Pendekar Nusantara

Pendekar Nusantara
Keisengan Aran



Sedikit Catatan:


Disarankan membaca Novel ini dengan hati dan pikiran yang tenang.


 


Semua orang langsung menjadi linglung dengan apa yang terjadi saat ini.


Para prajurit dibawah Patih Lawana reflek ikut memberikan hormatnya kepada Mahapatih mengikuti atasan mereka.


'Pantas saja daritadi aku merasa wajahnya sangat familiar. Ternyata itu adalah Ketua Lingga dan Mahapatih'


Prajurit penjaga yang melihat seluruh prajurit pasukan Patih Lawana berlutut, membuat mereka juga ikut berlutut. Bedanya mereka berlutut dengan tubuh gemetaran.


'Apa yang sudah aku lakukan, menghina Mahapatih dengan sebutan rakyat jelata dan pengemis. Mimpi apa aku semalam. Mati aku, mati'


Para prajurit penjaga gerbang hanya bisa berkata-kata didalam hatinya. Menyesali semua tindakan mereka sebelumnya terhadap Mahapatih.


"Patih Lawana, tidak perlu seperti ini. Cepatlah berdiri"


Sambil Aran memegang bahu Patih dan membantunya untuk berdiri.


"Terima kasih Mahapatih, maafkan saya yang kurang sopan tidak langsung mengenalimu"


"Ah tidak apa-apa"


Jawab Aran sambil tersenyum. Ia lalu melihat para prajurit Patih Lawana masih berlutut.


"Patih, kenapa para prajuritmu masih berlutut, suruh mereka berdiri"


Kata Aran menambahkan.


Patih Lawana langsung memerintahkan anak buahnya untuk berdiri.


"Kalian semua dengar apa yang dikatakan Mahapatih, cepat berdiri"


"Siap Tuan, terima kasih Mahapatih"


Semua prajurit menjawabnya dengan serentak.


Prajurit Lawana adalah prajurit yang ikut berperang bersama Asura. Semua yang pernah bertempur bersama Asura sangat mengenal karakter Asura.


Asura dikenal baik kepada teman, kejam kepada musuh.


"Apakah Mahapatih ingin menemui Raja Muda"


"Iya benar, apakah Patih Lawana juga akan menemuinya"


"Iya, saya juga diminta datang menemuinya"


"Ayo mari bersama-sama masuk kedalam"


"Ya mari Mahapatih, silahkan duluan"


Patih Lawana meminta Mahapatih untuk memimpin jalan lebih dahulu. Karena Patih memintanya duluan, maka Aran langsung berjalan paling depan bersama Lingga dan Varya. Baru beberapa langkah Aran teringat sesuatu, ia lalu menanyakannya kepada Patih Lawana.


"Ah iya Patih, ada yang ingin saya tanyakan"


Aran langsung membalik badannya kehadapan Patih Lawana.


"Silahkan Mahapatih, apa itu"


Patih Lawana menjawabnya dengan hormat.


"Ini hanya pertanyaan kecil. Menurutmu pakaian yang saya dan teman-teman saya gunakan ini apakah seperti pengemis"


"Pengemis"


Patih Lawana bingung dengan pertanyaan Asura, ia lalu melihat penampilan Asura.


"Tidak, sama sekali tidak. Semua orang dinegeri ini sangat mengetahui kesederhanaan Mahapatih. Jadi tidak mungkin ada yang berani bilang bahwa pakaian Mahapatih seperti pengemis. Jika ada yang berani berkata seperti itu, mungkin orang itu sudah bosan hidup"


Jawab Patih Lawana lantang sambil di iyakan oleh beberapa komandan disisinya.


"Benar Mahapatih, tidak mungkin ada yang berani berkata seperti itu. Kalau sampai ada yang berani berkata seperti itu, ijinkan saya yang menghukumnya"


Salah satu komandan berkata.


"Benar Mahapatih, ijinkan saya juga yang menghukumnya, karena saya akan mengkebirinya dan akan saya gantung tubuhnya di alun-alun kota"


Komandan yang lain ikut menambahkan.


Sementara para prajurit gerbang istana yang sebelumnya berkata menghina kelompok Asura langsung merasakan panas dingin ditubuhnya. Keringat deras sudah membasahi pakaian mereka, bahkan tubuh para penjaga sampai bergetar hebat.


Tidak tahan karena perasaan takut, para prajurit penjaga gerbang langsung berlari kehadapan Mahapatih dan langsung berlutut sampai kepalanya menyentuh lantai.


"Maafkan kami Mahapatih"


"Maafkan kami Mahapatih"


"Kami mengaku salah, kami siap dihukum"


Mereka terus berlutut dan memohon ampun didepan Mahapatih.


Patih Lawana dan pengikutnya sampai bengong melihat ini semua.


'Jadi benar ada yang berani menghina Mahapatih dengan sebutan pengemis?' Hanya itu yang ada dibenak mereka semua.


'Bahkan jika aku dikasih ribuan emas untuk menghina Mahapatih, aku tidak akan pernah berani'


"Kaliannn! prajurit bengak, sontoloyo, kamprettt, wedddus, assu. Berani menghina Mahapatih dihadapanku. Kalian para komandan, cepat penggal kepala mereka"


Patih Lawana langsung memberikan perintahnya kepada pasukannya yang dengan sigap langsung mereka respon.


Para prajurit Lawana langsung menarik prajurit malang tersebut ke tempat lain. Mereka langsung menundukkan kepala para prajurit penjaga gerbang, agar pasukan yang lain bisa memenggal kepala prajurit penjaga gerbang tersebut.


"Sungguh lancang, berani menghina Mahapatih. Terima hukumanmu"


Prajurit yang bertugas sudah mengangkat pedangnya untuk memenggal prajurit penjaga gerbang.


Ketika pedang itu sudah ada diatas kepala, Mahapatih langsung berkata "Tunggu"


Mendengar suara Mahapatih, para prajurit langsung menghentikan gerakan mereka dan menatap Mahapatih.


"Apa yang sebenarnya kalian lakukan"


Perkataan Mahapatih, membuat para prajurit kembali linglung. Begitupun dengan Patih Lawana.


"Maaf Mahapatih, kami akan memenggal kepala para prajurit ini"


"Memenggal?"


Tanya Mahapatih.


"Benar Mahapatih"


Jawab prajurit tersebut.


"Atas dasar apa kalian memenggal kepalanya"


Para prajurit menjadi tambah bingung dengan perkataan Mahapatih.


"Karena mereka berani menghina Mahapatih, maka saya memerintahkan prajurit saya untuk memenggal kepala mereka yang menghinamu"


Patih Lawana langsung berkata kepada Mahapatih karena dilihatnya prajurit bawahannya seperti ketakutan.


"Menghina saya?"


Jawab Aran tenang.


"Benar Mahapatih"


Patih Lawana menjawab sambil mengusap keningnya.


"Saya tidak pernah bilang mereka menghina saya dan saya juga tidak pernah merasa dihina. Sebelumnya aku hanya berkata padamu apakah penampilan aku ini seperti pengemis"


Semua orang yang berada disana menjadi tambah bingung dengan pernyataan Mahapatih.


"Jadi maksud Mahapatih, bukan mereka pelakunya"


Tanya Patih Lawana kembali.


"Pelaku, apa maksudmu?"


Patih Lawana jadi bertambah bingung ingin berkata apa lagi.


"Tentu saja pelaku yang menghinamu"


Jawab Patih Lawana sedikit kesal.


"Kenapa kau menjawab seperti itu, apa sekarang Patih Lawana kesal padaku?"


Aran dalam hati ingin tertawa melihat Patih Lawana dibuat panik olehnya.


"Tidak, sama sekali tidak"


Patih Lawana kembali mengusap keningnya karena ia takut membuat Mahapatih marah padanya.


"Sudah, lepaskan mereka. Biarkan mereka kembali bertugas, kalian ini benar-benar kurang kerjaan saja menarik-narik orang seperti  itu"


Semua orang yang berada disana kembali dibuat linglung mendengar jawaban Mahapatih, mereka merasa seperti mau nangis di kerjain oleh Mahapatih seperti ini.


Para prajurit yang menghina Mahapatih langsung berlari dan memeluk kaki Mahapatih.


"Terima kasih Mahapatih, terima kasih"


Mereka semua benar-benar bersyukur bahwa Mahapatih mau memaafkan mereka semua.


"Apa-apaan kalian ini, sudah sana pergi kembali bertugas. Ini, ambil uang ini sebagai ganti pakaian kalian yang kotor karena ditarik-tarik orang iseng daritadi"


Aran langsung memberikan mereka masing-masing dua keping emas. Para prajurit penjaga itu langsung menatap Mahapatih dengan tidak percaya. Sudah berani menghina tapi malah dimaafkan dan dikasih koin emas.


"Terima kasih Mahapatih, terima kasih banyak"


Para prajurit yang lain langsung iri melihat Mahapatih memberikan uang emas kepada para prajurit penjaga. Uang emas sangatlah berharga untuk mereka para prajurit, karena gaji mereka sebulan hanya beberapa perak.


"Kenapa, kalian semua ngiri? minta sama Patih kalian ini. Dia pasti banyak uang, lihat saja kereta kudanya sampai dilapisi emas"


Perkataan Aran yang sebenarnya hanya bercanda langsung membuat Patih Lawana bermuram durja. Patih Lawana tau bahwa Mahapatih sangat tidak menyukai orang-orang yang korupsi, jadi ia berfikir bahwa Mahapatih pasti menuduhnya melakukan korupsi.


"Kalian semua dengarkan, aku tidak mau naik kereta kuda itu lagi. Kalian jual kereta itu dan uang hasil penjualannya kalian bagikan keseluruh pasukan"


Ucapan Patih Lawana langsung membuat para prajurit senang bukan main.


"Terima kasih Patih, terima kasih"


Sorak sorai langsung terdengar meriah ditempat itu.


"Sudah kalian semua pergi jual kereta kuda itu secepanya. Saya bersama Mahapatih akan masuk kedalam menemui Raja Muda"


Patih Lawana langsung menginstruksikan para bawahannya untuk segera pergi dan menjual kereta kudanya. Para prajurit Patih Lawana dengan taat langsung meninggalkan tempat itu.


Lingga dan Varya hanya bisa menahan tawa melihat apa yang dilakukan oleh Aram daritadi. Mereka tidak habis fikir dengan sikap Aran ini yang sangat menyebalkan.


Kini Patih Lawana berdiri disebalah Aran untuk berjalan bersama menuju kedalam istana kerajaan. Ditengah jalan Aran berkata kepada Patih Lawana.


"Kenapa kamu menjual keretamu, aku saja belum sempat mencobanya"


"Bukankah Mahapatih menginginkan kereta kudaku dijual"


Patih Lawana menjawab Mahapatih dengan wajah bingung.


"Kapan aku menyuruhmu menjual kereta, sepertinya kau harus lebih banyak belajar memahami kosakata bahasa kerajaan yang baik dan benar"


Jawaban Mahapatih langsung membuat Patih Lawana hilang ingatan.


~**Note**~


Jika kalian semua menyukai novel ini, mohon bantu penulis dengan cara dibawah ini ya.


Jangan lupa like dan koment.


Vote jika memungkinkan


Follow Author.


Terakhir, mohon bantu share.


Salam hangat dari penulis.


Instagram :


@yukishinamt