Pendekar Nusantara

Pendekar Nusantara
Seleksi Masuk Akademi VI



Aran yang terus di serang oleh Xiao Ling malah terlihat seperti sedang menikmatinya. Tubuhnya bergerak seirama dengan serangan Xiao Ling. Bahkan kini mereka seperti tengah berlatih ilmu pedang bersama, karena berkali-kali Aran menyentuh tangan Xiao Ling untuk membenarkan posisi tangannya dalam memegang pedang.


“Kakak, apa ini penglihatanku saja. Sepertinya Xiao Ling terlihat seperti sedang berlatih dengan pemuda bertopeng itu”


Xiao Fei yang memperhatikan pertarungan antara Xiao Ling dan pemuda bertopeng menjadi bingung dengan pertarungan tersebut.


“Kau benar Xiao Fei. Pemuda bertopeng itu memang selalu memperbaiki setiap gerakan Xiao Ling yang kurang sempurna. Aku jadi berfikir bahwa pemuda bertopeng ini pastilah pendekar pedang yang hebat”


“Pendekar pedang?”


Xiao Fei menjadi semakin penasaran dengan pemuda bertopeng yang sedang bertarung dengan Xiao Ling.


“Hmm, tapi yang jadi pertanyaanku. Kenapa ia dari tadi tidak membalas serangan Xiao Ling? Apakah mereka ini saling kenal?”


Perkataan Xiao Jun juga di iyakan oleh Xiao Fei. Mereka berdua jadi sangat penasaran akan sosok pemuda bertopeng yang tidak lain adalah Aran.


“Kenapa kau tidak balas menyerang?”


Xiao Ling juga sadar bahwa pemuda dihadapannya ini sama sekali tidak tertarik bertarung melawannya, malah yang ada Xiao Ling seperti bertemu dengan seorang ahli pedang yang selalu memperbaiki setiap kesalahannya dalam berpedang.


“Karena aku tidak tertarik bertarung dengan wanita”


Jawab Aran di tengah-tengah pertarungannya.


“Huh, itu bukanlah alasan yang masuk akal. Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?”


Tanpa ragu Xiao Ling langsung menanyakan hal tersebut.


“Hah, mana mungkin kita pernah bertemu. Hahaha”


Aran berkata sambil tertawa untuk menutupi kegugupannya. Ia tidak ingin Xiao Ling mengetahui bahwa dirinya adalah Aran. Beruntung Aran dari awal sudah mengubah sedikit suaranya agar Xiao Ling tidak dapat mengenali dirinya.


‘Mencurigakan’


Batin Xiao Ling.


“Aku sering mendengar bahwa dirimu adalah Putri Es yang selalu dingin terhadap pria luar. Tapi kenapa kamu sekarang banyak omong padaku. Apakah kamu menyukaiku?”


Sekarang Aran mencoba sedikit menggoda Xiao Ling.


“Jangan kepedean kamu”


Jawab Xiao Ling yang kembali menyerang Aran dengan serius.


‘Sialan, tidak mungkin aku tidak bisa menyentuhnya sama sekali’


Batin Xiao Ling yang melihat bahwa serangannya selalu dapat dihindari oleh Aran.


“Pedang Rembulan Es”


Kali ini tebasan pedang Xiao Ling disertai dengan aura dingin seperti es. Aran menjadi semakin kagum dengan Xiao Ling. Ia tidak menyangka bahwa kini Xiao Ling telah menjadi begitu kuat.


“Ajian Lembu Sekilan”


Aran mengaktifkan ajiannya kembali.


‘Ilmu sakti itu lagi’


Batin Xiao Ling yang sebelumnya telah melihat Aran menggunakan ajian tersebut.


‘Aku harus fokus agar tidak tertipu dengan bayangan tubuhnya’


Xiao Ling memegang pedangnya erat-erat dan mulai fokus terhadap Aran.


Kini Aran tengah bergerak perlahan-lahan mengelilingi Xiao Ling.


“Apakah kamu ingin terus memperhatikanku, baiklah kalau itu maumu”


“Gerak langit”


Aran tiba-tiba sudah berada di depan wajah Xiao Ling, kini jarak antara keduanya hanya setengah meter.


“Lihatlah wajahku sampai puas”


Kata Aran di depan Xiao Ling.


Xiao Ling tentu saja kaget dengan keberadaan Aran yang tiba-tiba ada di depannya. Apalagi wajahnya sangat dekat.


Tanpa Xiao Ling sadari, tangan Aran bergerak cepat dan mencubit pipinya dengan gemas.


“Brengseekkk kauuuu”


Seumur hidupnya, baru kali ini ada pria selain orang tua dan kakeknya yang mencubit pipinya. Xiao Ling berteriak keras dan langsung menebas Aran habis-habisan.


“Sialan kau, aku tidak akan pernah memaafkanmu”


“Cepat lawan aku, jangan bisanya hanya menghindar”


Teriakan Xiao Ling ini hanya di jawab oleh Aran dengan tertawa.


“Hahaha, maaf aku tidak tertarik bertarung dengan wanita seperti dirimu. Selamat tinggal”


Dalam sekejap Aran menggunakan gerak langit dan bergerak cepat menjauh dari Xiao Ling.


“Sialan itu, cepat sekali dia menghilang”


Kata Xiao Ling sambil memegang pipinya yang memerah karena di cubit oleh Aran.


“Awas kau nanti”


Gumam Xiao Ling.


Gairahnya untuk kembali bertarung kini sudah menghilang. Ia lalu kembali ketempat Xiao Jun dan Xiao Fei.


Sementara Aran pergi ke tempat Varya dan Srikandi yang sedang berurusan dengan Keluarga Situ.


>>>


“Cih, jika saja aku tidak dilukai oleh pemuda itu. Aku tidak akan kesulitan seperti sekarang ini”


Berkata Situ Kong sambil menatap ke arah Varya dan Srikandi. Ia tidak menyangka bahwa kedua wanita ini begitu kuat. Ia yang berlima dengan kelompoknya masih belum dapat mengalahkan mereka berdua. Meski kali ini kedua wanita itu sudah mulai kelelahan.


“Menyerahlah kalian berdua, aku berjanji tidak akan membuat kalian gagal dari seleksi akademi ini selama kalian mau menjadi bagian dari kelompok kami”


Perkataan Situ Kong ini tentu saja langsung di tolak oleh Varya dan Srikandi.


“Dalam mimpimu. Sampai mati kami tidak akan pernah menjadi bagian dari kelompokmu”


Jawaban Varya dan Srikandi membuat wajah Situ Kong memerah karena marah.


“Semuanya, lumpuhkan mereka berdua”


Teriak Situ Kong kepada seluruh kelompoknya termasuk didalamnya ad Situ Jingmi yang memiliki tatapan mesum terhadap Srikandi. Ia begitu tertarik dengan wajah cantik Srikandi, karena hanya Srikandi yang tidak memakai topeng. Sementara Varya memakai topeng untuk menutupi wajahnya.


“Baik”


Para bawahnnya menjawab dengan serentak.


Meski memiliki pikiran buruk, Situ Jingmi memanglah pemuda yang memiliki kemampuan diatas rata-rata. Ia bersama seluruh kelompoknya terus memberikan tekanan kepada Varya dan Srikandi.


Situ Kong juga ikut maju menyerang Varya dan Srikandi.


‘Jika saja pedangku tidak direbut oleh pemuda sialan itu’


Batin Situ Kong mengingat penghinaan yang terjadi pada dirinya. Sampai kapanpun ia tidak akan pernah melupakan kejadian memalukan itu. Ia sampai harus mandi berkali-kali untuk membersihkan tubuhnya dari kotoran tinja. Setiap kali mengingat kejadian itu, ia pasti akan melampiaskan kekesalannya dengan memukuli orang lain.


“Srikandi, apa kamu masih sanggup bertahan”


Tanya Varya di tengah serangan gencar musuh. Kini mereka berdua saling memunggungi satu sama lain.


“Aku masih sanggup Varya, kamu tidak perlu khawatir”


Srikandi yang ahli dalam memanah kali ini sudah menggunakan pedangnya. Karena anak panah miliknya sudah habis.


“Ini adalah kemampuan sakti dari keluarga kami”


“Terimalah, Tapak Penghancur Gunung”


Bang!


Bang!


Tanpa ragu, Situ Kong langsung menghujani Varya dan Srikandi dengan ilmunya.


Bum


Bum


“Arrghh”


Teriak Srikandi dan Varya yang terkena ilmu sakti Situ Kong. Nafas Srikandi dan Varya sudah mulai putus-putus.


“Sialan, tidak mungkin kita kalah di sini”


Gumam Varya.


“Nona Varya, terima kasih sudah bertarung bersamaku. Meski aku akan kalah di sini aku tidak akan terlalu kehilangan. Karena kini aku memili banyak teman seperti dirimu”


Srikandi tidak menyesal jika harus gagal seleksi akademi, baginya memiliki teman yang dapat dipercaya adalah suatu kebahagiaan yang tidak dapat digantikan oleh apapun.