
“Apa kamu ingin tahu Alea kenapa alasanya?”
“Apah?”
Wanita itu memalingkan wajahnya ketika menatap langit gelap dari jendela kamarnya.
“Sekuat apapun aku menginginkan pria itu dan mencintai tuan. Tapi, aku tidak bisa memiliki hatinya, Alea.”
Ruby kembali menatap lurus dimana Alea berada.
“Aku tidak bisa memiliki hati Evans Colliettie. Itu tidak akan pernah bisa.
“Hati Evans Colliettie, The Black Rose sudah tidak bisa terjangkau olehku sekalipun aku hanya bisa menyentuh seluruh tubuhnya dengan tanganku.”
“Kalau benar begitu apa yang kamu katakana. Lalu kenapa kamu masih bertahan di dalam sini, Ruby?” tanya Alea menatap heran.
Wanita cantik itu berikan senyuman getir. “Apa kamu masih belum sadar juga kalau semua ini itu menyakitkan untukmu?
“Kamu mencinta orang yang tidak pernah sama sekali mencintaimu! Seseorang yang tidak bisa kamu miliki, Ruby!”
Alea pandangi wanita cantik itu dengan pikiran penuh, mungkin sebagian wanita di luaran sana terutama dirinya akan menghindar jauh-jauh akan yang namanya hubungan yang menyakitkan apalagi menyangkut perasaan.
Dia bicara seperti ini pun belajar dari hubungannya dengan Mike Shander yang kandas akan pengkhianatan sang kekasih yang telah berselingkuh.
“Tentunya aku tahu itu Alea.” Ruby berikan senyuman manis.
“Namun, keluar dari sangkar emas ini itu tidaklah mudah dan itu tidak mungkin bukan? Aku bertahan di sini tentunya ada alasan tersendiri.
“Aku lebih suka berada di sini di mansionya sekalipun aku tahu pria itu tidak bisa aku miliki.
“Bukannya aku harus menerima segala bentuk konsekuensinya dengan sesuatu hal yang tidak terbalas?”
Ruby menarik napas panjang lalu menghembuskan perlahan.
“Ya, mungkin salah satunya alasanmu mungkin masih berharap tuan akan memandangmu sebagai wanita yang bisa dicintainya sekalipun harapan itu semu dan—mustahil.”
Alea tak henti memandangi wanita cantik yang kembali memalingkan wajahnya.
Dari wajah cantiknya saja Alea sudah tahu ekspresi wajah cantik itu yang menampakan kesedihan yang teramat dalam.”
“Aku punya alasan tersendiri dengan hal yang satu itu.”
“Lalu apa aku boleh tahu alasanya selain semua?”
Ruby tersenyum miring dan seraya menatap Alea.
“Kamu tidak usah tahu akan hal itu, Alea. Itu bukan urusanmu,” decak Ruby.
“Lalu kenapa kamu bisa menuduhku yang mengacaukan mansion, hm?”
“Wajar bukan bila aku berpikir hal seperti itu. Semuanya berawal dengan kedatanganku bukan?
“Kalian yang tengah berlomba ketakutan dan merasa kedatanganku sebagai ancaman kalian semua yang sedang berkompetisi di sini?”
“Aku tegaskan lagi padamu kalau aku di sini hanya pelayan biasa dan aku akan membuktikan kalau kedatanganku ini bukanlah suatu hal yang harus kalian khawatirkan.
“Aku hanya ingin hidup tenang di neraka Evans Colliettie bukan selalu dihantui oleh terror dan kematian.
Ruby tersenyum simpul. “Kau akan membuktikannya?”
“Tentu. Aku akan membuktikan semua ucapanku.
Sejenak Alea diam seraya berpikir. Entah dia harus apa untuk membuktikan semua perkataanmu itu.
Apa Alea harus berkata kalau dia tidak akan mendekati Evans Collietie, itu mustahil bukan?
Alea sendiri seorang pelayan pribadinya Evans tentunya setiap waktunya dia bertemu dengan Evans.
‘Seandainya posisiku di tukar dengan Berta itu hal yang lebih aman untuk membuat mereka percaya kalau dia tidak punya maksud lain.
“Aish, aku tidak suka selalu dituduh ikut berkompetisi mendapatkan hati iblis itu,’ gumam ALea dalam hati.
“Mungkin aku akan mencoba menerima Bryan. Dia pernah mengajakku hidup bersama.”
Bola mata Kelly langsung membulat lebar, padahal sejak tadi wanita itu tidak terusik sama sekali dengan pembahasan Ruby dan juga Alea perihal tuannya itu. Tetapi kali ini dia…
Ruby diam. “Mungkin aku belajar mencintainya sekalipun rasanya sulit.”
Ya, sulit. Hatinya masih ditempati oleh Mike Shander sekalipun pria itu sudah menghianati cintanya.
Alea bukan wanita yang mudah melupakan kenangan manis bersama dengan Mike Shander selama ini, baginya pria itu masih ikut adil di dalam kehidupannya.
“Melihat pria itu selalu melindungiku dan memberikanku perhatian tidak salahnya bukan kalau aku mencobanya?
“Jadi kalian tidak usah berpikir hal yang tidak-tidak padaku dan aku pun sama sekali tidak pernah peduli dengan apa yang kalian lakukan untuk mendapatkan perhatian tuan.”
Ruby tersenyum kecut. “Ck! Apa itu terdengar hanya pelarian, hmm?”
“Naik sekali dirimu, Alea!”
Alea menarik nafas pelan. “Tapi boleh juga perkataanmu tadi untuk membuktikan perkataanmu tadi.
“Mungkin saja kalian memang berjodoh. Pelayan dengan pelayan juga kan?” ujarnya.
“Aku pikir kamu itu serupa dengan Carla dan yang ini hanya beda versi saja.”
“Oh, yah?” jawab Ruby dengan senyuman smirk.
“Wanita itu terlalu angkuh dan juga percaya diri, sedangkan kamu—”
Alea menjeda sejenak, tanpa memutuskan pandanganya pada Ruby.
“Sekalipun kamu terlihat introvert, namun aslinya kamu itu licik. Menggunakan segala cara secara diam-diam untuk mendapatkan sesuatu yang kamu inginkan.”
“Benarkah begitu?”
Wanita berambut panjang itu pun menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.
“Ternyata aku salah menilaimu selama ini, Alea. Aku terlalu meremehkan pelayan sepertimu Alea.
“Ternyata kamu cerdas juga,” ucap Ruby diiringi senyuman.
“Asal kamu tahu Alea. Aku tidak seperti apa yang kamu duga, meski ya aku serupa dengan Carla.
“Tetapi, wanita itu selalu mempertanyakan perasaan secara frontal.”
“Ya, aku tahu itu. Dia memang begitu senang dengan predikat menjadi wanita ****** yang dikagumi oleh tuan nya.”
“Apa menurutmu begitu?”
“Apa aku salah?” tanya Alea dengan sebuah senyuman misterius pandangi Ruby.