Pendekar Nusantara

Pendekar Nusantara
Semak-Semak



Hari selanjutnya, Aska dan Aranya berlatih bersama di tepi Danau Ranau.


Aska mengajarkan beberapa gerakan ilmu silatnya kepada Aranya. Hanya dalam satu hari, Aranya langsung memahami dasar gerakan Pencak Silat.


***


Keesokan harinya.


Pagi hari.


Aska dan Aranya bersiap dan melanjutkan kembali perjalanannya. Menuruni tebing dekat danau, hingga beberapa saat kemudian, setelah pergi dari Danau Ranau.


Ketika Aska berjalan santai dengan Aranya, melesat dari seluruh penjuru hutan beberapa buah benda kecil berputar secara tiba-tiba ke arah Aska dan Aranya.


Melihat serangan tersebut, Aska melompat kepada Aranya, menjatuhkan dirinya dengan Aranya.


Setelah jatuh, Aska dan Aranya langsung bangun dan bertolak punggung saling membelakangi dengan sikap pasang.


Serangan benda kecil berputar itu kembali menghujani Aska dan Aranya dari berbagai Arah. Depan, belakang, samping dan atas.


Aska meraih tangan Aranya, lalu menariknya ke samping dan berguling ke bawah. Secara cepat, Aska berlari dengan memegang pergelangan tangan Aranya.


Sembari berlari, Aska melihat ke sekeliling mencari orang yang menyerangnya. Benda kecil berputar tersebut terus menghujani Aska dan Aranya dari berbagai arah.


"Siapa ini? Kenapa ada yang menyerang? Apakah mereka pembunuh?" batin Aska bertanya-tanya.


Sejauh Aska berlari, Aska tidak melihat orang yang menyerangnya dengan senjata lempar tersebut. Begitu juga Aranya yang memiliki pandangan tajam tidak dapat melihat keberadaan orang yang menyerangnya.


"Apakah kamu melihat orang yang menyerang kita?" tanya Aska.


"Tidak... Aku tidak melihatnya sejauh mata memandang, sepertinya mereka jaraknya cukup jauh, atau memang ahli dalam bersembunyi," balas Aranya.


Aska berlari dengan menuntun Aranya. Sesaat setelah menghindari serangan, Aska dan Aranya melompat ke dalam semak-semak yang sangat lebat.


Serangan yang menghujaninya berhenti.


"Dengar, Aku akan memancing mereka... Ketika mereka keluar, kamu serang... Jangan meleset satu anak panahpun, atau tidak ada kesempatan lain," ucap Aska mencoba menyusun rencana penyerangan balik.


"Memangnya aku pernah meleset?" balas Aranya menoleh dengan tatapan tajam. Begitupun Aska menatapnya.


"Ayo kita ke sisi lain semak-semak ini," ajak Aska.


***


Aska keluar dari sisi lain semak-semak seorang diri.


Beberapa saat kemudian Aska berlari, senjata kecil berputar menyerang menghujaninya kembali.


Aska berlari seraya menghindari serangan tersebut.


Tidak lama kemudian Aska berlari menjauh dari Aranya, ada beberapa orang yang mengejarnya dari belakang dengan memakai pakaian hitam.


Beberapa orang tersebut sangat berhati-hati, selalu menjaga jarak dengan Aska dari belakang. Orang-orang tersebut menyerang Aska dari kejauhan dengan melemparkan senjata kecil berputar.


Aranya mengangkat busur panahnya dari balik semak-semak. Memfokuskan diri, melesatkan beberapa anak panahnya dengan cepat dan akurat mengenai punggung beberapa orang yang mengejar dan menyerang Aska.


Serangan benda kecil yang menyerang Aska dari belakang menghilang, tinggal orang-orang yang menyerangnya dari depan.


Aska berlari berbalik arah, kembali ke arah Aranya.


Aska tiba depan Aranya, lalu melewati berlari ke belakang Aranya.


Dari kejauhan Aranya melihat beberapa orang yang sama seperti sebelumnya. Aranya kembali memfokuskan diri dan mengangkat busur panahnya.


Beberapa busur panah Aranya melesat cepat dan tepat mengenai dada orang-orang tersebut.


Melihat situasi sudah aman, karena orang-orang yang menyerangnya sudah dilumpuhkan, Aranya keluar dari dalam semak-semak persembunyiannya.


Aska kembali menghampiri Aranya.


"Sudah selesai?" tanya Aska.


"Iya sudah," jawab Aranya seraya menatap orang-orang yang menyerangnya terkapar di hadapannya.


"Tidak ada yang meleset?" tanya Aska.


"Tidak... Semua orang yang terlihat olehku sudah aku serang," balas Aranya.


"Ayo kita lanjutkan perjalanan... Kita sudah banyak tertunda.. Keburu petang... Sebelum malam, kita harus sudah keluar dari hutan ini," ucap Aska.


Aska dan Aranya kembali melanjutkan perjalanan.


***


Beberapa saat kemudian, Aska dan Aranya keluar dari wilayah hutan Danau Ranau. Haripun sudah semakin petang hampir tiba malam.


Aska dan Aranya bermalam diantara perbukitan.


***


Beberapa hari kemudian, di tengah hutan belantara.


"Tidak apa-apa... Lumayan.. Dari tadi kita tidak menemukan rusa besar satupun, itu satu-satunya. Hari juga sudah semakin sore," ucap Aska.


Aska dan Aranya berada di balik pepohonan.


Aranya mengangkat busur panahnya.


Tiba-tiba rusa kecil tersebut berlari.


"Rusannya lari...," ucap Aska resah.


"Kamu sih... Dari tadi berisik," ucap Aranya menyalahkan Aska.


"Aku...?" tanya Aska dengan ekspresi tidak terima.


"Ayo kejar," ajak Aranya mulai berlari, diikuti Aska.


Seraya berlari, Aranya memposisikan busur panahnya ke arah rusah kecil yang tengah berlari tersebut.


Arak panah yang dilepaskan Aranya meleset. Aranya merasa heran, rusa kecil tersebut terlihat sedikit mengelak dari serangan anak panahnya.


"Kamu memanah anak rusa aja masih meleset," ucap Aska meledek sembari berlari.


"Bukan aku yang meleset, tapi anak rusa itu yang menghidar," balas Aranya berteriak kesal.


Aska tegang melihat Aranya marah.


"Dari mananya rusa bisa menghindar," batin Aska.


Beberapa saat kemudian, Rusa tersebut masuk ke dalam semak-semak yang sangat lebat.


"Semak-semak macam apa ini? Kenapa tinggi sekali," ucap Aska tecengang.


"Ini bukan semak-semak liar aja, tapi ini tumbuhan merambat...," balas Aranya.


Aska dan Aranya mendekati semak tersebut.


"Ini buah markisa," ucap Aranya sembari memetik buahnya.


"He..h iya ini markisa, siapa yang menanamnya di dalam hutan seperti ini? tanya Aska meresa aneh.


"Tidak cuma markisa, ada tumbuhan merambat yang lainya...," ucap Aranya.


Semak-semak tersebut terdiri dari berbagai tumbuhan merambat seperti tumbuhan markisa, timun, sayur-sayuran, bunga dan sebaginya.


"Ayo kita masuk... Dalam semak seperti ini, rusa pasti tersangkut," ucap Aska melangkah masuk ke dalam semak-semak tersebut.


"Tunggu... Rusannyakan masih kecil, tanduknya juga baru tumbuh...," ucap Aranya.


"Yang bisa tersangkut itu tidak hanya tanduk saja... Mungkin kakinya juga bisa tersangkut... Ayo buruan, kita ambil jalan lurus," balas Aska.


Aska dan Aranya mulai masuk ke dalam semak-semak tumbuhan merambat tersebut.


***


Beberapa saat kemudian dalam semak-semak tumbuhan merambat.


Sudah cukup lama Aska dan Aranya berjalan menyusuri semak-semak tersebut. Namun, tidak terlihat jalan atau ujung dari semak-semak tersebut. Bahkan rusa kecil yang dikejarnyapun tidak terlihat.


"Sudah lama kita dalam semak-semak ini.. Tapi belum terlihat jalan keluar...," ucap Aranya mulai cemas.


"Tenang... Kita jalan lurus saja ke depan," balas Aska.


Aska dan Aranya terus berjalan lurus menyusuri semak-semak tersebut.


Beberapa saat kemudian, Aska dan Aranya terhenti dan terheran-heran.


"Aww...," jerit Aranya kesakitan.


"Ada apa?" tanya Aska cemas.


"Ada duri...," jawab Aranya.


Tangan kiri Aranya berdarah tergores duri tajam.


"Tanganmun berdarah... Sini...," ucap Aska langsung menarik tangan kanan Aranya.


Aska merobek sarung batiknya dan mengikatkan ke bagian lengan Aranya yang tergores.


"Kenapa bisa banyak tumbuhan berduri...," ucap Aska setelah mengikat luka di lengan Aranya.


Aska dan Aranya menatap ke depan.


"Banyak sekali tumbuhan berduri di sini.. Seperti ada yang menanamnya. Bahkan Ada bunga mawar juga..," ucap Aranya.


Aska menarik golok pendek dari sarungnya.


Aska berjalan ke depan dengan memotong bagian duri yang menghalanginya. Aska dan Aranya terus berjalan lurus menyusuri tumbuhan-tumbuhan berduri dalam semak-semak tersebut.