
Aran hanya tersenyum mendengar teriakan takut Berliana, kini Aran berusaha terbang dengan ketinggian maksimal. Ia terus naik ke atas menembus awan.
"Berliana, coba lihat pemandangan di atas awan ini"
Berliana yang terus menutup matanya akhirnya berani membuka mata. Masih didalam pelukan Aran ia mencoba melihat sekelilingnya. Tampak terlihat lautan awan berbagai bentuk sangat indah menghiasi langit.
"Indah kan. Sebentar, aku akan memutar tubuhmu"
Aran yang sebelumnya memeluk Berliana dari depan berhadapan kini perlahan lahan memutar tubuh Berliana.
"Pelan-pelan, aku takut"
Akhirnya kini Berliana menatap ke arah depan, dengan Aran yang memegang tubuhnya dari belakang.
Aran terus terbang ke arah depan dan sesekali menukik kebawah yang membuat Berliana teriak ketakutan.
Aran lalu menurunkan ketinggiannya agar mereka bisa melihat pemandangan kota. Berliana begitu menyukai pemandangan dari atas langit ini. Karena ia bisa melihat jelas dan memandang kejauhan tanah airnya.
"Begitu indah negeri ini" Gumam Berliana.
Aran diam-diam mengaktifkan mata surgawinya untuk melihat keadaan negeri ini dari langit.
"Berliana, kita coba bergerak ke pesisir pantai. Aku ingin melihat apakah para penjajah Parsy masih ada atau tidak"
"Aku setuju denganmu Aran"
Aran lalu membelokkan arah terbangnya menuju pesisir pantai.
Begitu sampai di pesisir pantai ia melihat banyak tenda Kerajaan Parsy dan juga kapal-kapal besar mereka masih bersandar di tempat itu.
Aran lalu menukik turun dan terbang rendah diatas mereka. Aran juga sengaja terbang berputar-putar mengelilingi tenda mereka.
Jenderal Orda dan Jenderal Tolu yang merasakan aura kuat menghampiri mereka, langsung segera keluar dari tenda. Mereka berdua begitu kaget melihat manusia bersayap terbang diatas mereka. Begitupun para prajurit yang melihat kedatangan Aran, mereka semua langsung bersiaga dan bersiap layaknya akan berperang.
"Semuanya, bersiapp"
Para Komandan langsung memobilisasi pasukan mereka untuk siap bertempur.
Aran lalu sengaja turun ditengah-tengah mereka. Para prajurit yang melihat manusia bersayap itu turun langsung menjaga jarak mereka dan mulai mengelilingi Aran.
"Siapa kau, berani bersikap lancang dihadapan kami"
Salah seorang komandan tinggi berdiri tidak jauh dari hadapan Aran. Sebagai perwira tinggi ia harus menunjukkan keberaniannya untuk menjadi teladan para bawahannya.
Sebenarnya semua prajurit ini sedikit takut melihat penampilan manusia dihadapan mereka, karena memiliki sayap yang besar. Mereka sama sekali tidak memperdulikan keberadaan Berliana. Namun mereka merasa bahwa wanita yang bersama makhluk bersayap ini memiliki wajah yang sangat familiar. Mereka merasa pernah melihatnya, namun entah dimana.
"Kau tidak layak untuk mengetahui siapa diriku ini. Panggil pemimpin tertinggimu untuk menghadap kepadaku langsung"
Perkataan Aran sangatlah tenang. Tapi ketenangan Aran ini membuat seluruh prajurit begitu marah, mereka kesal dengan sikap arogan Aran yang berani datang langsung ketempat ini tanpa menghargai mereka.
Berliana sendiri tidaklah merasa takut kepada seluruh prajurit Parsy selama ia bersama dengan Aran.
"Lancang, semuanya tangkap mereka berdua"
Komandan tersebut menyuruh pasukannya untuk segera menangkap Aran.
"Cari mati kalian"
Ketika Berliana ingin bergerak maju, tangan Aran memegang tubuh Berliana. Dengan lembut ia berkata "Jangan kotori tangan manismu"
Perkataan Aran membuat Berliana kaget dan tersipu malu.
"Dasar gombal" hanya itu yang keluar dari mulut Berliana.
Aran hanya tersenyum melihat ekspresi wajah Berliana.
"Putih, Kumbang keluarlah"
Dalam sekejap dari kening Aran keluar dua macan yang sangat besar.
"Siap Tuan"
Kedua macan langsung berlutut dihadapan Aran.
Melihat kedua macan yang tiba-tiba muncul tersebut, Berliana sudah mulai terbiasa. Jadi ia tidak terlalu kaget. Hanya saja ia merasa kedua macan ini sedikit lebih besar dari yang terakhir ia lihat.
Tapi berbeda dengan pasukan Parsy, mereka semua seolah-olah membeku ditempat. Para pasukan yang sudah berlari untuk menangkap Aran juga langsung menghentikan langkah kaki mereka melihat kedatangan dua macan besar yang sangat mereka kenal.
"Ya Tuhan, bukankah ini macan iblis milik Mahapatih"
Para prajurit mulai berbincanga diantara mereka, begitupun dengan komandan yang sebelumnya sangat berani terhadap Aran. Tubuhnya langsung bergetar melihat kedua macan dihadapannya. Dalam benaknya ia tidak akan lupa pembantaian yang dilakukan oleh kedua macan ini dimedan perang.
Perkataan Aran ini membuat jiwa mereka mengalami shock, mental mereka langsung berada di titik terendah. Tidak mungkin mereka lupa dengan pembantaian yang dilakukan dengan kejam oleh kedua macan ini. Dan juga mereka sadar siapa majikan kedua macan ini, yaitu Dewa Perang Asura.
"A.. apakah kamu adalah Mahapatih"
Komandan yang sebelumnya sangat berani kini mulai ketakutan, ia berusaha berbicara walau kenyataannya lidahnya sangt kaku dan sulit untuk bicara.
"Ya itu aku"
Pernyataan Aran membuat semua prajurit shock. Tanpa mereka sadari, mereka semua menjatuhkan senjata yang mereka pegang. Keberanian mereka sebagai seorang prajurit langsung runtuh dihadapan Aran.
Tidak jauh dari tempat itu, Jenderal Orda bersama Jenderal Tolu langsung mendekat ke tempat Aran berada.
"Apa yang terja... di"
Ketika jarak pandang mereka sangat dekat, mereka baru bisa melihat jelas sosok Kumbang dan Putih.
Kedua Jenderal bersama pasukan elitnya langsung menarik nafas dingin melihat kedua macan itu, mereka bisa menebak bahwa pria yang berdiri diantara macan pastilah Mahapatih.
"Salam Mahapatih, boleh saya tau ada urusan apa sampai Mahapatih berkunjung kesini"
Jenderal Orda memberikan salamnya kepada Mahapatih, begitupun Jenderal Tolu. Mereka berdua tidak berani bersikap kurang ajar dihadapan makhluk yang sangat sakti mandraguna ini.
"Bukankah kalian berdua sebelumya hadir dalam pertarunganku dengan orang dari dataran tengah. Kalian pasti mendengar pesanku disana, tapi kenapa aku masih melihat wajah kalian di tanah ini"
Aran masih berkata dengan sopan dihadapan kedua Jenderal tersebut.
"Ah, terkait hal itu. Kami butuh waktu untuk menyiapkan keberangkatan kami untuk kembali ke tanah air"
Jenderal Orda menjawab dengan sedikit gugup, ia takut membuat Mahapatih tersinggung. Begitupun dengan Jenderal Tolu dan para pasukan elitnya. Mereka sampai tidak berani menatap wajah Mahapatih.
Roarrr
Auman Kumbang dan Putih membuat kedua Jenderal sedikit melangkahkan kakinya kebelakang. Kini Kumbang dan Putih menatap mereka semua dengan dingin sambil memperlihatkan taring mereka yang sangat panjang dan tajam.
"Aku tidak ingin banyak bicara, besok pagi aku ingin melihat pantai ini bersih tanpa sedikitpun barang kalian yang tersisa, dan juga tinggalkan harta yang kalian miliki. Jika tidak, aku akan menarik sukma kalian semua dari tubuh kalian dengan perlahan-lahan. Sampai kalian merasakan bagaimana rasanya yang namanya kematian itu lebih baik dari pada jiwa kalian tersiksa"
"Faham kalian semua"
Mendengar perkataan Aran membuat tubuh sebagian prajurit gemetar hebat. Mereka yang ikut menyaksikan proses penarikan sukma pasti akan merinding hebat mendengar ancaman Aran. Sebagian prajurit sudah mendengar dari kawan-kawan mereka terkait pertarungan Mahapatih dengan orang-orang dari dataran tengah. Mereka juga diceritakan bagaimana metode penyiksaan Mahapatih yang begitu mengerikan.
"Kami faham Mahapatih"
Jenderal Orda dan Jenderal Tolu sama-sama berkata kepada Aran. Baru kali ini dalam hidup mereka semua mendapatkan perlakuan seperti ini, mereka merasa begitu rendah dihadapan Mahapatih.
"Kalau begitu kami akan pergi. Besok pagi aku akan kembali kesini"
Aran lalu memeluk Berliana dan terbang tinggi kelangit. Sementara Kumbang dan Putih masih berdiri di sana sambil sedikit mengintimidasi seluruh prajurit Parsy.
Roarrrr
Roarrrr
Auman Kumbang dan Putih membuat seluruh pasukan mundur beberapa langkah. Mereka takut kedua macan ini akan menyerang mereka seperti sebelumnya.
Kumbang dan Putih tidak menghiraukan mereka semua, kedua macan itu langsung menatap ke atas dan melompat tinggi kelangit. Aran yang melihat kedua pengikutnya melompat tinggi kelangit, langsung mendekati mereka dan mengirim mereka berdua ke alam gioknya.
~Note~
Hello pembaca setia Novel Pendekar Nusantara.
Jika kalian semua menyukai novel ini, mohon bantu penulis dengan cara dibawah ini ya.
* Jangan lupa like dan koment.
* Vote jika memungkinkan.
* Follow Author.
* Terakhir\, mohon bantu share.
Terima kasih untuk mereka yang memberikan vote, berapapun nilainya itu sangatlah berharga.
Salam hangat dari penulis.
Instagram :
@yukishinamt