
Melihat Kakek Tua, Aran langsung menyapanya dan memberi hormat.
"Kita makan dirumahku saja, cucuku memasak sendiri untuk kalian semua" Kata Kakek kepada Aran dan saudaranya.
"Baiklah kalau begitu, maaf jadi merepotkan" Jawab Aran.
"Hahaha, tidak apa-apa. Mari silahkan" Sang Kakek memimpin jalan mereka semua.
Karena masih pagi, jalanan tidak terlalu ramai seperti siang hari. Mereka bisa tiba lebih cepat dari biasanya.
Tidak lama mereka sudah sampai ditempat Kakek Tua, Aran bersama kedua bersaudara dibawa masuk kebagian dalam rumah mereka. Rumah mereka didalamnya sangat luas, berbanding terbalik jika dilihat dari depan hanyalah sebuah toko sederhana.
Aran bersama Bulan dan Bintang langsung diajak keruang makan keluarga ini. Banyak makanan di meja makan. Disana sudah ada Gadis Kelinci bersama Neneknya, acara makan sederhana saja. Mereka semua sedikit berbasa-basi dimeja makan, hanya membahas masalah dikota. Karena Aran belum tentu bisa menyembuhkan cucunya, jadi Nenek hanya menjamu Aran biasa saja. Lain dengan si Kakek yang merasakan bahwa Aran benar-benar bisa menyembuhkan cucunya.
Acara makan selesai dengan cepat. Mereka ingin segera agar Aran dapat melakukan proses penyembuhan cucunya.
"Aran apa kamu sudah siap" Tanya Kakek di ruang tamu mereka.
"Siap Tuan, bisa aku memegang kembali tangan cucumu"
Si Kakek langsung menganggukkan kepalanya dan menyuruh cucunya untuk ketempat Aran.
"Cucuku bernama Eliza, kau bisa memanggil namanya langsung" Kata Kakek, sementara Eliza hanya tersenyum mendengarnya.
"Baiklah, Eliza bisa kamu duduk disebelahku. Aku akan memeriksamu" Ucap Aran yang langsung dituruti oleh Eliza.
Aran lalu memegang tangan Eliza dan memeriksa nadinya. Ia menggunakan mata surgawinya untuk memeriksa organ dalam Eliza.
"Ada cacing kecil yang berdiam didalam hatinya dan adalagi yang berdiam diotaknya. Cacing yang berada di hatinya ini menghambat tenaga dalamnya. Sehingga setiap kali ia menggunakan tenaga dalam, ia akan merasakan sakit yang teramat sangat di hatinya"
"Cacing?" Kata si Kakek yang berada disebelah Aran.
"Ya ini cacing yang begitu kecil, mereka bersembunyi cukup dalam. Eliza, kamu pasti sering merasakan sakit kepala yang sangat menyiksa. Apalagi ketika malam, karena cacing-cacing ini aktif bergerak di malam hari"
Penjelasan Aran langsung diiyakan oleh Eliza, setiap malam ia merasakan sakit dikepalanya dan perutnya terasa seperti ditusuk-tusuk. Kadang ia mampu menahannya, namun kadang ia tidak dapat menahannya.
"Jadi selama 10 tahun ini kamu terus merasakan sakit ini" Tanya si Nenek.
Eliza menganggukkan kepalanya "Iya, tapi aku tidak berani cerita kepada Kakek dan Nenek, Aku tidak ingin kalian berdua khawatir kepadaku"
Si Nenek langsung memeluk Eliza. Sementara si Kakek diam-diam mengepalkan tinjunya. Ia menahan kemarahannya.
"Sepertinya ini ulah keluarga itu, karena kita menolak perjodohannya" Kata si Kakek kepada Nenek dan Eliza.
"Aran apakah kamu mampu menyembuhkannya?" Tanya Kakek kembali.
"Akan aku usahakan" Jawab Aran.
Aran lalu meminta si Kakek untuk membawa Eliza ketempat tidur. Mereka semua lalu menuju kamar yang cukup luas.
"Buka semua jendela agar udara bisa masuk" Kata Aran.
"Eliza berbaringlah"
Eliza lalu berbaring di tempat tidur mengikuti perintah Aran.
"Tuan, gunakan energi spiritualmu untuk menangkap makhluk hidup apapun yang keluar dari tubuh cucumu ini"
"Baik" si Kakek langsung mengeluarkan energinya untuk menutup tempat itu dan mempertajam nalurinya.
Aran lalu mengeluarkan kotak kayu yang berisi jarum-jarum berbagai ukuran. Warna jarum itu ada yang emas maupun perak.
Dengan kecepatan tangannya Aran menotok beberapa titik ditubuh Eliza dengan sangat cepat. Kecepatan tangannya membuat kagum yang melihatnya. Lalu dengan kecepatan tinggi Aran menusukkan jarum-jarum itu ditubuh Eliza. Tangannya seperti menari-nari diatas tubuh Eliza.
Aran memaksa keluar cacing yang ada di hati Eliza dengan membuat jebakan-jebakan. Namun cacing ini cukup sulit dikeluarkan.
*Pancing dia dengan darahmu, karena darahmu mengandung aura naga yang disukainya* Kata Raja Naga didalam kesadarannya.
*Baik*
Aran menyuntikkan sedikit darahnya kedalam tubuh Eliza lewat jarum-jarumnya, seketika cacing itu bergerak ke tempat darah yang disuntikkan Aran.
'Kena kau' Aran langsung mengurungnya dengan jarum, merasa nyawanya terancam dan tidak bisa lari. Cacing itu memutuskan keluar dari tubuh Eliza, ukurannya sangatlah kecil dan transparan. Mata biasa akan sulit untuk melihatnya.
"Tuan!" Teriak Aran.
Si Kakek tau apa yang Aran maksud, ia melihat cacing kecil transparan keluar dari tubuh cucunya. Dengan sigap ia menangkapnya dengan memasukkannya kedalam botol kecil.
"Cacing ini benar-benar sangat kecil, aku hampir tidak bisa melihatnya karena tubuhnya yang transparan" Kata si Kakek.
Aran menghentikan sementara pengobatannya, keringat sudah memenuhi keningnya.
"Aran apa kamu butuh istirahat?" Tanya si Kakek.
"Tidak apa-apa Tuan, saya masih sanggup. Eliza sekarang pasti perutmu terasa lebih nyaman"
"Ia Aran, perutku terasa nyaman tidak terasa tertusuk-tusuk lagi" Jawa Eliza dengan wajah yang gembira.
"Sekarang aku akan mengeluarkan cacing yang ada di otakmu"
"Baik Aran" Eliza lalu memejamkan matanya.
Aran berkonsentrasi penuh untuk mengeluarkan cacing yang bersarang diotak Eliza, ia harus bisa mengeluarkannya tanpa paksaan. Karena jika dipaksa akan merusak otak Eliza dan bisa menimbulkan cacat permanen pada tubuhnya.
Aran menyuntikkan sedikit auranya dalam bentuk gumpalan yang sangat kecil. Tapi cacing itu lebih pintar dari yang sebelumnya. Ia bergerak namun hanya memutari aura aran, tapi Aran terus menunggu dengan sabar sambil kedua tangannya memegang jarum yang sudah dikuatkan dengan energinya.
Tidak lama cacing itu bergerak keluar dari otak Eliza untuk memakan aura jebakan Aran. 'Kena kau' Aran langsung mengurungnya dengan jarum-jarumnya. Cacing itu langsung kaget dan melompat keluar dari kepala Eliza, berharap bisa kabur dari tempat itu. Tapi si Kakek dengan sigap langsung menangkapnya dan memasukkannya kedalam botol.
"Ahhh, akhirnya selesai juga" Kata Aran sambil mendesah lega.
Tidak terasa hari sudah sangat siang diluar sana.