
Setelah cukup lama berada di Alam Bintang, Aran kini tengah berada di sebuah gunung yang jaraknya lumayan jauh dari akademi. Hutan dan Gunung ini merupakan tempat dimana banyak hewan dan monster berlevel tinggi berada. Tidak jarang mereka yang datang kesini adalah para pencari peluang dan beberapa siswa akademi yang tengah menjalankan misi.
Selama perjalanannya, Aran berkali-kali bertemu dengan beberapa orang yang tengah berburu monster. Ketika tengah berjalan seorang diri, ia mendengar suara dentuman yang cukup keras.
Bam
Bam
Mendengar suara itu, Aran langsung bergerak cepat menuju asal suara.
Begitu sampai ditempat itu, ia melihat sesosok Laba-laba yang sangat besar dan memiliki tinggi kurang lebih 10 meter, dengan kaki yang sangat panjang serta memiliki bulu yang lebat. Kalau di lihat dengan mata surgawi, bulu-bulu di kaki laba-laba ini ternyata mengandung racun gatal.
Aran melihat ada 3 orang yang tengah bertarung melawan laba-laba besar itu. Tanpa takut, mereka bertiga terus mengempur laba-laba itu meski dapat dilihat bahwa mereka sama sekali tidak berhasil melukainya. Karena Laba-laba jenis ini memiliki ketahan fisik yang sangat kuat. Meski tubuhnya sangat besar, Laba-laba ini dapat bergerak dengan lincah layaknya cheetah.
Karena ia melihat sudah ada orang yang tengah bertarung dengan monster itu, Aran memutuskan untuk menontonnya saja. Ia tidak tertarik untuk ikut serta dalam pertempuran.
Ketika Aran tengah menonton, ia merasakan aura kuat tapi lembut dan seketika menghilang berada di dekatnya. Sesaat ketika Aran menoleh, ternyata sudah ada sesosok gadis tengah duduk tidak jauh darinya.
"Hai, kenapa kau hanya menonton saja dari sini. Apa kau sama sekali tidak ingin membantu mereka"
Tanya gadis itu langsung kepada Aran.
Aran yang kaget dengan kehadiran gadis ini tetap bersikap tenang. Jika kehadirannya saja tidak Aran ketahui maka bisa dipastikan bahwa gadis ini pastilah sangat kuat.
"Emm, aku hanya suka menonton tidak mau ikut campur urusan orang lain"
Sekilas gadis itu menatap wajah Aran, ia ingin memastikan siapa pemuda ini.
'Auranya sedalam lautan, bahkan ia terlihat begitu tenang. Siapa sebenarnya pemuda ini'
Batin gadis itu.
Gadis ini awalnya tengah menonton pertarungan antara siswa akademi dengan monster laba-laba. Tapi ia keget bahwa ada aura kuat yang berada di dekatnya, tapi aura itu sulit ia deteksi karena aura kuat itu hanya sekejap setelah itu menghilang. Ia mencoba memperhatikan sekelilingnya hingga ia melihat pemuda yang sedang duduk dipohon. Pemuda ini tidak lain adalah Aran.
"Oh ya, boleh tau siapa namamu? sepertinya kamu juga siswa akademi bintang"
Setiap siswa akademi memiliki tanda berupa lencana kecil yang bisa diletakkan dimana saja. Di pinggang, bahu maupun di ikat kepala.
Karena Aran tau bahwa gadis ini tidak memiliki niat jahat padanya, maka ia juga tanpa ragu memperkenalkan namanya.
"Mmm, nama saya Aran"
Mendengar nama Aran, gadis itu langsung sedikit shock.
"Jadi rupanya itu kamu!"
Gadis itu begitu kaget mendengar nama Aran, karena dari yang ia tau bahwa Aran ini adalah siswa yang sangat hebat dengan kemampuan kanuragan yang tinggi. Namun dari kabar yang di dengar, bahwa setelah pertarungan di hutan terlarang. Siswa ini seolah-olah menghilang dan tidak pernah menampakkan wajahnya.
Wajar jika kali ini gadis itu begitu kaget mendengar nama Aran.
"Mmm, ada apa ya. Kamu kenapa kaget begitu mendengar namaku"
Aran hanya bisa menjawab bingung terkait sikap dari gadis yang ia temui ini "Dan juga, kamu belum memberitahu namamu padaku"
"Hehehe"
Tertawa gadis itu malu-malu didepan Aran.
"Namaku, Moza"
Kata gadis itu memperkenalkan namanya kepada Aran.
"Salam kenal Moza"
"Salam kenal juga Aran"
Mereka berdua berkenalan secara singkat, setelah itu mereka kembali menonton pertarungan yang sebelumnya telah tertunda.
"Apakah menurutmu mereka bertiga bisa mengalahkan laba-laba itu"
Tanya Moza kepada Aran.
"Aku yakin tidak"
Jawab Aran.
"Kenapa? dari yang kulihat mereka bertiga juga belum mengeluarkan senjata pamungkas mereka"
Moza sangat mengetahui para siswa yang tengah bertarung itu, karena ia pernah bertarung melawan mereka juga. Siswa yang bertarung itu termasuk ke dalam lima besar siswa terkuat akademi.
"Karena laba-laba itu masih bisa melakukan evolusi ke tingkat yang lebih tinggi"
Mendengar perkataan Aran, membuat Moza kaget. Reflek ia menggunakan kekuatan matanya untuk melihat laba-laba tersebut. Tapi sekuat apapun ia berusaha, tetap saja ia tidak dapat melihat inti kekuatan asli dari laba-laba itu. Kekuatan matanya sedikit mirip dengan kemampuan yang dimiliki oleh Aran. Namun, kekuatan mata Moza sangatlah lemah jika dibandingkan dengan Aran.
"Tidak bisa, aku tidak dapat melihatnya. Apa kau yakin dengan perkataanmu itu"
Moza kini balik bertanya kepada Aran.
Sebenarnya Aran juga awalnya tidak tau, tapi ia mengetahuinya dari penjelasan Raja Naga. Raja menjelaskan bahwa Laba-laba itu bukanlah monster biasa. Ia bisa melakukan evolusi beberapa kali tergantung dari kekuatan tubuhnya. Untuk laba-laba yang kini tengah di lihat oleh Aran, Laba-laba itu mampu melakukan evolusi dua kali saja.
"Tunggu dan lihat saja, ketika ia evolusii maka ketiga orang itu tidak akan bisa selamat. Sekali tampar, mereka bertiga akan langsung meregang nyawa"
"Berarti mereka bertiga dalam bahaya!"
Kata Moza keras.
"Tidak juga, jika mereka tidak memaksa laba-laba itu ke sudut. Laba-laba itu tidak akan melakukan evolusi"
Kata Aran tenang. Meski laba-laba itu kuat, tapi bagi Aran itu hanyalah Laba-laba kecil yang tidak perlu ia takuti.
Setelah pembicaraan singkat, mereka kembali menonton pertarungan yang semakin sengit. Terlihat 3 orang siswa itu sudah mulai memojokkan laba-laba tersebut. Mereka berhasil karena ketiga siswa itu menggunakan senjata warisan leluhur keluarga.
Senjata ketiga siswa itu terus menyerang Laba-laba raksasa hingga menyebabkan tubuh besarnya penuh luka.
"Hahahha, akhirnya kita bisa menyudutkannya"
"Hmm, mari kita lakukan serangan pamungkas bersama"
Ketiga siswa ini benar-benar tidak tau bahaya yang akan mengancam mereka sebentar lagi.
"Terimalah serangan gabungan kami"
Sinar terang berbagai warna langsung menghujani tubuh laba-laba, menyebabkan tempat itu dipenuhi asap tebal.
"Aku yakin Laba-laba itu pasti mati"
Sesaat mereka menunggu asap menghilang, tiba-tiba terdengar raungan yang memekakan telinga.
Raungan disertai dengan suara mendesis langsung menyebabkan tubuh mereka merinding tiba-tiba.
"Suara apa itu, kenapa begitu menakutkan"
Salah seorang siswa berkata. Mereka bertiga lalu saling pandang berharap bahwa suara itu bukanlah sesuatu yang mengerikan.
"Aran apakah suara itu dikeluarkan oleh Laba-laba tadi?"
"Hmm, kau benar Nona. Sebentar lagi kita akan melihatnya"
Wajah Moza langsung suram mendengarnya, karena suara tadi benar-benar memasuki relung jiwanya. Jika suaranya saja membuat jiwanya bergetar, bagaimana dengan kemampuannya.
Aran juga sebenarnya belum pernah melihat wujud evolusi laba-laba tersebut. Ia hanya tau setelah Raja Naga memberitahunya.
Ketiga siswa yang berhadapan dengan monster laba-laba itu kembali menyiagakan kekuatannya. Namun kekuatan mereka sudah sangat terkuras mungkin sekarang ini hanya tersisa 40%.
Ketika asap mulai menghilang, terlihatlah sesosok makhluk yang berdiri dengan dua kaki dan dua tangan layaknya manusia. Hanya saja dipungungnya juga terdapat banyak kaki laba-laba dan wajahnya juga masih berwujud laba-laba dengan delapan mata.
"Holy shittt, makhluk apa itu"
Salah seorang siswa ketakutan setengah mati melihat makhluk yang kini berada tidak jauh dari hadapannya. Ketakutan siswa itu dikarenakan aura yang dikeluarkan monster laba-laba itu begitu menakutkan. Seketika wajah ketiga siswa pucat pasi dengan kaki yang gemetaran tanpa henti. Mungkin ini pertama kalinya mereka merasakan ketakutan seperti ini dalam hidup.
Moza yang berada jauh saja merasakan ketakutan yang sangat mengerikan, ternyata apa yang dikatakan Aran padanya beberapa saat lalu benar adanya. Makhluk yang para siswa singgung itu bukanlah makhluk sembarangan.
Terlihat makhluk tersebut tersenyum dingin menatap para siswa. Hanya melihat makhluk itu tersenyum sudah membuat para siswa merinding. Dalam sekejap makhluk itu menghilang dan seketika sudah berada dihadapan salah satu siswa.
"Appaa?"
Begitu kagetnya ia melihat tangan monster itu sudah berada didepan dadanya.
Bang!
Siswa itu langsung terlempar jauh kebelakang, sementara kehidupannya tidak ada yang tau. Melihat temannya terlempar membua siswa lainnya langsung bergerak menjauh. Namun secepatnya mereka menghindar tetap saja monster itu dapat menjangkaunya. Ia hanya melirik sekejap dan kembali menghilang.
Salah seorang siswa yang menghindar ke udara merasakan dingin dibelakang punggungnya. "Shittt"
Monster itu sudah berada dibelakangnya dan langsung melakukan tendangan cepat.
Bang!
"Arrggggh" Erangan siswa tersebut terdengar begitu keras. Tubuhnya kini jatuh dengan sangat cepat menghantam tanah sampai menyebabkan lubang yang besar.
Siswa yang selamat begitu ketakutan melihat kedua temannya sudah menghilang. Ia memacu gerakannya untuk pergi sejauh mungkin. Sesaat ia bergerak cepat, ia dikagetkan akan sosok yang berdiri jauh didepannya. Sosok itu berdiri menatapnya dengan tangan terlipat dan tersenyum menatapnya.
"Sialaannn" Ia begitu takut melihat monster itu ternyata sudah berada didepannya. Padahal ia sudah memacu gerakannya ke batas maksimal. Bahkan ia sudah menelan beberapa pil untuk meningkatkan kecepatannya.
Monster itu kembali menghilang dan langsung menyerang siswa tersebut.
Bang!
Mendapat serangan kejutan seperti itu membuat siswa itu mengerang kesakitan. Tubuhnya terlempar jauh menabrak beberapa pohon. Tapi karena tubuhnya lebih kuat dari yang lainnya, ia masih bisa menjaga kesadarannya.
SIswa itu memuntahkan banyak darah, karena kini organ internalnya banyak yang terluka. Dalam hitungan detik, monster itu sudah berada disebelahnya memandang tubuh siswa itu yang lemah.
"Apa yang kau lihat hah! Cepat bunuh aku, monster sialann"
Merasa ajalnya sudah didepan mata, ia menatap penuh kebencian terhadap musuhnya ini. Menanggapi perkataan siswa itu, monster laba-laba hanya menyeringai memperliahtkan giginya yang tajam. Ia lalu mengeluarkan jaring dari belakang tubuhnya dan membungkus siswa tersebut layaknya kepompong. Dibungkus seperti itu, siswa itu hanya bisa pasrah karena kini ia sudah tidak memiliki tenaga dalam sama sekali. Esensinya benar-benar sudah kering.
Monster itu kemudian berjalan ke korban yang lainnya dan melakukan hal yang sama. Hanya bedanya, korban yang lain sudah tidak sadarkan diri. Setelah membungkus semuanya, monster itu membawa semuanya ke kedalaman hutan.
Di tempat lain, Moza yang dari tadi ingin pergi membantu di tahan oleh Aran. Karena kekuatan Moza sangat lemah, pergi membantu sama saja mencari mati. Sebenarnya Aran sengaja menunda waktu untuk menolong para siswa, karena ia ingin tau dimana markas monster laba-laba itu. Laba-laba yang sudah bisa berevolusi biasanya memiliki wilayah tersendiri yang keberadaannya tertutupi oleh array pelindung. Jadi tidak mudah untuk menemukan sarangnya.
Setelah melihat monster itu berjalan pergi, Aran bersama Moza mengikutinya dari belakang sambil menjaga jaraknya.