Pendekar Nusantara

Pendekar Nusantara
Pohon Kelapa



Pagi hari tiba.


"Dimana orang itu, kita kehilangan jejaknya."


"Cepat cari ke seluruh desa dan hutan disekitarnya."


***


Istana kerajaan Sunda Galuh.


Aula taman istana.


Seekor burung merpati terbang menghampiri Raden Kiansantang dengan membawa sebuah surat.


Setelah melihat isi surat, Raden Kiansantang langsung mencengkram surat tersebut dengan tatapan dingin.


***


Pinggir dungai.


Di puncak pohon kelapa.


"Hehehe... Orang-orang bodoh... Lumayan juga nih kelapa, seger hehehe," batin Aska sembari ketawa merendahkan.


Aska menghabiskan waktunya seharian penuh di atas pohon kelapa.


***


Keesokan harinya.


"Ayo loncat Suki."


"Gujubar...," suara loncat ke dalam air.


"Hahaha...," tawaan anak-anak.


Aska bangun dari tidurnya.


"Sepertinya sudah aman," batin Aska.


"Ngapain itu bocah? Pagi-pagi udah main di sungai," batin Aska.


Aska meloncat turun dari atas pohon kelapa.


"Gubrakkk...," dan terpeleset.


Dalam seketika semua anak-anak menoleh ke arahnya.


"Sial... harga diri turun depan bocah," batin Aska sembari bangun seperti tidak terjadi apa-apa dengan menahan rasa malu.


"Paman, sini loncat paman."


"Iya ayo loncat paman."


"Loncat... Loncat... Loncat...," seruan Anak-Anak di sungai.


"Dasar bocah, pagi-pagi gini udah bikin kesal aja," batin Aska sembari berjalan menjauhi sungai.


Namun, godaan kenikmatan air sungai di pagi hari sungguh luar biasa, kesegaran dan kesejukannya dapat meresap sampai ubun-ubun.


Setelah berjalan beberapa langkah, Aska berbalik arah dan berlari ke arah sungai, lalu melompat secara akrobat.


Cipratan-cipratan airnya sampai menembus ke tulang sumsum. Aska menghabiskan paginya bermain di sungai bersama anak-anak, dari mulai rakit-rakitan memakai batang pohon pisang, sampai perang lempar-lempar air dan bernostalgia.


Setelah puas bermain air di sungai bersama anak-anak desa setempat, Aska melanjutkan perjalanannya mencari gunung berbentuk gajah tengkurap.


Dalam perjalanan, Aska terus bertanya tentang lokasi gunung berbentuk gajah tengkurap. Namun setiap orang yang ditanya, selalu tidak mengetahui tentang gunung tersebut.


***


Beberapa hari kemudian


"Ini gunung ga ada terkenal-terkenalnya. beda sama tempat-tempat sebelumnya langsung ada orang yang tau informasinya. Apa Raden Kiansantang berbohong? Huuuh...," batin Aska menghela nafas.


Dalam perjalanan, Aska sedikit merasa sedih, karena begitu sulit mendapatkan informasi tentang tempat yang harus ditujunya.


Aska melihat ke langit, begitu banyak burung beterbangan. Pandangan Aska terus mengikuti arah terbang para burung tersebut, tanpa disengaja burung tersebut mengarah ketempat yang dicari Aska. Begitu melihat kedepan ada gunung yang sedang dicarinya, Aska sangat senang sampai kegirangan.


Aska bergegas pergi dengan cepat. Hingga sampai di sebuah kampung kecil yang bernama kampung Salagomong. Satu-satunya kampung yang dekat dengan gunung tersebut berjarak sekitar satu kilo meter.


"Permisi paman, saya mau bertanya, apa di dekat sini ada rumah yang dekat dengan pohon bambu?" tanya Aska.


"Ada. Itu di sebelah sana, rumah sesepuh kampung ini," ucap salah satu penduduk setempat sembari menunjuk ke tempat yang dicari Aska.


"Terima kasih paman," ucap Aska memberi hormat.


Tanpa membuang waktu Aska menghampiri rumah tersebut.


Sesampainya di tempat itu, Aska melihat ada tiga orang yang berada di tempat itu, dua orang laki-laki yang sedang berlatih pencak silat dan satu perempuan sedang duduk di teras depan rumah, diantaranya Raka Bagya usia sembilan belas tahun seorang pemuda yatim piatu, Yasa Dumandi usia sembilan belas tahun dari kalangan miskin dan Citta Cantaka usia sembilan belas tahun seorang putri dari juragan desa.


"Punten, apa pemilik rumah ini ada? saya ingin bertemu," ucap Aska sembari memberi hormat.


Mendengar Aska berbicara, semuanya menoleh ke arahnya.


"Siapa orang ini? Apa yang dia maksud itu Kakek? Sepertinya dia seorang pendekar," batin Raka.


"Pemilik rumah ini sedang tidak ada," ucap Raka.


"Kalau diperkenankan, apa boleh saya ikut menunggu disini?" ucap Aska.


"Boleh, tapi dengah satu syarat," ucap Raka.


"Apa syaratnya?" Tanya Aska.


"Sambil menunggu pemilik rumah ini datang, berlatih tandinglah denganku," ucap Raka.


"Raka...," ucap Citta sedikit mencemaskan Aska.


"Tidak apa-apa Citta, hanya latih tanding saja, supaya tidak bosan menunggu kakek pulang," ucap Raka.


"Baiklah," ucap Aska.


Tanpa banyak membuang waktu, Aska dan Raka langsung mengambil kuda-kuda pembuka.


Angin berhembusan menggoyangkan pohon-pohon bambu. Berhentinya goyangan pohon bambu menandakan dimulainya pertarungan.


Aska dan Raka sama-sama menyerang menggunakan seluruh kemampuannya. Beberapa jurus gerakan silatpun sudah ditukar. Aska menyerang secara bertubi-tubi, namun serangan Aska dapat di halau Raka. Setelah beberapa saat bertukar gerakan dan saling menjatuhkan, keduanya mundur beberapa langkah.


"Orang ini hebat, bisa menahan seranganku dengan tenang tanpa banyak mengeluarkan gerakan. Sepertinya dia sedang menahan diri," batin Aska.


"Luar biasa, banyak sekali gerakan jurus yang dikeluarkannya, pasti orang ini sangat hebat. Sepertinya dia menahan diri," batin Raka.


Setelah beberapa tarikan nafas, pertarungan dimulai kembali.


Aska menyerang lebih dulu dengan tendangan lurus kedepan, dilanjutkan beberapa gerakan pukulan, lalu menendang silang belakang. Semua serangannya dapat dihalau Raka. Pada serangan terakhir, Raka menahan tendangan silang belakang Aska dan mencengkram pergelangan kakinya, lalu secara cepat Raka melangkah kedepan memposisikan pukulan telapak tangan ke arah perut.


"Cukup," ucap Kakek pemilik rumah sembari membawa seekor peusing, yang mana adalah guru dari Raka, Yasa dan Citta, bernama Ki Salawi juga kakek dari Aska.


Ki Salawi menghentikan pertarungan mereka berdua, sewaktu Raka melancarkan pukulan kebagian perut Aska.


"Anak muda, benar-benar darahnya selalu mendidih," ucap Ki Salawi.


"Ternyata ada tamu. Siapa anak muda ini?" tanya Ki Salawi.


"Saya Aska, melakukan perjalanan dari kampung Salaeurih di dekat perbatasan antara Kerajaan Sunda Galuh dan Mataram Kuno," jawab Aska.


"Apa tujuan anak muda datang kemari?" tanya Ki Salawi.


"Mohon maaf Ki, sebelumnya saya mengemban tugas dari paman saya mang Asep untuk menemui seseorang pemilik rumah yang banyak pohon bambu dan cukup dekat dengan gunung berbentuk gajah tengkurap," ucap Aska.


Ki Salawi berdiam diri sejenak dan meperhatikan topeng di pinggang Aska.


"Boleh Kakek lihat topeng itu?" ucap Ki Salawi.


"Boleh Ki, silahkan," ucap Aska memberikan topengnya.


"Percikan aura topeng ini mirip dengan topengnya, namun sedikit retak dan motifnya berbeda. Apakah ini...?" batin Ki Salawi.


"Bolehkah Kakek mencoba memakai topeng ini?" tanya Ki Salawi.


"Boleh Ki, langian itu hanya topeng murah," ucap Aska.


Ki Salawi kaget dan tercengan mendengar ucapan Aska, dan langsung memakai topeng tersebut.


"Ini... Ini benar-benar asli. Topeng ini salah satu dari sepuluh topeng Nawadewata penahan aura. Dia bilang hanya topeng murah. Dari mana cucuku mendapatkan topeng ini?" batin Ki Salawi terkaget-kaget.


"Anak muda. Dari mana topeng ini di dapatkan?" ucap Ki Salawi.


"Kebetulan saja saya melewati sebuah desa dan membeli topeng itu dari seorang penjual. Memangnya ada apa Ki?" ucap Aska.


"Cucuku ini bodoh atau apa? Bagaimana kalau saja topeng ini jatuh ke tangan mereka. Tapi secara tidak disadarinya dia memiliki kemampuan menilai yang baik," batin Ki Salawi.


"Tidak apa-apa, hanya suka saja dengan ukirannya," ucap Ki Salawi memberikan topeng.


"Kalau begitu buat Aki saja topengnya," ucap Aska dengan polos.


"Ternyata cucuku ini benar-benar bodoh seperti ayahnya," batin Ki Salawi.


"Tidak usah, disimpan saja topengnya dengan baik, topeng itu cukup langka," ucap Ki Salawi.


"Baik Ki," ucap Aska merendah.


"Sini kemari Aska, kita makan dulu," ucap Ki Salawi.


"Baik Ki," ucap Aska.


"Satu lagi, jangan pangil Aki, panggil saja Kakek," ucap Ki Salawi.


"Baik Kek," ucap Aska.


Askapun ikut makan bersama Ki Salawi dan ketiga muridnya.