Pendekar Nusantara

Pendekar Nusantara
Kedatangan Seorang Raja



Setelah membereskan puing-puing rumah, Aska, Raka dan Yasa pergi ke gunung untuk mencari bambu dan kayu. Sedangkan Citta menunggu dan menyiapkan makanan.


Sore haripun tiba.


Aska, Raka dan Yasa kembali membawa banyak bambu dan kayu untuk membangun kembali rumah Ki Salawi.


Sesampainya di rumah Aska melihat ada Ki Salawi sedang duduk di batu dan mengobrol dengan seseorang. Orang itu adalah Raja Kerajaan Sunda Galuh Prabu Siliwangi.


"Bukannya itu Prabu Siliwangi?" batin Aska.


Setelah sampai di halaman rumah, Raka dan Yasa bertekuk lutut memberi hormat kepada Prabu Siliwangi. Tapi Aska memberi hormat dengan gaya pendekar.


"Horma saya Gusti Prabu," ucap Aska, Raka dan Yasa secara bersama.


"Hei Aska turun kebawah, jangan berdiri memberi hormatnya," ucap Raka berbisik sembari menarik-narik celana Aska.


"Mohon maaf Gusti Prabu. Bukanya saya lancang atau tidak punya sopan santun. Saya sangat menghormati Gusti Prabu. Saya memberi hormat seperti ini karena saya masih mencari orang yang harus saya santuni dengan mencium kakinya lebih dahulu," ucap Aska.


Mendengar ucapan Aska, Prabu Siliwangi hanya tersenyum.


"Tidak apa-apa Aska kamu benar-benar pendekar muda yang menarik. Kalian berdua bangunlah tidak perlu seperti itu. Lanjutkanlah pekerjaan kalian," ucap Prabu Siliwangi.


Aska terkejut mendengar Prabu Siliwangi mengetahui namanya. Padahal sebelumnya Aska belum pernah bertemu dengannya. Dan lagi Aska heran, kenapa seorang Raja dari kerajaan besar bisa datang menemui Kakek tanpa pengawal juga mengenakan pakaian orang biasa.


Setelah mendengar ucapan Prabu Siliwangi Raka dan Yasa kembali berdiri dan melanjutkan pekerjaannya membuat pondasi rumah.


Tidak lama setelah itu Prabu Siliwangi berencana kembali ke istana kerajaan.


"Kalau begitu saya mohon pamit Kek," ucap Prabu Siliwangi memberi hormat.


"Iya silahkan... Yasa tolong antar Gusti Prabu sampai keluar dari kampung," ucap Ki Salawi memerintah Yasa.


"Baik Kek," jawab Yasa langsung menghampiri Prabu siliwangi.


"Mari saya antar Gusti Prabu," ucap Yasa membungkukan badan.


"Terima kasih. Tolong pimpin jalannya," ucap Prabu Siliwangi.


"Baik Gusti Prabu," ucap Yasa langsung berjalan.


Yasa mengantar Prabu Siliwangi hingga sampai keluar dari kampung Selagombong.


***


"Kenapa Prabu Siliwangi bisa menemui Kakek? Bahkan tidak membawa pengawal dan menyamar menjadi orang biasa," ucap Aska berbisik.


"Aku juga kurang tau. Tapi Gusti Prabu sering berkunjung ke sini dan sangat menghormati Kakek," ucap Citta.


"Kenapa harus menyamar segala? Walaupun sedang menyamar tetap saja aura kewibaannya terpancar, bahkan sedang berjalanpun terlihat bahwa itu bukan orang biasa," ucap Aska.


"Sebenarnya penduduk desa sudah tahu kalau itu Gusti Prabu. Cuma Kakek bilang pura-pura tidak tahu saja biar saat bekunjung Gusti Prabu merasa nyaman," ucap Citta.


***


Sesampainya di luar kampung Selagombong.


"Namamu Yasakan?" tanya Prabu Siliwangi.


"Benar Gusti Prabu," jawab Yasa.


"Tolong beritahu, kenapa bisa rumah Kakek terbakar?" tanya Prabu Siliwangi.


"Tidak ada apa-apa Gusti Prabu, itu hanya masalah kecelakaan kecil," ucap Yasa.


"Aku tahu Kakek dan kalian para muridnya begitu baik. Sampai-sampai hal seperti inipun kalian tidak mempermasalahkannya. Tapi tolong beritahukan kepadaku kenapa dan siapa penyebabnya? Aku hanya ingin mengetahui saja apa yang terjadi dan tidak akan ikut campur urusan kalian," ucap Prabu Siliwangi.


Mendengar Prabu Siliwangi berucap seperti itu sampai meminta tolong, akhirnya Yasa memberitahukan kejadian yang sebenarnya dan memberitahukan dalang dibalik kejadian tersebut.


Setelah menceritakan hal tersebut, Yasa kembali lagi ke kediaman Ki Salawi.


***


Beberapa saat yang lalu.


Aska, Raka dan Yasa sedang mencari kayu dan bambu di gunung. Sedangkan Citta sedang membersihkan sisa-sisa abu rumah.


Ki Salawi datang dan melihat rumahnya habis terbakar.


"Iya Kek. Kami baik-baik saja. Aska, Raka sama Yasa sedang pergi ke gunung, mencari bambu dan kayu," ucap Citta.


Mendengar jawaban Citta Ki Salawi lebih tenang, lalu duduk di batu sembari memandang Gunung Manglayang.


"Ini Kek, air tuak gombong," ucap Citta memberikan air.


Ki Salawi mengambil air yang diberikan Citta dan langsung meminumnya, lalu menghela nafas.


Tidak Lama kemudian setelah itu, datanglah Raja Kerajaan Sunda Galuh Prabu Siliwangi.


"Sampurasun," ucap Prabu Siliwangi


"Rampes." Jawab Ki Salawi.


"Saya datang berkunjung, karena ada hal yang harus saya bicarakan Kek," ucap Prabu Siliwangi memberi hormat.


"Kemari duduklah di sini," ucap Ki Salawi.


"Baik Kek. Terima Kasih," ucap Prabu Siliwangi.


"Sebelumnya mohon maaf Kek, kenapa rumah Kakek bisa terbakar seperti ini?" tanya Prabu Siliwangi penasaran.


"Ini hanya kecelakaan. Tidak perlu dipikirkan. Ada perihal apa sampai-sampai Ananda Prabu datang kemari?" ucap Ki Salawi.


"Saya hanya ingin bertanya Kek, apakah Kakek menerima murid baru?" tanya Prabu Siliwangi.


"Iya," jawab Ki Salawi menganggukan kepala.


"Siapa sebenarnya murid baru Kakek?" tanya Prabu Siliwangi.


"Dia cucuku," ucap Ki Salawi tersenyum.


Prabu Siliwangi terkejut mendengarnya.


"Saya memohon maaf yang sebesar-besarnya Kek. Saya menaruh Ajian Paningali Langit di dahinya hanya karena sebuah kecurigaan yang tidak berdasar," ucap Prabu Siliwang sembari bertekuk lutut di hadapan Ki Salawi.


"Bangunlah, tidak pantas dilihat jika seorang Raja memohon seperti ini. Kakek tidak mempermasalahkannya," ucap Ki Salawi memegang kedua lengan bahu Prabu Siliwangi.


"Terima Kasih Kek," ucap Prabu Siliwangi kembali duduk di batu.


"Cucu Kakek sungguh orang yang hebat. Putraku Raden Kiansantang sampai ketakutan melihat sebuah kekuatan yang ada pada dalam dirinya. Kalau boleh tau siapa nama cucu Kakek?" ucap Prabu Siliwangi.


Mendengar Prabu Siliwangi melontarkan sebuah pujian kepada cucunya, Ki Salawi tersenyum.


"Askara Paramanda itulah namanya," ucap Ki Salawi.


Tidak lama kemudian Aska, Raka dan Yasa datang kembali membawa bambu dan kayu dari gunung.


***


Setelah menghabiskan waktu seharian penuh dari siang sampai tengah malam, akhirnya membangun pondasi rumah selesai. Mega hijau sudah mulai keluar.


"Kakek. Bagaimana malam ini jika Kakek dan Aska menginap di rumah Yasa," ucap Yasa.


"Baiklah. Terima kasih Yasa," ucap Ki Salawi.


"Mari Kek," ucap Yasa.


Citta sudah pulang ke rumahnya. Sedangkan Ki Salawi bersama Aska dan Raka, memutuskan untuk menginap sementara di rumah Yasa.


***


Sesampainya di rumah Yasa.


"Kami sungguh sangat senang Kakek berkunjung dan menginap di rumah kami. Mohon maaf Kek tempat tinggal kami seperti ini keadaanya," ucap Ayah Yasa.


"Terima kasih. ini sudah sangat membantu," ucap Ki Salawi.


"Anak muda ini siapa Kek? apakah ini murid baru Kakek?" tanya Ayah Yasa.


Ki Salawi hanya menganguk dan tersenyum.


"Salam paman. Saya Askara Paramanda," ucap Aska memberi hormat.


Setelah berbincang cukup lama, Aska dan Yasa tidur terlebih dahulu. Ki Salawi dan ayahnya Yasa masih melanjutkan obrolan mereka.