Pendekar Nusantara

Pendekar Nusantara
Ketenangan Hati



Sambil menahan amarahnya, Berliana lalu berkata.


"Aran, mulai sekarang aku sudah tidak peduli lagi denganmu. Aku pergi, selamat tinggal"


Berliana lalu berlari keluar rumah dengan berlinang air mata.


Hatinya terasa sangat sakit. Sebenarnya Berliana tau bahwa Aran tidak salah apa-apa, karena selama ini mereka tidak memiliki hubungan kekasih.


Hanya saja, Aran adalah sosok pria luar yang pertama kali dekat dengannya. Mungkin karena ia selama ini hidup mandiri bersama Master gurunya, membuat karakternya menjadi sangat keras.


Apalagi Master gurunya adalah seorang wanita yang memutuskan untuk tidak menikah selama hidupnya, karena pernah disakiti oleh orang yang sangat dicintainya. Sikap tegas dan judesnya jadi menurun ke Berliana.


Didalam ruangan, melihat Berliana pergi seperti itu membuat Aran merasa sangat bersalah, ia jadi teringat pertemuan pertamanya dengan Berliana. Dia adalah gadis pertama yang Aran kenal.


Seketika ruangan menjadi sunyi.


"Aran"


Lingga memanggil nama Aran.


"Senior, saya mengerti. Mohon maaf, saya undur diri"


Aran langsung mengaktifkan Ajian Gerak Langitnya.


Dalam sekejap siluet Aran menghilang dari pandangan Lingga dan Varya.


Diperjalanan Aran merasa sangat bersalah. Sesungguhnya Aran tidak benar-benar memahami apa itu cinta terhadap lawan jenis. Hanya saja ketika melihat orang yang berada didekatnya terluka atau tersakiti, ia akan sangat marah. Begitupun saat ia melihat Berliana terluka dimedan perang, hatinya terbakar amarah dan langsung segera menghabisi semua musuh-musuhnya.


Dalam sekejap mata, Aran bisa melihat siluet Berliana yang berlari ke puncak gunung. Meski kemampuan Berliana tidak bisa dibandingkan dengan Aran, Namun tetap saja ia salah satu petarung wanita terhebat di negeri ini. Gerakan Berliana sangat luwes, Aran yang mengikuti Berliana dari belakang saja dibuat kagum olehnya.


Berliana tidak sadar bahwa Aran mengikutinya dari belakang. Ia hanya terus berlari menjauh dari keramaian. Saat ini ia hanya ingin menyendiri, berusaha menghilangkan semua beban dihati dan pikirannya.


Akhirnya Berliana berhenti di puncak gunung yang tinggi dan sunyi. Didepannya terlihat sebuah danau yang sangat indah. Berliana hanya duduk merenung sendiri menatap daun-daun yang berguguran. Sesekali ia melihat beberapa ikan yang muncul dipermukaan danau lalu kembali menyelam.


Sementara Aran hanya menatap Berliana dari atas salah satu pohon. Ia lalu duduk di batang pohon tersebut sambil memandangi Berliana. Aran merasa tidak perlu menghampiri Berliana karena takut akan membuat Berliana bertambah marah padanya.


Namun tidak lama, Aran melihat Berliana menangis. Hal itu membuat Aran menjadi merasa sangat bersalah. Tidak menunggu lama, Aran lalu turun dan duduk disebelah Berliana.


Tindakan Aran yang datang tiba-tiba ini membuat Berliana kaget setengah mati.


"Apa yang kau lakukan disini"


Tanya Berliana kepada Aran.


"Justru harusnya aku yang bertanya seperti itu, kenapa kamu duduk sendirian disini"


"Apa pedulimu, bukannya kau lebih peduli pada kekasihmu itu"


Berliana masih menatap danau dihadapannya tanpa menoleh ke wajah Aran. Antara kesal dan senang, karena ternyata Aran mengkhawatirkannya dengan menyusulnya ketempat ini.


"Kamu salah faham Berliana, dia bukan kekasihku"


"Lantas kalau bukan kekasih terus siapa dia"


"Gadis itu adalah pengikutku, dia adalah wanita dari dataran tengah yang kemarin bersama saudaranya bertarung denganku"


Karena kaget mendengar perkataan Aran, sekilas Berliana menatap wajah Aran lalu kembali memalingkan wajahnya


"Jadi gadis itu adalah wanita yang kemarin bertarung denganmu. Bukankah kelompok mereka berusaha membunuhmu, kenapa sekarang malah kamu jadikan pengikut. Apa kamu terpesona akan kecantikannya"


Berliana tidak habis fikir dengan Aran. Bagaimana bisa seorang musuh dijadikan pengikut.


"Tidak seperti itu, cantik itu relatif. Kamu juga cantik Berliana"


Jawab Aran tersenyum yang membuat wajah Berliana sedikit memerah.


Aran lalu melanjutkan perkataannya.


"Varya itu hanyalah gadis polos, ia hanya mengikuti kemauan Seniornya. Tugas dia hanya membawa barang-barang mereka semua. Dia sekarang menjadi pengikutku karena jiwanya sudah aku ikat dengan rantai pengikat jiwa. Hal itu aku lakukan karena aku takut suatu hari nanti ia berkhianat padaku. Dan juga aku membutuhkan bantuannya, ketika nanti aku akan pergi ke benua tengah"


"Membutuhkan bantuannya ke benua tengah, apa maksudmu? apa kamu akan pergi dari negeri ini"


Berliana benar-benar panik mendengar Aran akan pergi. Untuk saat ini, ia sangat tidak ingin melihat Aran pergi jauh darinya.


"Aku memang akan pergi, kerena aku sangat ingin mengelilingi dunia ini. Selain mencari tau jati diriku, juga aku ingin mencari Master Arjuna dan Master guruku. Tapi kamu tenang saja, kepergianku tidak dalam waktu dekat ini"


"Hahh, begitu yah"


Desahan pelan keluar dari mulut Berliana. Ia benar-benar  tidak punya hak untuk melarang Aran pergi. Semua ini juga demi kebaikan Aran agar tumbuh dan berkembang menjadi pemuda hebat yang menggemparkan seluruh dunia.


"Berliana apa kamu masih marah padaku, sejujurnya kamu adalah wanita yang sangat berharga dalam hidupku. Kamu juga wanita pertama yang aku kenal setelah aku turun gunung"


Aran lalu menatap Berliana yang masih menatap lurus ke arah danau dengan melipat kedua kakinya dengan tangan. Kini dagu Berliana bersandar di kedua dengkul kakinya.


Kini Berliana menundukkan wajahnya. Ia benar-benar bingung dengan perasaannya ini.


Mereka berdua hanya bisa duduk dalam diam, sambil menikmati ketenangan suasana di tempat ini.


"Berliana, mari kita kembali"


Mendengar Aran, Berliana lalu menatap wajah Aran.


"Ayo"


Mereka berdua lalu berdiri bersama. Ketika Berliana hendak berjalan pergi Aran memegang tangannya.


Dipegang seperti itu sebenarnya membuat jantung berliana berdetak kencang. Tapi ia menutupinya dengan sikapnya.


"Kenapa Aran?"


"Kamu mau kemana"


Aran bertanya dengan polosnya sambil tetap memegang tangan Berliana.


"Aku mau kembali, bukankah kamu tadi memintaku untuk pulang"


Sambil Berliana melirik ke arah tangannya yang masih dipegang oleh Aran.


Aran sepertinya sangatlah lugu jika bicara tentang cinta dan perasaan. Jadi ia tidak memikirkan dampak perbuatannya terhadap Berliana dengan memegang tangannya.


"Kita tidak perlu berjalan"


Jawab Aran.


"Maksud kamu?"


Berliana menjadi bertambah bingung dengan perkataan Aran ini.


"Emm, mangkanya jangan ngambek terus. Lihat aku ya"


"Huh"


Berliana langsung mencubit pelan Lengan Aran, yang dijawab dengan rintihan pelan Aran.


"Sayap Garuda, Buka!"


Seketika keluar sayap dari punggung Aran. Sayap berwarna merah bercampur emas yang terlihat sangat indah. Berliana sampai kaget karena sayap itu keluar tepat disebelahnya bediri.


"Ayo"


Tanpa meminta ijin kepada Berliana, Aran langsung memeluknya dan terbang tinggi kelangit.


"Araaaaaaaaaannnn"


Ditempat lain, Lingga yang ditinggal oleh mereka memutuskan untuk meminum teh bersama Varya. Kapan lagi ia bisa menikmati teh senikmat ini, bahkan ia merasa setelah meminum teh ini tubuhnya terasa segar bugar luar dalam.


"Mantap Jiwa"


 


~Note~


"Ketika aku menulis, seolah-olah jari-jemariku bergerak sendiri mengikuti hati dan pikiranku"


Hello pembaca setia Novel Pendekar Nusantara.


Jika kalian semua menyukai novel ini, mohon bantu penulis dengan cara dibawah ini ya.


* Jangan lupa like dan koment.


* Vote jika memungkinkan.


* Follow Author.


* Terakhir\, mohon bantu share.


Terima kasih untuk mereka yang memberikan vote, berapapun nilainya itu sangatlah berharga.


Salam hangat dari penulis.


Instagram :


@yukishinamt