
Aran dan Raja Naga benar-benar menyukai kopi svarga ini. Karena selain rasanya begitu nikmat dan menghanyutkan, kopi tidak seperti wayn yang memabukkan. Mereka seperti mendapatkan ketenangan hati dan pikiran.
Mereka berdua terus minum hingga akhirnya teko kedua pun habis.
"Haah, ternyata sudah habis"
"Mari bikin lagi"
Aran memutuskan untuk membuat kembali bubuk kopi tersebut. Setelah selesai ia tidak menyeduhnya, melainkan menyimpann bubuk kopi itu dalam botol-botol kaca.
Raja Naga juga tidak mau meminum itu banyak-banyak. Ia lebih memilih untuk membantu Aran dalam berlatih ilmu kanuragan dan membuat pil.
"Aran untuk saat ini saya ingin mengajarkan kamu cara mengendalikan api. Sekarang kamu memiliki dua api abadi, satu api langit yang kamu dapatkan dari Naga Langit dan satu lagi api iblis yang kamu dapatkan dariku"
Raja Naga lalu kembali menjelaskan bahwa Api Naga Langit sangat diburu oleh semua orang di seluruh dunia. Sedangkan api iblis yang berwarna hitam adalah jenis api langka, karena semua orang tau bahwa yang memiliki api ini pasti memiliki hubungan dengan dunia bawah dan dunia iblis. Jadi tidak banyak orang yang memburunya karena resiko yang harus mereka terima jika memburunya.
"Jadi mana yang akan kamu pilih untuk kamu kembangkan terlebih dahulu. Api iblis atau Api langit"
"Saya memilih Api Iblis dulu. Karena sekarang ada Raja Naga Iblis yang bisa membantuku terkait pemahaman pada api iblis ini"
"Pilihan yang bijak, memang setiap api memiliki karakternya sendiri-sendiri. Termasuk api iblis milikku, namun dengan adanya diriku yang membimbingmu itu tidaklah sulit"
"Terima kasih Raja Naga"
Aran benar-benar bersyukur dengan adanya Raja Naga disisinya. Entah apa yang terjadi padanya jika tidak ada Raja Naga. Sudah berkali-kali nyawanya diselamatkan oleh Raja Naga. Kini Aran sudah menganggap kedua Naga didalam tubuhnya ini adalah orang tuanya.
"Baiklah, mari kita mulai pelatihannya"
Raja Naga kemudian mulai melatih Aran cara memahami karakter api abadi dan cara menggunakannya untuk mengolah berbagai macam bahan obat.
Aran begitu telaten dalam memahami semua hal yang diajarkan Raja Naga Padanya. Setiap yang diajarkan padanya akan ia lakukan dengan sangat serius.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Hingga akhirnya Aran sudah mengusai penggunaan api dan pembuatan pil level 2. Karena dirasa waktunya sudah cukup untuk berlatih, Aran memutuskan untuk kembali ke dunia nyata. Setelah sebelumnya ia berpamitan dengan Raja Naga dan Saka.
"Pertama aku akan kembali ke rumahku dulu"
Didunia nyata, Aran langsung mengeluarkan sayapnya dan terbang menuju kediamannya.
Melihat manusia terbang dilangit para pengawal kediaman Mahapatih sudah mengetahui bahwa itu adalah atasan mereka, jadi mereka diam-diam memberikan hormatnya dari bawah.
Varya yang merasakan aura familiar mendekati kediaman langsung keluar dari kamarnya. Ia lalu melihat Tuannya sudah berada di atas kediaman dan langsung terbang menukik kebawah.
"Salam Tuan"
"Salam Varya"
Mereka berdua saling memberikan salamnya masing-masing.
"Varya, bisa kamu ceritakan keadaan saat ini selama aku tidak ada"
"Baik Tuan"
Varya mulai menceritakan keadaan yang terjadi selama Mahapatih tidak ada.
Dimulai dari pembersihan total fraksi merah oleh pasukan URC yang dipimpin oleh Lingga. Sementara Putih dan Kumbang yang berpura-pura menjadi Mahapatih juga menjalankan tugasnya dengan baik. Kini nama Mahapatih sangat dikenal dinegeri ini.
"Bagaimana dengan seleksi akademi"
"Untuk seleksi akademi akan dilaksanakan bulan depan di benua tengah"
"Hmm, begitu rupanya"
Aran sebenarnya sudah tidak sabar untuk segera pergi ke benua tengah, karena ia ingin memastikan keberadaan Berliana.
"Tuan mengenai nona Berliana"
Perkataan Varya membuat raut wajah Aran langsung berubah.
"Kenapa dengan Berliana?"
"Dihari Tuan pergi, Nona Berliana tidak lama kembali dan memberitahukan kepada kami semua bahwa ia akan pergi jauh dan tidak akan kembali dalam waktu dekat. Namun saya merasa itu seperti bukan dirinya"
Aran sangat mengetahui bahwa yang berada ditubuh Berliana tidak lain adalah Ratu Selatan. Aran tidak menyangka bahwa Ratu Selatan mau berpamitan kepada orang-orang yang dekat dengan Berliana.
"Hmm, seperti itu rupanya. Tidak apa-apa, tidak usah kamu pikirkan"
Aran lalu mengajak Varya keluar dari kediaman dan berjalan-jalan menikmati pemandangan kota.
Kini Aran berpakaian seperti layaknya seorang terpelajar dengan tetap menggunakan topengnya.
Aran terus berjalan menikmati keramaian kota, ia melihat banyak orang yang sibuk dengan berbagai kegiatan.
Karena hari sudah siang, Aran memutuskan untuk makan direstoran terbaik kota ini.
"Varya, mari kita makan direstoran itu"
"Mari Tuan"
Mereka berdua lalu mulai memasuki restoran yang terlihat sangat bagus dari luar.
"Tuan, mohon maaf. Untuk tempat biasa sudah penuh. Hanya ada ruangan khusus dan ruang VIP diatas. Tapi untuk memasukinya wajib membayar 2 koin emas dimuka"
Pelayan itu berkata dengan sangat ramah.
"Baiklah"
Aran lalu mengeluarkan 2 koin emas kepada pelayan itu.
Tidak lama Aran berdiri ada satu keluarga yang memasuki tempat tersebut, namun diusir oleh penjaga restoran karena tidak memiliki uang.
"Maaf saudara, ada apa ini"
Aran yang melihat keluarga tersebut diusir menjadi tidak tega. Karena ia melihat wajah anggota keluarga yang begitu kelelahan dan pucat.
"Mereka pengembara Tuan Muda, meminta untuk numpang makan"
Pelayan tersebut menjelaskannya kepada Aran.
"Maaf saya hanya minta sedikit nasi untuk anak saya, kami belum makan selama tiga hari karena kami dirampok dihutan"
Seorang pria berkata kepada pelayan yang mengusirnya, namun pelayan itu tetap dingin dan mengusir mereka.
"Biar saya yang menanggung kebutuhan mereka semua"
Aran langsung berkata kepada pelayan tersebut.
"Tapi Tuan Muda, pakaian yang mereka gunakan tidak pantas untuk memasuki tempat ini"
"Appaa?"
Aran kaget mendengar perkataan pelayan bahwa untuk masuk restoran ini harus berpakaian yang sesuai aturan mereka.
"Jika saya ingin tetap mengajak mereka masuk, apa yang harus saya lakukan?"
Perkataan Aran membuat pelayan itu kebingungan. Sebenarnya ia juga tidak salah, pelayan ini hanya mengikuti peraturan restoran, jika ia tidak menjalankan peraturan tersebut maka ia bisa dipecat.
"Solusinya mungkin bisa dengan menyewa ruangan khusus di lantai 3. Tapi.. emm harganya sangat mahal Tuan Muda"
"Berapa"
"100 koin emas untuk menyewa ruangan itu selama 1 hari"
Jawab Pelayan tersebut. Pelayan itu juga tidak yakin apakah Aran mampu membayarnya, karena kebanyakan yang menyewa ruangan itu adalah pejabat atau pengusaha.
"Anak Muda, tidak perlu membantu kami. Biarkan kami mencari tempat lain saja untuk istirahat. Terima kasih"
Pria yang terlihat sangat lelah tersebut memutuskan untuk meninggalkan tempat itu. Raut wajahnya bisa jelas terbaca oleh Aran.
Sementara Istri dan anaknya yang masih kecil hanya terdiam tidak berkata apa-apa.
Ketika pria itu melangkah pergi, Aran memanggilnya.
"Tunggu"
"Ada apa Tuan Muda"
Pria itu menjawab Aran dengan sopan.
"Uang bisa dicari, tapi kebahagiaan tidak mudah didapatkan. Saya bahagia melihat kamu yang berusaha keras menjaga keluargamu. Untuk itu ijinkan saya membantumu, mari masuk kedalam bersamaku"
Pria itu diam menatap Aran yang begitu baik padanya.
Untuk menutupi rasa canggung, Aran langsung merangkul pria itu untuk masuk kedalam restoran. Sementara Varya mengajak wanita dan anaknya untuk masuk mengikuti Aran.
"Ini 100 keping emas. Bawa kami ke ruangan khusus tersebut"
Dengan mudahnya Aran memberikan 100 keping emas kepada pelayan tersebut.
Sang pelayan hanya diam melihat uang itu yang kini berada ditangannya. Uang sebanyak ini yang dengan mudah dikeluarkan oleh tamunya pastilah tamu tersebut adalah orang yang sangat kaya. Gajinya selama setahun saja hanya sampai beberapa perak saja.
"Baik, Maafkan kelancangan saya sebelumnya. Mari Tuan silahkan masuk"
Pelayan tersebut langsung bersikap sangat sopan kepada Aran. Sikapnya benar-benar berubah drastis.
Ketika rombongan Aran memasuki restoran, banyak mata memandang ke arahnya. Mereka semua memandang ke arah orang-orang yang berada dibelakang Aran. Karena penampilan mereka layaknya pengemis, dengan pakaian yang begitu kumal dan kotor.
Aran bersama kelompoknya tidak memperdulikan omongan miring mereka yang membicarakannya.
Mereka semua terus naik kelantai tiga. Di lantai tiga terdapat banyak ruangan yang tertutup rapat. Pelayan itu lalu mengarahkan Aran untuk memasuki salah satu ruangan.
"Silahkan masuk Tuan"
"Terima kasih"
Aran bersama kelompoknya bersama-sama memasuki ruangan tersebut. Ruangan itu ternyata begitu besar dan didalamnya terdapat ruang makan, ruang tamu dan kamar tidur.
"Nanti akan ada pelayan yang datang ketempat ini, apakah ada yang bisa saya bantu lagi"
Pelayan itu kembali berkata dengan sangat sopan.
"Mmmm, apakah saya bisa meminta tolong padamu dilaur urusan restoran"
"Kalau boleh tau, apa itu Tuan"
Pelayan itu kembali menjawab Aran dengan sangat sopan.
"Tolong belikan masing-masing satu set pakaian untuk mereka"
Sambil Aran mengarahkan pandangannya kepada keluarga yang baru dikenalnya tadi.
"Oooh baik Tuan Muda, saya bisa tapi agak sorean setelah pekerjaan saya selesai"
Pelayan itu tetap menjawab Aran dengan sopan walaupun sebenarnya itu bukanlah tugas dia.
"Ini 100 emas untuk kamu belikan pakaian yang paling bagus di kota ini"
Aran lalu memberikan kembali 100 koin emas kepada pelayan tersebut yang membuat semua orang yang berada disana bengong.
'Dengan mudahnya mengeluarkan koin emas. Pemuda ini pastilah bukan orang sembarangan'
Batin mereka semua yang melihatnya.
"Tuan Muda, tidak perlu memikirkan kami. Kami tidak apa-apa berpakaian seperti ini"
Pria itu begitu malu dengan Aran yang ternyata sangat baik padanya.
"Sudah tidak perlu kamu pikirkan, sekarang kalian semua istirahat dulu didalam"
Walau mereka awalnya tidak mau, namun karena dipaksa Aran akhirnya mereka memasuki bagian dalam ruangan tersebut. Sementara Aran bersama Varya masih ada diruang depan.
"Ini 10 koin emas tips untukmu"
Aran lalu memberikan tips kepada pelayan itu, karena dirasa pelayan itu sekarang menjadi begitu baik dan bisa menjaga sikapnya.
"Tee.. terima kasih Tuan Muda" Tangannya sampai gemetaran memegang koin emas yang diberikan Aran padanya.
Tanpa menunggu lama ia segera keluar dari ruangan untuk secepatnya menyelesaikan pekerjaannya agar tidak mengecewakan Aran.
Sementara Aran sambil menunggu pelayan, ia mengeluarkan wayn dari alam giok. Tapi wayn yang Aran keluarkan adalah wayn dosis paling rendah yang efeknya tidak terlalu memabukkan.
"Varya sambil menunggu, kita minum wayn dulu sedikit"
Melihat botol minuman yang dikeluarkan Aran membuat Varya begitu senang. Karna ia tau, Tuannya ini memiliki banyak minuman ajaib.
Aran langsung menuangkan wayn digelas kecil dan memberikannya kepada Varya. Setelah menerima gelas minuman itu, Varya segera meminumnya. Karena ia sudah tidak sabar dengan keharuman minuman ini.
"Tuaannn, ini minuman yang sangat nikmaat"
Varya begitu senang bisa meminum wayn. Wangi wayn langsung memenuhi ruangan tempat mereka tinggal. Wangi itu juga tercium oleh tamu Aran.
"Wangi ini, begitu harum" Mereka hanya bisa berkata pelan, karena mereka sadar siapa mereka. Tidak sopan rasanya jika mereka meminta kepada penolong mereka.
"Varya, apakah kamu tau bahwa aku memiliki minuman yang sejuta kali lebih nikmat dari ini"
"Apa itu Tuan?"
Varya yang sangat menyukai wayn menjadi penasaran, minuman apa yang bisa menandingi wayn.
"Namanya kopi svarga"
~**Note**~
Jika kalian semua menyukai novel ini, mohon bantu penulis dengan cara dibawah ini ya.
* Jangan lupa like dan koment.
* Vote jika memungkinkan.
* Follow Author.
* Terakhir, mohon bantu share.
Salam hangat dari penulis.
Instagram :
@yukishinamt