
Hari yang begitu cerah. Aska memulai kembali berlatih.
Di antara pohon bambu depan rumah.
Aska sedang bertanding dengan Ki Salawi. Bertarung menggunakan tongkat diantara pohon bambu membuat Aska kewalahan dikarenakan tempat pijakannya yang sempit.
"Sulit sekali... Kakek benar-benar cepat. Baginya bambu seperti bukan halangan," batin Aska nafas terengah-engah.
Keduanya berhenti sejenak dan memasang kuda-kuda sikap pasang.
"Perkecil langkahmu Aska... Pandangan fokus kedepan, konsentrasilah dan jangan tergagunggu oleh bambu disekitar," ucap Ki Salawi.
Keduanya memulai bertarung kembali. Aska menyerang lurus kedepan menggunakan kepala tongkat. Ki Salawi menepis serangan Aska. Aska mencoba mendekati Ki Salawi untuk melancarkan serangan.
***
Istana Kerajaan Sunda Galuh (Padjajaran).
Aula singgasana.
Seluruh keluarga kerajaan berkumpul. Bahkan sampai para petinggi kerajaan dari mulai Penasehat, Senopati, Patih, dan Panglima Kerajaan.
"Rai... kamu benar-benar membuatku malu. Aku sudah memperingatkanmu. Tapi kamu mengabaikannya," ucap Prabu Siliwangi.
"Sekarang aku cacat Raka. Aku tidak dapat berjalan lagi. Apakah Raka tidak ingin berbuat sesuatu untukku?," ucap Amuk Marukul.
"Itu salahmu sendiri, kamu harus menanggung akibatnya," ucap Prabu Siliwangi.
Wajah Amuk Marukul memperlihatkan kekesalannya.
"Dengar semuanya... Alasan kenapa kerajaan ini menjadi salah satu yang terkuat di Bumi Nusantara adalah karena didukung oleh salah satu pendekar legendaris. Sekarang aku akan memberitahukan siapa dia. Dialah Ki Salawi orang yang selalu kamu ganggu kediamannya Rai. Dan orang yang kemarin menghukummu. Bahkan yang lebih parah kamu mencelakai muridnya dengan menyewa kelompok perkumpulan macan kumbang dan membuat martabat kerajaan ini hancur," ucap Prabu Siliwangi.
Amuk Marukul dan seluruh orang di dalam aula singgsana berdiam diri dan meperhatikan ucapan Prabu Siliwangi.
"Alasan dari dulu aku merahasiakannya karena aku berjanji untuk tidak memberitahukan kepada siapapun bahkan keluargaku. Apakah kalian ingat saat kita mengadakan pertemuan di pantai selatan. Di Bumi Nusantara ada tujuh pendekar legendaris. Dan Kangjeng Ratu memperingatkan kepada kita untuk tidak mengusiknya dan bahkan satu dari ketujuh pendekar itu dapat meluluhlantahkan satu kerajaan. Aku sudah susah payah menjalin hubungan dengan Ki Salawi dan dipermalukan oleh adikku sendiri. Apa yang harus aku lakukan sekarang Penasehat?" ucap Prabu Siliwangi.
"Mohon maaf Gusti Prabu bila saya lancang. Bagaimana jika Ki Salawi dan muridnya diundang ke istana untuk diberikan jamuan sebagai permintaan maaf," ucap Penasehat Kerajaan.
"Saran yang bagus. Tapi, aku tidak yakin apakah Ki Salawi menerima undangan kita. Karena aku tahu beliau tidak suka yang namanya jamuan besar. Tapi aku akan mencoba datang ke kediamannya," ucap Prabu Siliwangi.
"Mulai sekarang tidak boleh ada yang bertindak bodoh dan mencemari nama kerajaan dan untuk Patih, Senopati, Panglima dan para prajuri. Aku menghukum kalian. Kalian sungguh membuatku malu dengan tindakan kalian yang menyerang seseorang dengan cara jauh dari kata pendekar," ucap Prabu Siliwangi.
Semua terdiam kebingungan.
"Mohon maaf Ayahan Prabu. Apakah dia orang yang waktu itu?" tanya Raden Kiansantang.
"Benar wahai Putraku. Dia orang yang waktu kamu curigai. Dia bernama Askara Paramanda, baru enam bulan menjadi murid Ki Salawi," ucap Prabu Siliwangi.
"Tapi Ayahanda Prabu, kenapa aku tidak merasakan hawa energinya bahkan hawa energi misteriusnyapun aku tidak dapat merasakannya?" tanya Raden Kiansantang penasaran.
"Menurut Ayahanda, tidak ada hal aneh jika dia murid dari seorang pendekar legendaris," ucap Prabu Siliwangi.
Raden Kiansantang masih penasaran apa yang terjadi dengan Aska. Karena dalam enam bulan saja dia sudah sekuat itu dan hawa energinya tidak dapat ia rasakan.
Yang sebernarnya terjadi adalah dikarenakan Aska memakai topeng Nawadewata penahan auran dan untuk kemampuan, sebenarnya Aska masih berada di bawah Raden Kiansantang. Dalam bertarungan terakhir Aska dengan Raden Kiansantang di karenakan Aska hanya beruntung karena memakai Ajian Panolak Hawa untuk menahan serangan dadakan Raden Kiansantang.
***
Depan halaman rumah Ki Salawi, diantara pohon bambu.
Aska menyerang dari bawah dengan tongkatnya. Namun, saat Aska akan mengankatnya Ki Salawi lebih dulu menginjak kepala tongkatnya. Lalu Ki Salawi memukul tangan Aska dengan tongkatnya. Cengkraman Aska lepas. Aska mencoba mundur, tapi Aska tersandung dan terjatuh.
"Hari ini cukup dulu sampai di sini," ucap Ki Salawi.
Askapun berdiri.
"Aska... Kamu masih terganggu dengan kondisi di sekitar. Itu artinya kamu belum fokus pada pertarunganmu serdiri... Ingat Aska pertarungan tidak hanya terjadi di tempat luas saja. Bisa saja kamu bertarung di hutang penuh duri atau di rawa atau di tempat yang belum pernah kamu pijak. Jadi berusahalah lebih keras lagi Aska," ucap Ki Salawi.
"Baik Kek. Ucapan Kakek akan saya ingat," ucap Aska memberi hormat.
Aska dan Ki Salawi berjalan kembali ke rumah. Di halaman rumah ada Raka, Yasa dan Citta sedang berlatih.
Melihat kedatangan Aska, Citta langsung menghampiri Aska.
"Aska udah selesai berlatihnya?" tanya Citta basa-basi.
"Iya...," balas Aska tersenyum.
"Kek... Aku juga mau dong berlatih di bambu bareng Aska," ucap Citta.
"Nih minum dulu," Citta memberikan Air Kepada Aska.
"Terimakasih... Eh Cit...," ucap Aska.
"Hm apa?" Tanya Citta.
"Kakek ga dikasih air juga?" Tanya Aska.
"Eh iya lupa Hahaha...," ucap Citta ketawa dan mengambil air untuk Ki Salawi.
"Ini Kek airnya," Citta memberikan air sampil senyum-senyum malu.
Setelah beberapa saat Raka dan Yasapun selesai berlatih dan mengambil minum sendiri karena Citta tidak mau mengambilkan.
Hari sudah petang. Seperti biasa Yasa dan Citta pulang kerumahnya masing-masing.
***
Hari-hari selanjutnya Aska diisi dengan berlatih. Dari mulai meningkatkan efektifitas gerakan silat dasar, melatih Ajian Panolak Hawa, Jurus Jeblag, Tapak Saketi, Tapak Sakti, Tapak Sakti Selaras, melatih tarian dan disela-selanya diselipkan untuk bersemedi dan juga berlatih tanding dengan Ki Salawi diantara pohon bambu depan halaman rumah.
***
Tiga bulan kemudian.
Di antara pohon bambu depan halaman rumah.
"Bagus Aska, sekarang langkahmu sudah semakin kecil dan teratur... Ayo satu ronde lagi," ucap Ki Salawi.
"Baik Kek," ucap Aska.
Setelah beberapa ketukan memasang kuda-kuda sikap pasang, Aska menyerang Ki Salawi. Aska terus menerus melancarkan seranganya dengan baik. Ki Salawi menahan serangan Aska. Dan pertahanan Aska semakin baik tidak banya celah seperti dahulu.
Pertarunganpun telah selesai.
Aska dan Ki Salawi kembali ke rumah. Dan duduk di saung halaman rumah.
"Aska, Raka, Yasa, Citta. Kemarilah," ucap Ki Salawi.
Semua murid Ki Salawi berkumpul dan duduk di dalam saung kecil halaman rumah saling berhadapan.
"Ada apa Kek?" tanya Raka.
"Kakek mau berbicara tentang Aska," ucap Ki Salawi.
"Tentang Aska?" tanya Citta penasaran.
"Iya... Aska berlatih di sini sudah genap sembilan bulan dan kemampuan Aska sudah cukup baik dari sebelumnya," ucap Ki Salawi.
Raka, Yasa dan Citta memperhatikan Ki Salawi dengan seksama karena penasaran apa yang akan diceritakannya tentang Aska.
"Jadi besok Aska akan pergi untuk memulai perjalanan pendekarnya," ucap Ki Salawi.
Semua terkejut mendengar ucapan Ki Salawi.
"Apa Kek? Kenapa Aska harus pergi? Askakan bisa berlatih di sini bersama kami," ucap Citta nada terkejut.
"Iya Kek... Kenapa Aska harus pergi? Aku belum membalaskan kekalahku yang kemarin Kek? Aska ayo kita latih tanding ulang sekarang," ucap Raka nada terkejut dan tidak terima.
"Hahaha... kamu mau berapa kalipun melawan Aska, tetap bakal kalah," ucap Citta ketawa meledek.
"Hah... Apa kamu bilang? Denger ya anak manja. Aku kemarin masih ragu dan setengah hati melawannya. Kalau tau begini pasti kemari bakalan serius," ucap Raka berteriak marah.
"Hahaha... Udah bocah tetep bocah. Ga bakal menang," ucap Citta meledek.
"Sudah-sudah jangan dulu berdebat," ucap Ki Salawi.
Raka dan Citapun berhenti berdebat. Dan kembali melihat ke arah Ki Salawi.
"Tidak ada latih tanding Raka. Sekarang Aska harus istirahat untuk perjalanannya besok. Dan Citta Aska pergi itu karna ada sesuatu yang harus dia lakukan. Perjalanan Aska masih panjang. Jadi bagaimanapun kondisinya dia harus tetap pergi," ucap Ki Salawi.
Terlihat wajah kesedihan Citta dan terlihat wajah kekesalan Raka karena kekalahannya dan belum berlatih tanding kembali dan terlihat wajah bingung Raka sekaligus sedih.
***
Malam haripun tiba. Aska tidur lebih awal supaya dalam perjalanannya yang baru ia lebih bertenaga.