Pendekar Nusantara

Pendekar Nusantara
Kenangan Aran



Malam hari di markas aliansi.


Aran duduk diatas sebuah pohon yang paling tinggi.


Ia sangat menyukai ketinggian, karena di ketinggian tidak ada suara berisik yang mengganggunya.


Sebenarnya para petinggi meminta Aran untuk ikut rapat militer mengenai perang melawan Kerajaan Parsy. Namun ia sama sekali tidak tertarik dengan itu semua.


Kini Aran sedang memikirkan cara memberikan rumput lima warna kepada Lingga.


"Aku akan menunggu sampai tengah malam"


Rencana Aran adalah memberikan rumput lima warna ini diam-diam kepada Lingga.


"Hmm, sebaiknya aku berlatih di Alam Giok Langit"


Dalam sekejap wujud Aran menghilang di udara kosong.


"Tuan"


Putih dan Kumbang langsung memberi hormat kepada Aran.


Kedua macan tersebut begitu senang tinggal di alam ini, karena banyak aura murni di tempat ini yang bisa mereka serap untuk meningkatkan tenaga dalam mereka.


Aran lalu berjalan menatap alam ini, rasanya alam ini begitu kosong.


"Kumbang, Putih kemari"


"Iya Tuan"


Kedua macan langsung muncul di hadapan Aran.


"Aku ingin kalian membuatkanku rumah di alam ini. Sekarang kalian berdua keluar dan cari kayu terbaik untuk membuat rumah"


"Baik Tuan"


Dalam sekejap, Aran langsung mengeluarkan mereka berdua dari alam ini.


 


 


Kemudian Aran berjalan ke kolam merah. Ia ingin melihat keadaan ikan di kolam tersebut.


Kolam itu sangat jernih dengan berwarna merah transparan.


Ia melihat ternyata kedua ikan itu sudah melahirkan anak-anak ikan yang lumayan banyak. Kedua ikan itu juga tumbuh lebih besar.


"Hmmm, menarik. Aku akan menunggu anak-anak ikan ini menjadi besar"


Aran sudah tidak sabar untuk menyantap ikan tersebut. Menurut cerita Raja Naga, kedua ikan ini memiliki efek ajaib untuk tubuh. Setelah melihat ikan, Aran melanjutkan untuk melihat tanaman anggur ruby dan tanaman buah afrodisiak. Kini kedua tanaman itu telah tumbuh subur dengan pohon yang menjulang tinggi.


"Huhuhu"


Aran membayangkan buah afrodisiak ini, ia jadi membayangkan kejailannya waktu melempar buah ini kepada Clan Serigala Perak.


Setelah tertawa sendiri ia memutuskan untuk pergi berlatih.


Sekilas Aran melirik Raja Naga Iblis yang tengah menutup matanya.


"Sekarang aku harus meningkatkan level ku kembali"


Aran mulai berlatih dengan giat. Buku-buku dan gulungan beladiri dibacanya dengan serius.


Aran terus berlatih dan meditasi, ia tidak ingin menyia-nyiakan waktunya.


Setelah sekian lama, aura ditubuhnya meningkat drastis.


Bang!


Aura ditubuhnya meledak. Memancarkan aura biru yang terang.


"Ini adalah kenaikan level ajian naga puspa, yaitu Ajian Naga Langit"


Sambil menunggu ia lalu menulis surat untuk Lingga.


Tidak lama, kedua macan berbicara kepada Aran.


*Tuan\, kami berdua sudah mengumpulkan banyak kayu kualitas terbaik*


*Baik\, aku akan segera keluar*


Aran langsung keluar dari alam gioknya. Ketika ia keluar, dilihatnya tumpukan kayu yang sangat banyak.


"Bagus, aku akan mengirim kalian masuk kembali"


Dalam sekejap kedua macan dan potongan kayu memasuki alam giok langit.


Aran juga ikut masuk kembali.


"Kumbang segera buat rumah untuk tempat tinggalku, modelnya kuserahkan padamu. Aku yakin kamu memiliki pemahaman mengenai hal itu"


"Baik Tuan"


Kumbang langsung membawa kayu-kayu tersebut.


Sementara Putih masih berada dihadapan Aran menunggu instruksi darinya.


"Putih, aku punya tugas lain untukmu"


"Iya Tuan"


Jawab Putih hormat.


"Aku ingin kau memberikan rumput lima warna kepada Senior Lingga, aku akan memberitahukan padamu dimana ia tinggal sekarang dan seperti apa wajahnya"


"Baik Tuan"


Aran lalu memberikan bungkusan kepada Putih, yang didalamnya berisi rumput lima warna dan secarik surat dari kulit binatang.


Aran bersama Putih lalu keluar dari alam giok.


Di luar, Aran langsung memberitahukan posisi Lingga dengan menggunakan auranya dan mengirimkan gambaran wajah Lingga di kesadaran Putih.


Karena jiwa Putih sudah menyatu dengannya, hal itu sangatlah mudah dilakukan.


Putih langsung terbang menuju tempat Lingga berada. Dengan wujud gagaknya tidak akan ada yang curiga padanya.


"Beres"


Kata Aran singkat.


Ia percaya Putih akan menunaikan tugasnya dengan baik.


Sambil menunggu Putih, Aran kembali berdiri diatas pohon besar menatap kejauhan.


Ia kembali mengingat kenangan bersama masternya.


Dari kecil ia dirawat oleh master, ia tidak tau siapa orang tuanya.


Masternya hanya berkata "suatu saat jika waktunya sudah siap aku akan memberitahumu"


Karena suatu urusan, masternya pergi meninggalkan dirinya. Ia berkata bahwa dirinya akan pergi sangat jauh.


"Aran tentukanlah jalanmu sendiri, jadilah kuat dan teruslah berlatih. Jangan pernah bersikap sombong, karena diatas langit masih ada langit"


"Temukanlah Master Arjuna. Namun ia tidak akan bisa kamu temukan hingga nasib membawamu bertemu dengannya"


"Aku tidak bisa tinggal lebih lama lagi, aku harus segera pergi"


Kadang Aran masih mengingat kata-kata masternya sebelum meninggalkannya pergi.


"Aku akan menjadi kuat, sehingga aku bisa bertemu denganmu dan mengetahui asal usulku"