Pendekar Nusantara

Pendekar Nusantara
Akademi Bimasakti



Taeyang dan Rumbun terus bertarung melawan kelompok Parsy.


Kombinasi mereka berdua sungguh hebat membuat kelompok Parsy kesulitan untuk menghadapinya.


Aran bersama Varya dan Srikandi hanya duduk menonton dari kejauhan. Mereka tidak akan membantu selama Taeyang dan Rumbun tidak memintanya. Kini peserta di arena sudah banyak yang berkurang, hanya terlihat beberapa orang saja. Beberapa orang sudah mulai istirahat dengan tetap menjaga kewaspadaan mereka.


Beberapa kelompok mulai memperhatikan kelompok Aran yang tengah bersantai, tapi mereka semua tidak ada yang berani menyerang. Sebelumnya mereka sudah melihat kemampuan kelompok Aran, jadi mereka berfikir untuk menjaga jarak dan tidak saling menyerang.


Pertarungan-pertarungan kecil masih terjadi hingga akhirnya terdengar suara dari Kakek Tua pengawas ujian ini.


"Semuanya, hentikan!"


Teriakan yang disertai dengan tenaga dalam membuat semua orang tidak dapat bergerak. Tapi berbeda dengan Aran yang tubuhnya tidak normal, ia bisa bergerak bebas meski ia tetap menutupinya.


"Seleksi telah selesai dan aku sudah menilai kalian semua. Sekarang kalian semua yang tersisa di arena, kembali kepada kelompok kalian masing-masing"


Mendengar instruksi dari Kakek Tua, semua orang langsung bergerak untuk kembali kepada kelompok mereka masing-masing.


Kakek Tua itu lalu memerintahkan bawahannya untuk memberikan lencana sesuai dengan yang diinstruksikannya. Hanya ada 10 orang yang akan memiliki lencana khusus.


Kelompok Aran semua mendapatkan Lencana warna emas. Selain kelompok Aran yang mendapatkan lencana emas, juga ada tiga orang dari Keluarga Xiao, yaitu Xiao Jun, Xiao Ling dan Xiao Fei. Juga Lady Octavia dan satu orang lagi yang berpakaian serba tertutup yang hanya memperlihatkan mata serta rambutnya saja.


"Kalian semua telah mendapatkan lencana kalian masing-masing. Untuk yang menerima lencana berwarna silver maka kalian lulus menjadi siswa di Akademi ini"


Woooo


"Akhirnyaaa"


Beberapa orang begitu bersuka cita menerima lencana silver di tangan mereka. Menjadi siswa Akademi Bimasakti adalah impian banyak orang.


Kakek Tua itu mengamati semua orang yang ada di arena. Ia menunggu sampai suasana kembali tenang, baginya tidak masalah untuk para siswa baru ini mengeluarkan kegembiraan mereka.


"Semuanya harap tenang"


Kakek itu lalu kembali bicara. Semua orang juga kembali diam dan menatap ke arah Kakek Tua.


"Bagi kalian yang menerima Lencana Emas, maka kalian adalah Siswa Inti akademi ini. Sekarang bagi kalian yang mendapatkan Lencana Emas silahkan ikuti saya dan yang tidak, tetap di tempat kalian masing-masing menunggu penjemput kalian"


Kakek Tua itu lalu membalik badannya dan berjalan pelan.


Kelompok Aran yang mendapatkan Lencana Emas tentu saja mengikutinya.


"Tuan, Tunggu"


Terdengar teriakan dari kelompok Parsy.


Kakek Tua itu lalu berhenti dan mengalihkan wajahnya untuk melihat siapa yang memanggilnya.


"Ada apa?"


Tanya Kakek Tua itu.


"Tuan, saya adalah Pangeran dari Kerajaan Parsy. Disini saya ingin mengatakan bahwa ada kesalahan dalam pemberian lencana terhadap saya"


Pangeran Parsy berkata dengan memberikan hormatnya. Tapi ia tetap merasa sedikit sombong dengan menambahkan kata-kata Pangeran Kerajaan. Hal itu dilakukannya agar pengawas ini sedikit menaruh hormat kepadanya.


"Ohh seorang Pangeran, kesalahan apa maksudmu"


Tapi Kakek Tua itu malah menatap dingin ke arah Pengeran Parsy.


"Kenapa saya menerima lencana silver, bukan lencana emas"


"Kau memanggilku hanya untuk menanyakan itu, apakah otakmu sudah tidak waras lagi hah!"


Kali ini Kakek Tua itu benar-benar marah terhadap pemuda dari Kerajaan Parsy. Di matanya, Kerajaan Parsy bukanlah apa-apa.


"Tuan, kenapa saya tidak mendapatkan Lencana Emas sementara mereka mendapatkannya"


Kata Pangeran Parsy sambil matanya menatap ke arah kelompok Aran. Ia tidak terima jika ia harus menjadi siswa biasa sedangkan musuhnya adalah siswa inti.


"Mereka yang kau katakan ini jelas lebih hebat darimu. Kau mengajak banyak kelompok lain untuk memerangi mereka. Tapi apa hasilnya, mereka semua tetap selamat dan tidak ada dari mereka yang tumbang. Sementara kau, untuk mengalahkan dua orang saja tidak bisa. Apakah kau yakin dapat mengalahkan mereka semua"


Kakek itu lalu berbalik pergi dan meminta semua siswa yang mendapat lencana emas untuk mengikutinya.


Beberapa orang mulai membicarakan tindakan Pangeran Parsy.


"Memalukan"


"Sungguh tidak tau diri"


"Apa iya benar-benar seorang Pangeran"


Banyak orang yang mulai membicarakannya, mendengar hal itu Pangeran langsung menatap mereka semua yang membicarakannya.


"Jika kalian masih berani membicarakan aku lagi, aku pastikan itu adalah kalimat terakhir kalian. Aku bisa saja mengirim pesan kepada pasukanku untuk mencari kalian semua"


Dengan ancaman ini banyak orang akhirnya tertunduk diam tidak berani berkata-kata lagi. Ancaman Pangeran Parsy bukanlah ancaman kosong, mereka sering mendengar bahwa Pangeran Parsy ini akan dengan mudah menghilangkan nyawa seseorang. Tentunya ia menggunakan jasa pembunuh bayaran.


Kakek Tua mulai berjalan memasuki lingkungan akademi. Ia meminta kepada para siswa untuk memakai lencana pemberiannya dipinggang.


"Teman-teman lihatlah, itu siswa inti yang baru"


"Lihatlah mereka semua"


Semua orang langsung menatap para siswa yang berjalan mengikuti Kakek Tua.


"Betapa hebatnya mereka bisa menjadi siswa inti akademi ini"


"Dari yang aku dengar, para siswa inti di akademi ini begitu di manjakan. Segala kebutuhan mereka selalu dipenuhi bahkan uang saku mereka bisa 5x lipat dari yang kita terima nanti"


Para siswa bagian luar mulai bergosip diantara mereka semua. Bagi siswa luar seperti mereka, menjadi siswa inti adalah keinginan mereka selama ini.


Kakek Tua itu terus berjalan sampai ke atas bukit tinggi dimana di pintu masuknya terdapat penjaga yang menjaga gerbang masuk.


"Salam Tuan"


Kata para penjaga itu melihat Kakek Tua dihadapan mereka.


Kakek Tua hanya menganggukkan kepalanya dan berjalan santai ke dalam.


"Disinilah kalian akan tinggal dan berlatih"


Kata Kakek Tua itu kepada semua siswa barunya. Ia lalu menatap satu persatu siswa dihadapannya.


"Dalam akademi ini setiap orang memiliki tingkatan dalam ilmu beladiri. Dari yang aku lihat hampir dari kalian semua berada di tingkat master. Berlatihlah dengan giat agar kalian bisa menjadi lebih kuat. Aku hanya mengantar kalian sampai sini, selanjutnya akan ada yang datang menggantikanku. Sampai jumpa lagi"


Dalam sekejap Kakek Tua itu menghilang dari pandangan mereka semua. Aran sendiri hanya bisa merasakan sedikit aura Kakek Tua itu dan arah mana yang di ambil oleh Kakek Tua tersebut.


Mereka semua lalu mengobrol sebentar dengan masing-masing kelompoknya. Begitupun dengan kelompok Aran, mereka mengobrol bersama-sama. Membahas berbagai macam hal dan saling menceritakan kampung halaman mereka masing-masing.


"Taeyang, kenapa kamu terlihat sangat bahagia sekali"


Tanya Srikandi kepada Taeyang.


"Tentu saja aku bahagia. Impianku adalah agar bisa menjadi siswa akademi ini, jika orang-orang di desa aku tau bahwa aku berhasil memasuki akademi ini pasti mereka akan mengadakan pesta seminggu penuh"


Taeyang berkata dengan bangga kepada semua temannya ini.


Mereka semua ikut bahagia melihat Taeyang yang tersenyum puas.


Srikandi dan Rumbun juga tidak menyangka bahwa mereka akan berhasil menjadi siswa akademi ini. Awalnya mereka pesimis bisa lulus seleksi karena mereka melihat banyak orang kuat yang mengikuti seleksi ini. Jika saja mereka tidak bertemu dengan Aran, tentu hasil yang mereka dapat akan berbeda dengan yang sekarang.


Tidak lama dari udara datang seorang wanita muda bersama dua orang pria yang terlihat seperti pengawalnya.


"Para siswa baru, berkumpul dan berbaris sejajar"


Mendengar perkataannya semua siswa langsung berkumpul dan berbaris dengan rapi.


"Sebelumnya aku ingin kalian memperkenalkan diri kalian masing-masing. Cukup katakan nama kalian saja, aku tidak peduli asal usul kalian semua. Dimulai dari kamu dan lanjut kesebelahnya"


Wanita itu menunjuk ke arah seseorang yang berpakaian tertutup.


"Nama saya Fuma"


"Nama saya Octavia"


"Nama saya Xiao Jun"


"Nama saya Xiao Fei"


"Nama saya Xiao Ling"


"Nama saya Srikandi"


"Nama saya Rumbun"


"Nama saya Varya"


"Nama saya Kim Taeyang'


"Nama saya Aran"


Bang!


Mendengar nama Aran, Xiao Ling langsung reflek menengok dan menatap Aran dengan perasaan campur aduk. Bahkan jantungnya berdegup dengan sangat cepat.


'Arann'