama sekali aku tidak melihatnya"


Salah satu sesepuh berkata dari atas tunggangannya yang seperti burung merpati besar.


"Kakek burung apa itu, kenapa terlihat sangat cantik"


Seorang pemuda berkata kepada Kakeknya dari atas tunggangannya.


"Itu burung Garuda ekor merah, burung itu sangat langka. Bahkan aku mengira burung itu telah lama punah"


Kakek tua begitu mengagumi burung besar yang ditunggangi oleh Aran.


"Kakek aku ingin memilikinya"


Seorang pemuda kaya raya yang permintaannya selalu dituruti oleh keluarganya sangat menginginkan burung Garuda milik Aran.


"Baiklah, nanti aku akan berbicara kepada pemiliknya"


Kakek tua itu lalu mengarahkan tunggangannya untuk mengikuti Aran.


"Aran, sepertinya ada yang mengikuti kita"


Namora berkata pelan sambil melihat kebelakang.


"Biarkan saja"


Aran memilih untuk mengabaikan orang yang mengikutinya.


Di dataran tengah ada tempat dimana para pemilik tunggangan terbang bisa memarkirkan tunggangannya. Karena disini mereka tidak mengijinkan ada yang terbang di kota ini. Oleh karena itu, mereka menyediakan lapangan yang sangat besar untuk mereka yang memiliki tunggangan udara mendarat.


Aran lalu mendaratkan Saka ke tanah lapang yang besar mengikuti yang lainnya.


Setelah mendarat Saka langsung menghilang bak ditelan bumi, membuat semua yang melihatnya kaget.


Tidak lama datanglah rombongan Kakek Tua yang sedari tadi mengikutinya.


"Anak muda bisa kita bicara sebentar"


Kakek tua itu berkata kepada Aran di ikuti seorang pemuda berpenampilan layaknya bangsawan dan beberapa pengikutnya.


"Ada apa Kakek Tua?"


Jawab Aran.


"Cucuku sangat menginginkan Burung mu, bisakah kami membelinya"


Kata Kakek Tua itu.


"Burungku? kamu ingin membeli burungku ini? Apa kau sudah gila"


Kata Aran sambil menunjuk ke arah kelaminnya.


"Memang berapa yang kau tawarkan"


Kata Aran menambahkan.


Perkataan Aran ini membuat Varya dan Namora tertawa sambil menutup mulutnya.


"Ah itu.."


Kakek Tua itu langsung merasa malu akibat perkataannya.


"Kakekk, pemuda ini benar-benar kurang ajar"


Kata pemuda yang sedari tadi berdiri disebelah Kakek Tua.


"Cepat katakan dimana Burung tungganganmu itu. Jika tidak, aku pasti akan membuatmu tidak bisa berjalan"


Pemuda dihadapan Aran ini benar-benar sudah tidak sabar untuk menghajar Aran. Dari kecil semua yang diinginkannya akan dipenuhi.


"Apa kau buta, burung itu sudah tidak ada disini. Jika kau mampu mencarinya silahkan cari. Sial sekali aku hari ini, bisa bertemu orang bodoh sepertinya"


Aran langsung mengajak Varya dan Namora untuk pergi meninggalkan tempat itu.


"Bangsatt, pengawal hajar dia"


"Baikk"


Para pengawal pemuda itu langsung menerjang ke arah Aran.


"Mati kau!"


Ada dua orang berbadan besar yang langsung meninju Aran dari belakang.


"Tikuss bodoh"


Aran lalu berbalik arah dan dengan cepat menampar kedua pengawal itu.


Plaakk


Plaakk


Para pengawal itu langsung terlempar jauh karena tamparan Aran.


Keributan yang terjadi antara Aran dan sekelompok orang menyebabkan kerumunan para penonton.


Kakek Tua yang menjaga cucunya juga kaget dengan kemampuan Aran. Karena para pengawal yang ditampar Aran adalah pengawal terbaik keluarga.


'Auranya rendah tapi tenaganya sebesar ini. Apa ia menyamarkan kemampuannya'


Batin Kakek Tua.


"Bangsatt kau, apa kau tau siapa aku hah!"


Teriak pemuda tersebut yang marah melihat para pengawalnya terlempar jauh.


"Aku tidak tau dan tidak mau tau siapa kau. Siapapun yang berani mengusikku maka harus terima konsekuensinya. Dasar anak manja"


Kata Aran.


Tapi kemudian terdengar perkataan dari para penonton.


"Berani sekali pemuda bertopeng ini mengusik Tuan Muda dari Keluarga Xiao"


"Dia Tuan Muda kedua dari keluarga Xiao yang terkenal sangat pendendam"


Aran yang mendengar nama Xiao langsung teringat salah satu kenalannya.


"Brengsekk, kau tidak mengenaliku. Namaku adalah Xiao Fei, Tuan Muda ketiga dari keluarga Xiao"


"Jadi kamu dari keluarga Xiao?"


Tanya Aran.


"Benar, apa kau sekarang takut. Jika kau mau berlutut dan membersihkan sepatuku, mungkin aku akan memaafkanmu"


Kata Xiao Fei sambil melirik jijik ke arah Aran.


"Berlutut padamu? memangnya kau siapa? Kaisar negeri ini. Wajahmu saja seperti keledai dungu, mau menyuruhku berlutut. Dalam mimpimu bocah sarapp"


Perkataan Aran menyebabkan Xiao Fei dan kerumunan kaget.


"Pemuda itu benar-benar gila, berani menyebut Tuan Muda Ketiga seperti itu"


"Dia benar-benar bosan hidup"


Obrolan para penonton semakin menyebabkan Xiao Fei panas.


"Kubunuh Kau!"


Sesaat ketika Xiao Fei mengeluarkan pedangnya, Kakek disebelahnya langsung menahannya.


"Tahan, kita tidak boleh bertarung disini"


Tidak lama juga datang para penjaga ketempat mereka.


"Ada apa ini, semua keributan dan segala bentuk tindak kejahatan akan diproses dengan hukum"


Sang Kakek langsung berkata kepada para prajurit.


"Tidak ada apa-apa, biasalah hanya sedikit masalah anak muda. Tapi sudah diselesaikan"


"Baiklah kalau begitu, mohon menjaga sikap kalian semua di negeri ini"


Kata Komandan pasukan yang langsung pergi karena dilihatnya keributan ditempat ini sudah diselesaikan.


"Aku akan mengingatmu, tunggu saja"


Kata Xiao Fei yang langsung pergi meninggalkan Aran.


Aran tidak memperdulikan perkataannya dan langsung mengajak kelompoknya pergi. Setelah itu semua orang juga langsung membubarkan diri.


"Kakak, tunggu"


Terdengar teriakan dari salah satu penonton yang sejak tadi memperhatikan Aran.


"Ya, siapa kamu. Apakah ada yang bisa saya bantu"


Aran lalu mengalihkan perhatiannya kepada pemuda yang dari cara berpakaiannya pasti bukan berasal dari negeri ini.


"Ahh, kenalkan. Nama saya Kim Taeyang, kamu boleh memanggilku Taeyang. Boleh saya tau namamu?"


Pemuda murah senyum ini membuat Aran merasa ia bisa berteman baik dengannya.


"Nama saya Aran dan mereka berdua adalah teman saya"


Kemudian Namora dan Varya masing-masing memperkenalkan dirinya.


"Terima kasih atas keramahan kalian semua. Apakah kalian semua datang kesini karena ingin mengikuti seleksi Akademi Bimasakti"


Tanya Taeyang kepada kelompok Aran.


"Hanya saya dan Varya yang akan mengikuti seleksi. Sementara Namora tidak, karena ia sudah menjadi siswa di akademi tersebut"


"Waahh, ternyata sudah ada senior saya disini. Salam senior, mohon bimbingannya"


Taeyang memberikan hormatnya kepada Namora.


"Tidak perlu seperti itu, saya hanyalah murid biasa disana"


Mereka lalu berjalan bersama ke arah kota. Karena Taeyang lebih lama tinggal di negeri ini, ia mulai menceritakan keadaaan negeri ini.


Ia bercerita bahwa ia sudah tinggal selama 2 bulan disini. Sudah banyak yang ia teliti disini, dari mulai para bangsawan hingga sisi gelap negeri ini.


Awalnya ia tidak tertarik kepada kelompok Aran, tapi melihat bahwa Aran berani melawan keluarga Xiao maka ia jadi membantunya.


Taeyang bercerita bahwa disini banyak sekali keluarga-keluarga hebat dari berbagai penjuru dunia.


Selain Keluarga Xiao yang terkenal, ada juga Prince of Parsy dan Lady Octavia. Dan masih banyak lagi keluarga-keluarga besar lainnya yang memiliki pengaruh signifikan di negeri ini.


Aran mendengarkan semua penjelasan dari Taeyang dengan seksama. Dengan adanya Taeyang, ia tidak perlu lagi mencari tau keadaan di negeri ini.


"Mmm, Aran-ssi. Apakah kalian ingin mencari penginapan juga?"


"Ya tentu saja, apakah kamu mengetahui restoran dan penginapan terbaik ditempat ini"


Karena perjalanan yang lumayan jauh, kelompok Aran sebenarnya sangatlah lapar.


"Restoran dan penginapan yang terbaik tentu saja itu adalah Pasifik Inn, tidak ada yang mengalahkan pelayanan terbaik mereka"


Mendengar Pasifik Inn Aran kembali tersenyum. Kadang ia berfikir apakah masih bisa bertemu wanita yang ditemuinya dulu.


"Tapi tempat itu sangatlah mahal"


Kata Taeyang menambahkan sambil melirik ke arah Aran.


"Tenang saja, uang bukan masalah bagiku"


Perkataan teman barunya ini, membuat Taeyang tersenyum lebar.


~Note~


Maaf baru bisa update, karena saya kemarin habis tes terkait Covid-19 dan hasilnya non-reaktif.


Buat yang pernah tes, pasti merasakan gimana kepikirannya menunggu hasil tes tersebut.


Jika kalian semua menyukai novel ini, mohon bantu penulis dengan cara dibawah ini ya.


* Jangan lupa like dan koment.


* Vote jika memungkinkan.


* Follow Author.


* Terakhir, mohon bantu share.


Jika ada yang ingin bertanya bisa lewat instagram saya ya.


Terima kasih.


Salam hangat dari penulis.


Instagram :


@yukishinamt