
Setelah pergi beberapa saat, Ki Salawi datang bersama seseorang berbadan tinggi dan besar membawa beberapa batang bambu.
"Simpan saja di sebelah sana," ucap Ki Salawi.
Orang berbadan besar itu langsung meyimpan bambu tersebut ke tempat yang ditunjuk Ki Salawi.
"Kalau begitu saya mohon pamit Kek," ucap orang berbadan besar itu.
"Iya silahkan," ucap Ki Salawi.
Aska dan yang lainya hanya bengong melihat orang berbadan besar itu datang dan pergi begitu saja.
"Aska, Raka, Yasa kemari," ucap Ki Salawi.
Mereka bertiga langsung menghapiri Ki Salawi.
"Kalian ambilah bambu ini masing-masing satu pasang," ucap Ki Salawi.
Tanpa berkata, Aska, Raka dan Yasa langsung mengambil bambu tersebut.
"Tancabkan ke tanah bambunya sesuai dengan posisi berdiri normal kalian. Harus cukup dalam supaya kuat," ucap Ki Salawi.
***
Beberapa saat kemudian, bambu selesai ditancabkan.
"Latihan kalian sekarang yaitu berdiri diantara kedua bambu yang kalian tancabkan itu. Tidak boleh ada yang turun ataupun terjatuh selama Kakek belum memberhentikan. Jika ada yang turun atau jatuh sebelum waktunya, kalian akan mendapat hukuman," ucap Ki Salawi.
"Kalau boleh tau hukumannya apa Kek?" tanya Raka sembari menggaruk kepala.
"Jikalau kalian gagal, nanti diberitahu hukumannya. Sekarang berusahalah agar tidak mendapatkan hukuman," ucap Ki Salawi dengan ekspresi serius.
"Kalian bertiga naiklah ke atas batang bambu itu," ucap Ki Salawi.
Aska, Raka dan Yasa langsung memijakan kakinya diantara kedua batang bambu tersebut.
"Sini Citta ikuti Kakek, kita cari tempat lain yang lebih tenang," ucap Ki Salawi sembari pergi.
"Baik Kek," ucap Citta.
"Lah Kek... Kenapa Citta ga kayak gini?" tanya Raka protes.
"Perempuan itu berbeda cara berlatihnya. Kalian berusahalah," ucap Ki Salawi.
***
Beberapa saat setelah Ki Salawi pergi bersama Citta.
"Huuuh... Susah juga berdiri seperti ini," ucap Raka menghembuskan nafas.
"Iya, mana panas... Kayaknya setelah ini kita bisa-bisa jadi ikan asin," ucap Aska.
"Huuh... Haus lagi," ucap Raka.
Aska dan Raka menghela nafas pasrah.
"Turun saja yu. Mumpung Kakek tidak ada. Nanti kalau sudah sedikit lama kita naik lagi," ucap Raka.
Aska hanya menoleh dan menghiraukan ucapan Raka, karena Aska tahu Ki Salawi selalu fokus terhadap suatu hal. Mungkin ini sebuah ujian.
***
Tempat Citta berlatih.
"Bagus Citta teruskan," ucap Ki Salawi.
Citta menyerang Ki Salawi dengan jurus geraka silat seperti tarian. Tidak ada jeda, selalu beruntun dengan irama.
"Lebih di perhalus lagi," ucap Ki Salawi sembari menghindari serangan Citta.
***
Tempat Aska berlatih.
Beberapa jam kemudian.
Kaki Aska dan Raka sudah gemetar, sedangkan Yasa masih saja tenang dengan menutup mata dan tangan dilipat di dada.
"Aska, ini sepertinya sudah di ambang batas," ucap Raka dengan ekspersi wajah cemas.
"Iya benar... Kenapa Kakek lama sekali kembalinya," ucap Aska.
"Arrrhhhh... Hei Yasa aku juga tau dari luar kamu terlihat tenang tapi dari dalam teriak-teriak tidak kuatkan," ucap Raka menyindir.
Yasa hanya diam mengabaikan ucapan Raka.
"Raka... Lihat ke sebelah sana," ucap Aska panik.
"Lihat apa?" tanya Raka menoleh dengan cepat.
"Babiii...," ucap Aska dengan nada tinggi ketakutan.
"Mana?" tanya Raka panik.
"Tok... Gubrakkk."
Aska dan Raka langsung lari, dan **** itupun mengerjarnya.
"Aaaaa... Kenapa hanya batang bambu kita yang di seruduk ****," Teriak Raka sembari lari terbirit-birit.
"Iyaaa... Mana Babinya gede," Teriak Aska.
Seketika mereka menoleh ke belakang dan melihat **** tersebut mengejar dengan begitu ganas.
"Kenapa hanya kita yang dikejar Babinya... Arrrhhhh Kakekkkkk...," Ucap Aska dan Raka berteriak.
Teriakan mereka sampai terdengar ke tempat Citta berlatih.
"Hmm Sepertinya mereka sudah gagal," ucap Ki Salawi melihat ke arah teriakan.
Ki Salawi pergi ke tempat Aska berlatih. Melihat mereka berdua yang sedang dikejar-kejar **** mengelilingi puncak gunung. Sedangkan Yasa masih bertahan dalam posisinya.
"Anak ini memang tekun," batin Ki Salawi memuji Yasa.
Aska dan Raka datang berlari dari kejauhan menghampiri Ki Salawi.
"Kakekkk Ada **** Kekkk...," ucap Aska dan Raka berteriak.
Aska dan Raka berlari ke belakang Ki Salawi. Sesaat **** itu mendekat, Ki Salawi menghentakan tongkatnya ke tanah. Tiba-tiba **** tersebut berhenti dan lari berbalik arah seperti ketakutan.
Setelah **** tersebut pergi, Ki Salawi menoleh ke arah Aska dan Raka dengan tatapan dingin.
"Ka.. Kami bisa jelaskan Kek," ucap Raka ketakutan.
"Iya Kek ini hanya kecelakaan," ucap Aska ketakutan.
"**** tadi tiba-tiba datang dan menyeruduk bambu pijakan kami Kek," ucap Raka.
Ki Salawi mengabaikan penjelasan Raka dan berjalan menghampiri Yasa.
"Sudah cukup Yasa. Turunlah," ucap Ki Salawi.
Begitu mendengar perintah dari Ki Salawi, Yasapun langsung turun.
"Bagus Yasa. Kamu disiplin," ucap Ki Salawi memuji Yasa.
"Sekarang kita pulang, hari sudah semakin sore," ucap Ki Salawi Sembari berjalan.
"Dan untuk kalian berdua, bersiap-siaplah menerima hukuman," ucap Ki Salawi.
Ki Salawi pergi diikuti Yasa.
"Huuuh... Rasain tuh...," ucap Citta mengejek Raka dan langsung pergi mengikuti Ki Salawi.
Aska dan Raka hanya bengong mematung sejenak lalu mengikuti pergi.
"Ayo Rak. Kita pulang," ucap Aska menepuk pundak Raka.
***
Keesokan harinya.
Pagi sekali Aska dan Yasa mendapatkan hukuman berlari di jalan pesawahan dari ujung sawah sebelah utara hingga ujung sawah sebelah selatan sebanyak sepuluh balik. Yasa dan Citta sedang melatih gerakan silat dasarnya.
***
Beberapa saat kemudian. Setelah Aska dan Raka menyelesaikan hukumannya.
"Huuuh... Ternyata lari di sawah lebih sulit," ucap Raka dengan nafas terengah-engah.
"Kemarin juga bukan salah kita jadi dihukum seperti ini," ucap Aska dengan nafas teregah-engah.
"**** sialan awas saja kalau sampai kita bertemu lagi," ucap Raka dengan wajah kesal.
"Nih minum air tuak gombong," ucap Citta memberikan air.
Air tuak gombong adalah air yang di ambil dari dalam bambu gombong dengan membelah bagian bawah bambu yang masih hidup dan menacab di tanah.
"Kenapa punya Aska airnya lebih banyak?" tanya Raka.
"Diakan dihukum gara-gara kebodohan kamu," ucap Citta.
"Kanapa jadi salah aku? Salahin tuh **** di gunung," ucap Raka.
"**** di gunung juga punya dendamnya sama kamu. Kamu malah nyeret Aska ke dalamnya," ucap Citta dengan nada tinggi.
"Hah...," ucap Raka dengan nada tinggi.
Aska hanya berdiam diri melihat mereka berdua berdebat.
"Sudah jangan bertengkar," sahut Ki Salawi memotong obrolan.
Setelah mendengar ucapan Ki Salawi Citta dan Raka berhenti berdebat.
"Sekarang Kakek mau pergi ke desa sebelah. Selama Kakek pergi jangan membuat masalah," ucap Ki Salawi.
"Baik Kek," balas Aska, Raka, Yasa dan Citta bersamaan.