Pendekar Nusantara

Pendekar Nusantara
Aran Bergerak IV



"Mati kau!"


Ular itu membuka mulutnya yang lebar untuk memakan Kepala Sekolah.


Merasa ini adalah akhir hayatnya, Kepala Sekolah tanpa rasa takut terus menatap mulut ular tersebut.


Ketika jaraknya sudah sangat dekat, Aran muncul di atas kepala ular itu dan meninju mulut ular yang terbuka lebar dari atas.


Buaakkkk!


Dihantam dengan sangat keras dari atas membuat mulut ular itu langsung tertutup rapat.


"Arrrrr"


Ular itu mengeram kesakitan ketika semua giginya saling beradu, bahkan sebagian lidahnya terputus karena terjepit oleh giginya. Karena merasakan sakit yang teramat sangat, ular itu merubah wujudnya kembali menjadi manusia.


"Kauuuu!"


Teriak ular itu sambil menatap marah kepada Aran.


"Kau apa hah! Dasar ular terkutuk. Berani sekali kau ingin memakan manusia"


Aran berkata sambil berdiri dengan tenang tanpa rasa takut.


"Hati-hati Tuan Muda, siluman itu sangat kuat"


Kata Kepala Sekolah dengan suara yang sangat lemah.


"Tenang saja Pak Tua, bagiku siluman dihadapanku ini tidak lebih dari cacing tanah yang bisa aku bunuh dengan mudah"


Jawab Aran yang membuat Kepala Sekolah sedikit kaget. Ia tidak menyangka akan bertemu seorang pemuda yang begitu sombong dan berani seperti ini. Dia sangat yakin bahwa pemuda dihadapannya ini tidaklah lebih kuat dari dirinya.


"Manusia sombong, bajingann!. Aku pastikan akan menyiksamu sebelum kamu mati"


Dengan penuh amarah, siluman ular itu berjalan mendekati Aran.


"Benarkah ucapanmu wahai siluman nenek tua"


Mendengar jawaban dari manusia yang begitu merendahkannya membuat emosi siluman itu meledak.


"Keparatt! Mati kau"


Dengan gerakan cepatnya ular itu bergerak menyerang Aran.


Bang!


Pukulan ular itu dapat ditangkis oleh Aran, tapi hal ini malah menyebabkannya terlempar jauh.


"Hahahaha, dasar manusia sombong. Aku kira kau itu begitu kuat, ternyata kau itu sangat lemah"


Siluman itu begitu bangga dengan kemampuannya yang dapat menyingkirkan orang yang mengganggunya.


Xiao Ling dan Xiao Jun yang berada di tempat persembunyian hanya bisa saling pandang.


'Apakah Senior Asura benar-benar kalah'.


Batin Xiao bersaudara.


"Sekarang tinggal kita berdua"


Ular itu kembali merubah wujudnya menjadi ular yang sangat besar. Tanpa menunda waktu, ia membuka mulutnya dengan sangat lebar.


Melihat penampakan ular itu, wajah Kepala Sekolah tetap sama seperti sebelumnya. Ia hanya bisa pasrah dengan kematian yang akan terjadi ini.


Sesaat ketika mulut ular itu akan melahap Kepala Sekolah, saat itu juga ia merasa ada yang menarik ekornya dengan sangat keras.


"Uaaarrrgghh"


Ular itu terlempar jauh ke langit.


Kepala Sekolah, Xiao Ling dan Xiao Jun sampai bengong melihat ular sebesar itu terbang ke langit.


Lalu dengan cepatnya, ular itu jatuh ke tanah dan menimbulkan bunyi yang sangat keras.


Bommm.


Tanah sampai berguncang hebat akibat ular itu jatuh ke tanah.


Kemudian dari kedalaman hutan keluarlah sesosok makhluk bersayap dengan mata merah dan rambut berwarna putih. Zirahnya yang berwarna merah menyala membuat mereka yang memandangnya menjadi sangat takjub.


"Cacing kecil sepertimu berani sekali melawanku"


Kata Aran kepada ular yang kini sudah kembali merubah wujudnya menjadi manusia dan terlihat sangat marah.


"Apakah kau pemuda bertopeng tadi, bagaimana mungkin kamu memiliki kekuatan sebesar ini"


Siluman ular itu terus menatap Aran dengan perasaan bingung. Ia merasakan adanya darah iblis dari manusia dihadapannya ini.


Kini Aran hanya menggunakan segel garuda level 3 miliknya. Segel 3 miliknya ini berbeda dari sebelumnya, kini tubuh Aran sangatlah kuat. Apalagi ia kini berada di level Raja puncak, Aran merasa tidak perlu menggunakan kekuatan penuhnya untuk menghadapi siluman dihadapannya ini.


"Cepat berlutut padaku atau mati"


Kata Aran dengan aura yang sangat menindas.


'Apa ini, kenapa aku merasakan aura yang begitu menakutkan dari tubuh manusia ini'


Siluman ini benar-benar merasakan aura yang begitu menakutkan dari manusia dihadapannya ini. Ia merasa, bahwa aura ini sangatlah familiar dengan aura atasannya.


"Kau pikir aku takut padamu, pasti kamu menggunakan benda khusus yang dapat meningkatkan kekuatanmu dalam waktu singkat"


Teriak siluman itu menutupi ketakutannya.


"Baguslah jika kau berpikir seperti itu, kenapa kamu tidak maju dan mencobanya"


Kata Aran menjawab perkataan siluman ular.


Ular itu lalu membuka mulutnya dan keluarlah bola berwarna hijau yang memiliki ukuran cukup besar.


"Puhh"


Bola racun berwarna hijau itu segera lepas dari mulutnya dan dengan cepat menuju ke tempat Aran berdiri.


Aran hanya mengarahkan telapak tangannya ke arah zat asam tersebut.


'Sepertinya ini saatnya aku menggunakan ilmu ini'


Batin Aran.


"Ilmu Menggeser Semesta"


Bang!


Zat racun itu seperti terkena dorongan yang sangat keras sehingga membuatnya kembali berbalik arah menuju siluman ular.


"Appaa!"


Ular itu begitu kaget melihat ilmunya bergerak menuju dirinya dengan sangat cepat. Tanpa sempat menghindar, bola racun itu sudah membungkus tubuhnya.


"Arrrghhhh"


Siluman itu menjerit dengan sangat kencang, karena racun korosi ini seperti asam yang melarutkan tubuhnya. Perlahan-lahan tubuhnya meleleh disertai jeritan yang sangat memilukan.


Setelah melihat siluman itu larut menjadi cairan asam yang sangat berbau. Aran kembali merubah wujudnya menjadi manusia bertopeng.


"Payah, aku fikir siluman itu sangat hebat. Ternyata ia begitu lemah, tau begini untuk apa aku membuka segelku"


Gumam Aran pelan.


Perkataan Aran yang pelan ini tentu saja didengar oleh Kepala Sekolah. Ia hampir memuntahkan darahnya mendengar perkataan Aran ini. Ia yang sudah hidup selama ini saja berhasil dikalahkan siluman itu. Tapi kini pemuda yang terlihat sangatlah muda dapat mengalahkan siluman itu. Bagaimana hatinya tidak sakit melihat kenyataan ini.


"Tuan Tua, apa kamu baik-baik saja"


Tanya Aran kepada Kepala Sekolah.


"Ah, saya baik-baik saja Tuan Muda. Tapi sejujurnya saya sudah tidak punya energy untuk berdiri"


Jawab Kepala Sekolah.


"Huh, baik-baik saja dari mana. Aku dapat melihat seluruh tulang punggung kamu patah, hal ini dapat menyebabkan dirimu lumpuh"


Kata Aran yang sudah memindai tubuh Kepala Sekolah menggunakan Mata Surgawinya.


"Hahaha"


Kepala Sekolah tertawa pelan.


"Sepertinya aku tidak bisa menyembunyikannya darimu Tuan Muda"


Tidak lama Kepala Sekolah terbatuk-batuk karena kini ada beberapa tulang yang sudah menyentuh paru-parunya.


Aran yang melihat tubuh lemah Kepala Sekolah menjadi merasa bersalah. Seandainya ia membantu Kepala Sekolah lebih cepat, hal ini pasti tidak akan terjadi.


"Aku akan menyembuhkanmu"


Kata Aran yang membuat Kepala Sekolah kaget.


"Benarkah? Apa kamu juga seorang tabib"


"Sudah kamu tidak usah banyak omong"


Jawab Aran yang langsung menggendong tubuh Kepala Sekolah.


"Heiii, tunggu! Apa yang kamu lakukan"


Teriak Kepala Sekolah yang begitu malu bahwa tubuhnya digendong oleh seorang anak muda.


Tanpa memperdulikan ocehannya, Aran bergerak cepat membawa tubuh Kepala Sekolah ke tempat Xiao Ling dan Xiao Jun berada. Ia dengan perlahan meletakkan Kepala Sekolah di sandaran pohon.


"Ah, kalian! Bagaiman bisa kalian berada di sini"


Kata Kepala Sekolah yang begitu kaget melihat dua anak muda yang sangat ia kenal.


"Kami berdua telah diselamatkan oleh Senior Asura dan kami juga meminta bantuannya untuk menyelamatkan Master Xiao"


Jawab Xiao Jun.


'Jadi nama Tuan Muda ini Asura'


Kepala Sekolah hanya bisa diam mendengar ini semua. Ia tidak menyangka bahwa kedua anak muda ini begitu peduli dengan dirinya dan Master Xiao. Kepala Sekolah juga menatap kagum kepada Asura. Ia juga tidak menyangka bahwa pemuda bertopeng ini begitu hebat.


"Kalau begitu, aku mewakili Akademi Bimasakti mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada Tuan Muda Asura"


Kepala Sekolah mencoba memberikan hormatnya kepada Aran, meski tubuhnya terasa sangat sakit.


"Kalian semua tidak perlu banyak bicara, terutama kamu yang sedang terluka"


Kata Aran yang kembali menggendong Kepala Sekolah.


"Hei cepat turunkan aku, ini sungguh memalukan"


Namun Aran tetap tidak peduli akan ocehan Kepala Sekolah.


"Ayo cepat ikuti aku"


Dengan gerakan cepatnya Aran meminta Xiao Ling dan Xiao Jun segera mengikutinya.