
Dimulai dari para gadis.
Srikandi adalah orang pertama dari kelompok siswa baru yang akan mencobanya. Ia berjalan menuju altar pedang tersebut dengan sangat tenang.
Tanpa ragu ia memegang pedang bintang dihadapannya.
Wussshhh
Muncul hembusan angin mengitari Srikandi dan dalam hitungan detik pedang itu berubah warna menjadi biru muda.
Woooooo
"Bakat langka, ini bakat langka"
Beberapa orang berkata seperti itu. Biru muda adalah bakat langka dan akan mendapatkan perlakuan khusus dari akademi ini.
"Sekarang cobalah kamu tarik pedang itu, tidak usah keras-keras. Lakukan dengan lembut"
Kepala sekolah meminta Srikandi untuk menarik pedang bintang. Kepala Sekolah berharap gadis dihadapannya ini dapat menarik pedang tersebut.
Ketika Serikandi mencoba menariknya ia langsung mendapat serangan balik yang menyebabkannya terlempar.
Bang!
Srikandi yang terlempar langsung di tangkap oleh seorang wanita yang tidak lain adalah para guru senior.
Terlihat kekecewaan di mata Kepala Sekolah. Ia sangat berharap kepada mereka yang memiliki bakat langka.
"Hmm, Silahkan selanjutnya"
Gadis selanjutnya adalah Octavia.
Seperti halnya Srikandi, Octavia juga melakukan hal yang sama. Ketika ia menyentuh pedang bintang, langsung terbentuk pusaran energi di sekitarnya. Pedang yang awalnya berwarna putih langsung berubah warna menjadi biru tua.
"Bakat langka lagii, kali ini biru tua"
Woooooo
"Ini benar-benar hal yang sangat jarang terjadi"
Kepala Sekolah dan para Guru senior langsung tersenyum lebar melihat hal ini. Mereka tidak menyangka ada dua orang yang memiliki bakat langka.
Tapi ketika mereka meminta Octavia menarik pedang itu, hal yang sama terjadi. Octavia langsung terlempar dan ditangkap oleh salah seorang Guru.
Kepala Sekolah kembali kecewa melihat hasilnya. Kini ia sudah berumur sangat tua, ia sangat berharap sebelum kematiannya dapat melihat pemilik pedang bintang ini.
Setelah dua orang gagal, kini Kepala Sekolah sudah tidak terlalu berharap banyak lagi.
Selanjutnya adalah Varya.
Varya adalah gadis yang memiliki kekuatan diatas rata-rata. Aran yang melihat Varya berjalan menuju Altar sangat yakin dengan kemampuan Varya yang pasti lebih tinggi. Apalagi ia mantan anggota Sekte Bulan Merah.
Ketika Varya memegang pedang bintang, langsung terdapat hembusan aura yang sangat kuat mengelilinginya. Aura yang mengelilinginya begitu kuat dan sangat padat.
"Apa ini, jangan-jangan ini bakat langit"
Bang!
Pedang itu berubah warna menjadi merah terang.
"Merraaaahhh"
"Gillaa, siapa gadis itu"
Bahkan Kepala Sekolah dan Para Guru sampai kaget melihat aura merah ini.
"Bakat Langit"
Kepala Sekolah menatap kagum ke arah Varya.
"Gadis muda, coba sekarang kamu tarik pedang itu"
Varya langsung menuruti perintah Kepala Sekolah untuk menarik pedang tersebut.
Tapi hasilnya adalah sama dengan yang sebelumnya. Varya langsung terlempar terkena serangan balik pedang tersebut.
Kepala Sekolah yang melihat Varya terlempar langsung menangkapnya.
"Maafkan saya Tuan"
Kata Varya pelan. Ia sadar telah mengecewakan Kepala Sekolah.
"Tidak apa-apa. Bakatmu sungguh langka"
Kepala Sekolah lalu meminta Varya untuk berdiri di tempat para gadis yang telah mengikuti ujian bakat.
Kini giliran Xiao Ling yang akan mencobanya.
Tanpa ragu Xiao Ling langsung memegang pedang bintang tersebut.
Aura kuat langsung mengelilingi Xiao Ling dan sama seperti Varya, pedang itu berubah warna menjadi merah.
"Bakat langit lagii, ya Tuhan. Siapa sebenarnya mereka ini"
Para siswa yang menonton ujian bakat begitu kagum dengan yang terjadi di atas altar batu. Mereka benar-benar tidak menyangka bahwa semua siswa baru ini memiliki bakat di atas rata-rata.
Para guru juga tampak tersenyum puas dengan banyaknya bakat langka ini. Mereka tidak menyangka bahwa penerimaan murid kali ini akan mendatangkan berkah sebesar ini.
"Sepertinya kita harus memberikan hadiah kepada Senior Mu, karena sudah mendapatkan bibit yang diberkahi langit seperti ini"
Seorang Guru berkata kepada Guru lainnya. Mereka semua tampak setuju dengan saran dari Guru yang berkata tersebut. Senior Mu adalah Kakek Tua yang menyeleksi para peserta calon akademi sebelumnya.
"Aku setuju dengan saran kamu"
"Aku juga"
"Aku juga"
Kompak semua Guru menyetujui saran terkait pemberian hadiah kepada Senior Mu.
Kepala Sekolah dengan sigap menangkapnya.
"Maafkan saya"
Kata Xiao Ling yang melihat sekilas kekecewaan di wajah Kepala Sekolah.
"Tidak apa-apa, kamu sudah berusaha"
Kepala Sekolah lalu meminta Xiao Ling untuk berdiri bersama dengan para gadis lainnya.
Setelah para gadis selesai kini giliran para pria yang akan mengikuti ujian bakat ini.
"Sekarang para pria, apakah para pria itu juga sama memiliki bakat yang hebat atau tidak"
"Hmm, aku yakin mereka lebih hebat"
"Hahaha, sok tau kamu. Bisa jadi mereka lebih lemah, lihat saja tampilan mereka yang terlihat lemah itu"
Seorang pria besar berkata kepada teman-temannya.
"Huhh, jangan pernah melihat kemampuan seseorang hanya dari fisiknya saja"
Kata seorang pria lain yang bertubuh kurus tapi memiliki wajah yang tampan. Pria kurus ini pernah bertarung dengan pria besar itu dan mengalahkannya dengan mudah.
Mendengar jawaban pria kurus itu, pria besar hanya bisa diam. Karena ia sampai sekarang belum bisa mengalahkan pria kurus tersebut.
"Sekarang adalah penilaian untuk para pria"
Kepala Sekolah lalu meminta para pria untuk berbaris teratur dan menunggu giliran maju ke altar batu.
Pria yang pertama mencoba adalah Xiao Fei.
Dengan langkah sombongnya Xiao Fei berjalan menuju altar batu dan langsung memegang pedang bintang.
Pedang Bintang langsung memberikan respon dengan aura kuat yang mengelilingi Xiao Fei.
Wussshh
"Biru Tua"
Woooo
Ternyata Xiao Fei juga seorang bakat langka yang mendapatkan hasil biru tua. Melihat hasilnya, ia tersenyum puas. Lalu ia mencoba untuk menarik pedang tersebut.
Bang!
Ketika Xiao Fei menariknya, ia terlempar jauh karena serangan balik dari pedang tersebut. Seorang Guru langsung menangkap Xiao Fei.
Sedangkan Kepala Sekolah tetap diam. Ia hanya akan bergerak untuk mereka yang memiliki bakat merah.
"Selanjutnya"
Pria yang selanjutnya adalah Rumbun.
Rumbun tanpa ragu berjalan menuju altar pedang dan memegang pedang bintang tersebut.
Wusssh
Aura kuat juga mengelilinginya dan pedang bintang berubah warna menjadi biru tua.
"Bakat langka lagiii"
"Bukan main para siswa baru ini"
Tapi sama seperti Xiao Fei, Rumbun yang mencoba menarik pedang itu langsung terlempar dan ditangkap oleh salah seorang guru. Ia juga telah gagal untuk menarik pedang bintang di altar batu.
Selanjutnya adalah Taeyang yang berjalan menuju altar batu. Ia berjalan dengan begitu tenang dan sangat percaya diri.
Wusssh
Sesaat Taeyang memegang pedang bintang, aura yang besar dan padat mengelilinginya.
Pedang itu langsung berubah warna menjadi merah terang.
"Ya Tuhannn, Bakat Langittt"
Kegaduhan langsung terjadi di dalam menara, para siswa tidak akan pernah percaya jika tidak melihat langsung kejadian ini. Biasanya bakat merah hanya muncul 10 tahun sekali, tapi ini bisa muncul dalam waktu yang bersamaan.
'Sialan, dia lebih tinggi dariku'
Batin Xiao Fei yang melihat bakat Taeyang berwarna merah.
~Note~
Jika kalian semua menyukai novel ini, mohon bantu penulis dengan cara dibawah ini ya.
* Jangan lupa like dan koment.
* Vote jika memungkinkan.
* Follow Author.
* Terakhir\, mohon bantu share.
Sampai ketemu besok di chapter selanjutnya ^_^
Terima kasih.
Salam hangat dari penulis.
Instagram :
@yukishinamt