Mafia And Me

Mafia And Me
Pelayan Pribadi!



“Aku akan sangat senang bila mendengarkan ceritamu nona cantik ini.


“Kenapa kamu sampai bisa terdampar di The Black Rose kingdom ini, Menjadi seorang pelayan pria berhati dingin dan tak punya belas kasih yang ditakuti seantero Italia?!”


Alea diam tidak menjawab, tetapi Evanslah menatap Leo tak kalah tajam karena saudaranya itu terlalu ikut campur dalam masalahnya.


“Kau bisa mengarang cerita dengan versimu sendiri, Leo!”


Leo berdecak saat Evans kini mulai mengacuhkanmu, tatapan tajam itu kini kembali menatap wanita itu yang Leo yakin ada sesuatu antara saudaranya dan juga wanita bermata cantik itu.


“Berikan aku segelas air putih!” titahnya.


“Baik Tuan.”


Alea langsung menuangkan air putih pada gelas Evans yang kosong. Seperti biasa segelas air putih yang berada di depannya pun, pria itu malas untuk menuangkan sendiri.


Alea mundur dan kembali menyelesaikan dua cangkir kopi hitam. “Tunggu sebentar ya, Tuan.”


“Tentu saja Alea. Kami akan menunggu kopi buatanmu. Aku penasaran dengan kopi buatan wanita asia sepertimu. Apakah masih sesuai dengan selera kami atau tidak?!” ujar Tuan Gabriel.


“Yang saya tahu dari Indonesia, kebanyakan orang disana mempunyai mata hitam atau coklat, tetapi melihatmu. Aku merasa terkejut jika nona cantik sepertimu lahir di Indonesia.”


Alea menjawab dengan senyuman, wanita itu meletakan satu cangkir kopi hitam pada Tuan Leo dan juga Tuan Gabriel di depan mejanya.


“Silahkan Tuan kopinya, semoga rasanya bisa sesuai dengan selera anda.”


 “Terima kasih Alea.”


 “Sama-sama Tuan.”


Alea menoleh ke samping dimana Evans mengangkat gelas wine kosong. Paham kode itu, Alea pun mendekat dan menuangkan wine ke dalam gelas tinggi tersebut.


“Kini Berta tidak bertanggung jawab lagi untuk melayani Tuan Evans seperti biasanya, Tuan,” ucap Bryan di sampingnya.


“Berta sudah digantikan oleh Alea yang kini menjadi pelayan pribadi Tuan Evans,” sambungnya.


Namun perkataan Bryan ini seolah pengumuman pada saudara tuannya. Jelas bukan kalau Evans pastinya akan sangat kesal bila dia terlalu banyak bicara.


Alea memberi kode agar Bryan tidak banyak bicara, kenapa juga pria itu harus memberitahukan hal itu segala pada tamunya Evans.


Apa pria itu sudah tidak sayang nyawa, berkata seperti itu yang akan membuat sang devil marah dan membunuhnya?


“Pelayan pribadi?” Untuk kesekian kalinya, Leo terkejut mendengarkannya.


“Benarkah itu saudaraku? Tadinya aku pikir dia hanya pelayan biasa. Ternyata dia—“


Alea menunduk saat Leo menunjuk. “Pelayan pribadimu?” Leo tertawa, lagi.


“Benar-benar untuk melayani dirimu sendiri?” tanya Leo pandangi saudaranya. Pria muda itu masih belum percaya.


Evans mendengus kesal. “Kau terlalu banyak bicara Bryan, pergilah!!” desis Evans. Dia tidak suka dengan pelayan yang suka ikut campur urusannya.


“Baik Tuan, saya permisi undur diri. Silahkan kalian menikmati sarapan nya dan aku akan datang kembali untuk membawakan pencuci mulut.”


 “Sungguh kejutan yang tak terduga kunjungan kali ini, Evans,” ucap Gabriel terkejut.


Terkejut karena kini keponakannya banyak berubah.


“Tenaga muda lebih kuat dan bisa diandalkan bukan? Untuk melakukan regenerasi bukan suatu yang harus dianggap luar biasa.”


 “Tentu saja itu hal bisa, tapi—“


Leo berhenti sejenak melirik Alea.  “Kau bukan orang yang terbiasa melakukan itu dude.


"Kami akan terkejut bila mendengarkan alasanmu yang sebenarnya. Ceritakanlah pada kami,” ujar Leo, masih membujuk mafia kejam itu untuk bercerita meski itu terdengar mustahil.


 Alea tentu tidak heran dengan perkataan Evans barusan. Dia di sini memang hanya dimanfaatkan saja oleh mafia itu, bila tidak dimanfaatkan Alea hanya sebagai umpan musuh-musuhnya.


Jadi, jika orang-orang khususnya para wanita peliharaan itu menganggap dirinya menjerat pria dingin seperti Evans Colliettie itu salah. Tidak ada niat sedikitpun di balik semua ini.


Salah besar dan juga sungguh keliru pada orang-orang yang berpikir seperti itu, kedatangannya di sini tidak akan merebut hati siapapun.


 Alea tegaskan kalau dia tidak punya rasa sedikit pun pada Evans Colliettie meski devil itu begitu rupawan.


 “Masuk akal juga...” ucap  Gabriel.


“Jawabanmu tidak cukup memuaskanku, Dude,” sela Leo, kecewa.


 “Persetan dengan kalian berdua!!!” desis Evans.


Evans mengangkat gelas winenya kembali. “Aku punya yang aku butuhkan di sini.” Dihabiskannya wine itu dalam sekali teguk.


 Alea bergerak mendekat dan menuangkannya kembali. Evans sudah terbiasa menyantap sarapan paginya dengan wine dan tidak itu saja, menurut Alea pria itu terlihat menggila minuman dan beresiko tinggi bila dikonsumsi setiap hari.


Tapi, meski begitu. Stok wine tidak akan pernah ada habisnya sekalipun Evans sering meminumnya karena dia punya ruangan sendiri yang cukup besar didalam mansion.


Kurang dengan itu, pria itu dengan mudah memerintahkan Mika untuk meminta anggur paling terbaik karena Evans punya salah satu pabrik wine ternama di Prancis.


Alea berdiri di belakang Evans, memandangi secangkir kopi yang sedang kedua pria itu menyeruputnya. Mendadak, Alea cemas takut tidak sesuai dengan selera mereka.


Alea meremas tanganya dengan melihat ekspresi kedua pria itu yang terlihat kompak menaikan sebelah aslinya dan meletakan cangkir itu kembali di meja.


“Welll. Ini sungguh sempurna rasanya.”


Leo mengacungkan jempolnya disertai senyuman lembut. Alea jadi heran dengan Tuan Leo saudaranya yang begitu terlihat ramah seperti mereka, kenapa Evans bisa begitu berbeda?


“Kopi ini sempurna, aku menyukainya Alea. Terima kasih banyak.”


Alea tersenyum senang, “Sama-sama Tuan, semoga kalian menikmatinya.”


“Tentu.”


“Kalian terlalu berlebihan, banyak orang yang bisa membuat kopi,” ujar Evans meremehkan pelayan pribadinya yang sejak tadi terus dibela.


“Tentu. Semua orang bisa membuatnya tetapi jarang yang rasanya sesuai dengan keinginan kami berdua. Lebih baik kau cicipi sendiri, bukanya kau pun suka kopi,” ujar Gerbil.


“Kau pasti akan menyukainya, Evans. Rasanya sempurna.”


 “Ck…sayang aku tidak tertarik untuk mencicipinya.”


Alea terdiam di samping troli, menundukan kepalanya memandangi kakinya sendiri sementara ketiga pria itu membuka obrolan serius dengan Bahasa Italia dan kabar baiknya Alea paham maksud kedatangan kedua saudara dari Jerman itu.


Tak lama Bryan datang kembali, pria itu membawa cuci mulut yang sudah di katakana tadi pada tamu spesialnya.


“Silahkan di coba Tuan, ini brownies yang dibuat Alea semalam. Semoga rasanya tidak mengecewakan Tuan,” ujar Bryan membuat kedua pria itu terkejut.


“Kamu bisa membuat kue Alea?” tanya Leo.


Alea tersenyum malu. Sialnya Bryan yang menyebalkan itu tidak berbicara lebih dulu kalau brownies buatan semalam akan dihidangkan pada tamu.


Alea takut kue buatannya itu tidak pas di lidah mereka sekalipun kue tersebut begitu terkenal di negaranya.


“Sedikit Tuan.”


“Hmm… ini lezat, pas dengan kopi. Sungguh luar bisa hidangan istimewa ini pagi ini,” ujar Leo.


Sementara Evans hanya menatap Alea tidak suka, pria itu pun sama sekali tidak memakan kue buatan Alea. Jangankan di makan, di lirik saja tidak.


Evans diam sama sekali tidak menoleh apa lagi memakan brownies buatan Alea. Mustahil pria itu mau memakan apa yang dia buat.