Pendekar Nusantara

Pendekar Nusantara
Pertempuran Berdarah II



Pertarungan Aran dengan musuhnya sudah semakin sangat keras. Berbagai jurus sakti sudah mereka keluarkan, kini giliran Aran yang semakin terpojok.


Berbagai sinar berwarna terang terus menghiasi alam di sekitaran mereka.


Para penonton yang melihat pertempuran itu menjadi sangat kagum dengan kemampuan yang diperlihatkan oleh Aran.


Walau pertarungan ini berat sebelah, namun Aran berhasil mengimbangi mereka semua.


"Mahapatih memang sangat hebat, beruntung ia berada di pihak kita"


Patih Lawana berkata dari atas bukit bersama pasukannya, termasuk didalamnya ada Raja Muda, pasukan Berliana dan Lingga.


Mendengarkan perkataan dari Patih Lawana membuat Lingga tersenyum, karena ia jelas mengetahui siapa sebenarnya Mahapatih mereka ini.


Sementara Berliana merasakan dilema dihatinya. Ternyata kepergian tiba-tiba Aran adalah terkait hal ini.


Pertarungan Aran sangatlah mengerikan untuk dilihat, karena mereka bertempur dengan sangat brutal. Bahkan alam disekitar mereka sudah rusak parah.


Jenderal Tolu bersama Jenderal Orda juga menatap pertarungan yang dilakukan oleh Aran.


Sebelumnya ada utusan yang berpakaian serba hitam meminta mereka semua untuk pergi, jika tidak maka Mahapatih Asura akan membunuh mereka semua.


Namun peringatan itu tidak mereka gubris, dikarenakan bagi mereka kemampuan Aran tidaklah hebat jika dibandingkan dengan pasukan bantuan mereka yang akan datang sebentar lagi.


Tapi sekarang, melihat pertempuran yang sangat hebat ini. Mereka berdua jadi mulai berfikir dua kali untuk bertarung melawan Mahapatih.


Walau Aran menggunakan mode siluman, tapi ternyata ia tetap tidak bisa mengalahkan serangan gabungan dari musuh-musuhnya.


*Kumbang bantu aku*


Mau tidak mau, Aran meminta bantuan Kumbang.


*Baik Tuan*


Kumbang langsung berlari menuju ke tempat Aran.


"Roaaarrr"


Suara aumannya yang begitu keras bergema kesegala arah.


Kumbang langsung menerjang salah satu musuh yang menyerang Tuannya.


Aran sudah mengarahkan Kumbang untuk menyerang musuh yang paling lemah. Karena musuh yang paling lemah kadang merepotkannya.


"Sialann macan hitam ini"


Gerutu salah seorang penyerang Aran. Ia tidak meyangka musuhnya ini akan memiliki bantuan seekor macan gila.


Kumbang terus menyerangnya secara bar-bar. Gigitan, cakaran bahkan ekornya bisa menjadi setajam pedang untuk melukai musuhnya.


Melihat saudara mereka dihajar habis-habisan oleh seekor macan, membuat salah seorang dari mereka datang untuk membantunya.


"Kucing gila, mati kau!"


"Sinar Pemecah Gunung"


Sebuah sinar menebas ke arah Kumbang dengan sangat cepat.


Kumbang yang kaget melihat serangan itu merasa sudah tidak mampu untuk menghindar.


"Gerak Langit Tingkat 3"


Dalam sekejap Aran menghilang dari pandangan musuhnya dan sudah berada di depan Kumbang.


"Ajian Karang Wesi, Heaaa"


Ajian Aran bertemu dengan serangan musuh yang menargetkan Kumbang.


Bang!


Drrtt


Getaran keras terasa di alam pertarungan sekitar mereka.


*Kumbang berhati-hatilah. Ilmu mereka semua sangatlah hebat*


*Baik Tuan, terima kasih*


Mereka berdua berbicara dengan menggunakan telepati.


"Brengsekk. Sialan makhluk setan itu. Jika saja seranganku tidak dihalau olehnya, pasti kucing gila itu sudah menjadi daging cincang"


Musuh Aran begitu kesal melihat serangannya berhasil dihalau Aran.


"Kakak, jika terus begini. Tenaga dalam kita akan terkuras habis"


Kakak pertama mereka juga mengetahui bahwa semakin lama pertarungan ini, maka kemungkinan besar mereka akan kalah.


Belum lagi tempat ini bukanlah wilayah mereka, dimana mereka bisa meminta tolong kepada sekte atau Master mereka. Jarak mereka dengan markas sangatlah jauh.


"Keparatt, aku sudah tidak bisa mengeluarkan ajian saktiku lagi"


Ajian sakti Api Penghancur Surga miliknya hanya bisa dilakukan satu kali dalam sehari. Jika ia nekat menggunakan lebih dari itu, maka nyawanya akan melayang.


Kini mereka berempat berkumpul bersama dan menjaga jaraknya dari Aran.


Aran bersama Kumbang juga menatap mereka semua.


"Makan ini"


Kumbang langsung mengambil dan memakannya. Ia sangat mengetahui efek anggur ruby yang diberikan oleh tuannya ini. Karena anggur ini sudah disempurnakan oleh tuannya sehingga memiliki efek yang lebih baik.


Aran juga langsung memakan anggur tersebut, seketika aura tenaga dalamnya terisi kembali.


Babak Kedua.


"Tidak pernah aku sangka, di wilayah kepulauan ini akan memiliki seorang pendekar sakti dan hebat seperti dirimu. Ternyata disini ada macan yang tertidur"


Kakak pertama berkata kepada Aran, ia merasa bahwa pertarungan berikut akan menjadi pertarungan penentuan mereka.


"Aku akan menggunakan seluruh kekuatanku. Aku harap kau juga mengeluarkan seluruh kemampuanmu, karena aku merasa kau belum mengeluarkan seluruhnya"


Aran hanya menatap dingin ke arah mereka semua.


"Huh, aku fikir kalian ini hanyalah sekelompok katak dungu didalam sumur yang tidak bisa melihat luasnya dunia"


Perkataan Aran membuat hati mereka terasa sakit, mereka selalu merasa bahwa wilayah kepulauan ini hanyalah wilayah yang tidak perlu mereka takuti.


"Sebelum kita bertarung sampai mati, sebaiknya kita perkenalkan diri kita. Katakan siapa namamu"


Kakak pertama berkata kepada Aran, kali ini ia berkata dengan sedikit sopan.


Aran yang melihat sikap musuhnya, memutuskan untuk memberitahunya.


"Di tempat ini aku dikenal dengan sebutan Mahapatih Asura. Sekarang giliranmu"


Aran langsung balik bertanya kepada musuhnya.


"Ooh seorang Mahapatih"


Walau mereka adalah orang-orang yang berasal dari benua tengah, namun untuk istilah-istilah kerajaan maupun kebangsawanan mereka sangat mengetahuinya.


"Pantas kemampuan kamu sangat hebat"


Sementara ketiga saudara yang lain hanya diam mendengarkan pembicaraan antara Kakak pertama mereka dengan Mahapatih.


"Perkenalkan namaku adalah Hongli dan mereka semua adalah saudara seperguruanku. Kami berasal dari Benua Tengah lebih tepatnya Sekte Bulan Merah"


Biasanya didataran tengah siapapun yang mendengar nama sekte ini akan lari tunggang langgang. Namun melihat reaksi musuh mereka sepertinya hal itu tidak berlaku sama sekali. Tapi lain halnya dengan pasukan Parsy, Jenderal Tolu dan Jenderal Orda langsung menarik nafas dingin. Mereka berdua sudah sangat mengenal sekte tersebut. Sekte yang akan membantai seluruh musuh mereka hanya karena masalah sepele.


"Tidak aku sangka orang-orang dari Sekte Bulan Merah sampai datang jauh-jauh ketempat ini"


Jenderal Tolu bersama Jenderal Orda dapat mendengar apa yang dibicarakan oleh Aran dan musuh-musuhnya karena kemampuan mereka memang sudah sangat hebat.


"Mahapatih, sepertinya kau sama sekali tidak mengetahui tentang sekte kami"


Saudara perempuan dari keempat bersaudara akhirnya berkata kepada Aran.


"Aku tidak mau tau, siapapun kalian dan darimanapun kalian berasal. Jika kalian berani menyakiti teman-temanku, maka kalian semua menerima konsekuensinya. Apalagi kalian sudah menyiksanya dengan membakar jiwanya"


Aran lalu memancarkan niat membunuh yang sangat tinggi ke arah mereka. Niat membunuh sekental ini tidak akan keluar jika bukan karena pembunuhan yang pernah dilakukannya.


"Niat yang sangat kental, bahkan tubuhku meresponnya"


Kakak kedua merasakan tubuhnya bergirik akibat dari aura membunuh yang dipancarkan oleh Aran.


"Mari kita mulai pertarungan hidup dan mati ini"


Keempat bersaudara lalu mengambil pil dari balik baju mereka dan langsung menelannya. Itu adalah Pil Ekstrem Jiwa Raga, dimana ia akan meningkatkan 10x lipat kekuatan asli mereka sekaligus mengambil 10 tingkat level mereka ketika efek pil tersebut menghilang.


Bang!


Bang!


Gemuruh hebat terdengar di wilayah sekitar mereka. Awan hitam dilangit tiba-tiba muncul menutupi area ini. Belum lagi angin kencang disertai bunyi guntur yang hebat membuat perasaan setiap orang menjadi ketakutan.


Para penonton yang melihat fenomena aneh ini segera menjauh dari tempat awal mereka berdiri. Mereka takut terkena efek dari pertarungan yang sebentar lagi akan terjadi.


Aran hanya menatap dingin kearah semua musuhnya ini.


Sudah lama ia tidak merasakan darahnya mendidih karena pertarungan.


"Menarik"


"Huhuhu"


Aran hanya bisa tertawa pelan melihat semua musuh-musuhnya yang terlihat sangat kuat. Tidak ada rasa takut sama sekali dalam dirinya.


~Note~


* Jangan lupa like dan koment.


* Vote jika memungkinkan.


* Follow Author.


* Terakhir, mohon bantu share.


Sekali lagi, ini cerita fiksi fantasy. Mohon jangan disamakan dengan sejarah atau nama tempat.


Terima kasih ^^


Instagram :


@yukishinamt