
"Ketika tubuh kami jatuh, aku mencoba usaha terakhirku. Aku mengalirkan seluruh tenaga dalam yang aku miliki ke tubuh bagian belakangku. Terakhir aku membuat dinding pelindung untuk melindungi anakku. Hembusan angin menerpa wajahku, membawa tubuhku dan semua kenanganku ke dasar jurang yang dalam"
Akhirnya tubuhku menghantam tanah yang rasanya begitu keras.
"Aku merasakan sakit yang luar biasa, rasanya seperti dihantam palu besar dari jarak yang sangat dekat. Aku merasa seluruh tulangku hancur berantakan. Semua organ didalam tubuhku terasa begitu sakit. Hal pertama yang aku lihat adalah anakkku, aku bersyukur anakku masih berada dipelukkanku tanpa terluka, hatiku sangat sakit melihat anak didalam pelukanku. Menyesali diriku yang tidak berguna ini. Sebelum kesadaranku menghilang aku mendengar suara anakku memanggil manggil namaku"
Ratu lalu berdiam cukup lama, matanya sendu menatap kejauhan. Aran dan Xiao Ling hanya bisa terdiam menatap Ratu. Mendengar cerita Ratu membuat mereka berdua kembali mengingat kenangan masa kecil mereka. Aran, walau tidak pernah bertemu orang tuanya. Tetapi gurunya sudah menganggap dia seperti anaknya sendiri, sehari harinya Aran selalu merasa bahagia bersama gurunya. Sedangkan Xiao Ling, selalu bersyukur memiliki kedua orang tua yang sayang padanya.
"Ratu" Delima yang sedari tadi diam diam mendengar cerita Ratu akhirnya menampakkan dirinya dihadapan Ratu. Melihat Delima datang Ratu kembali memperlihatkan senyuman di wajahnya.
"Delima duduk lah bersama kami, aku tau selama ini kamu penasaran tentang masa laluku"
"Tidak Ratu, hamba tidak berani memiliki pikiran seperti itu" Delima langsung bersujud di hadapan Ratu.
"Tidak apa Delima, kamu sudah seperti anakku sendiri. Duduklah bersama kami" Ratu lalu mengangkat tubuh Delima yang masih bersujud dan membawanya menduduki kursi didekat Aran dan Berliana.
Lalu Ratu kembali melanjutkan ceritanya.
"Aku berfikir bahwa aku sudah mati, lalu aku membuka mataku. Ternyata aku masih hidup,namun seluruh tubuhku lumpuh. Ini pagi hari, sudah berapa lama aku pingsan"
"Hanya suara hembusan angin dan suara suara burung yang aku dengar, aku melihat posisiku masih sama saat aku terjatuh. Aku mencoba kembali menggerakkan tubuhku, tapi tetap tidak bisa. Entah apa rencana Tuhan padaku, aku benar benar bingung dengan keadaan ini"
"Aku yang masih bingung lalu teringat anakku, mataku melirik sejauh yang aku bisa, tapi aku tidak menemukannya. Kembali aku mencoba menggerakkan tubuhku namun tetap tidak bisa, aku merasakan tubuhku tidak merespon apa yang otakku sampaikan. Bahkan mulutku tidak bisa terbuka"
"Hanya air mata yang mewakili perasaanku. Anakku kamu dimana. Aku begitu ketakutan memikirkan anakku. Tidak lama terdengar suara kaki mendekatiku, aku hanya bisa pasrah dengan keadaan. Biarlah tubuhku ini menjadi makanan hewan buas. Sudah tidak ada artinya aku hidup didunia ini"
Begitu langkah itu mendekat aku melihat wajah yang sangat aku kenal, dia adalah malaikat kecilku.
"Mama, mama sudah bangun.. aku sayang mamaaaa" Anakku langsung memelukku dan menangis dengan sangat kencang.
"Mama, jangan tinggalin aku lagi. Aku takut maah" kata kata itu langsung menusuk hatiku, Ingin rasanya aku memelukmu dan menciummu tapi apalah daya.
Anakku terus memperhatikan wajahku "Mama masih sakit ya, apa mama lapar. Tadi aku pergi mencari makanan didekat sini" Anakku lalu mengambil buah buahan dan memberikannya kepadaku. Anakku begitu perlahan menyuapi buah itu kedalam mulutku.
Air mataku terus turun melihat ini semua. Walau anakku masih berusia 4tahun tapi dia berbeda dengan anak anak seumurannya. Dia begitu pintar dan berbakat, melihatnya sekarang seperti ini membuat hati ini begitu perih. Orang tua mana yang tega melihat anaknya hidup seperti ini.
Ucapannya langsung melelehkan batinku.
>>>
Akhirnya malam datang, aku tetap berbaring ditanah. Sambil berbaring anakku bercerita bahwa aku sudah 3 hari tidak sadarkan diri. Dan sekarang ia sangat bahagia melihatku masih hidup.
"Mama mulai hari ini, aku yang akan merawat dan menjaga mama" Walaupun kata kata itu keluar dari mulut anak yang masih kecil, tapi itu membuatku sangat bahagia.
Semakin malam udara semakin dingin dan mencekam, Aku tidak berani membayangkan selama tiga hari ini anakku mampu bertahan di tempat ini.
Tidak lama aku merasakan sesuatu yang sangat jahat menghampiri kami, walau tenaga dalamku habis tetapi aku masih memiliki kepekaan yang sangat kuat.
Aoooo Aooooo
Lolongan serigala terdengar sangat dekat, anakku langsung memeluk tubuhku dengan sangat kuat.
"Mama aku takut"
"Aku benar benar panik, karena nafsu membunuh itu semakin mendekati kami. Akhirnya yang aku takutkan datang. Terlihat segerombolan serigala berada tidak jauh dari kami. Serigala ini bukanlah serigala biasa, ini adalah Serigala Taring Merah yang ukurannya sebesar sapi dewasa, dengan taring yang sangat panjang dan mata merah menyala"
"Kenapa nasibku begitu sial, aku merasa seolah olah Tuhan sedang mempermainkan nasibku"
"Anakku terus meringkuk di pelukanku dan memanggil manggil namaku"
"Serigala itu semakin mendekati kami, dengan nafsu membunuh yang sangat besar membuat tubuh anakku menggigil ketakutan. Aku sudah pasrah dengan hidupku, namun melihat anakku harus mati dimakan serigala dihadapanku membuat aku menderita, rasanya seperti dipotong ribuan pedang berkali kali"
"Semua serigala itu lalu mengelilingi kami, setelah jaraknya sangat dekat secara bersama sama mereka menerkam dengan melompat ke arah kami"
"Tuhan, aku tidak ingin melihat ini semua"
Zrassshh
"Darah mengalir membasahi wajahku"