
Nada siulan seruling menghantarkan awal mula kisah petualangan Askara Paramanda di Bumi Nusantara dengan menyandang gelar seorang pendekar.
Perjalanan Aska dibekali dengan sebuah buku kecil. Buku tersebut berisi petunjuk keberadaan orang yang harus ditemui Aska untuk menempa dan menyempurnakan ilmu silatnya.
Mang Asep memberitahukan kepada Aska bahwa buku tersebut ditinggalkan oleh kakeknya Ki Salawi Sudarsana.
Dalam perjalanan pertamanya, Aska hanya mengetahui beberapa infomasi.
Mang Asep juga memberitahukan bahwa ia dulunya murid dari Ki Salawi, Ayah dan Ibunya adalah seorang pendekar yang sudah lama tidak ada kabar.
Alasan Aska dititipkan kepada mang Asep dikarenakan terjadi suatu komplik atara para pendekar di Bumi Nusantara.
***
Buku halaman pertama terdapat tulisan dan gambar:
1.Liwatan Pasar pajauh huma, bergambar pasar yang ramai. 2.Gambar puncak gunung penuh dengan batu berbentuk persegi yang berhamburan. 3.Gambar pintu gerbang besar. 4.Gambar hutan penuh bambu dan gambar gunung berbentuk seperti gajah tengkurap.
Di bagian paling bawah halaman pertama tertulis "mimitianbka bekah kulon" yang berarti perjalanan dimulai ke sebelah barat.
Jadi artian dalam buku halaman pertama tersebut, tempat pertama yang harus dilewati ke daerah barat adalah pasar yang cukup besar berjarak jauh dari pengunjung itu sendiri.
Aska memulai perjalanan dari kampung Salaeurih yang berlokasi pada perbatasan kerajaan Sunda Galuh (Padjajaran) dan kerajaan Mataram Kuno.
Setelah dua minggu penuh berjalan melewati perkampungan dan pedesaan, Aska singgah di sebuah kampung untuk istirahan dan mencari informasi.
Aska meminum air dari sumur yang berada di pinggir kampung yang disinggahinya.
Setelah meminum air Aska melihat kedepan ada seorang Kakek-kakek sekiranya berumur tujuh puluh tahun yang sedang menggembala kambing.
Aska menghampiri Kakek-kakek tersebut.
"Punten Ki! Saya mau bertanya?" ucap Aska menyapa sembari merendahkan badan sekaligus bertanya.
(Punten\=permisi)
"Mangga Jang," jawab Kakek-kakek tersebut.
(Mangga\=silahkan) (Ujang\=panggilan kepada yang lebih muda)
"Saya sedang mencari pasar yang jauh dari pemukiman warga? Apakah Kakek mengetahui tempat tersebut?" tanya Aska.
"Pasar jauh dari pemukiman?" ucap Kakek-kakek tersebut mengulang pertanyaan.
Kakek-kakek itu berfikir sejenak.
"Kalau pasar jauh dari pemukiman kurang tau. Tapi Aki pernah dengar dari tetangga ada pasar yang cukup ramai di sebelah barat sebelum ke perbatasan ibu kota kerajaan Sunda Galuh," jawab Kakek-kakek tersebut.
(Aki\=Kakek)
"Seberapa jauh Ki jaraknya dari kampung ini?" tanya Aska.
"Kalau jarak tidak terlalu jelas. Yang pasti kalau dari sini setengan perjalanan ke ibu kota kerajaan. Ya... Sekitaran empat sampai lima minggu berjalan kaki," jawab Kakek-kakek tersebut.
"Kalau begitu hatur nuhun Ki," ucap Aska memberi hormat dengan merendahkan badan.
(Hatur nuhun\=terima kasih)
Tidak lama setelah itu Aska bergegas melanjutkan perjalanan.
***
Satu bulan telah berlalu. Aska sampai di sebuah desa. Setelah masuk ke dalam desa tersebut, Aska masuk ke dalam warung untuk membeli makanan.
Saat sedang memakan pisang, Aska melihat si Ibu pemilik warung datang membawa banyak barang belanjaan di gerobak.
"Gimana Teh di pasar Caringin? Rame?" Tanya pelayan warung yang bernama Sumiarti.
(Teh\=panggilan kepada perempuan yang lebih tua) (Rame\=ramai)
"Wuuu... Rame Ti. Pasarnya besar, beli sarung kebat aja sampai ngantri," tawab Ibu pemilik warung sembari mengipas-ngipas kepala.
"Punten Teh, kalau boleh tau pasar yang dimaksud itu di mana ya? tanya Aska menyela obrolan Ibu pemilik dan pelayan warung.
"Pasar caringin?" tanya balik Ibu pemilik warung.
"Iya teh," jawab Aska sambil merendah.
"Oh... Buat apa? Kalau berangkat ke sana sekarang pasarnya keburu tutup A," ucap Ibu pemilik.
"Tidak apa-apa Bu. Sekedar mau tau aja tempatnya," ucap Aska.
"Oh... Dari desa ini keluar lewat jalan sebelah barat. Nah nanti ambil jalan kanan. Terus aja lurus, nanti ada kebun tebu. Lurus lagi lewat sungai. Setelah itu ikuti jalan kaki Gunung Cikiruh. Setelah Gunung Cikiruh di situ letak pasarnya," ucap Ibu pemilik warung sambil menunjuk-nunjuk arah.
Setelah mendengarkan petunjuk arah dari Ibu pemilik warung, Aska langsung keluar memulai kembali perjalanan menuju pasar Caringin.
***
"Teh! Yang barusan kayanya pendekar!" ucap pelayan warung.
"Diih... genit! Ingat umur sumi." Ibu pemilik membalas ucapan sumi.
"Ye ga papa atuh teh, kapan lagi bisa dapat pendekar muda kaya gitu hahaha..." ucap pelayan warung.
***
Di jalan ke luar desa.
Saat berjalan menuju keluar desa Aska melihat seorang pedagang topeng. Aska tertarik dengan topeng warna putih bercorak merah dan membeli topeng tersebut. Kemudian mengaitkan topengnya ke pinggang.
Sesampainya di luar desa. Berhubung hari menjelang malam, Aska mencari saung untuk beristirahat dan berencana melanjutkan perjalanan besok pagi.
***
Keesokan harinya.
Aska bangun sebelum fajar untuk melanjutkan perjalanan. Tiba di perkebunan tebu bahkan fajarpun masih tertidur Aska tetap melanjutkan perjalanannya.
Sewaktu Aska berjalan di tengah perkebunan tebu, tiba-tiba ada beberapa batang tebu melayang dengan cepat mengarah kepada Aska.
Aska mengelak menghindari batang tebu tersebut. Setelah Aska menghindari serangan tersebut, secara beruntun seseorang melompat dan melancarkan tendangan lurus mengarah kepada Aska. Tentu Aska terkejut ada orang menyerangnya di pagi buta seperti itu. Yang bahkan mentaripun belum menampakan suryanya.
Aska menghindari serangan tersebut dan langsung memasang kuda-kuda pembuka. Begitu juga orang yang menyerangnya.
"Siapa orang tua ini? kenapa tiba-tiba menyerang? apakah pedekar atau perampok?" batin Aska penuh pertanyaan.
Hilangnya hembusan angin menandakan dimulainya pertarungan.
Pendekar tua menyerang lebih dahulu dengan gerakan jurus yang agresif. Aska berusaha keras menahan dan menghindar serta menyerang balik orang tua itu. Akan tetapi setelah beberapa gerakan jurus, pukulan lengan cakar maung Aska ditangkis langsung dijungkir balikan. Secara cepat Aska kembali berdiri memasang kuda-kuda pembuka. Begitu juga orang tua yang menyerang Aska.
"Gerakan macam apa itu? angresif seperti serigala kelaparan, buasnya bukan main. Apa mungkin itu gerakan serigala buas!? Hoo... Jadi ini ajang pertarungan hewan buas ya!" Batin Aska.
Sesaat setelah itu Aska memperbarui kuda-kuda jurus dengan pembukaan gerakan Jurus Gerakan Silat Maung Moro. Orang tua itupun mengikuti memperbarui kuda-kuda jurusnya.
Angin malampun berhembus kencang dan berputar di antara kedua pendekar tersebut.
Keduanya sama-sama memulai serangan. Aska mengelak kebawah menghindari pukulan dan diteruskan dengan pukulan siku. Namun berhasil dihindari. Secara menyambung Aska menyerang bagian kaki dengan menendang lurus bawah. serangan itupun berhasil dihindari. Orang tua itu terus mundur. Aska langsung menyambung menggunakan jurus jeblag. Pada saat Aska melakukan gerakan jurus Jeblag, sebelum dilepaskan tiba-tiba Aska diserang jurus orang tua tersebut hingga terpental kebelakang seperti seekor semut yang tertipup angin.
Setelah menerima serangan tersebut sekujur tubuh Aska merasakan sakit.
"Ukkhh...," Aska menahan rasa sakit.
"Jurus apa itu?" batin Aska bertanya-tanya.
Tidak lama kemudian orang tua itu menghampiri Aska.
"Minumlah air tebu ini," orang tua itu menawarkan air tebu.
Tanpa berkata Aska langsung meminum air tebu yang disuguhkan orang tua tersebut. Secara perlahan rasa sakit di tubuh Aska mulai menghilang.