Mafia And Me

Mafia And Me
Hatiku Masih Sama!



“Kalau masalah Alea, saya yakin dia tidak akan datang ke acara pesta itu.”


“Oh, ya?” kata Evans seraya menaikan satu alisnya ke atas.


“Kenapa kau begitu yakin, hmm?”


“Saya sudah menghancurkan gaun pemberian Tuan Leo!”


Evans tersenyum miring, wajahnya menampakan kalau pria itu puas dengan kerja cepat Mika.


 “Good, Mika. Aku yakin wanita bodoh itu akan sedih melihat gaun nya hancur. Wanita lemah sepertinya mudah rapuh ketika miliknya hancur.”


Mika berikan anggukan pelan, itu membenarkan sekalipun Mika baru kali ini merasa berdosa telah melakukan hal itu pad Alea.


“Baiklah. Saya akan menyelidiki Tuan Massimo.”


“Lalu, apa pengawal itu benar menjaga Alea?”


Yang dimaksud Evans itu pastinya Bobby kan, yang selama ini Mika lihat pria itu pun terlihat menjaga Alea.


Evans masih bisa tersenyum ketika melihat banyaknya orang di dalam mansion yang berkhianat.


“Maksud anda, Bobby?”


Evans berikan anggukan pelan. “Apa saya harus melenyapkannya malam ini juga?”


Evans diam, namun sekian detiknya memberikan isyarat.


 “Tidak. Biarkanlah dia hidup karena ku ingin tau bagaimana orang-orang berkhianat.


“Kita hanya perlu melihat satu persatu musuh dalam selimut itu keluar, setelah itu kita habisi mereka!”


“Siap, Tuan!” jawab Mika seraya berikan anggukan patuh.


“Saya sudah memberitahukan pada semua pengawal kalau anda akan pergi setelah makan mala mini.”


Evans mengangguk, itu adalah bagian dari rencananya.


“Firasat saya kali ini wanita itu akan marah besar dengan kecemburuannya.


“Apa lagi ketika peliharan anda tau Alea mendapatkan undangan resmi dari saudara anda.


“Saya yakin mereka iri dan tidak akan begitu saja membiarkan Alea untuk datang ke acara tersebut dan bisa jadi juga bukan bila mereka menyingkirkan Alea.”


Evas mengelus dagunya dengan seringaian devilnya.


“Ini kesempatan yang aku tunggu-tunggu, Mika. Mengeksekusi mereka dan permain. SELESAI!”


“Aku sangat yakin permainan ini akan semakin panas dan membuat orang itulah semakin menunjukan jati dirinya yang sebenarnya.”


Mika berikan anggukan, membenarkan. “


Ah. Satu hal lagi.”


Mika masih setia berdiri. “Jangan pernah kau mengatakan hal yang tidak maksud diakal Mika.


“Aku tidak suka mendengarkannya. Cinta bagiku itu hanya omong kosong yang akan membuat orang tunduk dan juga lemah.


“Aku tidak seperti itu, hatiku masih sama dingin dan beku akan apa namanya, cinta!”


"Ck! Love is bullshit."


Evans pandangi Mika. “Tidak ada sedikitpun yang istimewa dari diri wanita bodoh itu, bahkan aku sangat membencinya karena wanita bodoh itu yang punya sikap lemah.


“Kau harus ingat itu!” tegas Evans dengan tatapan tajam.


Perkataan ini tidak bisa dibantah lagi.


“Saya harap begitu, Tuan—”


Mika menjeda sejenak. Pandangi Evans, sekalipun pria itu berkata hal yang lain.


Tetapi kenapa hatinya seolah berkata lain. Evans masih menutupi isi hatinya yang sebenarnya.


“Siapapun nanti yang akan menjadi pendamping anda.


 “Saya akan setia mengabdi padanya sampai mati. Saya, permisi,” ucap Mika seraya menunduk hormat dan berlalu pergi meninggalkan Evans.


Pria itu kembali duduk dan diam di dalam ruangan kerjanya setelah Mika benar-benar menghilang dari balik pintu.


Evans bergumam di dalam hatinya. “Malaikat dan iblis itu tidak akan bisa hidup saing berdamping.”


“Alea…..” gumamnya di dalam hati.


Pria itu seolah mengabaikan apapun yang bergejolak di dalam hatinya walau hanya menggumamkan nama wanita bodoh itu.


“Sial! Persetan semua dengan cinta. Aku harus menyingkirkan wanita itu untuk selamanya!


“Ya, itu harus kalau perlu Mika harus membunuh Alea di tempat yang jauh dan membuangnya jauh dari Napoli!” guman Evans dalam hati.


Entah apa yang membuat Evans kini berada di sebuah kamar ini. Tetapi, kedua kakinyalah yang kini membawanya masuk kedalam ruangan kecil tersebut.


“Ck! Leo pasti akan kecewa kalau dia melihat sendiri bagaimana gaun hitam ini hancur menjadi serpihan menyedihkan seperti ini!”


Evans mengambil serpihan gaun yang berada di dalam kotak hitam dimana Mika menghancurkannya.


Evans nampak begitu senang bila melihat wanita bodoh itu menangis, bila nanti melihat hal ini.


“Seharusnya kau tidak usah repot menyiapkan gaun ini untuk pelayanku, Leo.


“Dia hanya seorang pelayan yang tidak ada pentingnya sama sekali bagiku.


“Nggak ada gunanya kau mengundang pelayanku ke pesta mu hanya untuk meyakinkan asumsi sampah mu itu,” decak Evans seraya berdiri tegak.


Sejenak, sebelum dia benar-benar keluar dari dalam kamar Alea. Evans mengamati kamar Alea dalam diam. Kedua matanya tertuju pada bingkai foto yang tersimpan di meja riasnya.


Evans berjalan mendekat, diambilnya satu bingkai foto tersebut lalu mengamati.


Foto Alea bersama dengan teman-teman dekatnya. Satu lagi, foto Alea dengan wanita senja yang tak lain adalah ibu Alea yang terlihat sama cantiknya. Satu lagi—


Kedua mata Evans langsung menatapnya dengan tajam di mana seorang pria merangkul hangat wanita senja bersama dengan Alea.


Evans mengambil satu foto Alea yang tersenyum cantik.


 “Sepertinya impianmu bertemu dengan mereka harus terkubur setelah aku tidak membutuhkanmu. Kau akan hanya ada nama saja, Alea Anjanie!”


Evans melirik ke samping di mana kedua matanya menangkap buku jurnal yang begitu tebal. Diambilnya buku tersebut, bola mata Evans terbelalak dengan isi di dalamnya.


Lembar demi lembar, Evans membuka buku tersebut dengan kernyitan bingung dan juga tidak percaya.


“Sebenarnya siapa wanita bodoh ini?” batin Evans.


Tak ingin pemilik kamar memergokinya, Evans pun memutuskan untuk pergi dari dalam kamar Alea seraya membawa buku jurnal tebal tersebut.


Kesunyian di mansin malam ini terbilang di sengaja, semua para pengawal pun sudah diminta untuk mundur sementara Mika di seberang sana sudah mengawasi gerak gerik target melalui cctv.


Getaran ponselnya membuat Evans menghentikan langkahnya menuju ruang pribadinya. Pria itu pun meraih lalu menempelkannya di telinga.


“Ya, ada apa? Apa ada hal yang mencurigakan?”


“Belum ada, Tuan. Hanya saja masih ada orang yang berada di dapur di jam malam seperti ini!”


“Oh ya?” seru Evans.


Mika di seberang sana pun berikan anggukan sekalipun tuannya tidak melihatnya.


“Baiklah, aku akan memeriksanya. Kau tetap awasi saja keadaan sekitarnya.”


“Baik, Tuan!”


“Oh ya Mika, aku lupa menanyakan sesuatu padamu. Apa dokter Gaby belum datang untuk kunjungan rutin?


“Sepertinya para peliharaan belum mendapatkan suntikan, bukannya seharusnya rutin bukan?”


“Dokter Gebby sedang ada di Korea, Tuan. Kemungkinan akan kembali minggu depan dan akan datang langsung ke mansion anda, sebaiknya Tuan tidak menyentuh mereka dulu untuk berjaga-jaga.”


“Ah...sayang sekali kalau begitu. It’s oke. Besok pagi kau siapkan private jat kita akan pergi ke Paris dan kembali setelah selesai urusan kita di sana dan menghadiri acara pesta Leo.”


“Baik Tuan.”


Evans langsung mematikan sambungan teleponnya tepat bersamaan kedua kakinya sudah berada di area dapur.


Pria itu melintas ruangan dapur yang begitu luas dan gelap.


Namun, ketika tidak menemukan apapun di sana, satu kaki Evans mendadak berhenti ketika mendengarkan suara tawa seseorang.


Evans menyibakan sedikit tirai, di mana ada dua orang yang bersembunyi di sana. Bola mata Evans menatap tajam di mana wanita bodoh itu tengah berdansa bersama dengan Bryan.


Tanpa sadar, tangannya mencengkeram erat tirai yang tengah dipegangingnya.


Lalu apa yang sebenarnya terjadi?