Mafia And Me

Mafia And Me
Kecurigaan Alea!



Nyatanya salah, tubuhnya bergetar hebat walau hanya menjaga semangkuk sup di tangannya agar tidak terjatuh ke lantai ketika menghidangkanya pada Evans tanpa menatap pria itu sama sekali.


Prank!


Mangkuk itu benar-benar lepas dari pegangannya hingga pecah dan berserakan di lantai. Kedua tangan Alea bergetar hebat.


Seketika, bola mata Alea membulat ketika Evans tiba-tiba Evans memegangi tangannya membuat Alea membeku tidak bergerak.


Alea menundukan kepalanya dengan tubuh yang bergemetaran, dia tidak berani sama sekali melihat tatapan Evans yang saat ini membuatnya merinding.


Rambut panjangnya yang tergerai ikut berayun menyembunyikan sisi wajahnya.


“Apa ini efek yang aku berikan semalam itu hmm?” ucap Evans penuh penekanan, terdengar sangat jelas di samping telinganya.


“Tidak sopan sekali memalingkan wajahmu itu dari Tuan mu sendiri, Alea.”


Alea bergetar dan diam tidak menjawab rasanya lidahnya kelu seketika.


“Akhh…”


Alea memekik, saat tangan Evans mencengkram dagu nya. Pria itu memaksanya untuk menatap manik matanya yang seketika memberikan aliran rasa dingin yang menjalar, indah namun membekukan.


Jantungnya berdegup tidak beraturan. Alea menahan napas saat Evans memandangi keseluruhan wajahnya, ibu jarinya mengelus sudut bibir. Alea langsung mengatupkannya rapat-rapat.


“Lain kali, aku akan memberikan rasa sakit yang lebih dari malam itu jika kau kembali mencampuri urusanku!”


Evans menarik dagunya dengan begitu dekat dengan wajahnya.


“Dengar dan pegang kata-kataku tadi kalau kau berani melawanku lagi. Kau akan terbangung dengan penyesalan yang amat dalam.”


Alea menangis tanpa suara saat Evans mencengkram dagunya erat. “Kau dengar?!” ucapnya tajam.


“Iyah.”


“Aww…”


Alea terhempas di lantai, Evans sedikit mendorongnya dengan pria itu mengambil botol winenya dan membawanya pergi.


Dipegangnya dadanya yang bergemuruh hebat. Alea mengusap air matanya, wajahnya menoleh ketika menyadari seorang wanita menatapnya dingin.


Siapa lagi kalau bukan Mikaeal berdiri diambang itu sebelum wanita itu menyusul tuannya keluar.


Alea mengernyit, heran.  Dia kembali menemukan keganjilan dengan keuangan perusahaan yang selama ini selalu dia monitori dari layar komputer yang tersambung ke dalam sistem perusahan.


Diam-diam dengan password milik Lucas, Alea selalu memeriksanya sendiri. Bulan pertama dengan pendapatan minim. Namun, tetapi bisa menutupi pengeluaran.


Tetapi kali ini, dia si buat heran dengan keuangan perusahan yang kembali minus.


“Sepertinya ada orang yang memakai dana perusahan lagi!”


“Astagaa…kemarin sudah membaik, kenapa kali ini seperti ini lagi? Aku yakin Lucas pasti sudah tahu semua ini, tidak mungkin pria sepintar Lucas bisa dimanipulasi data.


"Tetapi kenapa Lucas diam saja? Apa dia juga bersekongkol dengan orang itu?” tanya Alea dalam hatinya melihat heran akan apa yang baru dia periksa di layar komputernya.


“Kau nampak serius sekali Alea?” Lucas menghampiri Alea dan duduk di samping wanita itu.


“Apa kamu sudah mendapatkan laporan keuangan terbaru?”


“Sudah. Aku sudah mendapatkan laporan terbaru dari departemen keuangan ada apa?”


“Boleh aku melihatnya?”


Lucas berdiri pergi ke ruangan nya untuk membawa laporan keuangan terbaru yang baru saja dia terima. Lucas memberikan dokumen itu, dengan cepat Alea mengambilnya dan melihatnya dengan kernyitan dalam.


“Apa tuan ada di ruangan nya?”


“Tidak ada. Pria dingin itu sudah lama tidak menampakan diri di pabrik tua. Aku tidak tahu kemana pria itu pergi.”


Alea diam seraya berpikir. Sebenarnya kemana pria itu pergi?


Harusnya kan dia yang menghindar dari pria itu, bukan ini terbalik. Sudah beberapa hari ini Evans lah yang justru menghindarinya. Di mansion pun Alea jarang melihat Evans apa lagi berhadapan langsung pun kini tidak.


Meski dia beruntung tidak harus tatap muka, tetap saja ini aneh.


“Kamu tenang saja, Mika kali ini mengawasimu Alea,” ucapnya terkekeh.


Lucas menatap Alea. “Sebenarnya aku tidak jelas. Kamu ini tahanan apa apa karena wanita dingin itu pun sama tidak pernah menceritakan padaku akan siapa dirimu, Alea.”


Alea mendengus, jelas saja bertanya pada Mika sudah jelas tidak akan menemukan jawabannya.


“Ini menurut analisa sendiri ya. Melihat tuan yang sering cemas kamu kabur. Aku yakin deh, kamu ini bukan tahanan bisa melainkan tahanan cinta. Hahahaha….”


“Sialan kamu!” decak Alea.


“Sudahlah. Aku tidak mau membahas itu. Apa kamu sudah menemukan sesuatu dari masalah ini?” tanya Alea penasaran.


Alea menutup dokumen yang baru saja Lucas berikan kepadanya. Alea duduk saling berhadapan dan menatap pria itu dengan lekat.


“Aku tahu sebenarnya kamu tidak bodoh. Aku tahu sebenarnya kamu sudah tahu dalang di balik semua ini siapa.


"Hanya saja aku heran padamu. Di saat nyawamu jadi taruhannya, kamu masih diam saja dan menutupinya. Entah kamu ikut khianat pula pada tuanmu itu entah kamu bersekongkol dengan mereka juga?”


Lucas diam. “Ah. Apa kamu sedang diancam oleh mereka hingga selama ini kamu hanya bisa diam diperlakukan seperti ini, hah?”


Lucas terperangah. “Astaga, kelicikan tuan bukan sudah menempel lagi. Tapi pikiran tuan dan juga kecurigaan tuanmu sudah menular padamu!” seru Lucas.


“Jawab saja!”


“Kenapa kamu bisa berkata seperti itu padaku, Alea?”


“Ya, aku yakin kamu tahu masalah ini.”


“Tapi aku tidak mungkin berkhianat pada tuan ku sendiri. Selama ini dia sudah mempercayaiku.”


"Aku sama seperti Mika. Aku tidak mungkin berkhianat pada tuan ku sendiri. Aku lebih takut ancaman Evans Colliettie dari pada tikus itu Alea!”


Alea menghela nafas dalam. “Lalu kenapa kamu diam saja, bahkan laporan keuangan ini benar-benar mencurigakan. Apa kamu tidak tahu Lucas?


“Kamu diam saja pabrik ini terus digerogoti tikus besar itu? Kamu terlihat tenang dan begitu santai padalah tiga bulan yang diminta Tuan mu itu sebentar lagi. Apa kamu sedang diancam oleh seseorang Lucas?” tanya Alea kembali menatap.


“Apa pertanyaanku benar begitu?”


“Tidak!” sela Lucas cepat.


“Aku tidak sedang diancam, hanya saja aku tidak tahu siapa yang sudah berhianat di pabrik ini.”


“Lucas, jika kamu sedang ada masalah aku siap mendengarkannya dan mungkin aku bisa membantumu.”


Lucas memalingkan wajahnya dan berbalik pergi meninggalkan Alea di ruangan nya, sepertinya Lucas benar-benar meremehkan wanita seperti Alea.


Alea menghela napas panjang menatap punggung Lucas yang kembali masuk ke dalam ruangan nya. Tak ingin diam seperti Lucas, Alea pun kembali memeriksa dokumen itu dengan mengumpulkan barang bukti, memfoto semua dokumen dengan kameranya yang diminta pada Lucas waktu itu.


Berbicara tanpa ada barang bukti itu sangat mustahil, meski dia masih enggan bertemu kembali dengan Evans untuk mengatakan ini semua.


“Kita makan siang bersama Alea,” ujar seorang wanita yang berdiri di depan memandangnya.


Wanita yang sudah lama bungkam dan hanya menatap dirinya tajam kali ini wanita itu mengajaknya untuk makan siang bersama, yang tidak lain Mika yang mengajaknya untuk makan siang.


“Aku sudah membawa bekal makan siang, Mika. Kamu sebaiknya ajak Lucas saja,” ujar Alea, kembali menatap layar komputernya.


“Kamu ada hubungan dengan Bryan?” tanya Mika penasaran.


Alea menghela nafas sejenak kembali memandangi Mika di depannya. “Tidak. Aku tidak ada hubungan dengan Bryan, kenapa?” tanya Alea.


“Aku lihat kamu semakin dekat saja dengannya, bahkan Bryan begitu sangat perhatian kepadamu.”


Alea sudah tahu sifat Mika selama ini, wanita itu selalu berubah-ubah sikap, contohnya saja seperti sekarang. Sikap Mika yang terlihat begitu peduli kepadanya. “Apa Tuan ada di ruangan nya?”


“Tidak ada. Tuan sedang berada di suatu tempat dan tidak akan kemari. Ada apa kamu menanyakannya? Apa kamu merindukan nya?”


Alea mendengus jengah dan pandangi Mika. Boro-boro dia merindukan Evans Colliettie yang ada Alea takut bertemu dengan Evans kembali. Jika tidak ada urusan yang mendesak seperti sekarang ini Alea enggan untuk bertemu Evans.


Bibir Alea mengerucut menatap Mika dengan pandangan kosong. Ingin sekali dia bercerita pada Mika akan kegusaran perihal Lucas. Tetapi, mengingat dua orang itu, Alea kembali mengurungkan niatnya.


“Kamu melamun apa?”


“Hmm?” Alea menggeleng, Mika selangkah maju mendekat.


“Apa kau memikirkan, Tuanmu?”