Pendekar Nusantara

Pendekar Nusantara
Danau Ranau



Beberapa hari kemudian.


Malam Hari, tengah malam.


Suasana malam begitu hening dan dingin, ditambah cahaya bulan yang meredup-redup terhalang awan malam.


Terdengar suara lolongan serigala.


Aska dan Aranya beserta segerombolan harimau, bangun dari duduk yang sedang membakar rusa dan peusing buruanya.


Menghadap ke arah suara lolongan serigala tersebut. Seakan-akan mereka merasakan pertanda bahaya.


Beberapa saat kemudian, terdengar suara rauman serigala dari segala sisi hutan. Suara tersebut semakin mendekat.


Keluarlah dari balik gelapnya malam segerombolan serigala yang begitu banyak jumlahnya mengelilingi Aska, Aranya dan segerombolan harimau yang bersamannya.


Segerombolan serigala tersebut meraum buas, seperti sedang mengintimidasi mangsanya. Begitu juga segerombolan harimau yang bersama Aska membalas dengan rauman buasnya.


Segerombolan harimau yang bersama Aska dan Aranya sebanyak sepuluh ekor harimau jantan. Sedangkan segerombolan serigala begitu banyak, sekitaran kurang lebih lima puluh serigala.


Serigala terkenal dengan keganasannya setelah harimau. Dan juga serigala dalam mencari mangsa sering bergerombol menyesuaikan dengan kekuatan mangsanya.


Serigala juga biasa disebut dengan Raja Anjing Hutan. Raja dari segala anjing di Bumi Nusantara. Tentu dalam hal kebuasannya sangat ganas.


Segerombolan harimau meraum ganas seraya mengelilingi Aska dan Aranya. Aska dan Aranya saling bertolak punggung dalam posisi siaga.


Setelah beberapa ketukan saling beradu rauman hewan buas, segerombolan serigala tersebut mulai menyerang.


Segerombolan harimau bertarung bersama Aska membuat formasi melingkar melindungi Aranya.


Aranya melepaskan anak panahnya dengan tangan dan tubuh gemetar ketakutan. Sehingga banyak anak panah yang dilepaskannya meleset dari sasaran. Ditambah kecepatan bertarung serigala yang begitu lincah, sehingga menambah kesulitan bagi Aranya dalam membidik target.


Aranya ketakutan, dikarenakan ia secara berturut-turut dikejutkan dengan hewan buas yang begitu ganas. Ditambah dengan pertarungan hewan buas yang begitu menakutkan saling mencabik.


Tidak salah jika harimau disebut-sebut dengan sebutan Sang Raja Hutan, karena satu ekor harimau dapat mengubrak-abrik sekurangnya lima ekor serigala. Bahkan rauman satu ekor harimau lebih ganas dari pada rauman sepuluh serigala.


Aska mundur kebelakang mendekati Aranya, lalu memegang tangan Aranya yang tengah memposisikan busur panahnya. Aska menatap mata Aranya dengah tulus memberikan ketenangan.


Gemetar di tangan Aranya mulai mereda.


"Tenang saja... Tidak akan ada apa-apa. Anggap saja kita sedang berlatih... Tarik nafas yang dalam," ucap Aska mencoba menenangkan Aranya.


Aranya mulai lebih tenang. Bidikannya lebih akurat dari sebelumnya. Aska mulai kembali bergabung bertarung di garis depan bersama segerombolan harimau.


Tidak lama kemudian, segerombolan serigala terpukul mundur. Banyak serigala yang terbunuh.


Segerombolan harimau berusaha memukul mundur dengan maraum keras dan ganas.


Nyali dari segerombolan serigala tersebut mulai menciut dan berlari pergi.


Setelah pertarungannya dengan segerombolan serigala, Aska dan Aranya tidur di tengah hutan. Dikelilingi para harimau yang bersiaga seperti sedang menjaga Aska dan Aranya.


Aska dan Aranya bertanya-tanya dalam benaknya. Kenapa harimau-harimau ini melindunginya dan tidak menerkamnya ketika sedang lengah? Kejadian yang terjadi dalam beberapa waktu, masih dalam sebuah misteri.


***


Keesokan harinya.


Aska dan Aranya melanjutkan perjalanannya bersama segerombolan harimau yang mengawalnya. Segerombol harimau tersebut membantu Aska dan Aranya dalam berburu dan mencari makanan.


Melindungi dengan menjaga Aska dan Aranya ketika tidur pada malam hari. Mengawal Aska dan Aranya dalam perjalanannya menuju Danau Ranau.


***


Beberapa hari kemudian.


Sore hari.


Aska dan Aranya tiba di tempat tujuannya, yaitu Danau Ranau. Sebuah danau yang berada di tengah hutan dan kaki gunung yang berada dalam wilayah perbatasan Kerajaan Sriwijaya dengan Kerajaan Salakanegara.


Aska mendekati danau tersebut dan mencuci mukanya. Airnya begitu jernih terlihat begitu hijau biru alami. Segar dingin, mengembalikan penat Aska selama perjalanannya.


Aska membuka baju, mulai menceburkan diri dengan meloncat ke danau tersebut.


"Sini... Seger airnya," ajak Aska kepada Aranya yang tengah duduk menonton Aska mandi.


Aranya berjalan menghampiri tepi danau, lalu mencuci mukanya dengan air dari danau tersebut. Duduk di tepi danau, menenggelamkan kakinya.


Beberapa saat kemudian, Aska selesai dari mandinya. Begitu juga Aranya.


Aska menghampiri segerombol harimau yang mengawalnya yang tengah duduk santai, diikuti Aranya dari belakang.


Sesaat Aska mendekat, Segerombol harimau tersebut berdiri.


Segerombol harimau tersebut menundukan kepalannya sebentar, lalu salah satu dari segerombol harimau itu meraum seraya berbalik, pergi meninggalkan Aska dan Aranya.


Aska kembali, duduk di batu besar tepi danau.


Hari sudah begitu petang. Aska memulai bersemedi di atas batu tepi danau tersebut. Aranya duduk manis di batu depan Aska seraya menatap Aska yang tengah bersemedi.


Matahari sudah tertidur.


Aska bangun dari semedinya. Melihat Aranya yang masih menatapnya.


"Ada apa?" tanya Aska.


Aranya sadar dari lamunannya.


"Hm... Ga apa-apa," jawab Aranya.


"Malam ini.. Kita bermalam di sini," ucap Aska.


***


Beberapa saat kemudian.


Tengah malam.


Aska sedang melatih tariannya di atas tebing tepi danau.


Aranya bangun dari tidurnya. Secara perlahan Aranya berjalan menyusuri tepi danau di bawah sinar bulan.


Aranya melihat Aska yang tengah berlatih. Aranyapun menghampiri Aska.


Aska menyelesaikan latihaannya. Menoleh kepada Aranya yang sedang berjalan menghampirinya.


"Ada apa? Kenapa sudah bangun? Inikan masih tengah malam," ucap Aska.


"Kamu lagi ngapain?" tanya Aranya.


"Aku lagi berlatih," jawab Aska.


"Berlatih apa? Aku melihat kamu sedang menari," ucap Aranya.


"Iya memang aku sedang berlatih menari," balas Aska.


Aranya berjalan, lalu duduk di belakang Aska sembari menonton Aska yang tengah melatih gerakan dasar silatnya.


Aska kembali menoleh ke arah Aranya.


"Kenapa tidak kembali tidur?" tanya Aska heran.


"Ga ngantuk," balas Aranya dingin.


"Kalau begitu, sini kita berlatih," ajak Aska.


"Hah.. Apa?" Aranya sedikit terkejut dengan ajakan Aska.


Aska menghampiri Aranya, lalu menarik lengannya.


"Ayo sini kita berlatih menari," ucap Aska.


"Eh... Ga usah.. Aku ga bisa menari," balas Aranya terkejut merasa kikuk.


"Aku ajarin," ucap Aska.


Aska dan Aranya berada pada posisi saling berhadapan.


"Aranya... Perjalanan kita masih jauh.. Dan yang pasti aku tidak tahu tujuan kamu sebenarnya ikut bersamaku.. Mungkin kedepannya kita bakal menghadapi sesuatu yang lebih berbahaya... Jadi sekarang untuk berjaga-jaga, aku akan mengajarimu seni menari," ucap Aska.


"Seni menari? Apa itu? Bukannya kalau buat menjaga diri itu Pencak Silat?" tanya Aranya.


"Iya... Pencak Silat itu tidak lain adalah seni beladiri, seperti sebuah tarian," balas Aska.


Aranya berdiam diri dan berfikir mencerna ucapan Aska.


"Sekarang ikuti gerakanku ya... Nama jurus ini yaitu Gerakan Silat Dasar Tarian Mawar Merah," ucap Aska memulai memperagakan gerakan tarian silatnya.


Aranya mengikuti gerakan Aska sedikit demi sedikit.


Aska mengajari Pencak Silat kepada Aranya dengan cara yang sama seperti Ki Salawi mengajari Citta.


Beraturan, tanpa jeda, seirama, lembut dan halus seperti sutra. Aska melatih Aranya di bawah sinar bulan purnama yang terang benderang tepi Danau Ranau.