
Aran sebenarnya tidak menduga sama sekali jika benar Xiao Ling yang dikatakan oleh Varya adalah Xiao Ling yang dikenalnya. Karena selama Aran mengenal Xiao Ling, gadis itu tidak pernah bersikap dingin padanya.
Mereka berdua lalu melanjutkan obrolannya, hingga akhirnya penjaga rumah menginformasikan kepada Aran bahwa Senior Lingga dan Berliana sudah berada di gerbang masuk.
"Varya, mari kita menunggu di luar"
"Baik Tuan"
Aran dan Varya lalu menunggu kedatangan tamu mereka.
Tidak perlu menunggu waktu lama, Berliana, Lingga dan para pengikut Aran sudah berada dihadapannya.
"Aran"
"Tuan"
"Mahapatih"
Mereka semua memberi hormat dengan cara mereka masing-masing. Aran lalu menyuruh mereka semua untuk memasuki rumahnya.
Didalam rumah mereka terkejut dengan banyaknya makanan di meja makan. Berbagai jenis masakan ada disitu, belum lagi baunya yang sangat harum membuat siapapun ingin segera menyantapnya.
"Kalian semua pasti lelah, mari silahkan duduk"
Aran tau bahwa semua tamunya ini pasti lelah karena semalaman bertarung. Mereka langsung mengikuti perintah Aran untuk duduk dikursi yang telah disediakan. Kumbang, Putih dan Ze duduk disebelah Aran karena bentuk tubuh Kumbang dan Putih berbeda jadi Aran sudah menyiapkan kursi khusus untuk mereka.
Tidak mau menunda lama, Aran lalu meminta mereka semua untuk segera menyantap semua makanan yang telah disiapkannya.
"Aran masakanmu benar-benar yang terbaik"
"Hmm, aku juga setuju dengan Senior, masakanmu memang yang terbaik"
Lingga dan Berliana sangat mengagumi kemampuan masak Aran.
Kumbang dan Putih yang sudah ikut lama bersama Aran memang selalu menunggu moment dimana Aran mau memasakkan makanan untuk mereka. Karena selama ini mereka tidak pernah berani untuk memintanya langsung.
Ze yang belum lama ikut juga sangat menyukai masakan Aran ini, ia tidak menyangka bahwa Tuannya ini bisa memasak makanan senikmat ini. Mungkin ini adalah makanan ternikmat yang pernah ia makan selama hidupnya.
***
Setelah semua selesai makan, mereka semua kembali mengobrol bersama.
"Kumbang, Putih dan Ze. Kalian bertiga pergi ke pesisir pantai, dimana sebelumnya merupakan markas pasukan Parsy. Lihatlah, apakah mereka semua menepati janji dengan meninggalkan negeri ini dan meninggalkan seluruh harta berharga mereka. Jika mereka berani melanggar, kalian sudah tau apa yang harus kalian lakukan"
Aran langsung memberi perintah kepada tiga pengikutnya.
"Baik Tuan"
"Daulat Mahapatih"
Ketiga pengikut Aran langsung menghilang ke udara kosong.
Kini tinggal Berliana, Lingga dan Varya.
"Bagaimana semalam, apa kalian semua mengalami kendala"
Walau sebenarnya Aran tau hasilnya, tapi ia tetap ingin mendengarnya langsung.
"Tidak ada kendala sama sekali, bahkan kami tidak perlu mengeluarkan tenaga yang banyak. Karena semua masalah sudah diselesaikan oleh pengikutmu"
Lingga menjawab pertanyaan Aran yang disetujui oleh Berliana.
"Untuk para tahanan sekarang ada diruang bawah tanah markas URC"
Berliana lalu menginformasikan bahwa semua tahanan Fraksi Merah berada didalam penjara rahasia.
"Besok kita akan membersihkan semua pengkhianat anggota Fraksi Merah. Saya sudah mendapatkan daftar para pengkhianat negeri ini"
Sebelumnya memang Aran sudah mendapatkan laporan dari para pengikutnya yaitu Kumbang, Putih dan Ze mengenai para pengkhianat negeri.
"Baik, saya setuju denganmu"
"Saya juga setuju. Hari ini juga jika tidak ada tugas lain, saya akan mengatur seluruh pasukan untuk bersiap"
Berliana dan Lingga sama-sama menyetujui saran Aran untuk segera menghabisi seluruh anggota Fraksi Merah. Karena keberadaan mereka selama ini bagai duri dalam daging.
Ketika mereka sedang asik berdiskusi, terdengar suara prajurit penjaga didepan pintu kediaman. Aran langsung keluar dari kediamannya, diikuti oleh semua tamunya.
"Lapor Mahapatih"
"Ada apa"
Tanya Aran padanya.
"Didepan gerbang utama ada pengawal Kerajaan yang datang untuk mengantarkan surat"
Jawab pengawal dengan hormat.
"Lalu kenapa tidak kamu ambil surat tersebut"
"Karena penjaga itu memaksa untuk memberikannya langsung kepada Mahapatih"
"Baiklah, suruh dia masuk"
Penjaga itu lalu undur diri dan pergi keluar menuju gerbang utama.
Tidak lama datanglah prajurit kerajaan tersebut kehadapan Aran.
"Daulat Mahapatih, saya penjaga pribadi Yang Mulia Raja Muda"
Penjaga tersebut memberikan hormatnya kepada Aran.
"Baiklah, mari kita masuk"
"Tidak perlu Mahapatih, saya harus segera kembali ke istana. Jadi saya hanya akan memberikan surat dari Raja Muda kepada Mahapatih"
Prajurit itu lalu berjalan mendekat ke arah Mahapatih dan memberikan surat berwarna emas dengan segel merah.
Setelah memberikan surat tersebut, prajurit itu ijin untuk segera kembali istana.
Aran lalu mengajak semuanya untuk membaca surat itu bersama-sama.
Surat itu berisikan bahwa Raja Muda sudah mengetahui perihal kekacauan yang terjadi di markas URC dan ia juga sangat berterima kasih karena sudah membantu membereskan para pengkhianat tersebut. Selain hal itu Raja Muda mengundang Mahapatih untuk datang ke istana bersama orang-orang kepercayaannya, karena ada hal yang harus didiskusikan.
"Raja Muda memintaku untuk datang ke istana saat ini juga, apakah kalian semua mau ikut"
Aran menanyakan kepada para sahabatnya ini, apakah ada yang mau mengikutinya berkunjung ke istana.
"Saya mau Tuan, saya mau melihat istana kerajaan"
Varya yang pertama mengajukan diri, karena ia sangat ingin melihat istana kerajaan.
"Bagaimana yang lainnya?"
Aran bertanya kepada Lingga dan Berliana.
"Saya juga ikut, saya penasaran apa yang ingin didiskusikan Raja Muda padamu"
Lingga memutuskan untuk ikut ke istana. Tinggal Berliana yang belum menjawabnya.
"Saya ingin ikut, tapi saya masih memiliki urusan untuk menangani para pengkhianat yang berada di penjara URC dan juga terkait rencana besok untuk memberantas semua anggta Fraksi Merah"
Mendengar Berliana, Aran juga tidak memaksa. Ia juga mengetahui beratnya tugas yang harus diemban oleh para pasukan URC. Karena tugas utama mereka adalah menjaga negeri ini dari segala macam kejahatan, baik diluar maupun didalam kerajaan.
"Berliana. Ada satu hal lagi, dimana aku sangat membutuhkanmu dan pasukan URC"
Aran baru saja mendapat kabar dari para pengikutnya bahwa pasukan Parsy benar-benar meninggalkan negeri ini dan menyisakan banyak harta. Namun mereka semua kesulitan untuk membawa harta rampasan tersebut.
"Apa itu Aran?"
"Terkait harta rampasan dari pasukan Parsy yang mereka tinggalkan di pesisir pantai. Aku ingin kamu bersama pasukanmu mengawal harta tersebut untuk dibawa ke markas kalian. Kamu akan dibantu oleh Putih, sebentar lagi ia sampai disini"
"Baik tidak masalah, jadi pasukan Parsy benar-benar sudah meninggalkan negeri ini"
Berliana begitu kagum dengan Aran yang dapat mengusir pasukan Parsy dari negeri ini.
Semua yang berada disitu juga kagum dengan kemampuan Aran. Tidak lama Putih datang dalam wujud bayangan hitam.
"Tuan, saya kembali"
Aran langsung menyapa Putih.
"Putih, temani Berliana kemarkas URC. Setelah semua urusannya selesai, kawal dia bersama pasukannya untuk membantu membawa harta rampasan perang ke markas URC"
"Siap Tuan"
Putih langsung merubah wujudnya menjadi Macan putih. Tidak menunggu lama, setelah berpamitan Berliana langsung menaiki Putih untuk menjalankan tugasnya.
Melihat Berliana telah menghilang dari pandangan, Aran lalu mengajak Lingga dan Varya untuk pergi menuju istana.
~Note~
Hello pembaca setia Novel Pendekar Nusantara.
Jika kalian semua menyukai novel ini, mohon bantu penulis dengan cara dibawah ini ya.
* Jangan lupa like dan koment.
* Vote jika memungkinkan
* Follow Author.
* Terakhir\, mohon bantu share.
Selamat Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-75.
Salam hangat dari penulis.
Instagram :
@yukishinamt