Pendekar Nusantara

Pendekar Nusantara
Bertarung untuk Keadilan



Aska berjalan menyusuri desa Sipatuhu.


Ada sesuatu yang membuat Aska heran, kenapa hari ini di desa Sipatuhu sangat sepi. Perasaan Aska, kemarin ramai-ramai saja seperti biasa. Kemana para penduduk? Apa berdiam diri dirumah?


Aska mengingat kembali obrolan Kakek dan Neneknya Aranya sembari melihat sekitaran desa.


Datanglah sekelompok orang dari luar desa membawa banyak gerobak kosong.


Aska bersembunyi di balik pohon.


Sekelompok orang tersebut menghampiri setiap rumah penduduk di desa tersebut. Penduduk yang di datangi rumahnya, keluar dan memberikan buntelan cukup besar. Ada yang memberikan beras, buah-buahan, hewan ternak dan sebagainya.


***


Sekelompok orang tersebut tiba di rumah Aranya.


"Dok dok dok dok...," suara gedoran pintu.


Kakek Aranya keluar memberikan rusa yang kemarin diburu Aranya.


"Wah... Rusa yang cukup besar...," ucap salah seorang di kelompok tersebut.


Kakek Aranya menundukan kepalanya dan mengangguk kecil.


"Kek... Dengar-dengar Kakek punya cucu seorang gadis?" tanya salah seorang di kelompok itu.


Kakek Aranya membisu masih menundukan kepalanya.


"Orang bertanya itu dijawab Kek," ucap orang tersebut.


Semua orang di kelompok itu tertawa.


"Saya tidak pernah memiliki seorang cucu," balas Kakek gemetar.


"Janga bohong Kek... Tidak baik," ucap orang tersebut langsung mengangkat tangannya, guna memberikan isyarat kepada teman-temannya untuk masuk ke dalam rumah Aranya.


Beberapa orang dari kelompok tersebut masuk secara paksa ke dalam rumah Aranya.


Setelah beberapa saat masuk, Aranya dibawa keluar dari rumah.


"Lepasin... Mau apa kalian...," teriak Aranya berusaha melepaskan diri.


"Hahaha... Gadis yang cantik," ucap pemimpim kelompok tersebut.


"Jangan... Tolong jangan dibawa cucuku," ucap Kakek Aranya berusaha menahan.


"Tenang Kek... Harusnya Kakek senang, karena cucu Kakek akan jadi selir salah satu dari tujuh pendekar legenda," ucap pemimpin kelompok tersebut.


"Jangan bawa cucuku... Dia cucu kami satu-satunya," ucap Nenek Aranya menangis dan berlutut memegang kaki dari ketua kelompok tersebut.


Aranya tidak bisa berkutik, bahkan tidak bisa berbicara karena mulutnya di sumpal kain.


Kelompok orang tersebut melangkah pergi. Kakek Aranya berusaha menahan, hingga Kakek Aranya di dorong keras oleh pemimpin kelompok tersebut.


Sewaktu sekelompok orang tersebut melangkah pergi, Aska muncul di hadapan mereka. Tentu Aranyapun terkejut melihat Aska kembali dan membuatnya kesal.


"Siapa kau?" teriak salah seorang di kelompok tersebut.


"Saya hanya orang licik yang tersesat," balas Aska.


"Minggirlah... Sepertinya kau bukan berasal dari desa ini... Tidak perlu ikut campur," ucap pemimpin kelompok.


Aska berdiam diri dan menutup mata serta menarik nafas.


Sekelompok orang itu berjalan pergi. Di saat tepat di hadapan Aska, Aska membuka kembali matanya dan meyerang pemimpin kelompok tersebut yang berada di bagian paling depan dengan tendangan lurus depan, lalu menyambung dengan Jurus Tapak Sakti hingga terpental.


"Hei apa-apaan ini?" teriak salah seorang dari kelompok itu.


Aska tersenyum jahat.


"Serang..."


Semua menyerang Aska secara bersama.


Aska membuat mereka terkapar hanya dengan dua gerakan dasar. Hingga lawan terakhir, Aska menyerang dengan Ajian Tapak Salaras sampai terpental dan terkapar.


Aska menghampiri pemimpin dari kelompok tersebut.


"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Aska tatapan mengintimidasi.


"Uhk... Kamu akan mendapatkan akibatnya membuatku begini," ucap pemimpin kelompok menahan sakit dan merangkak mundur.


"Kenapa kalian mengambil barang dari penduduk desa?" tanya Aska memegang kerah baju pemimpin kelompok.


Pemimpin kelompok tersebut menatap tajam Aska dan tersenyum.


"Kamu tidak tau ya... Aku suruhan salah satu dari tujuh pendekar legenda dan penduduk di desa ini membayar imbalan atas keamanan desa karena dibawah perlindungannya," ucap pemimpin kelompok.


Aska tersenyum dan tertawa kecil.


"Pendekar legenda hahaha... Menarik... Dimana dia sekarang?" tanya Aska.


"Percuma kamu mengetahuinya, tidak mungkin dapat berbuat apa-apa," ucap pemimpin kelompok.


"Dia mempunyai padepokan dan memiliki banyak murid sakti. Padepokannya bernama Padepokan Gagak Hitam," ucap pemimpin kelompok dengan tatapan tajam.


"Kalau dia memiliki banyak murid sakti, lalu kamu ini siapa?" tanya Aska.


"Aku memang bukan murid di padepokan itu, tapi aku orang yang bertugas mengambil imbalan dari penduduk desa sekitar. Bahka aku berada dalam perlindungannya. Kamu tidak akan bisa berbuat apa-apa padaku," ucap pemimpin kelompok percaya diri.


"Benarkah? Kalau aku membunuhmu sekarang, apa pendekar legenda yang maha sakti itu bisa menyelamatkanmu?" ucap Aska tatapan mengintimidasi dan tersenyum jahat.


Pemimpin kelompok itu membisu dan merasa ketakutan karena terintimidasi oleh Aska.


Tidak lama kemudian, Aska melepaskan cengkraman tangan di kerahnya dan membiarkan sekelompok orang tersebut pergi.


Mereka lari dengan menahan rasa sakit dan meninggalkan barang yang mereka ambil dari penduduk desa.


Aska langsung pergi meninggalkan Aranya dengan kondisi tangan diikat dan mulut disumpal.


Wajah Aranya melihatkan kekesalannya.


***


Aska berjalan pergi keluar desa.


Sewaktu Aska di luar desa, tiba-tiba dari belakang Aranya memanggilnya dari kejauhan.


"Aska...," teriak Aranya.


Aska berhenti dan menoleh kebelakang, melihat Aranya tengah berlari ke arahnya.


Sesampainya dekat Aska, Aranya berhenti.


Saling diam dan menatap.


Aska bingung, kenapa Aranya mengejarnya. Begitupun Aranya, merasa bingung sekaligus canggung, karena Aska tidak bertanya kenapa dia mengejar.


Setelah beberapa ketukan saling diam, Aska tidak tahan dan mulai membuka pembicaraan.


"Ada apa?" tanya Aska tatapan polos.


"... Kamu mau kemana?" tanya balik Aranya.


"... Mau melanjutkan perjalanan," balas Aska.


"... Boleh aku ikut...," ucap Aranya canggung.


Tidak lama setelah itu, Aska langsung berbalik dan berjalan tanpa kata.


"Aska...," panggil Aranya mengejar.


"Perempuan ini kesambet apa? Tiba-tiba mau ikut," batin Aska menggerutu.


"Aska... Aku ikut melakukan perjalanan... Aku ingin melihat keragaman di Bumi Nusantara ini," ucap Aranya berjalan mengikuti Aska.


Aska masih mengabaikan Aranya.


"Merepotkan... Aku jaga diri sendiri saja masih sulit... Malah harus jaga anak orang... Mana bisa," batin Aska.


Aranya menyerobot memegang tangan Aska.


"Tolong Aska... Ajak aku... Aku mau ikut..., ucap Aranya dengan ekpresi sedih.


Aska tidak tahan membisu.


"Memangnya kamu bisa apa? Dengar ya Aranya... Dalam perjalananku berbahaya, antara hidup dan mati... Aku menjaga diri sendiri saja masih sangat sulit, apalagi kalau ditambah sama kamu," ucap Aska dengan nada tinggi.


"... Aku bisa jaga diri sendiri," balas Aranya dengan nada tinggi.


Aska kembali berjalan berusaha meninggalkan Aranya.


"Ayo kita bertarung," teriak Aranya.


Askapun berhenti berjalan.


Aranya berjalan menghampiri Aska.


"Kalau kamu masih ragu sama kemampuanku kita bisa bertarung," ucap Aranya.


Aska berfikir sejenak. Mungkin Aska bisa mengetes dan mengalahkannya.


"Baiklah... Bagaimana peraturannya?" tanya Aska tersenyum.


"Aku menembakan panah dari jarak tertentu dan kamu harus mendekatiku. Kalau kamu kalah, aku ikut dalam perjalananmu." ucap Aranya.


"Kalau kamu yang kalah?" tanya Aska tersenyum.


"Kalau aku yang kalah, aku berhenti tidak akan menggagu perjalananmu," balas Aranya.


Aska tersenyum jahat.


Akhirnya setelah pembicaraan panjang, Aska memutuskan untuk bertarung dengan Aranya. Peraturannya, Aska dari jarak yang jauh, harus berusaha mendekati Aranya dengan menghindari serangan anak panahnya.


Aska dan Aranya pergi mencari tempat yang sesuai untuk bertarung.