Mafia And Me

Mafia And Me
Mengelak!



Sebelumnya....


Entah apa yang dilakukan pria itu, setelah kejadian itu. Evans banyak diam.


Seharusnya, bagi Evans mudah untuk melenyapkan Bryan ketika pria itu masih berada di dalam mansionnya.


Semenjak Bryan kecil, pria itu sudah dijadikan tawanan sejak usianya lima tahun dan semua itu tentunya karena sebuah kesempatan.


Evans sama sekali tidak percaya pada Bryan sekalipun pria itu tidak pernah melakukan hal yang membahayakan nyawanya selama ini.


‘Ck! tapi, justru diamnya si brengsek itu yang selama ini aku anggap duri dalam daging itu benar adanya. 


‘Sewaktu-waktu pria itu bisa menjadi ancaman mematikan nantinya dan see—itu benar!’


Dendam. Ya, jelas karena dendam. Hati Bryan penuh dengan dendam terhadap Evans yang selama bertahun-tahun tak pernah kentara.


Pria itu justru mempunyai cara lain untuk membalaskan dendamnya pada Evans.


Tentunya, dengan tujuan kebebasannya dan kembali pada kehidupannya semenjak kecil berada di dunia hitam. Kehidupan mafia yang selama ini telah mengasingkannya.


Sama seperti Bryan. Evans pun melihat kesempatan untuk membongkar sifat asli pria itu lewat sosok, Alea.


Lucunya, pemicu itu karena Bryan berasumsi bahwa Alea sosok wanita yang berbeda di mata Evans.


Padahal, sama sekali Evans tidak pernah melihatnya seperti itu. Bagi, Evans. Alea adalah wanita bodoh dan lemah, yang selama ini tidak dia hindari dan jangan sampai wanita itu mempengaruhi pikirannya.


Evans dengan senjaya membiarkan Bryan mengiranya demikian agar rencananya berjalan dengan baik.


Ya, lagi lagi wanita bodoh itu Evans jadikan umpan yang cantik—memanfaatkan Alea hanya untuk membongkar wajah asli dari pelayan setia di mansionnya lalu membunuhnya.


Setelah itu baru Evans memikirkan cara untuk melenyapkan wanita bodoh itu agar nanti tidak semakin merepotkan dirinya.


Rencananya memang semudah itu pada awalnya. Tetapi, kenapa di saat ada kesempatan untuk membunuhnya, ketika berada di dalam mobil yang membentangkan jarak yang entah akan sejauh apa. Evans justru memikirkan sesuatu hal yang lain dalam dirinya.


Apa Lea nya terluka di saat tadi dia mencoba menembak Bryan, sekalipun Evans terlihat berhati-hati sekali agar tidak mengenai, Lea nya.


Di saat pikiran itu terbesit di dalam hatinya. Pria itu menggeram keras, mati-matian di mencoba melenyapkan pikiran tersebut yang tidak logis itu yang membuatnya kembali lemah. Evans tidak bisa mengambil tindakan tegas.


Bahkan Evans sudah menyiapkan banyak hal termasuk senjata untuk mengejar Bryan.


Tetapi, kenapa yang pria itu lakukan hanya menembaki body mobilnya saja dan membiarkan Bryan dan Alea lolos begitu saja.


Apa sebegitu bodohnya dirinya, membuang kesempatan emas itu?


Padahal, Evans tergesa-gesa mengambil senjata laras besar di dalam mobilnya ketika mobil Bryan berada di depannya melaju dengan kencang mendekatinya.


Satu bidikan saja, sudah pastinya akan membuat mobil Bryan hangus dan kenapa lagi lagi, Evans justru terdiam.


Bahkan pria itu tidak mengikut mobil Bryan yang dibiarkan begitu saja pergi. Pria itu bisa bukan, melumpuhkan mobil yang berdatangan itu hanya satu bidikan saja dan semua, SELESAI yang diiringi hancurnya mobil dan juga orang di dalamnya.


Namun, Evans tidak melakukan hal itu dari awal.


Membidik dua burung dalam satu busur panah itu mudah bagi, Evans. Dan lagi kenapa pria itu tidak bisa melakukanya?


Evans hanya bisa menatap dari jauh, kepergian mobil itu yang tak terlihat dan membawanya Lea nya bersama pria brengsek itu yang membuat dirinya tidak tenang.


Saat ponselnya bergetar di dalam saku celananya, Evans mencoba mengalihkan pikiran yang lagi-lagi tidak seharusnya dipikirkan.


Sang empu hanya hela nafas sejenak, dia kembali menegakkan tubuhnya lalu menyandarkan punggungnya di badan mobil setelah ia meletakan senjata di dalam kursi belakang.


Pria itu mengeluarkan cerutunya lalu menghidupkannya.


“Biarkan saja mereka pergi dulu. Tapi, cari tahu keberadaan mereka. Kau yang akan mengurus mereka selanjutnya.


“Jangan lupa laporkan semuanya padaku. Aku yakin mereka belum pergi jauh,” jawab Evans, tegas.


“Baik Tuan.”


Evans menghembuskan asapnya ke udara, pikirannya kembali tidak tenang sekalipun dia nampak terlihat santai.


“Baik, Tuan. Saya akan mencari keberadaan dan mengurus kedua orang itu. Anda tidak harus khawatir.”


“Hm,” jawab Evans dengan deham seraya mengakhiri panggilannya dengan Mika.


Pria itu lalu masuk ke dalam mobil dan begitu saja melaju kencang pergi dari tempat kejadian setelah melakukan kekacauan yang diperbuatnya.


Sudah tahu bukan siapa yang akan mengurus semua kekacauan yang dia perbuat?


Ya, benar. Abraham lah yang akan mengurus semua kekacauan yang sudah diperbuat.


Evans melirik ke samping, sebuah amplop berwarna coklat itu yang disimpan di kursi sampingnya mengingatkannya.


Itu dari Leo, ketika mereka berpapasan di rumah sakit ketika dia hendak menemui Alea. Kabar yang mengejutkan wanita itu lari dari rumah sakit.


‘Aku tidak terlalu yakin akan hal ini. Aku juga tidak tahu kamu akan peduli atau tidak dan aku pun tidak tahu kamu akan membuka isi amplop ini atau tidak.


‘Tapi, aku akan tetap memberikannya padamu, Van. Ini menyangkut Alea. Hasil pemeriksaan Alea dan kondisi keseluruhan wanita itu.


‘Massimo tidak tahu sekalipun pria itu menjadi dokter Alea. Kamu tahu bukan Massimo berada di pihak siapa?


“Ah—tak perlu aku jelaskan kamu pun sudah mengetahuinya bukan? Sudahlah. Aku pamit, tapi bila kamu sudah melihatnya tolong lekas kabari aku, Van.’—pesan Leo.


Perkataan Leo begitu saja teringat di kepalanya. Evans jadi penasaran dan pada akhirnya dia menghentikan kendaraannya berada di jalanan sepi.


Evans menarik napas panjang, lalu menghembuskan perlahan. Dia mencoba memberanikan diri untuk mengambil amplop tersebut yang entah apa isinya.


Evans sempat berpikir, mungkin isinya sebuah laporan pelaku yang telah menaburkan racun di minuman Alea, waktu itu.


Evans tersenyum miring ketika membuka isi amplop tersebut. Bila dugaannya benar. Berarti, dia kalah cepat dengan saudaranya. Leo sudah berhasil mengungkap siapa pelakunya.


Sekalipun, dia mencurigai dan berhasil mengantongi informasi. Namun, orang itu lebih dulu berakhir mati mengenaskan di tangan nya sekalipun pada akhirnya dia tidak berhasil mendapatkan informasi yang kuat akan siapa sebenarnya pelaku yang sebenarnya.


Dugaan Evans sementara pada Bryan. Dia yakin kalau Bryan menyuruh orang lain di acara pesta kecil itu.


Ada kemarahan yang tidak bisa dijelaskan oleh Evans teruntuk dirinya sendiri, hingga dia memburu pria brengsek itu untuk memastikan sendiri kalau Bryan akan mati tangannya.


Ketika Evans menarik secarik kertas yang terdapat di dalam amplop tersebut, mendadak tubuhnya membeku bersamaan kedua bola matanya membulat lebar.


Digenggamnya dengan erat hingga membentuk bulatan kecil setelah dia membaca hingga barisan kalimat terakhir hingga teliti di mana kalimat paling pojok menerangkan hasil diagnosa yang membuat amarahnya semakin menggebu-gebu tanpa bisa ditahan lagi.


‘Brengsek, Bryan! Aku jamin kau tidak akan bernafas lagi di dunia ini!’ batin Evans, murka.