
“Aku pikir kamu tidak bisa berdansa, Alea. Ternyata aku salah. Aku terlalu meremehkanmu. Kamu pandai juga berdansa.”
Bryan membawa Alea untuk berputra, berdansa bersama. Bryan pun membawa tubuh kecil itu kedalam pelukan yang diiringi senyuman lebar.
“Belajar di mana berdansa sebagus ini, hmm?”
Alea tertawa pelan, dia pun ikut bergerak menjauh lalu kembali berputar dan tak lama kembali jatuh ke dalam pelukan Bryan.
“Aku punya teman yang pandai menarik berbagai jenis tarian. Teman baikku itu mengajariku banyak tarian sekalipun ya wanita itu berprofesi sebagai wanita malam.”
“Benarkah?”
Alea berikan anggukan pelan, itu adalah benar. “Kenapa bisa wanita malam paham dengan banyak tarian? Bukannya wanita seperti itu hanya tahunya bagaimana menghangatkan ranjang partnernya?”
Alea menggendikan bahu, tidak tahu. Alea kembali mundur dan maju mendekat dengan lengan berada di leher Bryan.
“Kamu rupanya punya banyak bakat, Alea. Aku tidak salah bukan memilih wanita sepandai kamu. Sungguh luar biasa.”
Alea mencebikkan bibirnya. “Kamu berlebihan Bryan. Aku tidak sepandai itu.”
Di sisi lain Evans tidak sekalipun beralih menatap wajah Alea yang bisa tertawa lepas bahkan bisa tersenyum lebar.
Bryan menarik napas pelan lalu tersenyum menatap Alea. “Syukurlah kalau hal ini membuat mood mu kembali baik, Alea. Apa kamu tahu, hmm?”
Bola mata Alea mendelik, Bryan menariknya hingga tubuh mereka sangat dekat. “Aku tidak suka kamu menangis. Aku tidak mau kamu bersedih karena gaunmu hancur. Tuan Leo, pasti akan paham kok, sekalipun kamu tidak datang ke pestanya.”
Alea menatap Bryan dengan helaan napas pelan. “Bila nanti Tuan Leo datang berkunjung kemari, kamu bisa menjelaskannya kenapa kamu tidak datang.”
Alea berikan anggukan pelan, Bryan benar. Tidak harus dia bersedih kelewat lebay. Belum saatnya, dia merasakan kebahagian di neraka Evans Colliettie ini sekalipun statusnya hanya seorang pelayan.
“Aku hanya merasa berdosa saja Bryan, seumur hidupku. Aku tidak pernah melihat gaun secantik dan semahal yang Tuan Leo berikan. Aku kecewa pada diriku sendiri yang ceroboh.”
“Kamu tidak sedih lagi sekarang kan, kalau kamu tidak datang ke acara itu?”
Alea berikan gelengan, tidak yang diiringi senyuman hangat untuk Bryan.
“Tidak, mungkin Tuhan belum mengizinkan aku merasakan hingar binger suasana pesta mewah. Aku ingin datang kesana hanya ingin bersenang-senang saja melupakan kejadian demi kejadian yang menakutkan selama ini.”
“Kamu belum mendapatkan gaun semahal itu?”
Alea menyipitkan kedua matanya. “Hai, aku orang miskin tidak sekaya yang kamu bayangkan, Bryan.”
“Namun, gaun secantik apapun dan semewah apapun itu tidak akan cocok dipakai wanita miskin untuk menjadi ratu semalam bukan?”
Deg!
Hatinya terasa sakit begitu saja, padahal semua itu adalah kata-katanya. raut wajah sedih itu seperti mencabuknya.
Bryan memeluk Alea sejenak. “Ssstt…. Jangan menyalahkan diri sendiri. Semua ini bukan salahmu, Alea.”
Gerakan terakhir keduanya, di mana Bryan menahan erat pinggang Alea dengan keduanya saling bersitatap yang diiringi senyuman lebar, kenapa membuat dadanya mendidih.
Di dalam kesunyian itu, Evans masih bergeming di tempatnya. Pria itu sama sekali tidak bergerak bahkan tidak bisa merasakan nafasnya sendiri. Seperti ada sesuatu yang menahan kakinya untuk berbalik apa lagi memalingkan kepalanya, itu tidak bisa.
Sebenarnya Evans, tidak peduli dengan hubungan kedua orang itu. Tapi, lagi lagi kenapa perasaan mendadak aneh dan ingin sekali dia membunuh seseorang.
“Aku lebih suka melihatmu tersenyum, Alea. Maka tersenyumlah selalu seperti ini.
“Aku seperti melihat harapan di mata seorang malaikat,” ucap Bryan memajukan kepalanya untuk mencium kening Alea yang tidak bergerak sama sekali di depanya.
Evans memejamkan matanya. Giginya bergemeretak penuh amarah, sekuat tenaga pria itu berpaling dan pergi.
Entah kenapa hanya seorang chef dan pelayan yang tengah mengecup kening pun sudah membuat hatinya tersulut amarah.
Lalu apa jadinya bila keduanya saling bertukar saliva?
Evans membuka kedua matanya, dan kini hanya kegelapan yang dia lihat. Pria yang tak takut dengan kematian itu menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskan perlahan dengan dada yang bergemuruh.
Tak hanya itu, ketika kedua kakinya kini terhenti di sebuah pilar, satu tangannya terkepal erat dan menunjukan tepat di dinding kokoh untuk melampiaskan amarahnya.
Setelah jejak darah yang pria itu dapatkan, Evans pun meraih ponselnya kembali lalu menghubungi seseorang.
“Mika,” seru Evans di panggilan telepon.
“Ya, Tuan.”
“Baik, Tuan,” jawab Mika cepat, dia tidak mau berdebat lagi dengan tuannya.
Evans pun mengakhiri panggilan tersebut sementara Mika di seberang sana tersenyum lebar. Setidaknya dia bisa tahu jawaban dari kegusaran itu.
“Maafkanlah saya, Tuan. Akulah yang sengaja menjebakmu untuk ke sana. Aku hanya ingin tahu bagaimana reaksi anda. Dan ternyata—”
“Boom!
“Bila Iblis sepertimu anda bisa berdampingan dengan seorang malaikat. Aku hanya harus menunggu waktunya yang tepat saja.”
***
“Tuan, lepaskanlah….”
Bobby bergerak, pria muda itu tidak rela bila Nona nya meninggal.
“B-r-e-n-g-s-e-k!”
“Aleaaaaa….” Seru Bobby dan Bryan bersamaan.
Kedua pria itu cemas sekaligus khawatir setengah mati.
Namun, suara tawa yang terdengar menyakitkan itu membuat keduanya terbelalak.
Alea tertawa dimana iblis itu dengan kerasnya mencengkeramnya. Alea tak gentar menghadapi iblis seperti Evans.
Alea menarik sudut bibirnya dan membentuk senyuman miring yang nampak jelas di wajah cantiknya.
Kedua matanya menghunus seraya tatapan tak gentar sekalipun kedua matanya basah oleh air mata.
“Meskipun ini akhir dari hidupku. Tapi, aku akan selalu mendoakanku setiap waktu aku bersujud pada Tuhan agar kamu sadar, Ev.”
Alea mengernyit. “Aku—”
Pegangan Alea melemah pada tangan Evans. “Sungguh ka-si-han pa-da-mu.”
“Apa kau sudah puas mengataiku dengan begitu lantang, hmm?” desis Evans.
Cengkeramannya semakin menguat, kobaran api di bola matanya pun pertanda iblis itu benar-benar murka.
Alea memejamkan mata menunggu kematiannya. Tak lepas, Alea berikan senyuman lembut untuk pria itu.
“Saya mohon, Tuan. Lepaskan Alea….” Mohon Bobby dan Bryan kembali bersamaan.
“Bunuhlah ak—”
Bug!
Tubuh Alea dihempas begitu saja dengan kejatuhan yang cukup keras ketika Evans melepaskan cengkeramannya.
Alea terbatuk-batuk dan mencoba menarik nafas sedalam-dalamnya.
Setelah dirasa cukup, Alea menengadahkan kepalanya ke atas pandangi Evans yang masih berdiri mematung dengan kedua tangan yang terkepal kuat, semnetara Bryan berlari menghampiri Alea.
Pria muda itu menggendong Alea untuk pergi dari hadapan tuannya.
Tetapi, mata itu masih menatap sang devil di mana dari wajahnya terlihat kabut tebal yang diselimuti luka yang begitu dalam.
Pandangan ALea menjauh seketika. Bryan membawanya pergi.
Tetapi, Alea masih menatap dari belakang pria itu masih diam dengan posisinya tanpa ada satu gerak ataupun suara yang bisa Alea lihat.
‘Sepertinya sebelum ini, tidak ada orang berani mengucapkan semua kalimat yang menyakitkan itu Alea.
‘Apa mungkin diamnya pria itu, kini hatinya tercabik dengan perkataanmu?’ batin.
“Tapi bila benar begitu. Aku hanya bisa ber semoga, Tuhan mau mendengarkan permintaanku.
“Aku hanya ingin dia sadar, kalau menyelesaikan masalah itu bukan dengan cara membunuh,” kata Alea, pelan sebelum dia benar-benar mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Yuk bantu Thor kasih coment, like dan hadiahnya sekebon. Hari ini Thor update tiga bab ya di tunggu saja. Terima kasih