Pendekar Nusantara

Pendekar Nusantara
Different Land



Kini Aran bersama kelompoknya bergerak menuju portal dimensi. Aran masih mengingat dengan jelas jalan menuju portal tersebut. Hanya butuh beberapa jam untuk sampai di tempat tujuan.


Kini Aran berdiri menatap danau tempat ia keluar dulu, terbayang dipikirannya saat ia pertama kali menjajakan kakinya di dunia ini. Banyak suka duka yang ia lalui, tapi yang paling penting adalah kini ia memiliki banyak teman dan kerabat.


"Tuan, saya pamit pergi"


Aran menyatukan tangannya memberi hormat pada Tuan Ghafar.


"Baik Aran, jaga dirimu. Semoga suatu saat nanti kita bisa berjumpa kembali"


"Pasti"


Aran juga tidak lupa mengucapkan salam perpisahan kepada para pengantarnya. Mereka semua sangat menghormati Aran.


"Kumbang, Putih kembali"


Kumbang dan Putih yang mendengar teriakan Aran segera menukik dari atas langit, selama ini mereka berdua mengikuti Aran dengan wujud burung gagak.


"Kwaaakk"


Suara burung terdengar dari atas langit.


*Aran bawa mereka masuk kedalam alam ini*


Terdengar suara Raja Naga di kesadarannya.


*Raja\, apakah benar bisa membawa mereka masuk*


*Aku sudah meningkatkan kemampuan alam ini\, untuk bisa membawa masuk mereka yang berhubungan dengan jiwa mu*


*Benarkah?*


Aran begitu senang mendengarnya.


*Yakin\, cepat bawa mereka masuk*


Aran langsung berkata kepada kedua macan berwujud gagak yang kini bertengger di masing-masing bahu Aran.


*Kumbang\, Putih. Masuk kedalam tubuhku*


*Masuk?*


Ketika mereka tengah bingung, tiba-tiba ada kekuatan yang menarik mereka masuk kedalam tubuh Aran.


*Tuaaann\, apa iniiii*


Mereka berdua berteriak sebelum tubuh mereka lenyap di udara kosong.


Ghafar dan para pengikutnya juga menatap kosong ke arah Aran 'Apa yang terjadi, kemana kedua gagak itu' Karena seketika kedua gagak seperti tersedot ke kening Aran.


Aran tidak ingin menunggu lama, ia langsung memakan pil insang dan melompat ke dalam danau.


Aran masih mengingat dengan jelas portal dimensi didalam danau ini.


'Ah, itu dia' Batin Aran ketika melihat portal tersebut. Ia langsung berenang dengan cepat menuju portal di hadapannya.


Ketika ia masuk ke dalam portal, ia sudah menyiapkan pil insang kembali, karena seperti sebelumnya kemampuan pil ini akan hilang ketika masuk kedalam portal.


>>>


Aran keluar dari danau namun yang dilihat olehnya berbeda. Ia sangat mengingat alam sekitaran portal pada saat masuk.


"Kenapa tempat ini berbeda?"


Tidak lama Aran mendengar jeritan dari alam kesadarannya. Ia lalu memfokuskan fikirannya untuk melihat apa yang terjadi di Alam Giok Langit. Apa yang dilihatnya membuat dia ingin tertawa, ternyata kedua macannya sedang meringkuk ketakutan di tanah. Melihat hal itu, Aran memutuskan untuk memasuki alam giok.


"Apa yang terjadi kepada kalian"


"Tuann"


Kedua macan langsung berlari menghampiri Aran. Mereka berdua begitu senang melihat kedatangan Aran.


"Raja Naga, tolong jangan menakuti mereka"


Aran sudah tau apa yang terjadi dengan hanya melihatnya, pasti Raja Naga yang telah membuat kedua macan ini ketakutan. Karena aura yang dipancarkan Raja Naga begitu menindas sampai membuat bulu-bulu mereka berdiri.


Terdengar tawa dari Raja Naga, melihat kedatangan Aran.


"Kalian berdua tidak perlu takut, Raja Naga adalah masterku"


Mereka langsung memandang Aran dengan takjub. Tidak disangka Tuannya benar-benar memiliki hubungan dengan Raja Naga Iblis.


"Raja Naga, mohon jaga mereka berdua. Saya akan kembali ke dunia nyata"


Kembali terdengar tawa Raja Naga, sepertinya ia sangat puas bisa mengerjai kedua macan ini.


Dalam sekejap Aran sudah kembali ke dunia nyata.


>>>


Aran terus berjalan didalam hutan seorang diri, Ia lebih memilih bergerak dari atas pohon. Aran terus melompat dari satu pohon ke pohon lainnya.


Tidak lama ia akhirnya keluar dari hutan tersebut, namun yang dilihatnya adalah banyak pemandangan yang benar-benar berbeda.


"Aku merasa sangat asing dengan tempat ini. Sebenarnya dimana aku sekarang"


Aran lalu merasakan kedatangan banyak orang yang bergerak, ia lalu kembali bersembunyi di tempat yang tidak terlihat.


"Siapa mereka, kenapa begitu banyak pasukan disini"


Tidak lama, Aran mendengar suara pertarungan. Aran langsung bergerak dengan cepat menuju asal suara tersebut.


Kini Aran melihat pertarungan tidak jauh dari tempat ia bersembunyi di atas pohon.


Dilihatnya tiga orang wanita yang memakai penutup wajah, sedang dikepung oleh sekelompok pasukan berpakaian lengkap. Namun pakaian yang mereka gunakan benar-benar terlihat berbeda.


"Sebenarnya siapa para prajurit ini, aku merasa mereka bukanlah berasal dari tanah ini"


Aran terus memperhatikan pertarungan tersebut.


"Hahaha, kalian sekarang tidak bisa melarikan diri. Wilayah ini sudah kami kepung"


"Para wanita penyusup ini benar-benar bosan hidup. Berani memasuki markas komandan"


"Kalian bertiga sebaiknya menyerah. Aku sangat tidak ingin melukai tubuh kalian"


Kembali terdengar tawa dari mereka semua.


Ketiga wanita itu saling pandang.


"Kakak pertama cepat pergi, biarkan kami berdua yang akan melawan mereka. Bawa surat rahasia itu ke markas"


"Kalian bertiga mau pergi? Tempat ini sudah kami kepung, tidak ada yang boleh pergi tanpa seijinku"


Kembali mereka semua tertawa.


"Lebih baik kami mati, dari pada menyerah pada penjajah seperti kalian"


'Penjajah?' Gumam Aran.


"Hahaha, bagus bagus"


"Serang mereka"


Mereka kembali bertarung dengan sangat hebat. Hingga akhirnya ketiga gadis ini berada dalam posisi yang tidak menguntungkan. Begitu banyaknya prajurit yang menyerang mereka bertiga.


Tidak lama mereka benar-benar terpojok hingga penutup wajah yang mereka gunakan terlepas.


Aran langsung kaget melihat salah satu wajah yang sangat dikenalnya.


"Berliana"