
“Please, Evan…. Jangan….” Seru Alea kencang.
“Tolong jangan lakukan itu. Aku mohon ampunilah kita. Please Evans…”
Pria itu masih bungkam, namun tak mengurung niatnya untuk menembak Evans justru menarik kuncian senjata apinya.
“Kita pantas diberi kesem—”
Dor!
Dor!
Dor!
Alea tercengang, bahkan kedua matanya yang basah membulat lebar menatap sang pria tampan berwujud iblis.
Bukan satu kali, tapi pria itu tiga kali melepaskan timah panas pada seseorang di bawahnya yang tak lain Juliana dengan ekspresi yang menakutkan.
Alea menangis histeris melihat wajah mengenaskan Juliana.
“Please, aku mohon….”
Kedua mata Juliana pun basah, wanita itu berikan senyuman untuk yang terakhir kalinya pada Alea.
“Maafkan aku, Alea….”
“Please… please… please, Juliana…. Aku mohon bertahanlah…. Jangan lepaskan… hiks…”
Alea menggeleng pelan, satu tangannya pun tak bisa menggapai tangan Juliana untuk tetap bertahan.
“No…. Julie…” teriak Alea, pegangan tangan Juliana terlepas begitu saja.
“Maafkan aku, Alea…” ucap Juliana untuk yang terakhir kalinya.
Alea menggeleng dengan air mata yang merebak, terakhir yang bisa Alea lihat hanya senyuman itu.
Senyuman cantik terakhir kalinya yang terlukis di wajah cantik Juliana sebelum tubuhnya melayang jatuh ke bawah dengan penuh kesedihan.
“Juliiieeee….”
Sosok wanita cantik itu pun begitu saja menghilang seolah ditelan lautan gelap.
Alea terisak dengan tubuh yang membeku dan pandangan kosong, wanita itu tidak menyadari kalau tubuhnya kini sudah ditarik ke atas dan duduk di bebatuan.
“Hai, kamu selamat Alea… kamu selamat,” bisik Bryan ditelinga Alea.
“Tenanglah Alea, kamu harus menenangkan dirimu, Alea,” kata Bryan pelan. Tubuh wanita itu bergetar hebat.
“Good job, Alea.”
Perkataan itu membuat Alea menengadahkan kepalanya. Evans berdiri tepat di hadapannya.
Alea menatap penuh amarah dengan dada yang bergemuruh panas. Pria itu benar-benar kejam, tidak punya belas kasih.
“Kamu iblis yang terkutuk, Evans!”
Evans menarik sudut bibirnya ke samping seraya menatap remeh.
“Yeah. I know that!”
Kedua tangan Alea terkepal erat. “Kau sudah memberikan apa yang aku inginkan, Alea. Mengeksekusinya, SELESAI!”
Bibir Alea bergetar seraya menggigit bagian bawah bibirnya. Dia tidak peduli dengan rasa sakit akibat terlalu kuat menggigit bawah bibirnya, Alea tidak bisa menahan amarahnya.
Sorot mata yang tajam menatapnya pun terlihat penuh kebencian yang berkobar.
“Sudah Alea. Kita pergi,” ajak Bryan seraya membantu Alea berdiri.
Dengan santainya iblis itu pun ikut berbalik badan dan pergi begitu saja seolah pria itu datang ke acara penguburan salah satu wanita jallangnya.
Di hempaskan tangan Bryan yang berada di bahunya dengan cepat Alea bergerak menyusul sang iblis yang berjalan dengan gontai.
“Tunggu, Evans!” seru Alea, suaranya terdengar bergetar.
Evans dengan santai membalikan tubuhnya.
Namun, sang devil yang nampak begitu santai itu pun mendelik ketika satu tamparan mendarat mulus di wajah tampannya.
Alea menamparnya cukup keras sang Iblis kejam seperti Evans hingga wajah tampannya pun terhempas ke samping.
Evans menoleh sesaat, dia menatap Alea dengan ekspresi terkejut.
Namun, hal itu hanya beberapa detik yang Evans tunjukan sebelum kini dua bola mata indah itu menatapnya nyalang pada wanita bodoh di depannya itu.
ALEA MELAKUKAN KESALAHAN BESAR.
“Begitukan kamu menyelesaikan semua masalah, hah? Membunuh mereka tanpa memberikan mereka kesempatan?” seru Alea.
Kedua tangannya terkepal erat begitu pun Evans.
“Kau memang tidak memiliki hati nurani sedikit pun Evans! Kau si brengsek yang menyedihkan!” teriak Alea keras tepat di wajah tampan Evans.
Tak hanya itu Alea menumpahkan rasa kecewa yang teramat dalam, bahkan dia sudah tidak peduli lagi kalau detik ini dia pun akan ikut mati menyusul Juliana.
Alea sudah tidak peduli lagi.
Alea memukul keras bidang dada sang devil yang diiringi teriakan dan amukan Alea terhadap Evans.
“Seharusnya kau pantas memberikan kesempatan kedua pada Juliana. Tidak seperti ini!”
“KAU TIDAK HARUS MEMBUNUHNYA, BRENGSEK!”
“KAU IBLIS MENYEDIHKAN EVANS! KAU MONSTER MENYEDIHKAN YANG PERNAH AKU TEMUI SEUMUR HIDUPKU!”
Urat syaraf di leher Alea pun terlihat mengetat, wanita bodoh itu seolah mengungkapkan isi hatinya yang selama ini sudah amat kecewa pada pria yang hanya diam dan menatapnya tajam.
“Apa kau pikir dirimu hebat, hah?”
Alea menyeka air matanya dengan kasar agar dia bisa leluasa menatap manik mata yang mengikat penuh amarah itu padanya.
“Kau hanya pria menyedihkan dan berhati lemah karena rasa sakit yang kau bawa hingga kau menjadikan dirimu sendiri seorang iblis kejam tidak punya hati!”
“HATIMU SUDAH TERBAKAR DAN MATI BERSAMA KEMATIAN IBUMU!” seru Alea kencang.
Bola mata Evans seakan keluar dari rongganya, secepat kilat sebelah tangannya pun mencengkeram leher Alea.
“Arghhhhh,” rintih Alea, seraya menahan kedua tangan Evans.
Tubuh kecil itu terangkat begitu saja dengan satu tangannya. Tak terlepas kobaran api yang terlihat menyala di matanya.
Bobby dengan cepat mengambil senjata yang tergeletak lalu membediknya tepat di samping di mana Evans mencengkeram leher Alea.
Bryan yang bergerak lambat untuk melindungi Alea pun sudah terlambat, ketika dua senjata moncong itu tepat berada di kepala Bryan dan satu lagi tepat di posisi di mana Bobby ikut membela Alea.
Sekali wanita cantik itu menarik pelatuknya. Tamatlah riwayat kedua pria itu malam ini.
“Tolong lepaskan Nona Alea, Tuan. Dia hanya masih syok dengan kejadian ini,” kata Bobby dengan posisi siap menembak.
“Ini tidaklah mudah untuk Nona Alea,” kata Bobby, lagi.
Alea mencoba menarik napas, namun gagal. Cengkeraman tangan Evans begitu kuat dan tenaganya pun tidak sebanding dengan pria yang tengah dikuasai oleh iblis di depannya ini.
“Lepaskanlah, Tuan. Anda melukai Alea, dia akan mati,” pinta Bryan.
“Tidak harus anda berbuat seperti ini, karena yang dikatakannya tentunya benar bukan?”
“SAMPAH KALIAN!” decak Mika.
“Berhentilah kalian berdua berbicara atau kepala kalian berlubang dengan timah panas ini!” decak Mika, ikut emosi.
Alea tersenyum getir seraya menatap iblis yang menyedihkan yang tak lepas menatapnya.
Alea sudah pasarah kali ini. Dia sudah tidak peduli lagi akan apapun yang dilakukan oleh Evans, sekalipun dia akan mati di tangan sang devil seperti Evans Colliettie.
“Bukannya kamu akan membunuhku, Ev?”
Alea berikan senyuman tercantiknya pada Evans.
“Lakukanlah, dengan senang hati aku akan menerimanya.”
Cengkeraman Evans semakin kuat, sampai bola mata Alea pun memerah dan kesulitan untuk bernafas.
“Tujuanmu sudah tercapai semuanya bukan? Kamu sudah tidak membutuhkanku lagi untuk umpan….”
“Hmmps….”
Cengkeraman itu dua kali lebih kuat, tetapi Alea tidak akan diam sebelum semua yang mengganjal di dalam hatinya belum tersampai.
“Aku muak melihat iblis menyedihkan sepertimu. K-kau….”
“Tuan, lepaskanlah….”
Bobby bergarak, pria muda itu tidak rela bila Nona nya meninggal.
“B-r-e-n-g-s-e-k!”
“Aleaaaaa….”
Yuk ah, kasih koment yang banyak dong biar author semangat lagi update nya, plus jangan lupa Like dan hadiahya yang banyak yah, hehehe. Terima kasih