
Setelah makan bersama, Ki Salawi pergi ke luar karena ada suatu urusan. Aska berbincang dengan Raka, Yasa dan Citta, menceritakan perjalanannya.
Semua tertawa saat Aska menceritakan sewaktu dirinya dikejar para siluman ular, dan menceritakan tentang dirinya sewaktu singgah di Kerajaan Sunda Galuh dan pertarunganya dengan Raden Kiansantang, hingga sampai ke tempat tujuan.
"Aku pernah dengar dari seorang kakek tua pencerita yang datang ke kampung ini setiap dua bulan sekali untuk menceritakan kisah di Bumi Nusantara kepada anak-anak. Katanya di Bumi Nusantara ada tujuh belas kerajaan. Diantara tujuh belas kerajaan itu yang paling kuat ada empat kerajaan, salah satu diantaranya Kerajaan Sunda Galuh, bahkan kerajaan ini berada di urutan terkuat pertama," ucap Raka.
"Kenapa diceritakan ke anak-anak?" tanya Aska.
"Ya mungkin yang suka dengar cerita cuma anak-anak," jawab Raka.
"Terus bagaimana bisa kerajaan ini jadi kerajaan terkuat di antara semua kerajaan di Bumi Nusantara?" tanya Aska penasaran.
"Katanya kerajaan ini banyak dukungan kuat dari belakang, contohnya seperti kerajaan misterius yang selalu buat pertemuan rahasia di pantai selatan, dan juga katanya ada dukungan dari salah satu pendekar legenda. Menurut rumor yang beredar di kalangan para pendekar, konon katanya satu orang pendekar legenda cukup untuk meluluhlantahkan satu kerajaan," ucap Raka.
"Kalau kerajaan terlemah?" tanya Yasa.
"Kerajaan terlemah itu kalau tidak salah Kerajaan Kahuripan bahkan itu juga kerajaan termiskin di antara seluruh kerajaan di Bumi Nusantara. Ditambah lagi penduduknya lebih sedikit di bandingkan penduduk kerajaan lain. Tercatat dalam sejarah katanya Kerajaan Kahuripan belum pernah menyerang dan memulai berperang dengan kerajaan lain, yang ada pernah diserang dua kerajaan sekaligus yang bekerja sama, Kerajaan Singosari sama Kerajaan Jangala. Tapi penyerangannya gagal," ucap Raka.
"Kenapa bisa gagal?" tanya Aska.
"Iya, kenapa bisa gagal? Padahal kerajaannya lemah, apalagi diserang sama dua kerajaan sekaligus," ucap Citta.
"Ya... kurang jelas juga ceritanya. Katanya ada suatu gangguan dalam peperangannya jadi gagal," ucap Raka.
"Maksudnya gangguan?" tanya Citta.
"Ya ga tau. Mungkin ada badai," ucap Raka.
"Kenapa ga tau? Bukanya kamu suka denger cerita sama anak-anak kampung dari kakek pencerita." Ucap Citta.
"Kan dari kakek itunya hanya segitu ceritanya," ucap Raka.
"Dasar bocah. Udah gede juga mainnya masih sama anak-anak," ucap Citta menyindir.
"Hah apa... Aku main sama bocah juga bukan urusan anak manja," ucap Raka dengan nada tinggi.
"Apa kamu bilang... Bocah tetep bocah," ucap Citta membalas dengan nada tinggi.
Akhirnya, waktu seharian penuh mereka habiskan untuk berdebat.
Mendengar cerita dari Raka, Aska masih ragu tentang kebenarannya. Dari mulai adanya kerajaan misterius, pendekar lengenda yang dapat meluluhlantahkan satu kerajaan dan berdirinya tujuh belas kerajaan di Bumi Nusantara.
***
Keesokan harinya.
Raka dan Yasa sedang membelah kayu, Aska membereskan kayu dan Citta membersihkan rumah dan menyapu halaman.
"Aska kemari," ucap Ki Salawi.
Aska bergegas menghampiri Ki Salawi.
"Ada apan Kek?" tanya Aska.
"Tutup mata, lalu tarik nafas yang dalam," ucap Ki Salawi.
Aska langsung memperagakan intruksi dari Ki Salawi.
Pada saat Aska menarik nafas, secara tiba-tiba Ki Salawi memukul jidat Aska menggunakan telapak tangan hingga terpertal. "Plakkg."
***
Istana Kerajaan Sunda Galuh.
Aula makan istana.
"Ada apa Ayahanda Prabu?" tanya Raden Kiansantang.
"Ada yang melepas Ajian Paningali Langit Ayahanda," ucap Prabu Siliwangi.
"Ajian Paningali Langit Ayahanda Prabu hanya bisa dilepas oleh orang yang setara atau orang yang lebih kuat dari Ayahanda Prabu. Siapa orang di tanah Padjajaran ini yang dapat menyaingi Ayahanda Prabu?" ucap Raden Walangsungsang.
***
Halaman rumah Ki Salawi.
"Aww...," Aska kesakitan.
"Kakek, kenapa tiba-tiba memukul Aska?" tanya Citta.
"Tidak apa-apa, Kakek hanya memukul nyamuk," ucap Ki Salawi.
"Mana ada memukul nyamuk kaya gitu. Inimah namanya dendam pribadi," batin Aska.
***
Beberapa hari yang lalu.
Istana Kerajaan Sunda Galuh.
"Jadi ini orang yang kamu bicarakan wahai Putraku?" ucap Prabu Siliwangi.
"Iya benar Ayahanda Prabu," ucap Raden Kiansantang.
Sewaktu Aska tidak sadarkan diri di aula pengobatan istana, Prabu Siliwangi secara diam-diam meletakan ajian paningali langit di jidat Aska dengan cara menempelkan telapak tangannya.
Ajian paningali langit adalah sebuah ajian yang dapat mengetahui lokasi seseorang yang di tandai ajian ini, juga dapat melihat samar-samar ke area orang tersebut. Ajian ini hanya dapat dilepas oleh orang yang kesaktiannya setara dengan orang yang menempelkan ajiannya atau orang yang lebih kuat dari orang tersebut.
***
Halaman rumah Ki Salawi.
"Kek, ini golok yang di amanatkan. Kata Mang Asep golok ini jangan dibuka kalau belum sampai ke tangan orang pertama yang di cari. Aska serahkan kepada Kakek," ucap Aska memberika goloknya.
Ki Salawi langsung mencabut golok tersebut dari sarungnya.
"Ini cuma golok biasa kenapa jangan dibuka?" ucap Ki Salawi.
Ki Salawi menebaskan goloknya ke kayu.
"Tapi Kek, kata Mang Asep jika dibuka sebelum sampai di tangan orang itu akan ada akibatnya," ucap Aska serius.
"Pegang," Ucap Ki Salawi memberikan golok tersebut.
"Itu sekedar golok pendek biasa, tidak ada hal aneh," ucap Ki Salawi.
"Sial aku ditipu Mang Asep," batin Aska kesal dan mengingat kesusahan dalam perjalanannya tanpa senjata.
***
Kampung Salaeurih.
Di ujung pedesaan, sebuah rumah, di bawah pohon.
Alunan seruling menghantarkan ketentraman beserta angin sepoi-sepoi.
"Hahahahahaha... Hehehehahaha," tawa Mang Asep membayangkan perjalanan Aska yang sedang kesulitan tanpa menggunakan senjata.
***
Halaman rumah Ki Salawi.
"Kek, bolehkah Aska menyimpan golok ini?" tanya Aska.
"Boleh," ucap Ki Salawi.
"Tunggu saja, setelah perjalanan ini selesai. Aku lempar golok ini ke mukanya," batin Aska dengan tatapan membunuh.
"Aska," ucap Ki Salawi memanggil.
"Iya Kek." Jawab Aska.
"Cobalah serang Kakek dengan seluruh kemampuanmu," ucap Ki Silawi.
Aska mengambil kuda-kuda pembuka jurus gerakan silat pertama Maung Kasarung.
"Jangan ragu," ucap Ki Salawi.
"Baik Kek," ucap Aska.
Tanpa banyak membuang waktu, Aska langsung menyerang Ki Salawi dengan kekuatan penuh. Namun, Setiap pukulan dan tendangan Aska dapat di tahan dengan mudah. Yang lebih mengesankan lagi Ki Salawi hanya menggunakan satu lengan.
Serangan terakhir jurus tendangan Maung Nojer di lontarkan Aska. Ki Salawi mundur beberapa langkah guna menghindari serangan tersebut dan menjaga jarak.
"Lumayan kemampuan cucuku setingkat sama si Asep. Walaupun si Asep hidupnya tidak benar, tapi dia mengajarinya dengan penuh tanggung jawab," batin Ki Salawi sembari melangkah mundur.
Sewaktu Ki Salawi melangkah mundur, Aska melemparkar Jurus Jeblag ke arahnya dengan cepat. Namun dengan mudah jurus Jeblag Aska dihindarinya.
"Kakek sangat hebat. Setiap seranganku terbaca, setiap kali melancarkan serangan Kakek sudah menghindar duluan. Ditambah lagi menahan seranganku dengan begitu tenang. Langkahnya hanya sedikit dan terlihat lambat, tapi sulit melancarkan serangan," batin Aska.
Tanpa banyak berpikir Aska menerjang ke depan dengan cepat dan menyerang Ki Salawi menggunakan Jurus Tapak Sakti. Serangan tersebut mengenai telak di perut Ki Salawi. Namun, Ki Salawi tidak bergeming sama sekali bahkan debupun tidak tertiup, hanya diam dengan kedua lengan di belakang.
"Apa ini? Tenaga dalam yang aku keluarkan di telapak tangan seperti hilang terbawa angin. Bahkan pukulanku tidak membuatnya bergeser sedikitpun," batin Aska terkejut.
"Cukup sampai di sini," ucap Ki Salawi.
Aska langsung menarik tangannya dari perut Ki Salawi.
"Mohon maaf Kek saya tidak sopan," ucap Aska.
"Tidak apa-apa. Kemampuanmu bagus. Besok kita mulai latihan," ucap Ki Salawi.
"Baik Kek," ucap Aska memberi hormat.