
Hampir semua orang yang berada di lantai 3 menghampiri meja Aran.
“Hei anak muda, coba ulangi perkataanmu. Sepertinya kamu sudah bosan hidup”
“Ya, coba ulangi perkataanmu, kami benar-benar akan membuatmu menyesali perkataanmu hari ini”
Mereka semua tampak sangat marah melihat Aran. Tapi sesekali mereka melirik ke arah Varya dan Namora, mereka dapat melihat bahwa kedua gadis yang bersama Aran ini pastilah sangat cantik.
Kedatangan para pelanggan restoran ke meja Aran membuat suasana dilantai 3 menjadi sangat ramai. Varya dan Namora tetap bersikap tenang dengan keadaan yang terjadi saat ini. Sementara Taeyang yang berada disebelah Aran berusaha menenangkan kemarahan para pelanggan restoran.
“Tuan-tuan, ini hanyalah kesalahpahaman. Kakak saya ini sedang sedikit ada masalah, mohon Tuan-tuan disini dapat memaafkannya”
Taeyang benar-benar bingung dengan keadaan yang terjadi saat ini. Ia tak tau lagi harus berkata apa.
“Enak saja kau meminta maaf, minggir kau!”
Mereka langsung mendorong Taeyang menyingkir dari hadapan mereka. Menghadapi dorongan para tamu yang telah marah, membuat Taeyang tidak kuasa untuk menahan mereka semua. Jadi ia pasrah terlempar kesamping.
Sementara orang yang menimbulkan masalah ini masih asik meminum segelas wayn. Hal ini semakin membuat para tamu bertambah murka.
Kini mereka semua sudah mengerubungi Aran. Sementara Varya dan Namora yang duduk dihadapan Aran tetap tenang saja seolah-olah itu semua bukan urusan mereka. Para tamu yang marah juga tidak ada yang mengganggu mereka. Karena mereka semua berfikir para wanita ini adalah wanita yang cantik yang tidak boleh mereka usik.
Kecantikan wanita memang bisa membutakan pria.
“Hei kecoa busuk, apa sekarang kamu masih berani berkata seperti tadi hah!”
Berkata seorang pria botak berbadan besar yang sudah berada disebelah Aran.
Brakk
Saking kesalnya, ia sampai menggebrak meja yang ditempati Aran.
"Jawab pertanyaanku sialann"
Teriak pria botak tersebut.
“Heh Botak biadab, jangan kau kotori wajahku dengan air liurmu. Nanti aku bisa tertular menjadi jelek macam dirimu”
Aran berkata sambil membersihkan wajah bagian sampingnya dengan tangan. Setelah itu, tangan yang ia pakai untuk membersihkan itu ia peper ke baju pria botak tersebut. Baju pria botak itu sampai Aran Tarik dan Aran gunakan untuk membersihkan jari-jemarinya.
Pria botak itu begitu murka melihat tingkah Aran padanya.
“Bangsaatt”
Ketika pria botak itu ingin memukul Aran terlihat kilatan cahaya yang langsung menahan tangan pria botak tersebut.
Pria botak itu langsung menjerit keras setelah terkena cahaya tersebut.
Uarrrggghhh
“Berani membuat keributan di tempat ini, itu sama juga kalian tidak menghormati kami”
Suara yang terdengar sangat mendominasi ini membuat semua orang langsung ketakutan. Mereka semua memang sudah tau bahwa Pasifik Inn dijaga oleh ahli-ahli yang tersembunyi. Bahkan para Master terkenal di dataran tengah saja enggan membuat masalah di dalam Pasifik Inn.
“Maafkan kami Senior, maafkan kami”
Beberapa orang yang ketakutan langsung memberi hormat ke langit-langit, mereka takut para ahli itu akan menargetkan mereka. Setelah itu semua orang buru-buru kembali ke meja mereka masing-masing. Sementara pria botak itu pergi sambil menahan rasa sakit ditangannya, ia juga terus menatap Aran dengan kebencian.
“Pantas kamu terlihat tenang saja, apa kamu sudah mengetahui bahwa ada ahli tersembunyi disini yang selalu menjaga restoran ini”
Namora berkata sambil meminum air dari gelas kecil yang ada dihadapannya.
Taeyang dan Varya hanya mendengarkan saja pembicaraan kedua teman mereka ini.
“Hanya mereka dan Tuhan yang tau”
Jawab Aran tetap tenang. Ia tidak terlalu memperdulikan kemarahan para tamu pada dirinya. Apalagi semenjak ia memiliki lencana ungu, ia yakin bahwa ada ahli yang diam-diam mengawasinya.
Hari semakin siang kelompok Aran sudah meninggalkan restoran dan berjalan keliling kota, hingga akhirnya rombongan dari beberapa negeri tiba di tempat ini. Kedatangan mereka semua dalam hal untuk mengikuti seleksi Akademi Bimasakti.
“Hei Hyung, lihat kesana”
Taeyang berkata sambil menunjuk kesalah satu arah.
“Itu rombongan keluarga Kerajaan Parsy”
Banyak masyarakat yang memberikan jalan kepada para rombongan keluarga besar yang memiliki pengaruh di negeri ini.
Pangeran Parsy berada di bagian tengah dilindungi oleh para pasukan kerajaan, ia menaiki kuda putih bersama Lady Dasha.
Pangeran dan Lady Dasha berjalan beriringan sambil menatap lurus kedepan. Sikap mereka bedua begitu angkuh. Karena bagi mereka para bangsawan, rakyat jelata hanyalah kaum rendahan.
Setelah rombongan Kerajaan Parsy lewat, kini giliran rombongan Kerajaan dari benua barat.
“Itu rombongan Kerajaan Silver Cloud, lihat Hyung-nim itu Lady Octavia. Cantiknyaa”
Taeyang benar-benar mengagumi kecantikan Lady Octavia yang terlihat sangat menawan. Apalagi Lady Octavia terkenal sebagai Lady paling ramah.
“Hyung-nim, di kanan dan kiri Lady Octavia adalah Pangeran dan Putri Kerajaan Silver Cloud. Mereka terkenal sangat dingin kepada siapapun”
Taeyang kembali menjelaskan kepada Aran terkait para bangsawan yang kini tengah berjalan di tengah-tengah kota.
“Kau sampai menghapal mereka semua Taeyang. Aku kagum padamu”
Kata Namora kepada Taeyang.
“Terima kasih Senior”
Jawab Taeyang sambil tertawa pelan.
Tidak lama rombongan Lady Octavia sudah berada sangat dekat dengan Aran. Lady Octavia yang memang suka melihat-lihat pemandangan langsung mengenali Aran. Lady terus menatap Aran, ia langsung mengingat pemuda yang bersamanya di rumah judi.
Setelah jarak mereka sangat dekat, Lady Octavia langung melambaikan pelan tangannya kearah Aran sambil tersenyum.
Melihat sikap Lady padanya, Aran lalu membalas senyumannya.
Hal itu membuat orang-orang yang berada didekat Aran menjadi penasaran akan sosok Aran ini.
“Aran, kenapa kamu bisa mengenal Lady Octavia”
Namora langsung bertanya kepada Aran karena ia sangat penasaran dengan Aran yang selalu memberinya kejutan.
“Hmm.. itu rahasia”
Jawab Aran pelan.
“Huh, menyebalkan”
Namora hanya bisa mendengus kesal melihat sikap Aran padanya.
Sementara itu diatas kudanya, Kakak perempuan Lady Octavia menjadi curiga dengan adiknya.
“Adik, apa kamu mengenali pemuda bertopeng itu”
“Ya Kakak, aku mengenalinya”
“Ingat, kau adalah seorang Putri Kerajaan. Jaga sikapmu, jangan terlalu dekat dengan rakyat jelata”
Kakak perempuannya tidak mau adiknya terlalu dekat dengan rakyat jelata. Karena baginya, bangsawan itu memiliki strata yang sangat tinggi dalam kehidupan sosial.
“Baik Kakak”
Lady Octavia hanya bisa mengangguk pelan dengan peringatan dari kakak perempuannya. Sementara Kakak pertamanya hanya melirik kearah adiknya.
Rombongan Kerajaan Silver Cloud akhirnya menghilang dari pandangan, digantikan rombongan keluarga yang lain.
Aran yang tidak terlalu tertarik dengan acara seperti ini memutuskan untuk segera pergi meninggalkan tempat ini. Para gadis langsung mengikuti Aran untuk pergi dari tempat ini.
“Hyung-nim, mau kemana. Tunggu sebentar, lihatlah itu rombongan keluarga Xiao”
Mendengar nama keluarga Xiao yang diucapkan oleh Taeyang membuat Aran menghentikan langkahnya. Begitupun para gadis, juga ikut berhenti karena melihat Aran berhenti.
Aran penasaran, apakah ia dapat bertemu dengan teman lamanya atau tidak.
Tidak lama, rombongan Keluarga Xiao mulai terlihat berjalan beriringan dengan mengendarai kuda-kuda besar.
“Hyung-nim lihat, wanita cantik itu adalah Dewi tercantik di Keluarga Xiao”
“Ya, itu adalah Xiao Ling si putri es”
Varya menambahkan.
Aran lalu melihat ke arah wanita yang disebut oleh kedua temannya ini. Aran penasaran apakah wanita yang mereka panggil Xiao Ling ini adalah wanita yang sama dengan kenalannya. Begitu Aran fokus menatap wanita itu, ia langsung terkejut.
“Xiao Ling”
Gumam Aran.
‘Tidak salah lagi, dia benar Xiao Ling yang aku kenal’
Batin Aran didalam hati.
Ketika rombongan Xiao Ling melewati depan Aran, reflek Xiao Ling menatap kearah Aran. Ia menatap cukup lama sebelum akhirnya membuang mukanya.
‘Rasa-rasanya pemuda itu mirip dengannya?’
Batin Xiao Ling.
Karena penasaran ia kembali menoleh kearah Aran, namun ternyata pemuda yang ia sangka adalah Aran sudah tidak berada ditempat itu lagi.
'Ah, aku pasti salah liat'
Xiao Ling kembali melanjutkan perjalanannya.