Mafia And Me

Mafia And Me
Tidak Peduli!



“Maksudnya?”


Massimo membuang nafas kasar lalu mengkendikan bahunya tidak tahu maksud orang itu apa.


“Entahlah aku juga tidak tahu. Yang tahu hanya saudara kita saja.


“Mungkin bisa jadi orang itu punya dendam pada Evans atau musuh Evans kan selama ini kita tidak tahu dengan siapa saja Evans punya musuh,” ungkap Massimo membuka pikiran pada pria muda itu.


Menjadikan Alea sebagai umpan untuk melihat keajaiban yang sangat mustahil itu namun umpan ini dimanfaatkan oleh oknum yang memang sengaja membuat pria itu murka.


“Aku terlupa akan itu, Mas. Sungguh aku menyesal karena tidak memperhitungan akan adanya orang yang mengacaukan rencanaku.”


“Ya. Kamu benar dan bodohnya kamu kembali melanjutkan rencana bodoh itu tanpa berpikir panjang Leo!” sambung Massimo.


Massimo tahu kalau di pabrik tua pun Alea adalah ancaman terbesar dari dua pria yang kini sudah meregang nyawa, dan kali ini Leo begitu bodoh dan kembali melakukan hal yang serupa yang membuat wanita malang itu kembali seperti ini.


Leo memandang saudaranya dengan helaan nafas berat dan penuh penyesalan.


“Sejujur, Mas. Aku merasa kalau adaya Alea membuat saudara kita berbeda.


“Aku sengaja mengundang dia ke pesta itu karena aku ingin harapan kecil itu bisa terlihat dan aku yakin Evans menyimpan rasa sayang pada Alea.”


Alea memandangi Leo dengan mata yang melotot.


“Aku hanya ingin tahu reaksi Evans bagaimana pada Alea. Tapi, sejauh ini sampai Alea jatuh tidak sadarkan diri.


“Aku masih belum mendapatkan penjelasan dari pria itu.


“Semuanya masih terasa samar bagiku menilai perasaan Evans kepada Alea, meskipun memang dia diperlakukan Evans dengan cara berbeda.


"Tetapi semua yang aku lakukan itu belum bisa menjelaskan banyak hal. Dia bisa sangat manipulative jika diperlukan.


“Entah untuk alasan apa, dia masih mempertahankan Alea sampai detik ini.”


“Kamu hanya kurang peka saja, Leo. Semua tindakan kamu ini malah menjadikan Alea korban di sini,” timpal Massimo.


Sebenarnya Massimo tidak pernah setuju bila Alea di jadikan umpan untuk melihat celah kecil yang mustahil di lihat yang berikatan dengan Evans.


Tetapi, yang ada wanita malang itu memang selalu dijadikan umpan, tidak dari Evans sendiri dan juga orang-orang di sekitarnya.


Sementara Alea cukup hanya diam, dia memang sudah sadar diri kok selama ini dia memang dijadikan umpan, tidak hanya di mansionnya saja, tetapi di pabrik pun sama.


Semua ini sudah direncanakan Evans agar rencana terselubung berhasil menarik orang-orang yang tidak suka—punya dendam dan orang berkhianat untuk muncul.


“Maafkan aku, Alea. Aku sudah menjadikanmu korban di sini.”


“Tidak, Leo. Jangan berkata seperti itu, saya tidak suka.”


Massimo berdecak seraya menatap Alea kesal. “Kamu ini memang terlalu baik jadi orang, Alea!


“Seharusnya kamu itu meluapkan amarah kamu pada saudaraku yang tak tahu malu itu—menjadikanmu korban hanya ingin melihat reaksi Evans padamu.


“Ujungnya kamu kan jadi korban di sini,” gerutu Massimo, ikut kesal.


Mungkin kalau dia jadi Alea sudah di bejek habis pria muda berdarah bangsawan itu.


“Beruntung kamu selamat kalau kamu sampai beda alam. Apa dia tidak berdosa?” sambung Massimo.


Alea diam seraya tersenyum, marah pun dia tidak bisa melihat bagaimana wajah tampan itu tersirat begitu dalam rasa bersalah padanya.


“Apa aku boleh bertanya pada kalian berdua?”


 Ya, bolehkah dia ingin tahu kegusaran dalam hatinya ketika bayangan itu begitu saja mengganggunya.


Alea melihat Evans yang terkejut dan bergerak cepat hingga melompat untuk menghampiri dirinya.


“Silahkan, kita akan menjawabnya.”


Alea menarik napas sejenak seraya memandangi Leo dan bergantian pada Massimo.


“Apa saudara kalian. Ehm—Evans yang membawaku kemari?”


Leo dan Massimo saling bersitatap dan detik selanjutnya dua pria itu seolah kompak memandangi Alea.


“Evans?” seru keduanya.


Alea manggut-manggut sementara Leo berikan senyuman mengejek.


“Ck! mana mungkin pria itu membawamu kesini, Alea!”


Leo mendengus kesal. “Massimo Lah yang menggendongmu dan membawamu ke rumah sakit dengan cepat!”


Sebenarnya ada hati berkata tidak seperti itu, namun di satu sisi ada hal yang sama yang seperti Leo katakana.


 Alea sudah menduga kalau Evans mana mungkin mau mempedulikannya.


“Terima kasih, Mas. Aku berpikir saudaramu yang membawaku ke rumah sakit karena aku sempat melihat kalau Evans—"


“Loncat dari atas?” tebak Leo.


Alea mengangkat pandangannya, dia pun berikan anggukan pada Leo.


“Pria itu memang meloncat dari atas Alea. Bahkan dia lebih dulu mendekatimu sebelum aku dan Marvio tiba di sana yang langsung disusul oleh Massimo.”


Leo menjeda sejenak yang diiringi menghela nafas pelan.


“Tapi, saudaraku itu sama sekali tidak melakukan apapun padamu.


“Dia hanya berdiri menatapmu dengan diam sampai akhirnya Massimo segara menggendongmu dan membawamu ke rumah sakit.”


Leo amat marah ketika itu, padahal sejauh ini dia berharap kalau Evans luluh hatinya dan mau membawa Alea dengan cepat.


“Dan ketika kita sibuk membawamu ke luar aula karena Lucas sudah membawa Heli, ketika aku menengok ke belakang untuk melihat Evans yang tidak ikut turut serta mengantar kamu.


“Pria itu sudah menghilang dan entah kemana….”


Leo berdecak lidah sehingga menunjukkan ekspresi kesal pada saudaranya yang memang sudah hatinya sudah mati.


“Sampai detik ini pun, pria itu tidak muncul. Evans tidak datang ke rumah sakit untuk melihat keadaanmu.


“Itu sebabnya semua yang aku lihat dan harapan kecil itu semuanya masih abu-abu dan samar!”


‘A-apa. Dia menghilang? Apa Evans membiarkan dalam sekarat? 


‘Apa pria itu benar-benar menginginkan aku mati dan itulah kenapa dia tidak menolongku?’ batin Alea. 


Padahal pelukan hangat itu, membuat Alea yakin kalau Evans masih punya hati. Tetapi kali ini….


Alea tersenyum miris, dia menertawakan dirinya sendiri dengan pikiran yang tidak-tidak.


 Bohong kalau Alea tidak sama dengan Leo ingin pria yang sama-sama melihat harapan kecil.


 Sekalipun Alea bukan orang yang disukainya, tetapi bagi Alea di hanya ingin Evans memiliki hati nurani.


‘Astaga, kalau kamu berpikiran Evans punya hati padamu, itu sama saja perkataan Ruby itu membenarkan.


‘Kamu munafik tidak mengakui perasaanmu sendiri, Alea,’ kata hatinya.


Alea memeluk erat tubuhnya sendiri dengan mata yang terpejam.


Pelukan hangat di malam itu masih terasa, kecupan sang devil pun masih terasa di keningnya, tetapi hal itu hal itu telah menyadarkan dirinya kalau Evans memang menganggap dia hanya umpan yang cantik bagi musuh-musuhnya dan orang yang punya dendam padanya.


Tidak ada kemurahan hati pada diri pria itu dan itu terbukti Evans mengunjunginya sama sekali.


“Kamu nggak usah cemas, Mas. Aku akan bertanggung jawab penuh pada, Alea.


“Bahkan aku sudah meminta orang untuk mengejar pelakunya.”


Kedua tangan Leo terkepal erat. “Aku tidak akan membiarkan orang itu lolos begitu saja. Dia harus tahu tengah bermain-main dengan siapa,” decak Leo, ikut murka.


Pria muda itu bersumpah akan mencari tahu dan akan membalasnya lebih atas perbuatannya.


 “Good lah! Itu memang sudah seharusnya, Leo. Kamu cari pelakunya dan hukuman yang pantas untuk pelaku itu adalah—”


“Kematian,” sambung Massimo yang dianggukan oleh Leo benar.


Leo mengusap rambut panjang Alea.


“Seribu kata maaf pun mungkin tidak akan bisa mengembalikan semuanya, Alea. Tetapi, aku minta maaf karena aku menyesal melibatkan kamu di sini.”


Pria itu berikan senyuman. “Jangan khawatir, aku akan bertanggung jawab atasmu. Semua ini karena ulahku.”


Alea hanya terdiam tak memberikan jawaban apapun, kejadian ini membuat Alea banyak bersyukur karena Tuhan masih mengizinkannya bernafas.


Alea bersyukur dia dikelilingi orang baik yang masih peduli padanya dan memperhatikannya tidak membiarkan Alea mati mengenaskan begitu saja seperti ketidak pedulian Evans Colliettie yang memang pria itu tidak punya hati.


“Terima kasih banyak Leo dan kamu Mass atas kebaikanmu padaku.” Satu tangan Massimo meraih tangan Alea yang terinfus lalu menggenggamnya erat.


“Aku akan selalu menjagamu, Alea sekalipun aku telat.”


Alea menggeleng pelan, sama sekali tidak telah karena buktinya dia masih hidup.


“Dan tolong sampaikan terima kasih ku pada pangeran kodok.”


Massimo dan Leo saling bersitatap. Dua pria itu akhirnya tertawa pelan karena dia tahu yang dimaksud oleh Alea.


“Aku akan sampaikan pada pangeran kodokmu itu. Ah—tidak usah disampaikan karena dia akan datang nanti.”


Leo memeluk Alea sejenak dan mengusap puncak kepalanya.


 “Kamu kini saudaraku.”


“Ya, kamu saudara kita semua, Al.”


Wanita itu menarik sudut bibirnya membentuk senyuman.


“Kita akan melindungimu, Alea.”


“Terima kasih banyak,” ucap Alea terharu. Ia pun memeluk kedua pria di depannya.


Tak lama kemudian, pelukan itu terurai baik Massimo dan juga Leo bangun dari duduknya dan berdiri.


“Aku dan Massimo akan pergi, tidak jauh kok. Aku akan ke toko kue dan Massimo akan bertemu dokter.


“Kamu harus istirahat di sini agar cepat pulih. Jangan memikirkan hal yang lain-lain dan jangan takut karena banyak orang-orangku berjaga di sini.”


Alea mengangguk paham. “Kalau ada apa-apa kamu pusing atau apa, kamu tekan tombol merah ini, suster tadi sudah memperbaiki tombol itu.”


Alea berikan anggukan paham. “Lekas sembuh ya, Al. Kita semua ingin lekas berjumpa denganmu lagi,” ungkap Leo tulus.


Membawa Alea dari mansion Evans itu imposible, pria itu pastinya tidak akan membiarkan tahanannya keluar dari cengkramannya.


Paham dengan sikap Evans, mungkin dia akan sering berkunjung ke mansion Evans sekalipun harus berdebat dengan saudaranya,


“Aku dan keluargaku berterima kasih padamu, Alea. Kamu sudah membantuku dan membuat perasaan ku sedikit lebih baik sekalipun yah aku kecewa karena terjadi hal yang tidak kita harapkan. Kamu harus masuk rumah sakit.


“Namun, kamu sudah memberikan kami harapan Alea, harapan yang sebelumnya tidak pernah ada sama sekali seumur hidup kami.”


Massimo diam begitu juga Alea. “Kita hanya bisa mendoakan agar pria itu bisa mendapatkan kebahagiaan yang sama seperti kami rasakan. Kami ingin Evans Colliettie bisa hidup normal seperti kami.”


Alea tersenyum lembut menatap kedua pria di depannya.


“Seharusnya saudaramu lah yang harus bersyukur bisa memiliki saudara seperti anda yang begitu perhatian dan menyayanginya.”


Kedua pria tertawa serempak. “Dan sayangnya Tuanmu tidak peduli akan hal semacam itu Alea.


“Kalau begitu aku pergi dulu Alea, nanti kami kembali lagi dan aku akan datang bersama dengan Cassandra.”


“Hm, terima kasih banyak.”


Alea menghela napas panjang sembari mengelus perutnya yang terasa tidak enak setelah kedua pria itu menghilang di balik pintu.


Dilihatnya dari pintu kaca tersebut, ia melihat ada beberapa penjaga yang ditugaskan oleh Leo dan juga Massimo.


Alea mengalihkan pandangannya dan menghela nafas panjang. Setangkai bunga mawar mewah merah pun tertangkap oleh mata Alea.


Bunga mawar yang cantik berada di samping nakasnya.


‘Ternyata tidak hanya aku saja yang sendirian, tetapi kamu pun sama sendirian sekalipun engkau mawar merah yang cantik.


‘Sayang, kamu kesepian berdiri tegak di vas bunga itu sama seperti—’


Alea menundukan kepalanya, sebening embung pun jatuh menerpa pipinya.


Bunga mawar itu sama seperti dia yang selalu kesepian, hidup di negara asing dengan begitu banyak ketakutan yang nyata yang dia alami.


‘Aku merindukan kehidupanku. Aku merindukan kalian semua...’ gumam Alea dalam hati seraya menghapus jejak air matanya.


‘Apa akan selamanya aku seperti ini tidak akan pernah bisa melihat kalian lagi?’ katanya.