Pendekar Nusantara

Pendekar Nusantara
Perang Mental



~Note~


Baca jangan di skip.. "....."


Sebelum membaca chapter ini, saya sarankan untuk menenangkan hati dan pikiran terlebih dahulu.


Di chapter ini banyak kata yang kurang pantas, saya harap pembaca dapat bijak membacanya.


Hanya untuk 17+, jika kalian masih dibawah umur cepat kembali belajar dan bantu Orang Tua.


~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~


Sebelumnya di tengah kota.


"Taeyang, aku mendapatkan telepati dari Varya bahwa dia dan Namora dalam bahaya"


"Telepati, kamu bisa melakukan itu?


Taeyang benar-benar kaget bahwa Aran bisa melakukan telepati.


"Ya bisa, sudah tidak perlu dibahas. Intinya kita harus bergerak cepat ketempat mereka"


"Oke aku akan ikut, aku juga ingin membantu mereka"


Jawab Taeyang kepada Aran.


"Apa kau bisa bertarung"


Aran sempat ragu mendengar Taeyang akan ikut membantunya.


"Tentu saja aku bisa, tapi bagaimana caranya kita sampai dengan cepat ke tempat mereka"


"Hmm.. Bagus, aku percaya padamu. Ikuti aku"


Aran lalu bergerak menjauhi keramaian.


Setelah sampai ditempat sepi. Aran lalu memegang Taeyang dan melompat tinggi ke atas langit.


"Hyuuunggg"


Teriak Taeyang yang kaget karena Aran tiba-tiba membawanya loncat tinggi ke langit.


"Sayap Garuda, buka"


Kedua sayap Aran mengembang besar. Tidak mau menunggu lama sambil membawa Taeyang, ia lalu mengepakkan sayapnya bergerak cepat ke tempat Varya dan Namora.


>>>


"Apa yang kalian lakukan kepada teman-temanku"


Teriak Aran dari atas langit yang melihat kedua temannya kini sedang dikepung dengan tubuh penuh luka.


Sontak mereka yang berada di bawah melihat ke atas langit.


"Manusia burung?"


Kata para penyergap.


Aran lalu turun ke tanah bersama Taeyang. Ia sengaja turun didepan Varya dan Namora. Aran langsung memberikan kantong berisi anggur ruby yang dapat mengembalikan energi mereka yang hilang. Setelah itu ia langsung menatap ke arah musuh-musuhnya.


"Apa yang kalian lakukan kepada teman-temanku"


Aran langsung memancarkan niat membunuh kepada para penyergap.


"Siapa kau, berani menghalangi urusan kami"


Pemimpin pasukan khusus berkata sambil menatap Aran dan mencoba menganalisa kemampuannya.


"Kau itu tuli atau bodoh. Sudah aku bilang aku ini teman mereka"


Perkataan Aran ini membuat musuhnya menjadi sangat marah.


"Bangsatt, semuanya habisi mereka"


"Bunuh!"


Lima lawan empat. Aran langsung berhadapan dengan pemimpin dan seorang anak buahnya. Sementara Taeyang, Namora dan Varya masing-masing menghadapi seorang musuh.


Ternyata Taeyang adalah pendekar pedang. Dia memiliki pedang yang disembunyikan dibalik bajunya.


Taeyang tanpa ragu langsung menyerang musuhnya dengan lincah.


Aran yang melihat Taeyang bertarung dengan baik menjadi tidak terlalu khawatir.


'Ilmu pedangnya lumayan bagus'


Batin Aran yang melihat Taeyang.


"Lihat kemana kau"


Pemimpin musuh langsung menyerang ke arah Aran.


Melihat serangan kuat datang kepadanya, Aran langsung menghindarinya dengan Ajian Gerak Langit.


"Sabar Senior, saya belum siap"


Kata Aran setelah berhasil menghindari serangan musuh. Kini ia menjaga jaraknya dengan musuh.


'Anak ini tidak normal'


Batin pemimpin musuh, ia yang menyerang Aran dengan kecepatan tinggi dapat dihindari dengan mudah.


"Kita serang bersama"


"Baik"


Pemimpin dan bawahannya lalu bergerak perlahan mendekati Aran.


"Aran hati-hati, mereka adalah pasukan khusus Sekte Bulan Merah"


Teriak Varya.


Varya dan Namora kini berhadapan satu lawan satu dengan musuhnya. Mereka bedua yang telah memakan anggur ruby merasakan tubuh mereka kembali bersemangat dan segar.


Mendengar peringatan Varya, Aran hanya membalasnya dengan senyuman.


'Sekte Bulan Merah, bagus kalian menghampiriku'


Batin Aran. Ia lalu menggunakan salah satu ajian kesukaannya.


"Ajian Lembu Sekilan"


Tubuh Aran langsung terlihat berbayang-bayang.


"Ilmu apa itu"


Mereka yang melihat Aran kaget dengan ilmu yang dikeluarkan oleh Aran.


"Ayo kalian maju sini, jika kalian bisa menyentuhku baru aku akan serius menghadapi kalian"


Perkataan Aran ini membuat musuhnya menjadi panas.


"Bajingann, kau meremehkanku"


"Element Api : Bayangan Api"


Gerakan pemimpin sangat cepat dan langsung menyerang Aran.


Wusshh


Ia menebas Aran dengan pedang apinya.


"Woow, hampir saja"


Aran menghindari serangan musuh yang ditujukan ke wajahnya. Ia dapat melihat pedang api itu menebas tepat didepan wajahnya. Tapi tiba-tiba dari belakang ada tebasan pedang yang lain.


Aran juga dapat menghindari serangan menyelinap yang menargetkan dirinya.


"Bangsaattt, dia benar-benar meremehkan kita"


"Mati kau"


"Mati!"


Kedua orang itu kini menyerang Aran dengan nafsu membunuh yang sangat tinggi. Harga diri mereka terluka melihat Aran yang menghindari semua serangan mereka dengan mudah.


"Kalian berdua ini seperti sepasang babii yang berebut makanan. Apa kalian ini benar-benar pasukan khusus"


Ditengah serangan gencar yang diarahkan padanya, Aran masih sempat-sempatnya menghina musuh-musuhnya ini.


"Sialan satu ini"


Pemimpin pasukan langsung menggunakan ajian lainnya.


"Segel Terlarang : Api Siluman"


Tubuh pemimpin langsung mengeluarkan aura hijau dan panas. Udara disekitar juga ikut menjadi panas.


"Hahaha, api siluman. Siluman apa kalian, pasti kalian siluman kera yang mirip manusia. Hahaha.. dasar idiott"


Aran masih saja menghina musuh-musuhnya ini, membuat mereka yang sedang bertarung menjadi tidak fokus.


"Hyung-nim, jangan terus menghina mereka. Aku takut nanti mereka malu dan bunuh diri"


Teriak Taeyang menambahkan.


"Tidak apa-apa saudaraku, mereka memang pantas dihina. Bahkan orang tua mereka sendiri sudah membuang mereka karena malu"


Perkataan Aran ini membuat para pasukan musuh menjadi gila karena marah.


"Bangsaaatt, aku akan membunuhmu"


"Mereka semua benar-benar kurang ajar, aku tidak akan tenang jika kalian semua belum mati"


Para pasukan musuh begitu murka dengan kelompok Aran, kini mereka memancarkan niat membunuh yang sangat tinggi.


Varya dan Namora hanya saling lirik melihat kelakuan kedua temannya.


"Apa yang mereka lakukan, kini musuh kita menjadi sangat marah"


Namora hanya bisa menggelengkan kepala melihat musuh didepannya ini yang kini berubah. Tatapannya penuh niat membunuh, seolah-olah ingin memakannya hidup-hidup.


"Bunuh mereka semuaa"


"Uwooo"


Teriakan para pasukan musuh menggema ditempat itu.


Pemimpin dan bawahannya langsung menerjang menyerang Aran.


Tebasan dan pukulan terus menghampiri Aran.


"Apa hanya ini kemampuan kalian, selain berteriak seperti gerombolan anjingg hutan apa lagi yang kalian punya"


Kata Aran ditengah serangan gencar para musuhnya.


"Keparatt, tunggu sampai aku memotong lidah busukmu itu"


Pemimpin lalu mengeluarkan pil hitam dari balik bajunya dan langsung menelannya.


"Heaaaaa"


Auranya langsung meningkat drastis.


'Pasti itu pil terlarang'


Batin Aran.


Bang!


Kini dia dapat melancarkan pukulannya kepada Aran, tapi Aran tetap mampu menahannya.


"Lumayan, kemampuanmu sepertinya meningkat"


Dikomentari oleh pemuda yang umurnya jauh dibawahnya membuat pemimpin pasukan semakin marah. Wajahnya sudah benar-benar memerah, bahkan tubuhnya sampai gemetar saking emosinya ia kepada Aran.


Pemimpin benar-benar frustasi menghadapi Aran yang terus bermain-main menghadapinya.


"Sebaiknya kalian menyerah saja dan menjadi pelayanku. Aku akan memberikan kalian bayaran yang setimpal. Bagaimana menurutmu"


Perkataan Aran ini benar-benar membuat mereka marah sejadi-jadinya. Sebagai pasukan khusus, harga diri mereka sangat terluka karena musuh mereka ini benar-benar merendahkan mereka.


"Bajingann, kami adalah pasukan khusus yang sudah disumpah untuk selalu setia"


Jawab pemimpin pasukan musuh dengan geram.


"Ya, ya, ya.. Tidak usah diulang-ulang menyebut diri kalian pasukan khusus. Jika aku memiliki pasukan khusus sebodoh kalian, aku pasti sudah bunuh diri karena tidak tahan melihat kalian yang begitu payah"


"Bangsaaaatt"


Perkataan Aran membuat pemimpin begitu marah, ia lalu berlari menerjang ke arah Aran.


"Element Api : Pedang Penghancur Gunung"


Sambil melompat, sang pemimpin melepaskan ajiannya ke arah Aran.


Bang!


Tanah di tempat Aran berpijak hancur luluh lantah. Tapi keberadaan Aran langsung menghilang.


"Kemana perginya bajingann sialan itu"


Sang pemimpin musuh langsung bergerak ke tempat Aran berdiri sebelumnya. Tapi ia tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Aran.


Ketika sedang asik mencari, terdengar suara dari atas pohon.


"Apa yang sedang kamu cari, dari tadi aku disini"


Terlihat Aran yang sedang duduk bersandar dibatang sebuah pohon besar dengan santainya.


"Babbiii kau!"


Teriak pemimpin pasukan ke arah Aran.


"Hahaha, sekarang kamu jadi suka berkata kasar padaku. Tidak disangka, Pasukan Khusus Sekte Bulan Merah itu sangat emosian. ckckck"


Jawaban Aran ini benar-benar membuat Pemimpin Pasukan Khusus hampir memuntahkan darahnya karena kesal.


~Note~


Jika kalian semua menyukai novel ini, mohon bantu penulis dengan cara dibawah ini ya.


* Jangan lupa like dan koment.


* Vote jika memungkinkan.


* Follow Author.


* Terakhir, mohon bantu share.


Jika ada yang ingin bertanya bisa lewat instagram saya ya.


Terima kasih.


Salam hangat dari penulis.


Instagram :


@yukishinamt