Pendekar Nusantara

Pendekar Nusantara
Tenaga Dalam



"O.o.o.ooo...," suara ayam


Dipagi hari sekali, Aska dan Mang Asep pergi ke lokasi Air Terjun Cigana yang jaraknya berkilo-kilo meter dari kediamannya, untuk melanjutkan pelatihan Aska.


Air Terjun Cigana ini biasa disebut oleh penduduk di sekitarnya dengan sebutan curug Ento.


Disebut Curug Ento karena dari desas-desus dahulu kala ada seorang pertapa sakti yang selalu bersemedi di bawah Air Terjun Cigana hingga suatu saat menghilang entah kemana.


***


Air Terjun Cigana.


Setibanya di lokasi air terjun, Mang Asep menempelkan telapak tangannya di jidat Aska. Telapak tangan itu mengeluarkan hentakan sehingga Aska terpental.


"Awww... Uhh sakit Mang!" Aska kaget sekaligus kesal dibuat jungkir balik oleh sentuhan telapak tangan Mang Asep yang dialiri tenaga dalam.


"Hahahaha...," Mang Asep hanya tertawa melihat reaksi wajah Aska yang seperti itu.


"Dengar Aska, barusan itu amang mengaliri pelindung tubuh agar tenaga dalam kamu yang belum stabil itu tidak menyebar kebagian kepala terlalu cepat. Sebab jika menyebar kebagian kepala melebihi apa yang kamu kuasai bisa membuat kamu jadi gila, bahkan menyebabkan kematian," ucap Mang Asep menjelaskan sembari berjalan mendekati air terjun.


"Nah! Aska sekarang kamu duduk semedi di batu besar itu di tengah yang berada dekat air terjun. Ingat Aska! Kendalikan secara perlahan hawa energi yang ada di dalam tubuh kamu secara teratur. Tidak usah terlalu buru-buru, jangan sampai hawa energinya masuk terlalu cepat kebagian kepala," ucap Mang Asep.


"Muhun mang," jawab Aska.


Tanpa banyak berkata Aska naik ke atas batu besar itu dan memulai semedi.


(Muhun\=iya)


Pada saat Aska berjalan menghampiri batu besar.


"Sekali lagi ingat Aska! Fokus! Jangan bangun sebelum Amang yang membangunkan," ucap Mang Aska langsung pergi.


***


Tibanya Aska bersemedi di bawah Air Terjun Cigana bisa langsung merasakan perasaan hawa energi panas yang ada dalam tubuhnya. Namun, hal yang lebih sulit dari sebelumnya adalah mengantisipasi hawa dingin di sekujur tubuh. Dikarenakan Air Terjun Cigana ini berada di bawah Gunung Cilasih yang mana airnya murni keluar dari dalam gunung melewati celah bebaturan besar. Begitu juga pemandangannya sangat indah.


Cipratan-cipratan airnya sangat dingin sehingga memberikan gangguan terhadap semedi Aska.


Setibanya di hari keempat, Aska merasakan hawa dalam tubuhnya sangat berat seperti sedang menggendong beban berat berkilo-kilo. Juga kulit Aska merasakan dingin yang luar biasa menusuk kerongga kulitnya.


Memasuki hari ketujuh dan kedelapan perasaan hawa yang berada dalam tubuh Aska semakin hebat tidak karuan. Tubuh bagian dalam merasakan tekanan panas berat sedangkan tubuh bagian luar merasakan panas dibalut dingin yang menusuk. Sampai-sampai membuat Aska kewalahan menahan tekanannya.


***


Di jalan setapak pesawahan.


"Tidak terasa sepuluh hari sudah berlalu. Bagaimana kabarnya Aska!!!" Batin Mang Asep dalam perjalanan menuju Air Terjun Cigana tempat Aska bersemedi.


***


Sesampainya di tempat tujuan pada sore hari, Mang Asep melihat Aska masih bertahan dalam posisi semedi.


Mang Asep menghampiri Aska menempatkan telapak tanganya di atas kepala Aska dan memberikan sedikit tenaga dalam, guna untuk menstabilkan hawa tenaga dalam sekaligus membangunkan Aska.


Tidak lama kemudia Askapun bangun dan berdiri dengan keadaan lemas. "Mang..." Aska tersenyum tanpa tenaga. Tidak lama setelah itu Aska hilang kesadaran akibat tenaganya yang terkuras habis saat bersemedi.


"Hmm... Anak ini," Mang Asep tersenyum dan menggendong Aska pulang.


***


Keesokan harinya.


Setelah semalaman penuh hingga sore hari Aska tidak sadarkan diri, akhirnya bangun. Melihat sekitar dengan tubuh penuh dibaluri daun obat-obatan.


"Sudah bangung! Di meja ada obat diminum supaya cepat pulih," ucap Mang Asep.


Aska langsung meminum obat yang telah disiapkan mang Asep.


Setelah minum obat Aska keluar rumah melihat Mang Asep sedang membereskan kayu.


"Mang? Semalam Aska kenapa? sampai dibaluri obat." tanya Aska penasaran.


"Semalam kamu teh demam akibat kelelahan. Jadi, amang baluri obar biar cepat sembuh hehe...," jawab Mang Asep sambil membereskan kayu.


"Latihan Aska bagaimana Mang?" tanya Aska.


"Sae, Sekarang tenaga dalam kamu sudah mulai stabil. Selanjutnya belajar penggunaan tenaga dalam dan pengolahannya," ucap Mang Asep.


(Sae\=bagus)


(hayu\=Ayo)(Ajarkeun\=Ajarin)


"Nanti dulu... Sabar...," ucap Mang Asep menyambut ucapan Aska.


"Sekarang istirahat dulu supaya cepat pulih. Latihannya kita mulai besok," ucap Mang Asep


"Ah... si Amang mah!" Aska menggerutu masuk kedalam rumah.


***


Keesokan harinya.


Aska dan mang Asep pergi ke Puncak Gunung Awi.


Setibanya di Puncak Gunung Awi.


"Aska perhatikan!" ucap Mang Asep memperagakan Jurus Pangolahan Raga.


Mang Asep mengambil kuda-kuda dan menggerakan gerakan secara halus, tangan dan kaki teratur secara seimbang.


"Itu gerakan apa Mang?" tanya Aska heran dan penasaran.


"Bukanya sekarang mau latihan Jurus Jeblag?" tanya Aska.


"Ini namanya Jurus Pangolahan Raga. Gunanya agar saat pemakaian tenaga dalam lebih stabil," jawab Mang Asep masih dalam memperagakan gerakan Jurus Pangolahan Raga.


"Hayu ikuti gerakan Amang," ucap Mang Asep.


Aska mengikuti gerakan yang diperagakan Mang Asep.


Setiap pagi Aska melatih Jurus Pangolahan Raga di Puncak Gunung Awi.


***


Beberapa hari telah berlalu. Aska sudah sepenuhnya menguasi gerakan Jurus Pangolahan Raga.


Di halaman rumah.


"Gerakan awal putar tangan kanan dan kiri memutar berlawanan setelah sampai di perut tarik tangan kanan ke belakang lalu lepaskan pukulan secara lembut dan bertenaga," ucap Mang Asep sambil memperagakan jurus jeblag.


"Sok latihan peragakeun," ucap Mang Asep


(Sok\=silahkan) (Peragakeun\=peragakan)


"Muhun Mang," jawab Aska mulai memperagakan gerakan Jurus Jeblag.


(Muhun\=iya)


Pertama memperagakan tidak ada reaksi apa-apa. Aska terus berlatin memperagakan Jurus Jeblag di halaman rumahnya. Sampai tidak terasa sudah sebulan penuh Aska berlatih dan belum bisa mengeluarkan tenaga dalamnya.


Hari-Hari Aska diisi dengan berlatih menyempurnakan gerakan Silat, bersemedi di Air Terjun Cigana, menstabilkan tenaga dalam dengan Jurus Pangolahan Raga di Puncak Gunung Awi, melatih Jurus Jeblag, membatu Mang Asep membelah kayu, berburu Peusing, memancing Ikan dan belajar sebagian wawasan tentang dunia pendekar di Bumi Nusantara


***


Tiga tahun kemudian.


Di halaman rumah.


Aska menarik nafas dan melepaskan Jurus Jeblag ke batang kayu hingga hancur yang berjarak beberapa meter di depan Aska. Lalu menghela nafas penutup.


"Bagus Aska, jurusnya sudah sempurna," ucap Mang Asep puji senang kepada Aska.


"Hatur nuhun Mang!" Aska memberi hormat kepada Mang Asep.


(Hatur nuhun\=terima kasih)


"Tidak terasa ya Aska! Sekarang kamu sudah berusia delapan belas tahun. Ilmu silat dari Amang juga sudah diturunkan semua. mungkin sudah saatnya Aska meninggalkan kampung ini untuk memulai perjalanan mengemban amanat seorang pendekar," ucap Mang Asep senang sekaligus sedih terharu atas apa yang dicapai Aska selama ini.


Aska berdiam diri tanpa kata mendengar ucapan Mang Asep sekaligus senang karena dapat melakukan perjalanan dengan mengemban nama seorang pendekar.


"Besok mulailah perjalanan pendekar. Berpetualanglah di Bumi Nusantara dan jadilah seorang pendekar yang bijaksana serta menjunjung tinggi saskara," ucap Mang Asep.


"Muhun Mang!" jawab Aska sembari memberi hormat.


(muhun\=iya)