Pendekar Nusantara

Pendekar Nusantara
Sang Raja Hutan



Padepokan Gagak Hitam.


Aula perbincangan padepokan.


"Gambar orang itu dengan jelas, dari mulai wajah hingga baju yang dia kenakan," ucap kakek tua.


"Wajahnya tidak terlihat Ki, dia memakai topeng," sahut salah satu dari sepuluh orang di aula tersebut.


"Gambar saja topeng dengan memperjelas ukirannya. Lalu beritahukan kepada seluruh Padepokan Gagak Hitam di Bumi Nusantara," ucap kakek tua.


"Baik Ki! untuk namanya bagaimana?"


"Kemarin dia bilang siapa mengenai namanya?" tanya kakek tua.


"Pada saat memberi penghormatan, dia bilang namanya Sang Penari dari Cahaya Ilahi," jawab Huntur.


"Ya... Tidak apa-apa, walaupun dia memakai nama samaran, suatu saat orang itu pasti memakai nama samarannya kembali," ucap kakek tua.


"Baik Ki."


***


Beberapa hari kemudian.


Sore hari.


Aranya tiarap diantara rerumputan dengan memasang anak panahnya. Padangan aranya lurus dan fokus ke depan. Menunggu sesuatu datang menghampirinya.


Dari kejauhan di depan pandangan Aranya, seekor rusa berlari ke arahnya. Dari belakang rusa, Aska mengejar guna menggiring rusa tersebut kepada Aranya.


Sesaat rusa tersebut berada pada jangkauan pas anak panah, Aranya melepaskan anak panah dari busur panahnya hingga mengenai kaki rusa tersebut dan terjatuh.


"Haha.. Lumayan buat makan malam sekarang, walaupun ukurannya tidak terlalu besar," ucap Aska seraya mengikat kaki rusa buruannya.


"Ayo kita cari tempat yang sesuai," ucap Aranya berjalan mendahului Aska.


***


Malam hari tiba.


Tengah hutan begitu hening, hanya terdengar suara rintihan serangga malam, disertai cahaya bulan yang menerangi gelapnya malam, menambah suasana keheningan.


Aska sedang membakar daging rusa buruannya di tengah bara api. Aranya tepat berada di depan Aska sedang bersardar pada pohon seraya menatap Aska yang tengah membakar daging rusa.


Setelah selesai membakar, Aska menghampiri Aranya, memberika daging yang sudah matang. Aska langsung kembali ke tempat asalnya.


Tidak lama kemudian, setelah makan. Aska dan Aranya tidur saling bersebrangan terhalang bara api.


Tengah malam begitu dingin. Aranya meringkukan badannya. Suasana tengah hutan membuatnya tidak tenang. Aranya hanya bergulang-guling dengan penuh kecemasan. Sedangkan Aska, tidur begitu pulas.


Aranya bangun dan bersandar ke pohon di belakangnya. Memeluk kedua lututnya seraya menatap api yang sudah padam tinggal abu dengan bara berwarna merah.


Aranya merasa ketakutan, dikarenakan Aranya tidur diluar hutan belantara untuk pertama kalinya.


Dengan kecemasannya, Aranya merenung dan mendengarkan suara bisikan malam. Hening.


Aranya mendengar suara rauman, membuatnya semakin gelisah. Namun, suara rauman tersebut terdengar jauh.


Setelah didengarkan lebih seksama, suara rauman tersebut semakin terdengar jelas dan jelas semakin jelas, hingga terdengar keras tepat di belakangnya.


Aranya bangun langsung berlari kepada Aska.


"Aska.. Aska.. Bangun...," teriak Aranya menahan suaranya seraya mengguncang pelan tubuh Aska.


"Hmm...," balas Aska masih tertidur pulas.


Dari balik gelapnya malam, keluar segerombolan harimau yang mendekat.


Aranya cemas dibalut resah karena membangunkan Aska yang tidak kunjung bangun dari tidurnya.


Aranya menarik busur panahnya dengan penuh ketakutan. Membuat seluruh raganya gemetar.


Harimau terkenal dengan sebutan raja hutan, keganasannya melebihi hewan apapun di Bumi Nusantara. Bagi Aranya, ia pertama kalinya berhadapan dengan hewan buas. Bahkan langsung berhadapan dengan segerombolan sang raja hutan.


Segerombolan harimau itu perlahan mendekat seraya meraung ganas.


Sesaat harimau tersebut hampir mendekati Aranya dan Aska, tiba-tiba segerombolan harimau tersebut bertekuk lutut.


Hal tersebut mengejutkan Aranya yang tengah ketakutan.


"Aska...," panggil Aranya menahan suaranya.


"Hah... Harimau...," teriak Aska terkejut seraya merangkak mundur.


"Ada apa ini? Kenapa ada harimau di sini?" tanya Aska gelisah.


"Aku juga tidak tau, tiba-tiba segerombolan harimau ini datang ke sini," balas Aranya yang masih memposisikan busur panahnya.


Aska berdiri, lalu mendekati Aranya.


"Kenapa harimaunya tidak menerkam kita?" tanya Aska berbisik.


"Tadinya kaya mau nerkam, tapi pas mereka mendekat ke sini, tiba-tiba pada bertekut lutut," jawab Aranya.


Aska melamun dan berpikir sejenak.


"Turunkan," ucap Aska menjulurkan tangannya ke busur panah Aranya yang tengah siaga.


Dengan perlahan, Aranya munurunkan busur panahnya.


Aska menoleh sebentar ke arah Aranya dengan ujung matanya, lalu melangkah beberapa langkah.


"Mohon maaf, aku tidak tau jika kedatanganku ke hutan ini mengganggu para penguasa hutan. Saya memohon untuk meminta izin beristirahat sejenak di hutan ini hingga pagi," ucap Aska memberi hormat dengan tegang.


Salah satu dari gerombolan harimau itu berdiri, lalu meraum keras dan berbalik, berjalan pergi. Diikuti dengan harimau lainnya.


Aska dan Aranya tertegun melihat gerombolah harimau tersebut pergi. Namun, itu bukan berarti menandakan amannya hutan yang disinggahi mereka.


"Huuh...Akhirnya," ucap Aska seraya berjalan mendekati pohon besar di belakangnya, lalu duduk bersandar dan menutup matanya.


"Apa tidak sebaiknya kita pergi dari hutan ini?" ucap Aranya yang masih gelisah.


"Tidak apa-apa, barusan aku sudah bicara kepada mereka... Mereka pergi, itu artinya mengerti apa yang aku ucapkan. Jadi kita perginya besok saja," balas Aska dengan mata tertutup.


Aska mulai kembali tertidur. Aranya berdiam diri menatap tidurnya Aska.


Angin malam berhembus melewati lika-liku pohon-pohon di hutan dan pegunungan.


Aranya berjalan mendekati Aska, lalu ia duduk bersandar di sebelah Aska dan memeluk lututnya.


Aranya mendekatkan tubuhnya pada Aska yang tengah tertidur pulas dan menyandarkan kepalanya ke bahu Aska, lalu tertidur.


***


Pagi hari tiba.


"Aranya... Aranya bangun, sudah pagi," ucap Aska seraya menggoyang pelan kaki Aranya yang tengah tidur.


Aranyapun bangun, membuka matanya sedikit demi sedikit.


"Oh... Sudah pagi," gumam Aranya.


"Ayo kita lanjutkan perjalanan," ucap Aska yang tengah bersiap-siap.


Aranya bangun dari duduknya, berdiri membenahi diri sendiri.


Setelah selesai berbenah, Aska dan Aranya melanjukan perjalanannya.


Beberapa saat kemudian, dalam perjalanan Aska dan Aranya disambut segerombolan harimau yang menghampirinya kemarin malam.


Aska dan Aranya berdiam diri kebingungan, tidak tahu harus berbuat apa.


Setelah beberapa ketukan saling menatap, salah satu dari segerombol harimau tersebut meraum dan menolehkan kepalanya seraya berbalik dan berjalan, diikuti para harimau yang lain. Seperti memberi isyarat kepada Aska dan Aranya untuk mengikutinya.


Aska dan Aranya saling menoleh bingung, lalu berjalan mengikuti segerombolan harimau tersebut tanpa kata.


Beberapa saat kemudian, dalam perjalanan.


"Ini.. Mereka mau membawa kita kemana?" tanya Aska berbisik.


"Entahlah... Tapi yang pasti, ini jalan menuju ke Danau Ranau," jawab Aranya berbisik.


"Kenapa kita di suruh mengikutinya?" tanya Aska.


Aranya berfikir sejenak.


"Ya... Mung..Kin mereka.. Mereka mau mengawal kita sampai keluar dari hutan ini," balas Aranya.


Aska mengerutkan dahinya, berfikir apa yang terjadi masih belum bisa dicerna akal sehatnya. Begitu juga Aranya masih penuh dengan kecemasan.