
Leluhur Tua langsung menyerang Aran dengan kekuatan penuh.
Dihantam dengan kekuatan yang sangat keras membuat Aran kembali terlempar. Armornya bergetar menahan serangan Leluhur Tua.
"Sepertinya armor ditubuhnya cukup kuat, sayang sekali bakat sepertimu tidak terlahir di bangsaku" Leluhur Tua memuji Aran atas bakatnya.
"Ahh, Senior terlalu memuji. Namun sayang walaupun saya dilahirkan kembali. Saya tidak tertarik menjadi serigala jelek seperti dirimu" Berkata Aran sambil membenarkan topengnya.
"Bajingann cilik ini benar-benar suka membuat orang lain marah. Walau kau memakai armor dan penutup wajah. Aku sudah tau kalau kau ini seorang manusia"
"Ahh, jadi senior sudah tau kalau saya ini manusia. Hahaha jadi malu saya"
"Tidak usah banyak omong, mati kau!"
Leluhur Tua langsung menyerang Aran kembali, Aran mati-matian berusaha menahan serangan Leluhur Tua. Aran menahan sambil berlari kembali kemarkas Serigala Perak.
"Untuk apa kau membawaku kembali kesini hahh" Leluhur Tua tidak tau rencana Aran.
"Hahaha, agar kau melihat pemandangan indah bangsamu yang sedang bersenang-senang"
"Aku benar-benar akan menyiksamu hidup-hidup" mendengar jawaban Aran membuat Leluhur Tua begitu marah, kini ia menyerang Aran kembali dengan kekuatan maksimalnya.
*Aran dengan kekuatanmu yang sekarang\, kamu tidak akan mampu menghadapinya. Armor mu sudah tidak mampu bertahan lagi. Cepat sudahi pertarungan ini dengan masuk ke Alam Giok Langit. Alam ini sudah ku perbesar*
*Baik Raja Naga. Namun\, aku masih ingin bersenang-senang dengannya. Aku ingin mengetahui sampai mana batas kemampuanku*
*Kau benar-benar sangat suka membuat orang lain kesal* Raja Naga bergumam.
*Hahaha\, biasalah anak muda*
*Sontoloyo*
Aran hanya tertawa mendengar ocehan Raja Naga.
Bamm
Punggung Aran dihantam oleh serangan Leluhur Tua, menyebabkan ia terlempar ke salah satu pohon dan memuntahkan seteguk darah.
Leluhur Tua mendekati Aran dengan berjalan perlahan, mewaspadai gerakan Aran. Karena ia tau, anak kecil dihadapannya ini memiliki banyak trik untuk menjebak musuhnya.
"Kenapa kau masih saja tertawa, sebentar lagi kau akan merasakan kematian yang mengerikan" Leluhur Tua menjaga jaraknya.
Aran hanya tersenyum mendengarnya. Tidak lama ia mengambil persediaan Bom Birahi dari alam gioknya.
"Kau tau ini apa?" Aran memperlihatkan Bom tersebut kehadapan Leluhur Tua yang membuat ia melangkah.
"Sialann, kau masih memiliki benda itu"
"Tentu saja aku memilikinya, tenang saja persediaanku masih banyak. Cukup untuk memuaskan seluruh anggota Clanmu. Apalagi bom yang kupegang ini adalah dosis yang paling tinggi" Aran tertawa cekikikan membayangkan bom ini dihirup oleh Leluhur Tua.
"Keparatt" Leluhur Tua langsung menyerang Aran.
Aran juga tidak tinggal diam, ia melempar bom tersebut ke arah Leluhur Tua, seketika asap pink kembali menutupi wilayah tempat Aran bersandar.
Aran secepat kilat memusatkan dirinya untuk memasuki Alam Giok Langit
Bamm bamm
Serangan Leluhur Tua menghantam pohon tempat Aran bersandar. Pohon itu hancur menjadi serpihan kecil.
"Sialann, kemana perginya anak setan itu" Leluhur Tua berharap serangannya dapat mengenai Aran. Ia menerima resiko menghirup bom birahi yang dilemparkan Aran. Leluhur Tua begitu murka karena ia tidak merasakan aura keberadaan Aran. Seolah-olah ia lenyap ditelan bumi.
Racun birahi ini benar-benar kelas berat. Leluhur Tua merasakan gairah ditubuhnya meningkat drastis. Ia lalu menjauh dari tempat tersebut dan duduk bersila untuk meditasi. Namun kenyataannya racun itu tidak bisa dikeluarkan. Malah yang ada, nafsu birahinya menggebu-gebu sampai tubuhnya merinding menahan nafsu.
"Sialaaannnnn!" Leluhur Tua teriak dengan sangat keras kelangit. Ia begitu membenci Aran sampai kesumsum tulangnya.
Di tempat lain, Aran sudah memasuki Alam Giok Langit. Ia begitu terpana melihat alamnya yang menjadi luas dan ada beberapa tempat yang memiliki cahaya merah.
"Aran"
"Raja Naga"