
Setelah semua urusan dengan Clan Kegelapan selesai, Aran meneruskan perjalanannya kedalam makam Dewa Naga Iblis.
Aran mengatur formasi dimana Putih dan dirinya berada di paling depan. Sementara bagian belakang dijaga oleh Kumbang.
"Putih, dimanakah pusat Clan Kegelapan?" Sambil berjalan kedalam gua, Aran mengobrol dengan Putih. Dia juga ingin tau dimanakah Clan Kegelapan itu berada.
"Sebenarnya hampir disetiap wilayah, kami memiliki cabang. Baik didunia manusia maupun didunia jin. Namun kami memiliki kantor pusat terbesar didunia manusia yang berada di dataran tengah" Jawab Putih.
"Hmm, ternyata seperti itu. Siapakah pemimpin Clan Kegelapan, dan apa jabatanmu di sana?" Aran bertanya kembali, pembicaraan Aran dan Putih juga didengar yang lainnya. Mereka juga penasaran dengan Clan Kegelapan. Karena selama ini clan ini sangat tertutup.
"Kami tidak pernah tau nama pemimpin kami, kami selalu memanggilnya Ketua. Dia selalu memakai penutup wajah. Hanya wakilnya yang pernah melihat wajahnya. Jabatan saya di Clan adalah Jenderal yang memimpin 10.000 pasukan elit. Kumbang juga memimpin jumlah yang sama"
Aran langsung terkesima mendengar jumlah pasukan yang dipimpin oleh Putih dan Kumbang. Tidak disangka mereka memiliki pasukan sebesar itu.
"Lalu dimana pasukanmu?" Tanya Aran kembali.
"Aku tidak tau dimana pasukanku sekarang ini, setelah ribuan tahun terperangkap disini. Dulu waktu kami berempat mengejar musuh kami kesini, kami tidak membawa pasukan kami"
Setelah itu Aran kembali mengobrol dengan mereka semua. Sampai akhirnya mereka tiba didepan sebuah Pintu Emas besar.
Aran bersama yang lainnya sampai didepan pintu besar tersebut.
Dari ruang hampa keluar anak kecil yang ditubuhnya menggunakan armor naga.
Ketika melihatnya, Aran langsung mengenali anak tersebut.
"Ah itu kamu" Aran sangat mengenal anak ini.
Sementara anak tersebut hanya tersenyum melihat Aran.
"Tuan mengenali penjaga ini?" Tanya Putih.
"Penjaga? Maksudmu?" Aran bingung dengan apa yang ditanyakan Putih padanya.
"Dia adalah penjaga makam ini, kekuatannya jauh diatasku. Aku pernah bertarung dengannya. Tidak sampai 10 detik aku kalah. Dan lagi, wujudnya saja anak kecil. Padahal umurnya sudah ribuan tahun"
'Jancokk, siapa yang mau percaya ini semua' Batin Aran
Aran lalu memandang anak tersebut. Mencoba mengukur kekuatannya, namun apa yang dilihatnya tetap saja sama. Sama sekali tidak terlihat kekuatan yang dimiliki anak itu.
"Tidak perlu mencari tau kekuatanku, kamu tidak akan bisa" Jawab anak itu dengan senyuman.
"Maafkan saya, saya tidak tau kalau ternyata kamu penjaga makam ini" Aran menjawab dengan sangat sopan kepada anak kecil dihadapannya.
"Hehehe, tidak apa-apa. Semenjak saya memberikan peta itu kepada kamu. Saya sudah tau bahwa kamu adalah manusia yang ditunggu oleh tuanku" Anak itu hanya tersenyum menatap Aran.
"Kamu sudah tau kalau saya ini manusia?"
"Tentu saja saya tau"
"Sejak?"
"Sejak kita bertemu di restoran" Anak itu masih tetap tersenyum.
"Sudah lupakan itu semua, mari masuk kedalam. Tuan sudah menunggumu" Anak itu lalu mengajak Aran dan semuanya untuk memasuki pintu besar di belakangnya.
Dibalik pintu itu adalah ruangan yang sangat besar dan megah. Banyak patung-patung berdiri disekeliling ruangan ini.
Anak yang merupakan penjaga tersebut membawa mereka ke tengah ruangan.
"Tunggu disini sebentar"
Anak itu langsung melakukan segel tangan, seketika muncul array formasi.
Ruangan itu menjadi silau oleh cahaya yang begitu terang.
Aran dan yang lainnya menutup mata mereka. Setelah dirasa sinar itu menghilang, Aran lalu membuka matanya.
"Dimana aku" Aran memandang sekelilingnya hanya dia seorang. Dia berada seperti disebuah dimensi bintang, ruangan yang berwarna hitam tanpa ujung dan memiliki kilau kilau putih cahaya.