
“Apa kamu terkejut hmm?” seru wanita itu menatap dengan seringaian. Tatapannya yang menghunus tajam membuat wanita itu masih memandangnya tak percaya.
Alea masih menatap dengan ekspresi terkejut. “Apa kamu masih terkejut dengan kenapa aku ada disini hmm?” kata seseorang itu lagi.
Bola mata Alea mengerjap lambat, tersadar. Sejak kapan kini posisinya terbalik?
Sejak kapan orang itu bergerak cepat hingga kini Alea seperti seorang sandra di mana orang itu telah siap dengan posisi pisau yang kini berada di lehernya.
“Apa sebegitu penasaran nya kamu hmm, sampai kamu mengikuti dan terkejut seperti ini ketika melihatku berdiri di atas tebing ini?”
Alea berdesis, keningnya berkerut. Orang itu menggoreskan pisau tepat di lehernya.
Alea menoleh ke samping, dia seolah sadar kalau perkataan orang itu benar di mana dia kini berdiri.
Alea berdiri di pinggir tebing yang curam dengan lautan yang gelap dan mematikan begitu terlihat nyata.
“Jadi, selama ini kamu yang sudah berulah di mansion ini?” tanya Alea, pelan.
Alea menahan sengatan nyeri di lehernya dengan darah yang mulai merembes keluar.
“Ya. Akulah orang itu, Alea. Selama ini kamu mencariku bukan?”
“Kenapa kamu lakukan semua ini?” tanya Alea, pelan.
“Itu karena aku membencimu, Alea. Aku muak denganmu, aku marah padamu. Aku sengaja melakukan hal ini agar kau takut dan menjauh darinya. Tetapi apa yang kamu perbuat. Kamu masih bersama dengannya,” serunya seraya menekan kembali pisau pada leher Alea.
“Seharusnya kau tidak menggoda dia, Alea! Dia milikku!” tegasnya.
“Aku tidak akan tinggal diam orang yang aku cintai direbut oleh orang lain! Dia milikku!” tegasnya, lagi.
“Dia hanya satu-satunya milikku!”
Kening Alea berkerut. “Maafkan, aku. Tapi aku sama sekali tidak merebut siapapun di sini dan aku tidak menggoda siapapun.
“Bisakah kita bicarakan semua ini dengan baik-baik?!” pinta Alea, pelan seraya tetap berusaha tenang.
Sekalipun Alea bisa melawan orang tersebut, tapi itu akan menjadi celaka untuknya dan juga wanita itu. Alea tidak mau gegabah, menyinggung hatinya saja wanita itu bisa nekad. Dia bisa saja secepat kilat langsung beda alam.
‘Ya, Tuhan. Aku tidak mau menambah musuh dan juga daftar orang mati lagi di tanganku. Aku tidak mau, Tuhan. Aku tidak mau menyakiti orang sekalipun orang itu berbuat jahat padaku,’ batin Alea dalam hati.
Bila bisa dibicarakan baik-baik, kenapa Alea nggak berusaha membujuk orang itu.
“Ck! Baik-baik!” decaknya, marah.
“Tidak ada! Kebencianku padamu itu sudah mendarah daging. Aku harus membunuhmu agar aku tidak punya saingan hidup lagi!”
“Bodohnya dengan mudah kau mengikutiku di mana aku sengaja menjebakmu dan membunuhmu di tebing yang sama di mana tempat wanita selingkuhan dibuang!”
Alea tidak peduli dengan apa yang orang itu lakukan, dia tahu kalau orang itu memang sengaja ingin membuatnya emosi dengan mengungkit Gina.
“Tolonglah, kita bisa bicara baik-baik,” ucap Alea seraya menoleh pandangi seorang wanita di belakangnya.
Seseorang yang tak lain wanita itu berikan senyuman, senyuman yang paling menakutkan yang pernah Alea lihat. “Aku mohon. Kita bisa bicara baik-baik. Aku tidak mengambil siapapun, tidak.”
“Terlambat, Alea. Malam ini juga kamu harus mati di tangan—”
Dor!
Mulut Alea terbuka lebar bersamaan bola matanya membulat sempurna. Tak kala sempurnanya dengan degupan jantungnya yang menggila ketika suara tembakan itu terdengar dengan begitu keras.
Tidak hanya satu kali, seseorang yang berada di dalam kegelapan itu menghunuskan senjatanya dan membidik hingga tepat sampai tiga timah panas itu menembus tubuhnya.
“Ahh….haaahh….” Alea berseru ketakutan dengan ekspresi syok saat darah itu nyiprat pada wajahnya.
Semuanya begitu bergerak cepat, hingga membuat tubuh wanita itu terhuyung ke depan lalu—
Memeluknya.
Wanita itu memeluk Alea sekuat tenaga yang tersisa untuk dijadikan pegangan. Alea membulatkan lebar bola matanya ketika melihat sosok di depannya yang masih berdiri memegang senjata apinya. Siapa lagi kalau bukan, Evans Collietiie.
Wanita itu tersenyum miring lalu mendorong Alea ke belakang di mana ombak malam yang menggelung sangat kuat di bawah sana seolah menyambut kedatangannya.
“Eevv……” teriak Alea keras.
Alea meminta tolong pada pria itu untuk menyelamatkannya. Kali ini, bukan rasa kaget lagi yang Alea hadapi, tetapi dia syok melihat keadaanya sendiri yang seolah dipaksa menemani wanita itu untuk pergi bersama ke alam lain yang nyata.
“Aleeeeaaaaa….” Serunya keras seraya bergerak cepat.
Sayangnya, seruan itu bukalah Evans Collettie yang datang dan menangkap satu tangannya. Tetapi, Bryan lah yang datang dengan cepat dan menolongnya hingga pria itu tak peduli bagaimana tubuhnya terhantam di bebatuan dan ikut terseret karena satu tangan Alea di pegang oleh wanita berjubah merah.
Dia tidak rela membiarkan Alea hidup, karena yang dia inginkan adalah kematian Alea yang tak lain mati bersama.
“Bry….” Lirih Alea.
Air matanya merebak seraya berpegangan kuat pada tangan Bryan.
“Bertahanlah, Alea. Aku akan menolongmu dan tolong jangan lepaskan tanganku.”
“Hiks…. Hikss… tolong aku, Bry…”
“Aku pasti akan menolongmu, Alea. Jadi tolong jangan menangis,” ucap Bryan sekuat tenaga pria itu menarik dua orang wanita yang bergelantung di tebing.
Alea masih ingin hidup begitu pun juga wanita dibawahnya yang sama memegangnya. “Tolong berpegangan yang erat. Aku ingin kamu hidup, Juliana. Maafkan aku,” ucap Alea diiringi tangisan.
Juliana tersenyum cantik sekalipun mulutnya mengeluarkan darah. “Bobby. Jangan diam saja. Tolong kami, tariklah,” pekik Bryan keras.
Sejak tadi pria muda itu nampak begitu bodoh hanya memegangi kakinya saja dan tidak berusaha menariknya untuk keluar dari tebing yang curam ini.
“Astaga. Matamu buta, hah. Aku tidak diam, Bryan!”
Alea merintih kesakitan dua tangannya begitu sakit yang tidak bisa dielakan lagi. di mana satu tangannya ditarik oleh Bryan dan satunya lagi dicengkeram erat oleh Juliana.
Tubuh kecil Alea bergelantungan bersama Julia di pinggir tebing seolah keduanya menunggu jatuh dan di telan lautan gelap.
“Bry… ini sakit… aku tidak kuat lag—”
“No, Alea,” seru Bryan keras.
“Bertahanlah aku mohon, kita akan menyelamatkanmu.”
Alea berikan anggukan pelan lalu menoleh ke belakang. “Bertahanlah, Julia. Kita akan selamat,” ucap Alea diiringi senyuman sekalipun keadaanya kini tidak memungkinkan.
Tetapi, hanya itu yang bisa Alea lakukan pada wanita itu. “Terima kasih Alea.”
Alea berikan anggukan pelan. “Maafkan aku…”
“Tidak. Kamu tidak bersalah. Aku mohon bertahanlah, Julia. Bryan akan membawa kita ke atas lagi.”
Bryan dan Bobby berusaha keras untuk menarik Alea di mana dia pun ingin dua wanita itu bisa tertolong sekalipun Julia terluka. Alea menoleh sesaat ke samping.
Lagi, lagi ketika dia di serang ketakutan akan terjatuh dari atas tebing. Evans berdiri dengan gagah di pinggiran tebing tidak jauh di mana posisi Bryan dan Bobby tengah berusaha keras untuk menolongnya.
“Bertahanlah aku mohon,” pinta Bryan menatapnya dengan mata berkobar api amarah.
Pandangan Alea masih ada di sana, tertuju pada tatapan nyalang dengan aura yang begitu menakutkan. Coat hitam panjang yang berkibar tertiup angin laut yang kencang begitu juga dengan topi bundar berwarna hitam itu pun sama ikut tertiup angin laut.
“Tuan, tolonglah kami,” teriak Alea.
Mungkin bila tidak orang pria bertenaga kuat itu bisa menariknya dan menyelamatkannya. Tapi, sayang. Evans tidak menjawab. Pria itu bukan menolongnya, melainkan menghunuskan senjata apinya ke arahnya membuat Alea menggeleng cepat.
“Please, Evan…. Jangan….” Seru Alea kencang.
“Tolong jangan lakukan itu. Aku mohon ampunilah kita. Please Evans…”
Pria itu masih bungkam, namun tak mengurung niatnya untuk menembak Evans justru menarik kuncian senjata apinya. “Kita pantas diberi kesem—”
Dor!