
Aska dan kedua laki-laki tersebut berlari sekuat tenaga berusaha kabur dari kejaran para siluman ular anak buah Nyi Karni.
Kedua laki-laki tersebut adalah kakak beradik yang bernama Arya Harsa sebagai kakak berusia dua puluh dua tahun dan Janu Kama sebagai adik berusia delapan belas tahun.
Arya dan Janu adalah seorang pendekar yang sudah mengembara di Bumi Nusantara sejak dua tahun terakhir.
Belum lama berlari, tiba-tiba Nyi Karni sudah berada di depan mengahalangi jalan pelarian mereka bertiga.
Setelah melihat sosok Nyi Karni yang berupa setengah ular dan setengah manusia serta di seluruh tubuhnya dipenuhi sisik, Aska, Arya dan Janu bergegas berbalik arah.
Namun, keenam siluman ular anak buah Nyi Karni sudah tiba dan mengepung mereka bertiga.
Aska sedikit merinding, karena pertama kalinya ia melihat sosok siluman.
Arya dan Janu menarik senjata tajam mereka yang berupa Pedang Jenawi.
Pedang jenawi milik Arya pegangan dan sarungnya dililiti kain putih kotor. Sedangkan pedang jenawi milik Janu pegangan dan sarungnya terbuat dari kayu polos berwarna cokelat.
Mereka bertiga memasang kuda-kuda. Begitu juga dengan Nyi Karni dan anak buahnya.
Melihat dari kuda-kuda Janu, ia gemetar ketakutan. Aska ragu akan kemampuan silatnya. Sedangkan Arya terlihat begitu tenang dengan situasinya.
"Dilihat dari ketenangannya, sepertinya dia pendekar yang cukup hebat," batin Aska.
"Hihihihi... Hai Aska pendekar mudaku... Kesini sayang!" ucap Nyi Karni dengan tatapan menyeramkan khas siluman ular.
"Kamu benar-benar laki-laki spesial dan baik. Baru pertama kali bertemu saja sudah membawakan hadiah hihihihi...," ucap Nyi Karni sembari perlahan mendekat. Begitu juga para anak buahnya.
"Kheaah...," Aska membuka pertarungan dengan menyerang Nyi Karni lebih dahulu.
Semua serangan jurus silat yang dilontarkan Aska berhasil dihindarinya. Setelah Nyi Karni menghindari serangan beruntun Aska, langsung mengibaskan ekornya. Aska tidak sempat menghindari serangan tersebut, karena serangan ekor ular Nyi Karni begitu cepat. Tapi secara reflek Aska menyilangkan tangannya di dada, guna menahan serangannya. Namun, serangannya tidak dapat ditahan, dikarenakan seranganya begitu keras dan kuat sehingga membuat Aska terpental ke arah Arya dan Janu bertarung.
***
Pada saat Aska melancarkan serangannya terhadap Nyi Karni, Arya dan Janupun memluai pertarungannya.
Siluman ular anak buah Nyi Karni yang menyerang Arya tersandung lagi di hadapannya, dengan tenangnya Arya menendang wajah siluman tersebut menggunakan lutut. Secara beruntun, salah satu siluman lainnya menebaskan senjatanya mengarah ke leher Arya. Dengan sikap tenang lagi arya melangkah mundur guna menghindari serangan tersebut. Namunya sekarang giliran Arya kesandung jatuh kebelakang, melihat hal tersebut, siluman tersebut secara cepat bergegas menghampiri Arya. Namun entah kenapa siluman itu tersandung lagi dan jatuh mengarah kepada Arya. Tangan Arya reflek mengarahkan pedang jenawinya kepada siluman yang sedang terjatuh ke arahnya. Alhasil siluman tersebut tertancab pedangnya.
Bersamaan dengan Arya, setelah Aska memulai menyerang Nyi Karni, Janupun memulai pertarungannya. Tiga siluman anak buah Nyi Karni menyerang Janu secara bersamaan. Tanpa melawan, Janu hanya menghindari serangan dan berlari sambil gemetaran di sekitaran pohon Jenjing/Sengon yang berada di dekatnya.
***
Pertarungan terhenti sejenak pada saat Aska terpental akibat serangan Nyi Karni.
"Ukhh...," Aska berdiri sembari menahan rasa sakit.
Mereka bertiga benar-benar terpojok, karena jarak dengan para siluman itu hanya beberapa meter saja.
Nyi Karni menghampiri Aska dengan cepat untuk menyerangnya kembali. Aska hanya berdian diri kesakitan tanpa tenaga.
Sewaktu tangan Nyi Karni sedikit lagi menusuk dada Aska, ada seorang pria tua meloncat dari atas pohon mengarah dan menendang wajah Nyi Karni. Pria tua tersebut bernama Semprul Martawi yang berusia sekitar tiga puluh lima tahun.
Salah satu anak buah Nyi Karni menyambung menyerang Aska dari pinggir. Semprul dengan cepat menendang siluman itu.
"Jangan melamun Ontohod," ucap Semprul.
Aska tersenyum dengan tatapan mata tajam, mendengar si Semprul melontarkan ejekan kepadanya.
"Aduh.. Kaget euyy, mana ga bawa senjata, mana lawanya siluman lagi. Kacau...!" ucap si Semprul menggerutu.
"Woy... Borokokok! Goloknya dipake atuh," ucap si Semprul sembari menghindari serangan Nyi Karni.
"Tidak terima kasih," jawab Aska.
"Pake ontohod. Kalau ga bisa, sini saya yang pake," ucap si Semprul
"Dug...," Aska dan si Semprul terkena serangan Nyi Karni hingga jungkir balik.
"Dasar borokokok. Kesinikan goloknya!" ucap si Semprul sembari berusaha mengambil golok di pinggang Aska.
"Jangan mang...," Aska berusaha keras memegang golok tersebut.
***
"...Sebelum kamu bertemu dengan orang pertama yang harus dicari dalam buku itu, jangan sampai golok ini terlepas dari sarungnya atau kamu akan menanggung akibatnya." Ucap mang Asep dengan nada bijak pada waktu sebelum Aska memulai perjalanan.
***
"Sini wey goloknya... Ngelawan siluman tanpa senjata sama aja cari mati ontohod," ucap si Semprul.
"Jangan mang eh... Ini golok keramat...," ucap Aska.
"Sabodo teuing, mau golok keramat, atau golok mang mamat juga... buruan sini goloknya!" ucap si Semprul.
"Ukhwaah...," Aska dan si Sempul terkena pukulan Nyi Karni di perut secara bersamaan.
Aska dan si Semprul terkapar.
"Hari ini benar-benar sial... Tubuhku juga sudah mencapai batas, ditambah lagi dengan luka seperti ini," batin Aska.
Setelah cukup lama bertarung, Aska baru teringat dengan keadaan pertarungan Arya dan Janu.
"Eh... Bagaimana dengan mereka berdua " batin Aska langsung menoleh ke arah pertarungan Arya dan Janu.
Bertepatan pada saat menoleh, Aska melihat Janu dengan cepat menebas tiga siluman yang mengejarnya. Lalu Janu berlari membantu Arya, dengan satu gerakan, siluman yang sedang melawan Arya di lumpuhkan Janu. Tanpa membuang waktu, Janu menerjang ke Arah Nyi Karni dengan sangat cepat. Nyi Karni tergores serangan Janu, hingga memasang wajah panik.
Melihat tatapan Janu, Nyi Karni ketakutan, dan langsung kabur.
"Awas..., kalian tidak akan selamat jika kita bertemu lagi dasar manusia sampah," ucap Nyi Karni teriak sambil lari terbirit-birit.
Setelah Nyi Karni menghilang dari hadapan Aska dan para pendekar lainya, keheninganpun terjadi.
"Apa yang terjadi? Kenapa orang ini tiba-tiba jadi sakti, apa dia dari tadi menyembunyikan kemampuannya? Cara menebaskan pedangnya benar-benar mengerikan," batin Aska.
"Heh... sudah beres...," ucap Janu.
"Uwaahaha... Kita selamat kang!" ucap Janu sembari meloncat-loncat dan memeluk Arya.
"Terimakasih pendekar sudah membantu saya melawan para siluman ular itu. Nama saya Askara Paramanda, panggil saja Aska. Kalau boleh tau nama dari para perdekar ini siapa?" ucap Aska.
"Brokokok... dasar jelema sedeng. Bawa golok ga dipake. Saya Semprul Martawi pertapa di hutan jengjing ini. dasar jelema garelo," ucap Semprul menggerutu pergi.
(Jelema\=manusia/orang)